Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Tag Name.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hari berlalu dengan cepat, tidak terasa sepuluh hari sudah ku lalui di rumah. Dan sudah saatnya untuk kembali bertempur dengan otak, lantas kembali memupuk rindu selama setahun ke depan ketika liburan panjang datang. Membayangkan setahun akan datang, hal pertama yang terbersit di otak ku adalah betapa lucunya Adit yang sudah bisa berjalan dan berbicara.


Sekarang, untuk meninggalkannya terasa begitu enggan ku lakukan jika tidak memgingat bahwa aku akan berjuang untuk masa depan ku. Tentu itu juga bagi kebanggaan Adit, agar aku menjadi Aunty yang tidak memalukan ketika di ceritakan.


Tidur dalam dekapanku, Adit seolah menikmati perjalanan panjang yang sedang kami lakukan tanpa harus drama rewel. Tentu rasa bahagiaku menular juga ke Adit. Apa alasan yang membuatku sangat bahagia.? Tentu, karena ini kali pertama aku di antar ke Pesantren bersama sama dengan keluarga.


Makin lengkap saja kebahagiaanku, lantaran meski dengan keterpaksaan sebelumnya. Kini ku lihat wajah Bu Mega cukup santai dengan perjalan panjang ini. Ya, tentu belum bisa di katakan sempurna juga, dengan ketidak bisaan Bang Daffa ikut serta dalam rombongan.


Empat jam berlalu, kini mobil sudah mulai memasuki jalan yang menikung kesana kemari, seiring dengan daerah pegunungan yang kami lewati, hamparan kebun teh, kebun kopi dan kebun coklat, beserta kayu kayu besar, menjadi pemandangan apik di setiap sudut mata memandang. Maka setelah menuruni jajaran pegunungan ini maka akan sampailah kami di kota yang ku tuju.


Itu cukup mengundang decak kagum bagi semuanya tak terkecuali Bu Mega, yang tak henti hentinya terus berucap akan menyesal jika Pak Agung tidak memaksanya untuk ikut.


Menuruni pengunungan, ganti mata kami di manjakan oleh pedangang buah, serat sayur sayur segar dari hasil kebun Masyarakat sekitar gunung. Dan Bang Nusa bahkan sudah memiliki rencana akan memborong Pete untuk di jadikan oleh oleh.


Meninggalkan itu semua, kini mobil sudah masuk di perkotaan lantas berbelok memasuki persawahan yang menjadi lumbung padi di kota tempatku akan menetap selama setahun ke depan. Tak jauh dari situ, terdapat gapyra besar sebagai tanpa bahwa kini kami semua sudah memasuki area Pesantren.


Mobil mobil berderet bak show room di sebuah lapangan. Sementara lalu lalang para Santri terlihat lihir mudik dengan bawaan masing masing. Tak terkecuali seseorang disana yang tengah tersenyum penuh makna terhadpaku. Siapa lagi kalau bukan Bia sahabatku.


Setelah mempersilahkan Pak Agung dan Bang Nusa serta Bu Mega di tempat istirahat bagi wali Santri, akupun mengajak Kak Melati untuk menilik kamar yang sudah menjadi saksi perjuangan aku dan teman teman sekamarku.


"Assalamu'alaikum.." Ucapku begitu pintu kamar terbuka dan menampakan keberantakan kamar dimana semua penghuninya baru saja datang.


"Wa'alaimussalam." Jawab semuanya kompak.


"Mawar, ini pelanggaran kenapa bawa bawa ikhwan ke kamar kita. Mana cakep banget." Kata Bia langsung mencomot pipi Adit.


"Mana gemoy dan gemesin lagi." Timpal yang lain, sembari sudah berlomba lomba langsung mengulurkan tangan, dan emang dasarnya Adit yang mauan dan murah senyum, tambah di uyel uyel sama Mbak Mbak.


Di sisi lain, Kak Melati hanya terus tersenyum menyaksikan kehebohan Mbak Mbak berebut Adit. Meski, mata Kak Melati tak henti hentinya menelisik seisi kamar yang ku tempati.


