
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jam baru menunjukan pukul 15.25. Dan dingin sudah sangat mengigit, begitu kakiku menapak di sini sekitar dua puluh menit lalu. Itu bisa di maklumi, karena memang kami sedang berada di ketinggian yang dari kami menapakkan kaki, lampu lampu kota akan kelap kelip bak bintang saat malam tiba.
Delapan belas drajat celsius, laporan suhu yang tertera di layar ponselku, sekali lagi ini belum ada jam empat sore, dan aku perkirakan ini akan jauh lebih dingin lagi saat malam tiba. Hemm, dari sini aku cukup paham dengan permintaan Erik soal menitipkan anak kepadaku, dan beruntungnya itu tidak jadi Erik lakukan, lantaran peringatan mertua Erik yang melarang Alice untuk di bawa.Di tambah dengan deretan cabin cabin yang melintang membentuk setengah lingkaran di pinggir tebing, aku semakin sadar. Liburan ini tidak cocok untukku.
Menyusuri jalanan di bawah pohon pinus, aku menyeret koperku dengan ragu. Tiga hari yang aku impikan tidur di dalam tenda, menyeduh kopi langsung dari perapian, serta menikmati malam dingin dengan menghangatkan diri di depan api unggun, ternyata hanya ilusi semata.
Bukan aku tidak suka dengan konsep tenda yang ada disini, tapi aku lebih suka tenda yang seperti biasanya saja. Ini bagus, bagi mereka yang berpasang pasangan. Oleh sebab itulah, sedari tadi aku terus menghela nafasku dalam dalam sejak datang kemari.
"Kamu kecewa.?" Hanya dengan helaan nafas dalamku saja, Erik cukup paham dengan itu. Tapi sayangnya ini bukan Erik yang menanyaiku, melainkan Bang Daffa.
"Tidak banyak." Jawabku jujur.
"Biar aku bantu." Ucapnya dan tanpa persetujuan dariku dengan cepat dia sudah meraih gagang koperku. "Tidak apa, aku bisa membawanya." Lanjutnya, saat aku menatapnya agak keberatan dengan apa yang di lakukannya.
Kami terus berjalan berisisihan tanpa bicara setelahnya. Aku tak membencinya, tapi perasaan canggung dengan segera menghinggapiku setelah aku tau bahwa dulu kami pernah menikah bahkan sampai memiliki seorang anak. Dan aku sama sekali tak bisa mengingatnya.
"Dua puluh. Ini cabinku." Ucapku lirih, begitu aku melihat nomer yang tertera di depan cabin.
"Oh, yang ini. Berarti kita bersebelahan." Jawabnya dan langsung membelokkan langkahnya mendahului aku. "Bukalah." Lanjutnya saat berhenti tepat di depan pintu.
"Iya, terima kasih Bang." Ucapku pelan. "Aku, bisa membawa masuk sendiri."Lanjutku, setelah pintu terbuka dan merasa tidak nyaman saat Bang Daffa masih tak beranjak dari tempatnya.
"Iya." Bang Daffa sadar dengan usiran halusku dan lekas beranjak. Namun baru beberapa langkah, di putarnya kembali kakinya ke arahku lagi. "War, aku perlu bicara denganmu." Ucapnya dengan nada pelan, tapi cukup tegas sebagai ucapan perintah bukan permintaan.
Aku tak langsung menjawabnya, justru memutar tanganku guna melirik jam yang melingkarinya. "Sudah saatnya bersih bersih. Bisa di ganti lain waktu." Jawabku ahirnya.
"Sebentar saja." Apa boleh aku menyebutnya ini kata pemaksaan.
"Aku belum shalat Asar." Jujur, aku tidak tau persis dengan perasaan ini. Yang aku pahami, sejak tau tentang masalalu kami, aku merasa was was dan seperti ada peringatan dengan tiba tiba saat berdekatan dengan Bang Daffa.
"Kamu sengaja menciptakan jarak." Ini bukan kalimat sindiran, melainkan tepat sasaran. Dan entah kenapa, aku bahkan tidak sama sekali merasa tidak enak mendengarnya. Biasa saja.
"Aku butuh waktu. Tolong hargai itu." Ahirnya, akupun dengan santai bisa mengucapkan itu untuk Bang Daffa.
__ADS_1
"Baiklah." Tidak memaksa, dan kembali aku biasa saja.
Aku menutup pintu selepas Bang Daffa pergi. Berganti menjelajah ke seisi kamar, berdecak kagum dengan pemandangan di balik jendela kamar tranparan yang langsung mengexpos pucuk pucuk dari pohon pinus yang berada di bawah tebing yang hampir saja tertutup kabut. Lantas menyeret langkahku untuk ke kamar mandi.
Menggulung diri dengan selimut tebal tanpa melepas mukenaku, setelah usai shalat Asar tadi. Aku lebih memilih itu dari pada harus keluar untuk menikmati senja yang semakin dingin. Menikmati kesendirian dengan berdzikir di temani pemandangan indah itu jauh mengasikkan. Hingga, ketukan pelan di pintu cabinku, yang membuatku bangkit dengan malas malasan menuju ke pintu.
"Iya, sebentar." Ucapku sedikit berteriak. "Ehh, Mas Karang." Aku sedikit kaget begitu pintu terbuka, juga sedikit tidak menyangka bahwa yang mengetuk pintu cabinku adalah Mas Karang.
"Apa aku menganggu.?" Tanyanya dengan sopan.
"Tidak."
Mas Karang menatapku dari atas hingga ke bawah. "Ini." Tangan Mas Karang mengarah terhadapku.
"Oh, tidak. Aku sudah selesai dari tadi." Aku mencoba untuk menjelaskan dengan maksud tangan Mas Karang yang mengarah ke mukenaku.
