
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Menguyur seluruh tubuh dengan air dingin, ikut mendinginkan kepalaku yang sedari kemarin rasanya cukup panas dengan spikulasi seorang diri. Keluar dari kamar mandi, ku biarkan rambut basahku tergerai dengan masih meneteskan sisa sisa air.
Hanya berbalut handuk, aku melenggang pasti dengan sesekali menggosok rambutku yang baru aku sadari ternyata sekarang sudah cukup panjang. Berdendang pelan, ku arahkan kakiku menuju ke lemari dimana bajuku tertata. Belum pintu lemari tergeser, dari cermin besar lemari dapat ku lihat pantulan Bang Daffa yang tengah menatapku dengan tajamnya.
Duduk di sofa dengan kaki bersilang, matanya tak hentinya terus memindaiku. Aku yang untuk beberapa saat masih kaget, terdiam dengan terus membalas tatapannya. Baru setelah Bang Daffa bangkit dari tempatnya duduk, dan berjalan pelan ke arahku, akupun tersadar jika aku belum berpakaian.
Aku bergegas meraih selimut yang teronggok di atas ranjang, lantas segera menyampirkannya di tubuhku, hingga menelan tubuh kecilku di dalamnya.
"Jadi ini usahamu." Gumam Bang Daffa begitu tepat berada di depanku. Gerakannya pelan menyingkirkan selimut yang aku gunakan. "Lepaskan, Mawar." Lembut katanya membuatku melepaskan cekalan selimut yang tadinya ku pegang erat hingga luruh bebas teronggok di lantai.
Tatapan intens Bang Daffa yang memindaiku dari atas hingga ke bawah membuatku salah tingkah dan apa lagi saat tangan hangat Bang Daffa mulai menyentuh pipiku, hingga membuat debaran hebat di dadaku yang aku takut itu dapat di dengar oleh Bang Daffa.
"Kulitmu halus." Pelan kata Bang Daffa sepelan tangannya menyusuri pundakku hingga berahir meraih tanganku yang meremas ujung handuk ku.
Harusnya saat ini aku kedinginan, dengan hanya berbalut handuk. Tapi, nyatanya aku justru merasa panas dengan sensasi tangan Bang Daffa, apa lagi di tambah Bang Daffa yang terus nenghujaniku dengan kata kata lembut membuatku terus pasrah di buatnya. Hingga pada ahirnya suara Adzan Mahriblah yang membuatku tersentak dan lekas mundur dari jangkauan Bang Daffa.
"Adzan mahrib." Lirihku.
Bang Daffa tidak menjawab apa apa, hanya kembali mendekat ke arahku dan kali ini tidak ada lagi tatapan lembut, melainkan kesinisan yang tersisa disana. Adakah orang berubah begitu cepatnya.?
"Aku belum selesai, Mawar." Desisnya dan langsung memojokanku di tembok dengan tangannya mengungkungku. "Halus kulitmu, entah sudah berapa banyak pria menyentuhnya." Mataku memanas seketika.
"Apa usahamu ini juga yang kamu gunakan untuk merayu adik ku. Dan sayangnya sebelum semua terlanjur jauh, Daffin sudah memberi tauku semuanya." Kali ini aku menatap wajah Bang Daffa yang tepat berada di hadapanku.
Di balik mata yang berkaca kaca, tak ku lepas sama sekali menantang tatapannya. Dan ukiran senyum tipis, ku sungingkan untuk Bang Daffa. Aku lakukan itu, karena aku tau Bang Daffa akan menikmati ketidak berdayaanku, dan akan merasa menang jika aku terlihat lemah di depannya.
Persetan dengan apa persepsi Bang Daffa, persetan dengan apa yang di ceritakan Mas Karang mengenaiku, apa lagi penerimaan Bang Daffa mengenai cerita Bang Daffa. Karena aku sudah muak.
"Kenapa, apa sampean mau mencobanya dan tahluk kepadaku." Ucapku dengan sombong meski tubuhku bergetar hebat.
"Oh, jadi aku mendapat undangan. Tapi sayangnya aku sama sekali tidak tertarik dengan barang bekas." Ucap Bang Daffa.
"Apa bedanya aku dan sampean. Sampean bekas Kak Melati." Jawabku.
__ADS_1
Bang Daffa menatapku dengan kilatan kemarahan tercetak jelas dimatanya. Lantas dengan cepat mebelakangiku. "Jangan sebut nama Melati dengan mulut kotormu."
"Aku jauh mengenal Kak Melati dari pada sampean, dan ak hemmpp..." Bang Daffa membungkamku dengan ciuman keras. Ciuman pelecehan, sama seperti yang di lakukannya dulu.
"Inikan yang kamu inginkan." Desisnya sembari tangannya bergrilya kemana mana. Dan berahir dengan ku dorong tubuh Bang Daffa hingga membentur meja.
"Ini yang di sehut istri yang baik oleh Daffin. Istri yang baik tidak akan menolak suaminya menyentuhnya." Ketus Bang Daffa sembari membenarkan pakainnya. "Dosa bagimu, War." Lanjutnya sebelum melangkah keluar dari kamar.
