
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Berdiri dengan ransel di gendongan, ku puas puaskan mataku dengan bayangan pepohonan yang memenuhi pupil yang kian melebar. Entah akan kapan lagi kakiku menjejak ke tempat yang bakal menjadi sejarah buatku. Sejarah indah kisah perasaan yang terbalaskan.
Kisah singkat semalam kembali terulang melintas di otak ku, hingga membuat senyumku melebar di sertai dengan wajahku yang ikut menghangat. Tanpa memerdulikan keberadaan Bia di sampingku, yang juga ikut sayang meninggalkan tempat indah ini.
"Sedih ya, War." Ucap Bia seolah berbicara pada dirinya sendiri sembari menghela nafas beratnya.
"Hu'uh. Kapan bisa kesini lagi." Jawabku tak kalah menghela nafas beratku.
"Kenapa setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dan selalunya perpisahan itu menyisakan kenangan. Kenangan yang bakal sulit untuk di lupakan."
"Kepanjangan, otak ku enggak nyampai kesana." Mementahi ucapan Bia begitu saja, membuat si pembuat kata langsung mencubit pinggangku hingga membuatku mengaduh kesakitan.
"Harusnya kamu tuh diem saja kalau emang enggak bisa jawab. Kalau kayak gini kan enggak ada haru harunya, War." Sewot Bia.
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku guna menyamarkan suara kikikan yang coba aku sembunyikan dari Bia. Tapi, sia sia belaka karena Bia menyadari itu dan segera kembali menyubitiku. "Ampun Bi, ampun. Tidak akan berani lagi."
"Apa yang begitu menarik buat kalian." Tanya Mas Karang yang tiba tiba sudah berada di belakang kami berdua. "Sampai sampai bisa tertawa sebahagia itu." Di sendekapkan tangan Mas Karang, sembari menatap kami berdua bergantian, namun lebih intens terhadapku.
"Mawar tuh Mas Karang, heran seneng banget membuat hati Bia patah berserakan." Drama Bia sembari bersungut. Sedangkan aku hanya bisa menepuk keningku sembari menggeleng pelan. Aku tidak semenyangka ini, ternyata aku memiliki teman yang cukup lebay.
"Seperti gelas yang terlempar di lantai, lalu menggores tangan dan mengucurkan darah yang tak seberapa, namun perihnya akan terasa." Gelengan kepalaku semakin ku keraskan tatkala ucapan Mas Karang mengikuti alur kata yang di buat Bia.
"Perih dari luka yang belum mengering dan di bubuhi garam." Lanjut Bia lagi.
"Jangan lupa, garamnya yang beryodium." Timpalku dan lagi itu membuat Bia memukul bahuku dengan geram.
"Huhahahahahaha." Tawa pecah Mas Karang mendengar penuturanku, sampai sampai Mas Karang memegangi perutnya.
"Tuh kan Mas Karang, sebel enggak sih sama Mawar kalau kek gini. Tidak menghargai banget orang seni." Ucap Bia.
"Aku taunya seni bela diri sih, Bi." Jawabku lagi dan Bia semakin geram setiap kali aku berucap.
"Hargai kek orang yang susah susah cari kata kata." Ucap Bia lagi masih dengan bibir manyunnya.
Mas Karang yang masih tertawa tak henti melihat pertengkaran cinta antara aku dan Bia. "Menurut Mas Karang gimana.?" Tanya Bia kepada Mas Karang yang masih sedikit susah untuk berhenti tertawa.
"Sebentar." Jawab Mas Karang sembari mengangkat satu tangannya ke atas. Dan setelah cukup lama berusaha untuk mengotrol tawanya, Mas Karangpun mulai bicaranya pelan. "Menurtuku memang harus sefrekwensi, Bi."
"Tuh denger kan, Bi. Jadi kalau kamu tuh kalau mau ngomong ngaco ngaco kayak tadi jangan sama aku, jelas enggak nyambung. Kamu tuh cocoknya sama Mas Karang." Jawabku dengan sengaja menekankan kata bagian belakangku. Dan itu sukses membuat Mas Karang dan Bia terkesiap kaget, terlebih buat Mas Karang yang seperti menelan batu saja.
"Ehh. Bukan gitu, Mawar. Kadang manusia juga butuh keluar dari jalur yang biasanya, agar lebih waras." Jawab Mas Karang dengan nada yang membuatku ingin tertawa mendengarnya. Lantaran yang aku dengar seperti penjelasan seorang pacar terhadap kekasihnya..
__ADS_1
"Bener banget tuh kata Mas Karang." Timpal Bia.
Aku tak menjawab, hanya mengedikkan bahuku sembari membuat mimik tak menentu. Dan itu sukses membuat Mas Karang salah tingkah.
"Tidak semua yang selaras itu akan bisa bersama, yang di butuhkan itu hanya rasa nyaman dalam kebersamaan. Bukankah demikan untuk cinta." Ucap Mas Karang lagi, sembari menatapku dengan penuh pengharapan.
"Tidak tau juga sih." Jawabku.
"Kok, roman romannya aku mencium aroma cinta bersemi di balik bencana." Kini giliranku yang menatap Mas Karang dengan pengharpaan, agar Mas Karang jangan sampai membongakrnya kepada Bia. Setidaknya tidak untuk hari ini dan secepat ini.
Mas Karang menaik turunkan alisnya dengan senyum samar yang tercetak di sudut bibirnya. Di matanya seolah berkata, apa imbalan yang akan aku dapatkan dengan berbohong.
"War." Ucap Bia lagi.
"Apa." Jawabku dengan bersandiwara menghadiahi Bia tatapan tajam, lantas kembali memantap Mas Karang dengan tatapan memohon.