"Bi, kenalkan ini Kak Melati. Kakak ku." Kenalku ke Kak Melati.


Bia mengulurkan tangannya sembari tersenyum ramah. "Syabia, sama Mawar di panggil Mawar, Kak Mel." Ucap Bia.


"Melati." Jawab Kak Melati dengan senyum yang juga mengembang di bibirnya. "Berapa orang kalian tinggal di kamar ini.?" Lanjut Kak Melati.


"Harusnya sepuluh orang Kak Mel. Tapi, kayaknya tahun ini bakal kurang dua orang." Jawab Bia.


"Muat untuk sepuluh orang..?" Tanya Kak Melati dengan penekanan, dan terus mengitarkan pandangannya ke arah kamar dengan deameter empat kali lima meter tersebut.


"Cukuplah Kak Mel." Jawabku dengan cepat.


"Tidak ada ranjang, hanya ada matras untuk tidur.?" Tanya Kak Melati lagi.


"Ya Allah Kak Mel. Namanya juga di Pesantren, sudah ada matras anti tembus dinginnya keramik itu lebih dari cukup." Kataku dengan langsung mengelus punggung Kak Melati.

__ADS_1


"Tap, tapi."


"Sudah tidak penting itu, yang terpenting disini itu kebersamaan dan kuatnya persaudaraan. Ini kan bukan Pesantren Modern apa lagi kost kostan. Bukan begitu Bi."


"Betul." Jawab Bia.


"Kamu yakin, War.?" Tanya Kak Melati kepadaku.


"Ihh, Kak Melati kok terlambat banget ngomongnya yakin. Kan Mawar sudah dua tahun disini." Timpalku dengan tawa pecah.


"Kalau tau kayak gini, Kak Mel enggak bolehin kamu tinggal disini, War." Ucap Kak Melati dengan nada menyesal.


"Kak Mel, di Pesantren itu jauh lebih menyenangkan meski hanya tidur seadanya, makan seadanya. Karena, sejatinya itu melatih kita agar lebih prihatin dan menerima dengan apa yang kita miliki di rumah, dan itu salah satu media menuntut ilmu." Jawabku.


"Mawarnya Kak Mel makin bijak saja." Jawab Kak Melati berbarengan dengan tangis Adit yang sudah merasa bosan di gendong sana sini..


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Ini." Ucap Kak Melati menyodorkan sebuah dusbox sebuah Ponsel keluaran tebaru kepadaku, saat semuanya telah usai pamitan kepadaku.


"Kak Mel, ini tidak perlu. Lagi, disini tidak di butuhkan juga tidak di perbolehkan." Jawabku sembari melipat tanganku ke belakang.


"Tadi aku sudah tanya sama pengurusnya, katanya untuk tingkatan kamu boleh bawa ponsel. Ini juga bisa membantu tugas tugas belajarmu nanti, War." Kak Melati menarik tanganku lantas menaruh dusbox di atas tanganku yang di paksanya untuk membuka.


"Tadi katanya Pengasuh Pesantren. Tidak boleh menolak rezeki yang datang. Apa lagi jika itu bisa di manfaatkan untuk kelangsungan belajar." Lanjut Kak Melati


"Tidak saat ini, besok atau lusa pasti akan butuh. Lagian itu juga agar Kak Mel bisa hubungin Mawar dengan mudah." Kata Kak Melati lagi.


"Ini Bang Daffa tau kalau Kak Mel beliin ponsel buat Mawar.?"


Kak Melati tersenyum penuh arti sebelum menjawabnya. "Itu yang beliin Mas Daffa, nomernya juga Mas Daffa yang pilihin. Jadi aku tau beres, dan kamu tinggal pakai saja."


Aku tertekun untuk sejenak, sebelum ahirnya aku menyadari bahwa itu di lakukan Bang Daffa semata mata karena begitu cintanya Bang Daffa kepada Kak Melati, hingga tak membiarkan Kak Melati mengkwatirkan hal lain termasuk dengan kabarku sekalipun.


