Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Berseminya Rasa.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Apapun bisa terjadi dan menjadi mustahil terjadi biarpun itu dalam satu tempat sekalipun. Termasuk dengan aku dan Mas Karang dalam dua hari terahir ini. Entah karena terlalu sibuk atau memang cara menghindarku begitu jitu, hingga selama dua hari ini waktu seolah tak memberi kesempatan bagi kami berdua untuk sekedar bertegur sapa. Padahal kami berada di tempat yang sama, bahkan aku bisa melihat keberadaannya.


Sekarangpun aku bisa melihat keberadaan Mas Karang dari tempatku beristirahat sembari makan siang. Duduk di sebuah batu, makanan yang tadinya terasa nikmat seakan hilang rasanya, saat aku melihat seseorang yang sedari kemarin terus berada di dekat Mas Karang.


Memiliki jas yang sama, memiliki pemikiran yang sama serta profesi serupa, membuat dadaku sesak membayangkan kemungkinan ada hubungan apa di antara mereka. Apa lagi saat keduanya tengah berdiskusi, membuat nyeri itu kian terasa. Lalu, ada hak apa bagiku untuk merasa cemburu.


Ketika hati memutuskan untuk jatuh, maka hal pertama yang harus disiapkan adalah kerelaan hati jika tidak semua hati itu memiliki rasa yang serupa. Dan, aku lupa akan hal itu. Aku hanya mengagumi seorang diri, jadi tidak akan pantas bagiku untuk memiliki rasa cemburu.


Menghela nafasku dalam, ku buang jauh pandanganku dari Mas Karang dan memilih ikut beruforia dengan Bia dan Mbak Yesha yang tengah tenggelam dalam hayalan mereka dengan Om Om Loreng.


"Sumpah, aku akan patah hati mulai besok." Ucap Mbak Yehsa dengan wajah sedih.


"Kenapa Mbak.?" Tanyaku dan Bia secara bersamaan.


"Hik,hik,hik." Mbak Yesha pura pura menangis dan membuat aku dan Bia saling tatap bingung. "Mulai besok aku sudah di tarik tugasnya disini." Lanjut Mbak Yesha dengan nada penuh penyesalan yang tak di buat buat.


Aku dan Bia, beroh ria secara bersamaan, lantas kembali diam mendengarkan keluh kesah Mbak Yesha yang ahir ahirnya tidak jelas juntrungannya kemana.


"Mbak Yesha, itu yang ngikutin terus Mas Karang siapa sih. Kayak e baru kemarin dia datang.?" Aku kembali memandang ke arah Mas Karang yang kini tengah duduk menikmati makan siangnya.


"Itu, dr.Chika. Dia yang bakal gantiin aku." Jawab Mbak Yesha santai saja. "Emang dia suka nempel sama Mas Karang dan lumayan akrab juga sih. Enggak tau juga sudah jadian apa belum." Aku menertawakan diriku sendiri di dalam hati mendengar ucapan Mbak Yesha.


"Emm, gitu. Tapi, emang deket banget yah. Bukannya Mbak Yesha juga deket sama Mas Karang." Kembali Bia memulai sesi wawancaranya.


"Tunggu, ini aku sedikit curiga sama kamu Bi. Jangan jangan kamu suka sama Karang. Ayo ngaku.?" Ucap Mbak Yesha sembari menunjuk Bia dengan expresi lucu.


"Ihh, jelas enggak Mbak Yesha. Aku mah tetap setia sama Gusse." Terang Bia sembari mengangkat kedua tangannya.


"War, coba kamu yang nilai, Bia bohong apa enggak.?" Lempar Mbak Yesha kepadaku.


"Kurang tau sih Mbak. Dari kemarin Bia suka banget nanya nanya soal Mas Karang, dan kal.."


Bia segera memotong ucapanku. "Mana ada, itu karena aku lagi ngumpulin informasi siapa tau ada orang yang naksir sama Mas Karang tapi cuma bisa diem saja." Telak Bia, membuat saliva yang hendak aku telan pelan masuk dengan tergesa.


"Huahahaha.." Mbak Yesha tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Bia sampai sampai memegangi perutnya. "Kamu Bi, kalau suka sama Mas Karang enggak usah malu gitu." Lanjut Mbak Yesha.


