Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Ombak Rindu.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Mengubur tubuhku yang mengigil dengan selimut tebal dan pura pura acuh dengan segala omelan Bia yang sudah aku prediksi sebelumnya, aku sangat berusaha agar tidak terdengar merintih kesakitan. Jika sampai itu terjadi, tidak tau lagi akan seperti apa Bia ngomel yang sesungguhnya untuk menutupi kekwatirannya.


Mengigit bibir bawahku, aku terus meredam rintihanku. Menahan rasa nyeri di perutku, yang aku sadar itu karena bekas operasi yang aku jalani beberapa tahun silam. Bekas sayatannya sudah hampir sempurna menghilang, namun terkadang akan terasa nyeri jika aku terlalu banyak beraktifitas ataupun kurang minum air putih.


Tidak ada yang pernah tau dengan apa yang aku rasakan, bahkan itu Bia sekalipun. Karena, aku memang tak ingin seorangpun tau mengenai aku yang hidup dengan satu ginjal. Itu akan terdengar menyedihkan dan aku tak ingin di kasihani karena hal itu. Terus mengingat senyum Kak Melati itulah salah satu caraku agar aku terus bersemangat menghadapi kesakitan ini


Setelah suara Bia hening, ku buka selimut yang menutup kepalaku. Menatap langit langit kamar yang tengah tak ada seorangpun, aku mencoba mengahdirkan bayangan orang orang yang aku rindukan. Dan tiba tiba, lelehan airmata membanjiri pipiku seiring dengan memanasnya mataku.


"Adakah kerinduan yang sama dengan yang aku rasakan saat ini." Lirih hatiku sentimentil.


Terdengar suara langkah yang tergesa gesa, ku seka airmata yang membanjiri pipiku, lantas kembali menutupi seluruh tubuhku dengan selimut saay terdengar pintu berderit untuk di buka, dan tak lama setelahnya terdengar suara Bia yang di ikuti dengan sentuhan di kakiku.


"Kakinya dingin banget. Lebih baik di bawa ke Puskestren, Mbak Qoim." Mendengar ucapan Bia segera ku buka selimutku dan menyahuti Bia dengan cepat.


"Aku baik baik saja, besok pagi pasti sudah kembali seperti sedia kala, Bi."


Tak di gubris ucapnku oleh Bia. Dan Bia justru menjulurkan tanganya di keningku. "Tuh, Mbak Qoim. Panas banget, juga pucet banget Mawarnya." Tutur Bia kepada Mbak pengurus yang kini juga ikut memeriksa keningku.


"Mbak Mawar, sepertinya saya harus setuju dengan ucapan Mbak Bia. Sampean harus di periksa." Putus Mbak Qoim.


"Mbak saya tidak apa apa, hanya perlu minum obat saja, tidak perlu di rawat di Puskestren." Elak ku.


"Dengarkan kata Mbak Qoim, War."


Ku tatap dua orang yang tengah menatapku penuh harap. "Mbak, besok saya akan baik baik saja, saya hanya butuh minum obat penurun panas. Itu karena Bia saja yang over panikan."


"Sebenarnya untuk malam juga tidak akan Dokternya juga. Tapi, dengar dengar tadi teman Mas Karim adalah salah satu calon dokter yang sudah praktek di Rumah Sakit, saya rasa itu bisa membantu jika Mbak Mawar bersedia ke Puskestren." Jelas Mbak Qoim sembari menatapku penuh penawaran.


Aku menggeleng pelan dan di ikuti sebuah hembusan nafas dalam oleh Bia. "Kalau begitu biar saya saja yang mengambilkan obat untuk Mawar, Mbak. Apa boleh.?" Putus Bia.


"Tidak apa apa, ayo kalau begitu saya antarkan." Mbak Qoim berdiri dan kemudian di ikuti oleh Bia, lantas meninggalkan aku dalam kesendirian lagi.

__ADS_1


Kembali menatap nanar langit langit kamar, hadir bayangan sebuah kebahagian Bang Nusa. Kebahagiaan yang tak ingin Bu Mega aku ikut serta di dalamnya. Juga, kebahagiaan Kak Melati yang kini di tengah berbahagia dnegan hadirnya pelengkap sebuah kebahagiaan dalam keluarga. Dan sekali lagi, aku tidak terlibat di dalamnya.


Cara Allah itu sungguh luar biasa dalam memberiku pelajaran atas peristiwa yang telah berlalu. Andaipun aku berada disana, belum tentu aku merasa bahagia. Dan, dengan aku berada di kejauhan ini, lambat laun aku bisa ikhlas dengan perasaan yang tak sampai pada tujuan.


Cinta itu fitrah, tidak ada jarak antara yang mencintai dan yang di cintai. Cinta itu adalah juru bicara antara rasa dan kerinduan. Dan, kali ini rinduku benar benar sedang berada dalam puncaknya, hingga di setiap sudut yang terlibat adalah mereka orang orang yang sedang aku rindukan.