Tubuhku yang ku paksa tegak ahirnya luruh ke lantai begitupun dengan airmataku begitu pintu kamar tertutup menelan Bang Daffa. Aku terima segala hinaan ini, bukan karena aku ingin. Tapi, karena aku mau berusaha sampau aku benar benar punya alasan untuk menyerah. Dan satu satunya alasanku saat itu adalah Mas Karang.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sedari kejadian mahrib tadi, aku lebih memilih sendirian mengurung diri di kamar. Karena aku tau, pasti Bang Daffa sedang berada di luar sana. Namun, inginku tak sesuai dengan kenyataan yang di harap. Lantaran ketukan pintu yang terus menerus dan terdengar nama suara Bu Mega dan Adit yang menyerukan namaku.
Bergegas ke arah pintu, akupun langsung membukanya dan benar, Adit langsung menubruk ku begitu pintu kamar terbuka. "Bunda, Bunda sudah tidak pilek lagi.?" Tanyanya.
"Sedikit lagi." Jawabku dengan pura pura bersuara sengau.
"Biar Adit obati. Cup, cup, cup." Kecupan berulang ulang langsung mendarat di hidungku.
"Iya, Adit sudah lapar sekali Bunda." Ucap Adit. Dan langsung turun dari gendonganku, lantas menarik tanganku menuruni tangga.
Sampai di ruang makan, aku tercengang dengan kehadiran seluruh keluarga Bang Daffa termasuk Mas Karang di dalamnya. Dan lebih terkejut lagi dengan sikap Bang Daffa yang berubah manis, seakan tidak pernah terjadi insident besar saat mahrib tadi.
Sandiwara menjadi suami yang baik di depan semua orang, itulah yang sedang di lakoni Bang Daffa. Dan aku tidak punya pilihan untuk tidak ikut serta di dalamnya, karena Bang Daffa tidak memberiku kesempatan untuk menolaknya. Lagipun, jika itu aku lakukan. Maka yang terlihat jelek adalah aku.
Hingga makan usai, dan kami semua duduk di ruang keluarga Bang Daffa masih asik dengan lakon yang di mainkannya. Merangkul bahuku, dengan Adit duduk di pangkuanku, semua pasti mengira bahwa kami adalah keluarga yang harmonis, dan itu pula yang aku tangkap dari tatapan Mas Karang kepada kami.
Obrolan yang semula ringan, kini berubah arah saat Bang Daffa mulai angkat bicara soal kepulanganku ke rumah Pak Agung tempo hari. Dan hebatnya Bang Daffa karena, mengambil seluruh kepercayaan semuanya dengan bermain seolah dia yang salah paham. Dan menyalahkan dirinya sendiri untuk mencari simpati. Dan aku akui itu berhasil.
"Pemicu pertengkaran kami adalah karena saya mengira bahwa Mawar menyukai Daffin, apa lagi Daffin adalah Dokter muda yang hebat, dan single, bukan duda seperti saya. Jadi, itu membuat saya cemburu." Kalimat itulah yang membuat semuanya berpihak kepada Bang Daffa.
"Maafkan aku Mawar." Aku meragukan ketulusan dari kata Maaf Bang Daffa, karena aku tau sekarang semua sikap baiknya adalah sandiwara dan pasti kata maafnya tak lebih dari sandiwara.
Benar. Kata maafnya hanya play victim belaka. Buktinya setalah semua orang pergi dan kami hanya berdua saja di kamar, sikap hangatnya menghilang di telan dengan arogansinya. Dan itu membuatku mengubah seluruh pandanganku terhadapnya.
"Apa yang sampean inginkan dari ini semua.?" Tanyaku keluar juga setelah sekian menit kami hanya diam tanpa kata.
__ADS_1
"Pertanyaan bagus sekali." Ucap Bang Daffa tanpa menoleh sedikitpun dariku. "Kamu melukai kepercayaanku, Mawar. Jadi, kamu harus membayar mahal hal itu dengan mengikuti sandiwara ini."
"Kenapa harus.?"
"Karena aku ingin, Daffin benar benar lepas darimu dengan melihat sandiwara kita. Dan perlahan lahan orang orang yang kamu cintai meninggalkanmu." Katanya dengan tanpa perasaan, tidak taukah yang bahwa itu menyakiti, aku dan Mas Karang, bahkan bisa jadi itu menyakiti Bang Daffa sendiri.
"Jika itu yang sampean inginkan. Ceraikan aku. Aku bisa pergi jauh dari jangkauan kalian semua. Menghilang dan terlupakan." Kataku dengan nada keras. "Ceraikan aku." Ulangku.
"Dan setelah bercerai dariku, kamu akan mengejar Daffin. Aku tidak sebodoh itu Mawar." Sinis Bang Daffa. "Sampai aku yakin Daffin belum melupakan ****** sepertimu, aku tidak akan menceraikanmu."
"Jika itu terjadi. Jika sampai nanti Mas Karnag tidak bisa melupakan aku, lalu apa aku dan sampean harus terikat dengan sandiwara ini." Cecarku.
"Emmm, justru itulah pekerjaanmu. Kamu harus membuat Daffin menikah dengan segera, agar kamu bisa bercerai dariku dan menghilang seperti yang kamu katakan tadi. Jadi, ikuti sandiwara ini, sampai ahir untuk melihat siapa yang akan jadi pemenang. "Sudah paham kan. Matikan lampunya aku mau tidur."
Bang Daffa mencabik seluruh kepercayaanku akan indahnya pernikahan. Dan aku tidak yakin, andai nanti aku benar benar berpisah dengan Bang Daffa, apakah aku masih akan percaya dengan pernikahan sempurna yang aku impikan.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1