"Kalau begitu, bisakah kita bicara sebentar. Ada sesuatu yang perlu aku jelaskan kepadamu." Inilah, kata permintaan. Bukan seperti Bang Daffa tadi.
Dan tanpa ragupun, aku langsung meniyakan permintaan Mas Karang. "Bisa tunggu sebentar." Ucapku kepada Mas Karang dengan menunjuk kursi yang berada di balkon samping pintu.
Tidak butuh waktu lama untuk melepas mukena dan menggantinya dengan jilbab instans. Akupun bergegas keluar untuk menemui Mas Karang. Benar apa yang di ucapkan Mas Karang, ada sesuatu yang perlu kami berdua jelaskan. Termasuk, kesalah pahamanku tujuh bulan lalu yang masih menganggap aku dan Mas Karang memiliki hubungan.
"Aku tidak terlalu mengingat itu." Jawabku jujur.
Mas Karang tidak menjawab ucapanku, hanya merapatkan jaket yang di kenakannya sekaligus membuang jauh pandangannya.
"Kadang aku berpikir bodoh, dengan berandai andai." Tutur Mas Karang lembut, seolah dia sedang berbicara dengan dirinya sendiri. "Andai waktu bisa di ulang kembali, tapi sayangnya waktu adalah hal terkejam yang selalu melangkah maju, dan tidak akan pernah kembali berputar ke belakang. Meski segunung penyesalan terus menumpuk." Aku tidak tau harus membalas ucapan Mas Karang seperti apa, karena pada kenyataannya aku tidak mengingat bagaimana hubunganku dan Mas Karang bisa berahir.
"Kalaupun, masalalu aku paksa untuk di ulang kembali dengan memanfaatkan kondisimu yang kehilangan sebagian dari memorimu. Tetap, ceritanya akan berbeda. Kamu memberiku banyak pelajaran, Mawar. Terima kasih." Tutup Mas Karang, dengan ulasan senyum lega kepadaku.
Senyum kaku aku sunggingkan kepada Mas Karang yang masih menatapku dengan lembut. "Aku, aku justru mau minta maaf kepada sampean." Ucapku lirih.
"Untuk.?"
Aku bingung mau memulai darimana, jujur aku malu hendak mau membicaraan ini.
"Katakan saja jangan ragu." Sela Mas Karang masih dengan tatapan lembut, selayaknya seorang kakak terhadap adiknya.
__ADS_1
Ahirnya dengan terbata, kata demi kata mulai keluar juga dari bibirku. "Aku minta maaf, saat aku baru sadar beberapa bulan lalu. Aku menganggap bahwa kita masih memiliki hubungan."
"Itu, justru dari situ aku belajar Mawar." Mas Karang menjeda ucapannya dan sejenak memfokuskan tatapannya ke arahku. "Sempat terpikir olehku, untuk memanfaatkan situasi itu. Dan aku sadar, setelah melihat Rendi yang gigih memperjuangkanmu, aku tidak berhak membuatmu kehilangan kebahagiaan yang sebenarnya, daripada bersama denganku karena keegoisan untuk memaksa memiliki. Cukup, dua kali saja aku melakukan kesalahan terhadapmu. Ada hal yang mungkin lebih baik hanya menjadi masalalu saja, atau mungkin itu akan jauh lebih baik lagi jika hanya berhenti sampai disitu saja. Lantas kita bisa melangkah kemasa depan tanpa beban."
Aku tidak begitu yakin dengan ucapan Mas Karang, tapi dalam dadaku itu menentramkan. Dan mungkin benar, ada hubungan yang lebih baik hanya jadi masalalu saja, karena saat kita mencoba mengulangnya di lain waktu bukan tidak mungkin perasaan terluka akan terkuak kembali, atau hal yang terparah adalah akan semakin melebarnya sayatan luka dari sebelumnya.
"Seperti aku, Mawar. Tatalah kembali masa depanmu. Tidak perduli, siapapun yang pernah kamu cintai. Hanya saat ini yang di butuhkan adalah bukalah sedikit celah itu untuk orang yang gigih memperjuangkanmu, aku berani bertaruh balasan yang di berikan padamu akan jauh dari apa yang tak berani aku berikan padamu." Lanjut Mas Karang dengan kepastian yang mengobarkan kepercayaan diriku untuk sesaat sebelum aku ingat, bahwa ada banyak hal yang telah berubah dan bukan lagi di usiaku untuk membahas soal hati.
"Aku tidak cukup pantas untuk itu." Lirihku.
"Jangan pernah menganggap dirimu tak berharga. Tanpa kamu sadari, kamu adalah Layla bagi seseorang yang memiliki hati seperti Qais." Ucap Mas Karang pelan. "Mataku jadi saksi atas itu, Mawar." Lanjut Mas Karang.
"Mawar.." Ucapan lirih itu membuat kami berdua sama sama berpaling dengan kaget, dan aku lebih kaget lagi saat melihat Bang Daffa yang berdiri tidak jauh dari tempat kami sedang duduk, membawa buket bunga di tangan kananya dan kotak kecil di tangan kirinya. Sedang di belakang Bang Daffa berdiri orang orang yang tadi tinggal di rumah.
Apa yang di maksud Mas Karang tadi adalah Bang Daffa, tapi mungkinkah itu. Bukankah Mas Karang berkata, bahwa masalalu akan lebih baik jika hanya menjadi masalalu. Agar tidak perlu ada sesuatu yang perlu untuk terulang kembali. Tapi, senyum orang orang di belakang Bang Daffa membuatku kembali tidak bisa berpikir jernih. Dan mungkinkah kembali, harus ada masalalu yang bukan inginku tanpa permintaan persetujuan dariku. Tidak bisakah aku menatap masa depan sesuai keinginannku.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862