Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Sebagai Peran.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Entah sudah yang keberapa kalinya aku naik turun dari satu Bus ke Bus yang lain dengan jurusan kota K. Mulai dari Bus Ekonomi hingga Bus berkelas sudah ku masuki, namun tetap saja tak ku jumpai sosok yang aku cari. Di belakangku Bia juga tidak kalah ikut menelisik setiap set kursi dengan ponsel yang senantiasa menempel di telinganya. Dan tetap sama saja, baik orang ataupun bayangannya tetap tak terjumpai.


Saat matahari sudah semakin menjingga dan semua usaha yang aku lakukan terasa sia sia, ahirnya aku dan Bia memilih duduk di kursi tunggu terminal dengan saling diam dalam pikiran masing masing. Tatapanku sudah tak lagi menjelajah melainkan hanya terus berfokus di satu arah, namun tidak jelas apa yang sedang aku pandang.


"Masih tak bisa di hubungi." Ucapan Bia membuatku menolehnya dan menadapati wajah Bia yang terlihat semrawut tidak jelas.


"Ayo pulang." Kataku pelan sembari berdiri dan melangkah begitu saja tanpa persetujuan dari Bia.


"War."


"Is oke, aku baik baik saja." Jawabku.


"Kita tunggu sebentar lagi, mungkin Mas Karang memang datang terlambat." Ucap Bia.


Aku memutar tubuhku kembali menghadap Bia, lantas menolehkan kepalaku ke jajaran Bus yang satu demi satu telah meninggalkan tempatnya. "Itu Bus terahir, Bi." Pelanku.


"Tapi, War.?"


"Sudah mau Mahrib, ayolah."


"Aku coba telfon sekali lagi." Kekeh Bia, dan setelahnya hanya wajah sedih Bia yang di sertai dengan gelengan kepala pelan kepadaku. Dan aku cukup paham dengan yang di lakukan Bia.


Kembali ku atur langkahku pelan meninggalkan terminal, dan hanya ada kebisuan antara aku dan Bia sepanjang perjalanan kembali ke rumah Fatma. Kalaupun ada sepatah dua patah kata yang keluar itupun keluar dari bibirku, dan Bia hanya memilih diam dengan terus mengusap punggungku pelan.


Aih, memalukan sekali apa yang aku lakukan ini. Cukup pantaskan jika ini di sebut perjuangan, jika apa yang di perjuangkan sejatinya tidaklah di benarkan.


Malam datang dengan dingin yang memeluk kulitku, dan semakin dingin di dada lantaran rencana yang tak sesuai tatanan yang di inginkan oleh hati. Harusnya aku cukup sadar, jika semua yang di rencanakan oleh Allah jauh lebih indah daripada apa yang aku rencanakan.


Namun, hati ini terlalu buta oleh rasa cinta selayaknya orang buta huruf. Tapi, memang seperti itulah sifatnya cinta buta. Karena tidak akan terlihat nilai dari seseorang yang di cintai kecuali dengan membuang sesuatu yang ia sukai. Orang yang hatinya penuh dengan rasa cinta, maka cendrung tak ada cela sedikitpun cinta untuk selain orang yang ia cintai.


Dan andai cinta itu hanya untuk Allah semata, maka alangkah indah dan berkahnya hidup ini. Sekali lagi, aku belum tergolong orang yang cinta buta terhadap nikmat Allah sehingga aku belum mampu melepaskan cinta terhadap manusia seperti aku melepaskan diriku dari dosa.


Perdebatan sengitku dengan diri sendiri, ahirnya berahir dengan keputusan bahwa semua harus kembali pada tatanannya, dan menerima semuanya serta memulai segala dari awal kembali.


Seperti dulu saat aku pelan pelan menghapus nama Bang Daffa dan membiarkan hati ini menerima nama lain yakni Mas Karang. Seperti itu pula yang harus aku lakukan, meski akan sulit dan sakit pada awalnya. Bukankah, setiap luka itu akan menemukan penawarnya. Bukankah, setiap ikhlas itu akan menemukan balasanya. Dan, bukankah setiap do'a itu akan mendapat jawabnya.