Bia kembali mengangkat kedua tangannya, dan melambai ke udaran dengan cepat. "Bukan, Mbak Yesha salah paham denganku."


"Terus, aku mesti percaya kalau yang suka sama Mas Karang itu Mawar. Nonsen itu." Kembali Mbak Yesha tertawa terbahak di tengah wajahku yang sudah hampir memerah merasa malu.


"Ya kan Mawar.." Bia hendak membuat pembelaan namun Mbak Yesha langsung menyuruh Bia untuk diam mendengarkan Mbak Yesha.


"Ini sekedar info saja ya. Mas Karang dari Kuliah dulu sudah jadi Idola. Dan banyak yang baper dengan sikap baik Mas Karang, termasuk aku dulu sebelum menjadi teman dekatnya. Mas Karang memang baik dan ramah pada setiap orang, tapi sejauh ini aku tidak pernah tau atau sekedar lihat Mas Karang jalan sama cewek." Kembali ucapan Mbak Yesha membuatku membuka telinga lebar lebar, agar itu menjadi nasehat bagiku.


"Iya, Mas Karang akan lebih baik lagi terhadap seseoarang yang pernah berbuat baik terhadapnya. Jadi, dari situ akan sulit membedakan apa Mas Karang tertarik atau memang sekedar baik semata." Fix, aku memang salah paham dengan kebaikan Mas Karang, jadi menggulung hati yang sudah terlanjur di tata akan lebih baik lagi, daripada aku nekat memendam seperti yang lalu.


Sebelumnya aku masih sedikit ragu untuk itu, dan sampai harus melupakan apa yang berusaha aku tanamkan sebelumnya, bahwa mencintai yang paling benar itu adalah ketika sudah halal bagiku. Meski, memantaskan bisa saja untuk di lakukan, kalau masih ada kemungkinan.

__ADS_1


Lha ini, aku merasa sangat tidak ada peluang serta kemungkinan. Jadi, kembali mengubur perasaan seorang diri itu jauh akan lebih baik, jika aku terus memaksaan diri maka yang terjadi adalah sakit yang berkepanjangan seperti yang sudah aku alami, jadi cukup belajar darisana. Bukankah semua sudah ada porsi dan kapasitas masing masing. Karena Allah itu lebih tau mana yang terbaik untuk kita jalani.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Syabiaaaa....." Pekik ku dan langsung lari ngiprit sejauh yang aku bisa dan sekencang yang aku mampu padahal disana sini gelap lantaran memang sudah malam, tanpa menghiraukan tatapan heran semua orang yang kaget akan tingkah ku.


"Bruk.." Aku langsung terpental karena menabrak seseorang yang tiba tiba muncul di dari arah samping, hampir saja aku terjatuh ke tanah jika tangan besarnya tak segera meraih pundak ku.


"Mawar kamu kenapa..?" Mendengar suaranya seketika aku mendongak, dan aku tau persis itu suara milik siapa.


"Mas, emm, anu, itu." Aku berusaha untuk berbicara meski tengah terengah engah.


"Tarik nafas duli." Ucap Mas Karang lagi.


Akupun mengikuti ucapan Mas Karang dengan mengatur pernapasanku hingga mulai stabil. Tapi, itu tidak berlangsung lama, karena begitu aku mendengar Bia meneriakan namaku, seketika aku langsung tehenyak dan lekas ingin berlari. Namun, Mas Karang segera menyekalku.


"Mas, biarkan saya pergi. Kalau tidak saya bakalan pingsan disini." Ucapku dengan memelas saat suara Bia semakin mendekat.


"Kenapa, ada apa.?" Tanya Mas Karang tanpa mau melepaskan.


"Bia sudah dekat Mas, saya mohon lepaskan saya." Aku semakin memelas kepada Mas Karang sembari berusaha untuk melepaskan tanganku dari Mas Karang.


"Memangnya ada dengan Bia." Mas Karang semakin bingung denganku, dan..


"War, kenapa kamu tiba tiba lari." Aku tidak punya pilihan lain ketika suara Bia menintrupsiku, lantas segera bersembunyi di balik tubuh Mas Karang sembari berpegangan erat tangan Mas Karang seperti anak kecil, itupun dengan mata tertutup rapat.


"Bi, kamu singkirin anak kucing yang kamu pegang.!" Ucapku dengan lantang.


