
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Daffa POV.
Mengenal Mawar lebih dekat ternyata memang dia bukan orang yang susah dipahami dan mudah di ajak bicara, sekaligus termasuk golongan wanita yang tidak banyak maunya. Dan aku tau golongan ini adalah tipe tipenya Daffin, jadi wajar saja kalau Daffin bisa jatuh hati kepada Mawar dan jika aku lihat lagi, rasa Daffin cukup kuat kepada Mawar. Sedangkan Mawar sendiri seperti kain hitam perasaannya jika sudah melihat Daffin. Tak bisa di pahami.
Satu yang aku tau dari Mawar dengan pasti. Mawar akan membalas lebih baik kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Dan itu yang sedang aku manfaatkan darinya, awalnya seperti itu. Tapi, begitu melihat ketulusannya kepada Adit juga sikapnya yang membuat nyaman tidak banyak tuntutan, aku mulai memikirkan ulang tujuanku. Setidaknya kembali menjadi saudara seperti dulu ada baiknya juga.
Kehilangan orang yang di cintai dengan cara putus hubungan dan menyaksikan kebahagiaan orang yang di cintai merajut bahagia dengan orang lain, memang aku tidak pernah mengalaminya. Tapi, aku tau pedihnya kehilangan orang yang aku cintai selamanya. Oleh sebab itu aku berusaha menghibur Mawar yang saat ini aku rasa tengah merasa sakit di dadanya karena mimpinya bersama Daffin kandas.
Aku kira aku akan senang melihat reaksi Mawar yang akan bersedih dengan senyum tetap bertahan di wajahnya saat acara pertunangan Daffin. Tapi, aku salah sangka. Justru wajah sedih dan kehilangannya di tunjukankan saat Papa membawa Adit pergi, bahkan Mawar sampai menangis hampir semalaman.
Pelan memang gerak Mawar mengembalikan milik Melati, tapi kenapa aku tidak suka. Apa karena aku sudah terbiasa dengan Mawar. Sampai pagi ini saat aku bangun tidur tak melihatnya juga kelimpungan mencarinya.
"Aku tadi mendengar Mawar pamit sama Ibu, dia mau pergi ke acara temannya." Kata Daffin saat tau aku terus mencari Mawar.
"Oh iya aku lupa, hari ini adalah pernikahan sahabatnya." Kenapa aku tidak rela yang menjawab tanyaku Daffin.
"Bang, apa Mawar dan Bang Daffa sedang baik baik saja." Aku tau tanya yang keluar dari Daffin bukan tanya biasa, itu adalah berupa tanya seorang yang mencintai istriku. Begitu rumitnya hubungan ini. Dan benar kata Mawar, bukan sekedar aku yang tersakiti tapi Daffin terlebih Mawar juga merasakan sakit yang sama. Hidup dalam rumitnya kisah cinta yang di paksakan.
"Apa yang kamu pikirkan, Fin. Tentu saja aku dan Mawar baik baik saja." Aku sengaja berbohong kepada Daffin agar tidak ada masalah pada rencana pernikahan Daffin tiga bulan lagi.
"Dia baik sekali, Bang. Aku melepasnya karena aku tau Bang Daffa juga orang yang baik. Aku percaya sama Bang Daffa akan bisa memberi bahagia Mawar lebih daripada aku. Aku titip Mawar." Bla, bla, bla. Entah kata apa saja yang sudah di sampaikan oleh Daffin, yang aku tau itu membuat telingaku tak suka mendengarnya sekaligus membuat kepalaku ingin meledak marah.
Meninggalkan Daffin begitu saja, aku mencoba kembali fokus dengan beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini juga. Tapi, perkataan Daffin terus saja terngiang di telingaku, hingga ahirnya aku memilih menyerah dengan langsung menyegarkan diriku di kamar mandi.
Aku kira dulu hidup sendiri itu menyenangkan sebelum Mawar datang. Sekarang, sehari tanpa Mawar dan Adit rasanya sudah sepi kayak di kuburan. Mungkin juga ini adalah rasa ketergantungan yang harus coba aku hindari. Dan jangan sampai terjadi kejadian seperti seminggu lalu.
Hampir saja aku terbawa suasana dengan tergoda keelokan tubuh Mawar. Beruntung ada Adit yang menyadarkan kami. Dan sepertinya setelah ini, aku akan kembali ke Apartement agar tidak perlu ada kesalahan lagi.