Pada setiap alunan do'a ku telah titipkan rinduku disana sebelumnya. Kini, setelah masa pengasingan ini akan usai, aku memilih melebur rinduku untuk berjumpa dengan mereka. Apapun itu nanti, yang terpenting adalah rinduku sampai pada yang ku rindukan. Soal Bang Daffa, sudah tidak ada lagi tempat yang tersisa, selain hanya sebuah rasa yang tidak sampai pada tempatnya.


Cerita, dimana pernah tertulis namanya di dalam hati, kemudian mengubahnya menjadi cinta yang lebih tinggi tempatnya yakni menjadikan dia saudara laki laki. Yah, kesalahanku memang, terlanjur menjatuhkan hati kepada seseorang yang belum termiliki. Dan cinta seprti itu, tidak bisa di benarkan.


Karena sejatinya cinta yang tepat adalah ketika mereka sudah mengikat dalam kehalalan dan menjadikan alasan cinta itu sebagai penyejuk hati, elok di pandang mata. Lantas cinta akan mengikuti di dalamnya. Itulah cinta yang kini aku harapkan.


"Dehh, ngelamunin apaan sih.?" Suara Bia yang tiba tiba masuk ke gendang telingaku mengusik pikiran panjang tentang rinduku. Menoleh sekilas ke arah Bia, ku lihat Bia sedang mengeluarkan beberapa plastik kecil dari kresek yang di pegangnya.


"Kata Mas calon dokter, ini obatnya di minum sekarang, kalau besok masih belum turun demamnya berarti harus periksa." Kata Bia sembari menyodorkan beberapa pil kepadaku.


"Memang obatnya cuma ini.?" Tanyaku.


"Tuh," Bisa menunjuk dengan dagunya.


"Itu karena kamu yang tidak periksa sendiri, jaid Mas calon dokter cuma bisa meraba raba sakitmu itu karena demam kehujanan, atau karena penyakit lain."


"Iya baik, asisten Mas calon dokter." Ucapku dengan nada canda.


"Jadilah pasien yang baik, War. Biar cepet sembuh. Kamu tuh sering banget sakit kayak gini. Apa enggak leb.."


"Itu karena memang imun setiap orang berbeda. Dan aku paling tidak bisa kena hujan." Ku potong dengan cepat ucapan Bia, agar tidak memanjang. Karena aku sadar, tidak selamanya kebohongan itu tidak akan tercium oleh Bia.


"Sudah tau kayak gitu, kenapa harus hujan hujanan." Sergah Bia.


"Kan tadi sore sudah aku jelaskan, aku membantu calon dokter yang mobilnga mogok." Belaku.


"Kenapa begitu banyak kebetulan calon dokter hari ini. Tadi yang ngasih obat buat kamu juga calon dokter." Gumam Bia seolah sedang bicara dengan dirinya sendiri. "Tumben tumbenan yah, calon dokter kali ini enggak ketus. Malah ramah banget, apa karena temannya Gusse yah.?" Mata bulat Bia menatapku penuh tanya.


"Aku mesti tanya sama angin yang berdesir lembut membelai kulitku gitu." Jawabku spontan dan itu sukses membaut Bia tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


"Kayaknya panas keningmu kali ini di sertai geger otak deh, War.Ckkckckkc." Timpal Bia dan masih saja terus tertawa setiap mengulang kalimatku dan aku senang melihat Bia yang terus tersenyum seperti sekarang ini.


"Kamu yakin liburan kali ini tidak ikut dengan ku pulang, atau akan tetap tinggal di Pesantren.?" Tanya Bia tiba tiba.


Ku ulas senyumku penuh arti ke arah Bia. "Aku akan pulang kali ini." Sedikit terkejut terlihat dari mata indah Bia yang membulat sempurna.


"Yakin.?"


"He'eh." Jawabku singkat saja.


"War, jika tidak ada tempat yang kamu tuju untuk pulang, ikutlah bersama ku." Ucap Bia sendu.


"Ada Kak Melati yang merindukanku." Jawabku pelan. Sejurus kemudian cerita mengenai kedekatanku dan Kak Melati kembali ku ulang untuk Bia.


Tidak ada yang perlu untuk di risaukan lagi, cinta itu tidak harus terbalaskan oleh orang yang sama, juga sekaligus kepercayaan. Mungkin saat ini, Pak Agung, Bu Mega, Bang Nusa termasuk Erik, telah menanggalkan segala rasanya untuk ku karena kecewa. Meninggalkan aku dalam pengasingan berbalut rindu. Rindu yang mendendam yang siap aku muntahkan.


.


.


.


.


.


Berasambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu.


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2