Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Jantung Hati


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Selayaknya seseorang yang tengah di landa rindu dendam, Mas Karang sama sekali tak memberi kesempatan bagi matanya untuk menoleh ke arah lain dan terus saja fokus menatap kepadaku yang tengah duduk di depannya. Jangankan menoleh ke arah lain, ke piring berisi makanan yang tepat berada di depannyapun tidak.


Ingin aku melakukakan hal serupa, memuaskan mata dengan dosa indah ini. Namun aku tak bisa melakukannya, bukan karena aku takut akan dosa yang semestinya di ganjarkan kepadaku, melainkan aku takut akan reaksi Bia. Sungguh, kecintaan terhadap hamba seperti ini mampu membuat Allah murka. Dan aku tidak bisa membohongi hatiku akan hal itu meski aku mengetahuinya. Lantaran begitu tipisnya iman yang ku miliki.


"Mas Karang sudah selesaikah tugasnya hari ini.?" Tanya Bia tiba tiba.


"Sudah. Tapi, di ganti nanti malam lagi." Jawab Mas Karang dengan nada seperti biasanya.


Mungkin karena sikap Mas Karang yang selalu ramah dan sopan seperti inilah yang membuat aku tanpa sadar mulai menggumi yang kemudian berubah menjadi mencintai. Di tambah cara bicara Mas Karang yang selalu manis terhadapku membuat aku tidak mampu menolak pesonanya.


Atau sejatinya memang hatiku saja yang mudah sekali terjatuh dan terbawa perasaan dengan mudahnya. Dan lemahnya hatiku, adalah ketika sekali menjatuhkan pilihan, maka aku akan memberikan seluruh hatiku utuh kepada seseorang yang membuat dadaku bergetar dalam kata lain aku adalah seorang bucin. Meski itu tidak terbalas sekalipun, seperti perasaanku dulu terhadap Bang Daffa.


"Jadi, Mas Karang nanti ada shif malam.?"


"Benar sekali."


"Wahh, habis ini harus tidur dong Mas Karang, biar nanti malam tidak mengantuk." Kembali Bia bertutur. Dan seseungguhnya aku juga ingin berkata demikian, namun entah kenapa bibirku terasa kelu sendiri.


"Seperti itulah, Bi." Jawab Mas Karang sembari tersenyum.


"Kalau gitu cepetin dikit War makannya, kasihan kita nyita waktu Mas Karang untuk istirahat." Kata Bia lagi, sembari mengegesakan menyendok makanan di depannya.


"Tidak perlu segitunya, Bi. Aku sudah terbiasa."


"Pelan pelan, Bi. Nanti kamu kesedak." Timpalku saat ku lihat Bia memang terlihat sangat terburu buru melahap makanannya.


"Aku keburu buru bukan karena apa apa, tapi memang harus ku burukan. Karena aku mau ke kamar kecil." Jawab Bia berbarengan dengan tandasnya isi piringnya lantas tanpa menghiraukan wajah bengongku, Bia bergegas pamit ke kamar kecil meninggalkan aku dan Mas Karang.


Aku dan Mas Karang tersenyum canggung sepeninggal Bia, tidak sebenarnya hanya aku seorang yang canggung. Karena, aku dapat melihat senyum Mas Karang yang tampak santai saja tersunging untuk ku. Bahkan jauh lebih dari itu, Mas Karang seolah bersyukur dengan perginya Bia.


"Maaf." Ucap Mas Karang pelan, dan itu membuatku mengangkat kepalaku untuk menatap Mas Karang, dan tampak olehku senyum Mas Karang yang semakin melebar.


"Maaf untuk apa.?" Tanyaku heran kepada Mas Karang.


Kembali senyum Mas Karang terukir di bibirnya. "Maaf karena tidak bisa memenuhi janji untuk menemuimu sesuai janjiku. Pasti kamu menunggu lama, sampai sampai kamu marah kepadaku."

__ADS_1


"Tunggu, maksud Mas Karang janji ketemuan empat hari setelah terahir kali kita ketemu itu.?" Tanyaku menyala ucapan Mas Karang.


"Iya. Beri kesempatan aku untuk menjelaskan alasanku tidak datang, War."


"Mas, aku juga tidak datang." Jawabku lemah sembari menaruh garpu dan sendok ku secara bersamaan. Karena, seluruh ingatanku terhadap Kak Melati langsung memenuhi otak ku dan itu sukses membuat moodku turun.