"Cepetan." Aku semakin mengeratkan peganganku di tangan Mas Karang, sampai sampai Mas Karang sulit untuk bergerak, atau bahkan habis ini akan terlihat bekas di lengan Mas Karang karena sangkin eratnya aku memengangnya.


"Bi, cepat. Kalau tidak Mawar bakal pingsan sebentar lagi." Terdengar nada kwatir di ucapan Mas Karang.


"Baik, Mas. Maaf, War. Aku tidak tau kalau kamu takut sama kucing." Ucap Bia.


"Yang juah, Bi. Jangan dekat dekat disini."


"Iya." Saat suara Bia terdengar sudah menjauh akupun mengendurkan peganganku di lengan Mas Karang. Tapi, nafasku masih memburu belum bisa stabil.


"Duduk disana dulu, Mawar." Ucap Mas Karang dan tanpa persetujuan dariku, Mas Karang segera menarik tanganku dan mengajak ku duduk di punggir lapangan tepat di batang pohon dimana Mas Karang memberiku buah coklat.


"Minum dulu." Mas Karang mengangsukan botol kecil berisi air kepadaku, dan tanpa menjawab akupun langsung menenggak isinya hingga tinggal separo.


"Terima kasih, Mas." Ku seka bibirku dengan ujung lengan bajuku hal yang sudah sangat lama tidak aku lakukan tentunya.


"Aku tidak pernah berpikir ada seseorang takut sama kucing." Kata Mas Karang pelan sembari memandangku dengan lekat, andai aku tidak salah lihat. Karena di tempat kami duduk cukup minim pencahayaan.


"Bukan takut, Mas. Tapi geli." Terdengar kekehan pelan Mas Karang mendengar jawaban yang ku berikan.


"Geli. Kok bisa.?" Tanya Mas Karang.


"Tidak tau, pokoknya kalau lihat kucing, apa lagi kucing yang bulunya lebat bawaannya geli sampai merinding kemana mana." Jawabku jujur.

__ADS_1


"Tapi ini kucing, Mawar. Aneh saja." Mas Karang masih tidak percaya dengan aku yang geli sama kucing.


"Ya, tidak tau Mas. Pokoknya saya geli sama kucing. Titik." Ucapku.


"Meong." Terdengar suara kucing dengan tiba tiba.


"Masss.." Aku langsung mengangkat kakiku, lantas mendorong dengan cepat tubuhku memempel ke Mas Karang. "Kenapa tiba tiba banyak Kucing." Ucapku dengan nada cemas.


"Meong, meong, meong." Aku langsung memukul bahu Mas Karang, karena ternyata Mas Karanglah yang membuat suara kucing.


"Hahahahahaha.." Mas Karang tertawa terbahak bahak mendapat pukulan bertubi tubi dariku.


"Mas Karang enggak lucu kayak gitu, saya tuh takutnya beneran." Kataku kembali menurunkan kakiku dan kembali bergeser sedikit menjauh dari Mas Karang.


"Kelihatan dari tadi. Makanya pegangannya kayak megang pacar bair enggak kerebut sama yang lain." Timpal Mas Karang masih dengan senyum yang tinggal di bibirnya.


"Sudah tau kayak gitu kenapa mesti di coba. Enggak sekalin saja cari kucingnya biar saya pingsan." Ucapku dengan nada seperti seorang yang sedang mengomel.


"Hahahaha. Kamu lucu banget kalau kayak gini, Mawar. Aku tidak pernah berpikir bahwa akan melihat sisi lain dari Mawar." Ucap Mas Karang dengan nada yang aku tidak berani untuk mengambil kesimpulannya sendiri.


Dan yang benar dan tepat, adalah aku harus segera berdiri untuk pergi dari tempat ini, agar tidak ada setan yang menjadi pihak ketiga bagi kami.


"Mau kemana.?" Ucap Mas Karang.


"Mau kembali ke tenda Mas."


"Disini sebentar saja."


Aku diam sesaat menikmati bisikan setan agar mengiyakan permintaan Mas Karang dan nyatanya kebisuanku cukup menjadi bukti betapa tipisnya iman yang aku miliki tak leboh tipis dari kulit ari. Apa lagi saat Mas Karang meraih jemariku dan menuntunku untuk duduk kembali dan aku tidak kuasa untuk menolaknya, dan itu melambungkan kembali rasa yang sebenarnya sedang bersemi seminya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2