__ADS_1


Mungkin saat ini, usai sudah rencana indah yang aku coba rangkai dengan menghadirkan Mas Karang. Namun, tidak dengan rencana yang Allah rangkai untuk ku. Selagi nafas masih terus berhembus, selagi jantung masih berdetag, Allah masih akan terus meneruskan apa yang sudah di rencanakan untuk ku. Dan tandanya Allah belum usai denganku. Jika, semua apa yang kita rencanakan tercapai, lalu dimana janji Allah dengan do'a do'a yang di genggamNYA.


Dan jika semua apa yang kita inginkan akan selalu terkabul, maka masih akan adakah sabar di dada. Lalu masih haruskan ada jika yang lainnya, karena ini di dunia bukan di syurga.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Satu tahun berlalu.


Rintik hujan di tengah panas membawa pelangi yang melengkung mengukir langit, dan itu menjadi pemandangan yang indah di tengah fenomena langka. Seperti itu pula pasang surut kehidupan, sedih dan bahagia. Jika biasanya hujan akan di artikan dengan kesedihan, dan hadirnya pelangi di artikan kebahagiaan setelah kesedihan. Maka lain lagi yang aku rasakan. Sejak setahun lalu, aku begitu menyukai hujan. Dan melebur setiap rasa dengan hujan.


Bukan gagal move on dari Mas Karang. Hanya saja, kadang hati itu mudah mengingat satu peristiwa yang telah lalu, cuma karena sebuah peristiwa yang lantas menciptakan moment. Jika di katakan hati terlalu rapuh, iya memang. Karena memang bukan hal mudah untuk membuang kenangan. Apalagi, jika itu meninggalkan kenangan yang mendalam.


Seperti yang aku lalukan saat ini, berdiri di bawah rintik hujan di atas rooftop. Menikmati setiap tetesan dari berkah sekaligus lelehan airmata langit. Tidak perduli akan seperti apa cibiran dari Bia, bagiku bukan karena Mas Karang yang sampai kini hilang kontak denganku. Tapi, aku hanya ingin mengingatnya sebagai orang baik yang pernah memberi warna di hari hariku.


Tidak ada yang tau sekeras apa usahaku untuk terlihat baik baik saja selain daripada Bia. Karena memang hanya Bia yang tau soal hubunganku dengan Mas Karang. Ataupun bagaimana caraku untuk menghindar dari Bu Mega.


Tapi, aku yakin setelah ini tidak ada cara lain untuk menghindari Bu Mega, selain dari berbicara langsung dengan Bang Daffa. Aku tau, kunci utamanya ada pada Bang Daffa, asal Bang Daffa angkat suara dan keberatan akan rencana Bu Mega, tidak akan sulit bagiku untuk ikut keberatan dengan rencana Bu Mega, biapun Adit yang di ajukan sebagai alasan sekalipun.


Soal perasaanku yang mudah baper dan gampang nyaman serta mudah terlena dengan kebaikan orang lain biarlah itu nanti aku yang akan mengikatnya kuat kuat. Meski hingga saat ini perasaan ini masih di dominasi oleh kepernah hadiran Mas Karang. Setidaknya, tidak gugur seperti daun yang berajatuhan di pinggir pantai, lantas ikut tersapu ombak dan terombang ambing tidak tau ombak akan membawanya berlabuh dimana.


"Tidak ada hal yang indah selain dari di cintai orang yang kita cintai. Tapi, ada yang jauh lebih indah daripada semua itu, yakni cinta itu di restui oleh sang pemberi cinta." Gumamku pelan sembari merentangkan tanganku menyambut datangnya rintik hujan yang semakin sering dan besar besar. Yap hujan telah datang, menelan pelangi bersamanya. Beriring dengan kehadiran Bia yang menyerukan namaku, maka aku tau keseruanku menyambut hujan juga berahir pula.