Menepati janjiku kepada Mawar, aku sampai juga di acara Erik malam ini. Dan lihatlah dia, seolah tanpa beban dia terus tertawa tawa di hari bahagia Erik dan rela melakukan apa saja demi acara Erik. Sungguh, aku iri dengannya yang begitu mudah mengesampingkan perasaannya sendiri demi orang lain, agar tak terlihat kwatir.
Malam ini dia tampak lain dari biasanya saat mengajakku pulang, seluruh senyumnya hilang, kata katanya seakan mahal di keluarkan, dan itu membuatku tidak nyaman. Aku merasa dia kembali memberi jarak antara aku dan dia. Ini tidak sesuai dengan apa yang sedang aku pikirkan.
Benar, berdiskusi akan menjadi jendela bagi kami berdua, akan seperti apa hubungan ini kelanjutannya. Meski aku masih akan terus menahannya, hingga Daffin menikah, untuk memastikan semuanya berjalan sesuai harapan dan keinginanku. Katakan saja aku egois, memang aku egois agar semua kembali seperti sedia kala.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Jika ada yang harus di salahkan untuk malam ini, kenapa aku kembali terbawa suasana hingga ahirnya aku jatuh juga di atas ranjang bersama Mawar. Maka, hujan dan dingin yang menjadi kambing hitamnya. Karena, jika tidak hujan, jelas kami akan kembali ke rumah dan kejadian memalukan ini tidak akan pernah terjadi. Bukan salahku yang tergoda, tapi salah tubuh Mawar yang bisa membuatku tergoda.
Melihat noda di atas sepray pagi ini, sungguh aku tak punya muka jika harus bertatap dengan Mawar. Segala hinaan, segala cacian, cemo'ahan, selalu di terimanya dengan diam saat aku merendahkannya sebagai wanita murahan. Dan noda itu, cukup menjadi bukti bahwa akulah yang pertama baginya.
Meraup wajahku kasar, aku berupaya bersikap senormal yang aku bisa agar rasa maluku tak nampak di hadapannya. Tapi, sikapnya pagi ini yang diam dan bukan canggung membuatku merasa bahwa aku tidak berharga baginya, dan wajahnya yang datar saat bicara seolah mengejek ku bahwa aku telah kalah darinya.
Seminggu, aku memilih tetap di Apartement untuk berpikir. Kenapa, bagaimana, dan harusnya seperti apa, itulah yang sedang aku pikirkan jalan keluarnya. Hingga aku memilih untuk pulang ke rumah dan mendapati wajahnya yang datar serta menghindariku membuatku tak terima.
Egoku sebagai seorang laki laki tercabar oleh ucapannya yang memilih untuk pergi ketimbang meminta pertanggung jawabanku, dan ini membuatku merasa tak terima, karena dalam pikiranku apa yang di lakukannya semakin memojokan aku sebagia laki laki bejat di hadapannya.
Memang Mawar tidak membahas kejadian malam itu, tapi kata katanya yang menyinggung malam seminggu lalu membuat aku berang, aku terhina.
"Bukankah Bang Daffa tau persis bahwa itu yang pertama buatku." Darahku bergejolak dengan kata kata Mawar. Dan kata itu seolah menjadi wakil bahwa aku benar benar laki laki brengsek, yang dengan mudahnya akan tergoda dengan seorang wanita. Sekali lagi aku terhina.
Membanting pintu kamar Mawar dengan kasar, aku langsung keluar dari rumah setelah aku memastikan setiap dokument untuk pengajuan cerai telah aku bawa dengan lengkap. Aku abaikan segalanya demi harga diriku yang tak ingin di injak oleh Mawar. Urusan orang rumah akan aku pikirkan nanti, setidaknya selama aku tidak bicara, Mawar juga tidak akan berkata pada siapapun.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Dua bulan berlalu, hidupku berjalan seperti mesin. Kerja, kerja, kerja dan kerja. Aku menyibukan diriku dengan kerja setiap waktunya agar tidak perlu terbebani dengan kemungkinan buruk dari perceraianku dan Mawar.
Sidang mediasi memang sudah di gelar, dan nyatanya Mawar benar benar menyetujui permintaanku dengan tidak hadir di persidangan. Tapi, entah kenapa sudah sepuluh hari ini dia terus datang ke kantor untuk mencariku. Aku masih tak ingin bertatap muka dengannya, oleh sebab itu aku selalu menyuruh orang lain untuk menemuinya. Tapi, dia tidak mau berkata apa apa dan langsung pergi begitu saja.