"Benarkah.?" Potong Mas Karang dengan nada penuh tanya dan segera ku jawab dengan mengangguk penuh keyakinan.


Hembusan nafas lega Mas Karang tampak jelas terlihat yang di barengi dengan senyum memgembang di sudut bibirnya. "Aku kira kamu marah hingga berhari hari tidak ingin datang ke Rumah Laundry, dan pada ahirnya aku harus melibatkan Mas Karim agar bisa bertemu dengan mu." Jelas Mas Karang.


"Maaf. Aku tidak bermaksud melakukan itu, hanya saja aku butuh waktu untuk menata perasaan yang sedang kacau." Ujarku pelan sembari tanganku sibuk mengaduk aduk jus Jambu dengan sedotan.


"Apa itu ada sangkut pautnya denganku.?" Aku menggeleng pelan sebagai jawaban untuk Mas Karang. "Apa aku boleh tau.?" Lanjut Mas Karang.


Ku tatap Mas Karang lagi yang masih setia dengan senyum manisnya, dan aku rasa tidak ada salahnya berbagi dengan Mas Karang. "Aku kehilangan Kakak ku untuk selamanya." Lirihku dan tampak wajah kaget Mas Karang untuk sesaat, lantas dengan cepat punggung tanganku sudah di usapnya pelan.


"Aku turut berduka cita. Kita tidak pernah tau begitu cepat saja Allah mengambil orang orang yang kita sayangi, mungkin juga agar kecintaan kita terhadap manusia tidak melebihi cinta kita terhadapnya." Helaan nafas Mas Karang terdengar begitu berat di telingaku.


"Dan sejujurnya aku juga sedang berduka. Aku juga baru kehilangan Kakak Iparku." Kini ganti aku yang tercengang dengan ucapan Mas Karang. "Dan itu pula yang menjadi alasanku tidak bisa datang untuk menemuimu. Di tengah kesedihan itu, aku bingung harus menghubungimu kemana. Karena kamu tidak memberikan aku kontakmu."


"Maaf."


"Jujur, melihat begitu sedihnya Kakak ku yang kehilangan Kakak Iparku, ada perasaan takut yang begitu besar jika suatu saat nanti aku akan kehilanganmu dan aku tidak tahu harus mencarimu kemana." Nada ini terdengar sedih.


"Tidak perlu menjawabku, mungkin karena perasaan ku saja yang berlebihan terhadapmu, sehingga aku terlalu jauh berpikir. Bukankah sudah hukum alam, setiap cinta itu pasti akan berahir jika masanya telah usai. Jika bukan karena terpatahkan karena keadaan pasti terpatahkan karena takdir Allah, seperti Kakak ku dan itu yang paling aku takuti akan terjadi. Karena jelas akan begitu berat perjuangan memendam rindu hingga dapat bersua kembali." Tutur Mas Karang panjang.


"Cinta itu do'a, dan do'a adalah cinta, maka siapapun yang mencintaimu pasti akan mendo'akanmu, dan siapa yang mendo'akan mu berarti dia telah mencintaimu dengan seutuhnya. Dan cara terindah untuk menyampaikan rindu adalah lewat untaian do'a yang sampean titipkan kepada Malaikat setiap kali hati di penuhi dengan bisikan kuat untuj bersua." Aku tidak tau dapat darimana kata kata itu, tapi aku rasa aku tertular virusnya Bia sehingga bisa membuat kata kata yang di luar nalarku.


Kami sama sama diam tanpa melapas pandangan mata kami, memuaskan pupil mata kami dengan bayangan masing masing sebelum ahirnya kami hanya bisa melepas kerinduan lewat do'a. Mengagung cinta yang membuat Allah begitu cemburu, lantas menegur kami lewat kegelisahan agar kami sadar bahwa tidak ada kekekalan cinta terhadap manusia.


Sejatinya, cinta itu urusan hati, tidak ada kemampuan bagi manusia untuk memilihnya termasuk denganku, tidak pula ada kemampuan baginya untuk mengontrol. Kwajiban manusia hanya menjauhi prilaku yang dapat menjatuhkannya dalam jurang keharaman. Karena, manusia kelak hanya akan di mintai pertanggung jawaban akan prilakunya bukan perasaan cinta yang ada dalam hatinya. Lalu apakah aku akan mampu menjaga cinta ini hingga ada alasan halal bagi kami.