"Hemmm." Jawabku pelan tanpa memalingkan wajahku untuk melihat Bia yang dari suara tapak kakinya tengah tergopoh mendekat kepadaku.


"War, cepat turun ada tamu untukmu." Kata Bia sembari menutupiku dengan payung, sehingga membuatku membuka mataku dan mau tak mau menatap Mawar.


"Siapa.?" Tanyaku dengan nada cuek.


"Kurang tau, sepertinya salah satu keluargamu." Ucap Bia masih dengan antusias.


"O iya." Setahun di biarkan begitu saja oleh orang orang yang aku anggap sebagai keluarga dan hanya Bu Mega yang menghubungi dengan tujuan bujukan untuk menjadi Ibu sambung Adit tanpa perduli bagaimana keadaanku, membuat hatiku sedikit tidak begitu respeck dengan mereka.


"Ayo, War."


"Biarkan mereka menunggu." Jawabku pelan. "Pinggirkan payungmu, Bi. Biarkan hujan membasahiku." Lanjutku sembari berusaha menyingkirkan payung Bia yang menutup sebagian dari tubuhku.


"Bukan mereka, hanya satu orang saja. Yang aku lihat tadi kayak keturuan cina gitu." Ucapan Bia membuatku menatap Bia tidak percaya, dan pikiranku langsung tertuju pada salah satu orang terpenting dari hidupku selain dari keluarga Pak Agung. Erik.


"Erik.?" Gumamku tapi cukup untuk di dengar oleh Bia.

__ADS_1


"Ya, benar. Erik dia bilang namanya."


"Untuk apa dia kesini.?"


"Kalau kamu tanya sama aku, terus aku mesti cari jawabannya di balik kemasan Es Krim.!" Ketus Bia. "Buran, sudah tau kan siapa yang datang. Penting tidak penting, setidaknya kamu sudah menemuinya." Lanjut Bia sembari menjauh dan meninggalkan aku sendiri yang masih termenung memikirkan kedatangan Erik.


Aku sedikit sangsi dengan kedatangan Erik, pertama kedatangan Erik kesini saat Kak Melati mengalami kecelakaan, dan kali ini alasan apa yang membuat Erik datang kesini lagi. Jika terus bertanya tanya seorang diri jelas tidak akan aku temui jawabannya.


Akupun bergegas turun dan langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri dengan diliputi perasaan penuh tanya membuatku dengan cepat sudah menyelesaikan ritualku, dan langsung menuju tempat dimana Erik berada.


Tidak ada yang berubah secara siknifikan dengan Erik, selain dari tubuhnya yang makin berisi dan kulitnya yang lebih coklat dari sebelumnya. Entah apa yang di lakukan anak itu, hingga kulit putih bersih yang di idam idamkan banyak orang berubah kecoklatan dan terlihat seperti orang cina campuran.


Selama kurun waktu dua tahun setelah meninggalnya Kak Melati aku memang tidak pernah ada kontak dengan Erik juga karena aku belum pernah pulang sekalipun, jadi wajar jika aku tidak tau apa yang terjadi dengannya. Tapi, terlihat jika Erik baik baik saja.


Meninggalkan segala tetang Erik yang selalu menjadi peran malaikat buatku dan Kak Melati, aku sedikit sangsi jika kedatangan Erik kali ini hanya sekedar ingin mengunjunguku. Bukankah boleh jika aku curiga dan merasa sangat terlambat, jika Erik hanya ingin menanyakan kabarku. Dan setelah kami bertatapan aku cukup tau dari mata Erik, jika benar peran malaikat baik sedang di mainkannya.


Apa lagi setelah basa basi sedikit untuk menanyakan kabar dan sebagainya, ucapan Erik berubah haluan dengan tujuannya datang kemari seperti yang aku pikirkan.


"Sudah cukup, War. Cukup sembunyimu dari luka. Saatnya kamu kembali, menyelesaikan urusanmu yang belum usai dengan keluarga Pak Agung. Adit membutuhkanmu saat ini."


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Koment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2