Hari ini aku tau Mawar juga datang tidak lama setelah Ibu datang dan aku sengaja menyuruh asistenku untuk membiarkan Mawar masuk di ruangan sebelah, tujuanku agar Mawar mendengar apa yang aku bicarakan dengan Ibu.
"Dengan memiliki anak, cinta akan tumbuh di antara kalian, Fa." Ucap Ibu saat seluruh bujukan tidak mempan untuk ku.
"Daffa tidak pernah mencintai Mawar, Bu. Bagaimana mungkin Daffa mau memiliki anak bersamanya." Sengaja aku keraskan suaraku agar Mawar bisa mendengarnya dan itu aku rasa berhasil, karena setelah aku usai berbicara seketika aku mendengar benda terjatuh di ruangan sebelah. Aku tidak perduli.
Ancaman Ibu tidak juga aku hiraukan, yang terpenting saat ini adalah aku sudah bertekat bulat untuk berpisah dengan Mawar, apapun yang terjadi. Dan aku rasa Ibu juga tidak akan gegabah dengan langsung berbicara dengan Ayah. Pasti yang utama dia akan mencari Mawar terlebih dulu. Dan kemana Mawar saat ini siapa yang tau, karena setauku dia sudah pergi dari rumah itu sejak aku setuju untuk berpisah, bahkan nomer ponselnya juga tidak pernah aktif lagi.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Ahirnya segalanya usai hari ini tepat di tiga bulan pengajuan perceraian. Meski dalam berita acara Mawar tidak menuntut apa apa, tapi aku sengaja memberikan beberapa jumlah uang di rekeningnya, serta rumah yang telah aku pindah namakan atas dirinya.
Setelah hari itu dimana dia datang berbarengan dengan Ibu dan pergi sebelum aku menemuinya, baru kali ini aku melihatnya lagi. Dengan balutan busana warna hitam, dia tampak lebih kurus dari sebelumnya, lingkar matanya tampak menghitam seperti kurang tidur, bibirnya juga pucat.
Duduk sendiri di taman terbuka depan pengadilan Agama, dia tampak begitu menyedihkan. Ingin memastikan bahwa dia baik baik saja, aku sengaja menghampirinya yang tengah memijat kepalanya pelan sembari menutup matanya.
"Kamu baik baik saja.?" Dia tersentak kaget dan langsung membenahi cara duduknya. "Kamu kelihatan pucat, War." Lanjutku sembari hendak menyentuh keningnya, namun segera di tampiknya.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu, karena itu asing buatku." Lirihnya. Kenapa, kenapa ini terasa sesak aku dengar.
"Aku memasukan uang di rekeningmu, kamu bisa mengecheknya nanti."
"Sebagai konpensasi.?" Aku tak menjawab ucapan Mawar, aku hanya tak ingin beradu argumen dengannya yang pada ahirnya nanti aku akan emosi karena di buat bingung dengan perasaanku. "Aku tidak butuh itu, aku hanya mau satu saja darimu."
"Katakan."
Di helanya nafas dalamnya dan sejenak menyetuh ujung ujung jilbabnya untuk membetulkan gamisnya. "Aku mau menyentuh wajahmu."
Aku tercengang dengan permintaan Mawar, sesederhana itukah permintaanya. Atau ada maksud lain dari itu, entahlah aku tak mau ambil pusing, toh kami telah resmi bercerai hari ini. Jadi, aku anggap saja itu sebagia hadiah untuknya.
Tangannya yang bergetar dan berkeringan dingin pelan pelan mulai menyentuh alis, mata, hidung, pipi dan bagian lain dari wajahku dengan satu tangganya, sementara tangan yang satunya tetap bertahan di pangkuannya. Matanya fokus memperhatikan setiap inci dari wajahku dan bibirnya tak hentinya bergumam, aku sendiri tidak tau bergumam apa.
Tidak lama setelah itu dia pergi begitu saja dengan langkah gontai mengambil arah berlawanan denganku dengan meninggalkan satu kalimat yang tak ku pahami di tujukan untuk apa.
"Aku tak ingin membenci dengan setiap luka yang tertoreh, karena aku tau setiap luka pasti akan menemukan obatnya. Terima kasih untuk setiap menit yang berlalu."
Daffa POV end.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862