
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tidak ada jalan yang akan terus lurus dan mulus. Karena jika semua jalan dapat di lalui dengan mudah, maka konswensi lupa daratan akan sering terjadi. Dan jika tidak ada tanjakan, tikungan, serta turunan dalam jalan, maka tidak akan ada tantangan dalam perjalanan. Begitupun dengan hidup. Hidup di ibaratkan sebuah perjalanan, sedang jalan adalah media untuk sampai pada tujuan. Dimana tujuan terahir dari hidup, sudah barang tentu bertemu dengan kepastian.
Mungkin apa yang aku lakukan hari ini tidak bisa di anggap benar, tapi ini juga merupakan salah satu jalan yang harus aku lakukan untuk salah satu tujuan. Tujuan, yang mungkin terlalu di gesakan. Meninggalkan Pesantren dengan alasan urusan Mahad, kembali aku menciptakan sebuah kebohongan. Dan akan sampai kapan kebohongan ini akan menang.?
Menunggu ponsel bergetar di tanganku, seakan menunggu datangnya hujan di tengah tengah musim panas. Dan sudah hampir setengah jam lamanya aku duduk di bangku taman tempat dimana biasanya aku dan Mas Karang bertemu. Dulu, ponsel tidaklah terlalu aku hiraukan, tapi sejak seminggu lalu, saat Mas Karang pergi bertugas di luar kota, ponsel seakan begitu aku rindukan bunyinya.
Ya, sudah seminggu lamanya Ponselku tak berbunyi dan itu sejak Mas Karang pergi. Seperti yang aku katakan tadi, bahwa tidak ada jalan yang mulus dan lurus saja. Begitupun dengan hubungan ku dan Mas Karang. Sembilan bulan bersama tanpa ada masalah berarti, aku rasa tidak akan ada peningkatan perasaan bagi kami, jika terus terusan seperti itu.
Namun, satu ketidak jujuran membawa hubunganku dan Mas Karang dalam pertaruhan. Takut tidak pantas dengan keadaanku yang tidak sesehat yang di kiranya, itulah yang memenuhi pikiranku. Dan karena rasa takut itu, keberanianku mengatakan tentang permintaan Bu Mega kepadaku juga seakan ikut tenggelam juga.
Aku semakin delema dalam spekulasi seorang diri, saat Mas Karang tak kunjung datang seperti janjinya. Dan sepertinya, memang aku yang terlalu berlebihan. Harusnya aku sadar diri, jika Mas Karang seseorang yang tidak menganggur sepertiku, Mas Karang juga bukan orang yang tak memiliki kedudukan sama sepertiku. Terlebih, Mas Karang bukan orang yang di inginkan orang lain karena menjadi pengganti.
Jam terus berputar, meninggalkan titik di paling rendah ke tempat teratas. Dan Matahari juga sudah semakin meninggi sesuai dengan perputaran porosnya. Menutup mataku rapat rapat, ku biarkan angin membelai wajahku, ku beri ijin matahari menyentuhku dengan sinarnya, hingga aku puas dan kembali membuka mataku.
Alangkah kagetnya aku, saat ku buka mataku ternyata Mas Karang sudah duduk disampingku dengan tatapannya yang lekat mematriku. Dan ku puaskan pula mataku memandangnya seperti seakan akan ini kali terahir kami bertemu.
"Maaf lama menunggu." Ucapnya pelan, lalu memontong kontak mata kami. "Tadi ada operasi dadakan." Lanjut Mas Karang.
"Tidak apa. Dari kapan sampean datang.?" Tanyaku.
"Belum terlalu lama. Ini juga belum mendingin." Jawab Mas Karang sembari mengangkat dua kotak nasi sembari tersenyum tipis. "Ayo kita cari tempat buat makan." Lanjut Mas Karang dengan sudah berdiri, sejurus kemudian lekas berjalan saat aku sudah berdiri di sampingnya.
Menemukan tempat tepat di pinggir sungai, kami duduk saling berhadapan dengan batu besar yang di fungsikan sebagai meja. Sementara Mas Karang sibuk dengan menata kotak nasi, aku justru sibuk memperhatikan Mas Karang.
"Segitu kagennya sama aku." Ujar Mas Karang saat menyadari aku yang terus memperhatikannya.
Jika biasanya aku akan menyangkal dan sibuk mencari alasan, kali ini aku sama sekali tak ingin melakukan itu. Dan justru mengangguk santai dengan senyum yang mengembang di bibirku. Memang nikmatnya cinta itu mengalahkan logika, padahal ini belum cinta yang sebenarnya.
"Lekas makanlah, Mawar. Terus memandangiku itu tidak akan membuatmu kenyang." Ucap Mas Karang lagi saat aku yang masih stay menantap Mas Karang tanpa henti.
"Memang tidak akan kenyang sih, tapi cukup membuat lupa, karena pesona nasi kalah sama sampean." Jawabku asal saja yang itu menbuat Mas Karang tertawa kencang.
"Tidak sekalian kalah sama rendang." Kata Mas Karang di sela sela tawanya.
"Mau tak bilang gitu, tapi sayangnya aku adalah tipe orang yang tidak bisa makan daging hewan berkaki empat."
__ADS_1
"Sungguh. Aku baru tau itu." Jawab Mas Karang dengan cepat.