"Jadi, tidak perlu ragu lagi. Pakai dan gunakan untuk menunjang belajarmu. Adit akan menunggu waktu senggangmu untuk vidio call." Lanjut Kak Melati lagi sembari mengusap pipiku penuh sayang. "Kami semua akan merindukanmu."


"Mel, ayo cepat. Mumpung Aditnya masih tidur." Panggil Bang Nusa dari dalam mobil.


"Iya bentar lagi." Jawab Kak Melati. "Ya udah, mumpung Adit masih tidur nanti kalau bangun pasti dia langsung nyari kamu. Hati hati, dan yang semangat belajarnya agar nanti Kak Mel tidak ragu meninggalkan Adit belajar bersama denganmu." Lanjut Kak Melati.


Aku mengangguk dan memeluk Kak Melati dengan erat, seolah olah aku tidak akan memiliki kesempatan untuk memeluk Kak Melati lagi lain waktu. Dan hatiku terlalu mudah risau akan hari esok yang masih menjadi misteri.


Mengurai pelukan kami, Kak Melati melangkah meninggalkan aku yang masih berdiri di tempatku hingga mobil berangsur angsur meninggalkan jejaknya dengan mengepulkan asap di udara. Memupuk semangat dengan harapan orang yang di cinta, ku tambatkan sebait do'a agar semua tidaklah menjadi sia sia. Dan panggilan dari Bialah yang membuatku tersadar, bahwa perjuanganku telah di mulai kembali.


Malam datang dengan masih di sibukan beres beres sekaligus membuka oleh oleh dari masing masing kami. Kalau biasanya aku yang hanya dapat bagian icip icip, kali ini aku memiliki beberapa kardus oleh oleh untuk di cicipi teman temanku.


Sembari tangan kami bergantian menyentuh antara pakaian yang hendak kami masukkan ke loker atau justru meraih kripik Garut oleh oleh dari salah satu teman sekamarku. Tentu, masih kami selai dengan bersanda gurau untuk melepas rindu selama sepuluh hari tak bersua.


"Kamu nyari apa, War.?" Tanya Bia begitu melihatku membolak balikan tas ku hingga beberapa kali.

__ADS_1


"Tag name." Ucapku singkat.


"Ketinggalan.?" Tanya Bia lagi, sembari ikut memeriksa di tasku satunya.


"Enggak tau, sepertinya sudah aku masukkan."


"Kalau punyaku kemarin tak titipkan sama Mbak Qoim." Ucap Bia. "Kamu sih enggak di titipin saja, atau di tinggal di dalam loker."


"Seingatku tidak ku bawa pulang, tapi di dalam loker juga tidak ada." Jawabku dengan masih bingung mencari carinya.


"Kayak e dari sebelum pulang kamu sudah jarang pakai tag name, War." Timpal salah satu teman sekamarku.


"Masak sih. Kok Mawar bisa keluar kalau enggak pakai tag name." Ujar Bia juga ikut pelik.


"Kan mulai ujian Mawar sudah jarang keluar, Bi." Timpal teman kami yang lainnya.


"Bener juga sih." Jawab Bia.


Aku terduduk dengan tas kosong berada dalam pangkuanku, sembari terus berpikir kemana raibnya tag nameku, namun masih tidak dapat ku temukan ingatan mengenai terahir kali kemana tag name itu aku tinggalkan.


"Sudah jangan sedih gitu, besok tak temenin lapor ke Keamanan. Biar di buatin baru." Kata Bia mencoba menghiburku dengan langsung memeluk ku erat hingga aku kesusahan untuk bernafas.


"Bi, lepasin enggap tau." Ucapku sembari memukuli tangan Bia yang melingkari dadaku. Dan bukan malah terurai, justru banyak tangan yang kini tengah memelukku hingga ahirnya terdengar tawa pecah kami semua.


.


.


.


.


.


Bersambung..


####


Sudah waktunya kembali pada pemiliknya tag name yang ke sasar sama seseorang.


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2