"Seremnya enggak kayak biasanya sih. Tapi, lumayanlah. Hihihihi.." Jawab Bia sembari terkekeh.
Kali ini aku benar benar memohon kepada Mas Karang dengan mengedikan kepalaku, agar Mas Karang segera memberi alasan bohong kepada Bia.
"Coba kamu lebih berusaha lagi, Bi. Membuat ada cinta bersemi antara kamu dan Om Loreng." Ucap Mas Karang ahirnya.
"Kok jadi ke Bia dan Om Loreng, cintaku masih tetap utuh buat Gusse."
Di tengah raut ketakutan Bia, justru mafas lega aku ambil berkali kali. "Mas, itu, itu, Bia kelepasan. Mas Karang jangan bilang sama Mas Karim yah. Please.." Rengek Bia dengan wajah pucat pasi.
"Tergantung." Kata Mas Karang dengan nada menggoda.
"Please, Mas. Bia tidak mau Mas Karim tau. Cukup Bia yang mengaguminya dengan diam." Jelas Bia dengan kepala tertunduk.
"Makanya jangan suka usil." Timpalku dengan sudah mengelus punggung Bia. "Bukannya sudah waktunya pulang ya sekarang. Bukan begitu Mas Karang." Lanjutku.
"Iya bener, waktunya pulang sekarang." Seru Bia. "War, aku duluan ya. Aku tadi lupa belum pamitan sama pengungi yang kemarin. Mas, bener ya, itu jadi rahasia kita." Lanjut Bia sembari cepat bergegas pergi meninggalkan aku dan Mas Karang yang berjalan pelan dibelakangnya.
"Ada orang cemburu sih ya. Makanya anyes banget langitnya." Ucap Mas Karang pelan.
"Siapa juga yang cemburu." Jawabku sembari menyipitkan kedua mataku.
"Entah, siapa."
"Gede Rasa sih." Eyelku.
"Biar gede rasa. Daripada rasanya di pendam kayak Bia bisa jadi jerawat rindu." Jawab Mas Karang lagi. Dan tetiba saja Mas Karang menghentikan langkahnya, lantas menoleh kepadaku dengan cepat.
"Keluar dari zona yang biasanya itu menyenangkan, Mawar. Kalau tidak percaya coba saja dan aku tunggu hasilnya empat hari lagi di rumah Laundry. Aku mau dengar kata kata rayuanmu untuk ku." Aku membelalakan mataku mendengar ucapan Mas Karang tanpa bisa menjawabnya barang sepatah saja lantaran terlalu kaget.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Terima kasih, Mas. Terima kasih semuanya." Ucapku dan Bia secara bersamaan kepada Mas Karang dan rekan Mas Karang begitu kami berdua keluar dari mini bus yang mengantar kami berdua tepat di halaman Pesantren.
Mas Karang memang ikut keluar dari mobil, tapi tampak tidak sebahagia tadi. Semenjak keluar dari area pegunungan, ponsel Mas Karang tak henti hentinya terus berderit, juga tangan Mas Karang tiada henti terus menari di atas layar pipih tersebut. Entah apa yang terjadi, wajahnya juga nampak muram. Itu juga berimbas kepadaku yang juga tiba tiba ikut merasa gelisah tak menentu.
"Salam buat Mas Karim, maaf aku tidak bisa masuk." Kata Mas Karang kepadaku dan juga Bia.
"Iya, Mas. Sekali lagi terima kasih." Ucapku lagi. "Kalau begitu kami masuk dulu, Mas." Lanjut ku.
Mas Karang tak menjawab, malah menoleh ke arah mobil dimana tiga teman Mas Karang lainnya juga disana. Terlihat sekali gurat sedih di wajahnya, dan hendak menyampampaikan sesuatu kepadaku namun tidak bisa lantaran bayak mata yang memandang kami.
Melihat wajah seidh Mas Karang, aku seketika teringat dengan Lolipopku yang selalu ada beberapa di dalam tasku, dan mengeluarkannya yang kebetulan hari ini masih tersisa satu. Aku angsukan kepada Mas Karang. "Sebagai ucapan terima kasih, Mas."
Mas Karang tak langsung menerimanya justru memandanginya bergantian antara aku dan Lolipop di depannya. Aku tetap berupaya untuk menyungingkan senyum terbaik ku, meski di hati banyak rasa bercampur aduk, antar akwatir dengan Mas Karang yang tiba tiba berubah seperti banyak pikiran, juga rasa gelisah yang tidak aku tau harus menjabarkannya seperti apa, datang dengan tiba tiba begitu saja.
"Lolipopnya Mawar enak banget, Mas Karang. Di jamin nyesel kalau tidak menerimanya." Ucap Bia dengan nada cerianya, dan itu berhasil menular kepada Mas Karang yang kini sudah menyungingkan senyum untuk kami, meski tmapak berat juga kaku.
"Terima kasih, Mawar." Ucap Mas Karang sembari ingin meraih Lolipop dari tanganku. Namun, baik tanganku dan tangan Mas Karang masih sama sama mengantung di udara, lantaran kami harus di kagetkan dengan mobil yang baru saja masuk sembari membunyikan klaksonnya. Sehingga membuat pandangan kami bertiga terarah ke arah kendaraan yang melaju cukup di luar rata rata kendaraan pada umumnya saat mamasuki area parkiran.
Aku kenal dengan kendaraan yang sudah berhenti tidak jauh dari kami, bahkan sangat mengenalnya dan juga sangat tau siapa pemiliknya. Belum usai kagetku dengan hadirnya mobil itu, di tambah pemilik mobil yang keluar dengan cepat sembari menyerukan namaku, hingga membuat Lolipop di tanganku terjatuh ke tahah.
"Mawar..." Serunya..
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1