"Memang, kita masih belum tau banyak antara satu dan lain." Jawabku pelan sembari menyangga pipiku dan memainkan sendok di nasiku. "Maaf, bukan maksud hatiku ingin merahasiakan soal kesehatan fisik ku, hanya saja ak.."
"Makanlah dulu, Mawar. Karena aku terlalu lapar." Potong Mas Karang sembari memasukan makanan ke mulutku.
"Mas, aku hampir tersedak." Ucapku begitu butiran dari nasi sudah melewati tenggorokanku.
"Makanya jangan ngomong terus, lekas makanlah." Lanjut Mas Karang dan sudah kembali fokus ke makanannya.
Dengan sedikit bergumam pelan, akupun memfokuskan diriku dengan makananku. Dan kami makan dengan hening, seolah olah Mas Karang sedang di buru buru waktu.
Usai menenggak separuh dari air mineral, aku dan Mas Karang merubah posisi duduk kami dengan saling bersisihan, sementara pandangan kami jauh ke depan. Menikmati riak riak dari air yang menggericik, aku dan Mas Karang larut dalam pikiran masing masing. Hingga aku kembali membuka kataku kembali.
"Mas, aku minta maaf." Lirihku. "Harusnya aku mengatakan dari awal soal aku yang hidup dengan satu ginjal." Lanjutku lebih lirih lagi.
"Aku yang seharusnya minta maaf, karena tepat di saat kamu sedang sakit tidak bisa bersamamu dan justru menambah beban pikiranmu dengan marah terhadapmu." Ucap Mas Karang dengan nada penuh penyesalan. "Tapi kamu harus tau, Mawar. Aku seperti itu, karena aku sangat syok juga sekaligus kwatir terhadapmu. Kamu tau betul bagaimana konswensi bagi orang yang hidup dengan satu ginjal."
Hening, hanya suara air yang mendominasi kami. Dan tatapan Mas Karang terhadapku benar benar membuatku meleleh seperti mertega yang terkena panas dari penggorengan. Bagaimana mata itu menyorot penuh keteduhan, penganyoman, dan cinta yang tulus tentunya, yang selama dua puluh dua tahun dalam hidupku baru aku dapati selain dari Kak Melati.
"Jadi sejak kapan.?" Tanya Mas Karang lagi.
Cukup Mas Karang tau, jika Mas Karang bukan yang pertama singgah di hatiku. Namun, kehadiran Mas Karang di hari hariku adalah warna pertama yang aku miliki sebagai seorang gadis dengan seorang pemuda.
"Jadi sekarang jika dibandingkan dengan Kakak angkatmu, dimana posisiku buatmu, Mawar.?" Tanya Mas Karang.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Mas Karang, melainkan aku justru tersenyum simpul ke arahnya dan menepuk nepuk dadaku sembari berucap lirih. "Disini."
"Manis banget persis permen kapas." Kata Mas Karang pelan lantas tiba tiba tangan Mas Karang sudah berada di atas tanganku, lantas menelusup meraih jemariku. "Itu tempat yang istimewa." Lanjutnya dengan mengerlingkan sebelah matanya.
Kami kembali diam, menikmati dosa indah ini dengan bisikan setan yang seakan menjadi nyanyian buat kami. Dan semakin tenggelam dan tenggelam, saat kami terus saling menggoda dan merayu, hingga tiba waktu untuk berpisah tiba.
"Well, aku akan sibuk sekali bulan ini." Ucap Mas Karang sesaat sebelum kami hendak berpisah di jalan raya.
"Tidak apa, aku juga akan sibuk menyiapkan ujian." Jawabku.
"Mawar." Ucap Mas Karang tiba tiba.
"Iya." Jawabku pula dengan cepat.
__ADS_1
"Dalam dua bulan ini aku akan mempersiapkan diri untuk masuk ke Spesialis, jadi aku akan benar benar sibuk."
"Aku tau, sampean tidak perlu kwatir soal itu. Aku akan mendo'akan yang terbaik untuk sampean. Jadi, semangatlah." Ucapku menyemangati Mas Karang sembari mengeluarkan lolipop dari tasku dan menyodorkan kepada Mas Karang. "Lolipop rasa coklat ini akan mengurangi stress." Imbuhku.
"Jangan tanya rasanya, jelas akan lebih manis senyum ku di bandingkan permen ini." Ucapku lagi lagi dengan asal.
"Sungguh, aku jadi penasaran rasanya seperti apa yang katanya lebih manis dari permen." Ucap Mas Karang ambigu, tapi sukses membuat aku kesusahan menelan ludahku.
Mas Karang tertawa lebar, saat melihat expresiku. "Aku hanya bercanda, Mawar. Tapi kalau beneran juga tidak apa apa."
Aku membuang mukaku dari Mas Karang, karena aku tau saat ini pasti wajahku sedang memerah akibat dari ucapan Mas Karang.
"Baiklah, aku hanya bercanda, Mawar. Aku tau itu dosa." Ucap Mas Karang ahirnya. "Jadi apakah kamu suka dengan kristal yang kau kasih waktu itu." Lanjut Mas Karang dan bertepatan dengan angkot yang aku tunggu datang.
Aku sudah hendak masuk ke angkat dan kembali berputar melihat ke arah Mas Karang. "Aku suka sama kristalnya, tapi aku jauh lebih suka dengan orang yang memberinya." Ucapku dengan cepat, bahkan sangking cepatnya, Mas Karang sampai terdiam di tempatnya hingga angkot berjalan meninggalkannya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1