"Mawar, boleh aku bertanya satu hal.?" Tanya Mas Karang lagi.


"Silahkan."


"Apa perasaanmu terhadapku karena pengalihan perasaan atau memang karena kamu mengingin aku yang mendiami hatimu.?"


Deg, seketika mataku melabar mendengar kata Mas Karang. Jika orang lain yang bertanya mungkin dengan mudah dapat aku jawab, tapi ketika tanya itu keluar dari Mas Karang, aku bingung harus menjawabnya seperti apa. Dan entah kenapa tiba tiba perkataan Erik terngiang kembali. Mungkinkah ada sedikit kebenaran akan perkataan Erik, jika Mas Karang memiliki kemiripan dengan Bang Daffa.

__ADS_1


Tidak, hatiku menolak itu. Mas Karang adalah sosok yang sangat jauh berbeda dengan Bang Daffa. Mas Karang memiliki wajah yang selalu ceria, tuturnya lembut, penuh perhatian dan sesekali kata katanya manis, sedang Bang Daffa selalu kebalikannya dari Mas Karang. Atau memang seperti itu seorang laki laki jika sedang bersama dengan wanita yang di sukainya. Bukankah Bang Daffa juga seperti itu jika tengah bersama Kak Melati.


"Mawar.?" Ulang Mas Karang.


Aku menunduk dalam sembari terus meremas kedua tanganku guna mencari kata yang tepat untuk menjawab Mas Karang. Jujur perasaan malu lebih dominan.


"Tidak perlu di jawab, dari rona merah di wajahmu aku sudah tau jawabannya. Aku rasa sangat keterlaluan jika aku memaksamu untuk menjawabnya." Telak Mas Karang hingga aku tidak mampu menyembunyikan rasa maluku dan hanya bisa menutup wajahku dengan kedua tangganku hingga tingkahku membuat tawa Mas Karang semakin menggelak.


"Setiap perempuan akan malu jika di hadapkan dengan laki laki yang di sukainya. Dan tingkah malu malu mu itu sudah cukup jadi bukti, jika aku orang yang tengah menjadi raja di hatimu." Lanjut Mas Karang, membuat bibirku mengembang di balik tangan yang menutupnya.


"Jangan kwatir. Tak perlu kamu risau posisimu untuk ku jika kamu malu untuk bertanya. Kamu pemenangnya Mawar, kamu adalah detak jantungku. Maka dari itu jangan berani berani meninggalkan aku tanpa sebab, jika tak ingin aku gila karena mu."


"Jangan berlebihan seperti itu. Aku belum memiliki kwalifikasi yang hebat, hingga mampu dan pantas berada di dekat sampean. Jangan semakin membuatku malu." Jawabku.


"Kita akan sama sama memantaskan, dan aku akan berusaha sangat keras agar aku cepat bisa mandiri." Lantas setelahnya hanya ada rencana rencana Mas Karang yang di uraikan kepadaku, hingga Bia datang ke tengah tengah kami lagi.


"Bia, bisa minta nomer ponsel kamu dan Mawar." Kata Mas Karang ketika kami hendak berpisah. Dan cara Mas Karang mendapat nomer ponselku memang benar benar jitu sekali, lantaran Bia segera saja memberikan nomer ponsel kami tanpa memerdulikan tatapan keberatanku.


Dan tanpa berdalih panjang Mas Karang segera pamit meninggalkan aku dan Bia begitu nomer ponsel kami tersimpan di ponselnya. Melangkah menuju kendaraannya Mas Karang masih sibuk dengan ponsel di tanggannya, dan Ting. Bunyi notif dari ponselku dan akupun bergegas mengambil ponsel butut dari saku ku.


"Sampai jumpa sebulan lagi, Jantung Hati. Rinduku akan ku titipkan lewat do'a mulai nanti malam. Akan ku jaga senyum mu seperti Edelweiss yang abadi hingga berpuluh puluh tahun lamanya." Aku berusaha meredam senyum sekaligus mataku agar tidak menoleh ke arah mobil yang kini tengah berjalan pelan meninggalkan parkiran..


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz Kopi


@maydina862


__ADS_2