
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Panas masih juga matahari normal, War. Jadi, semangatlah sebentar lagi udah gajian." Ucapku menyemangati diriku sendiri. Meski peluh sudah bercucuran membasahi jilbab yang aku gunakan.
Jika saja Bia tau apa yang aku kerjakan di rumah Laundry ikut berpanas panasan juga, tidak dapat aku dengarkan keluhan yang di sampaikan kepadaku. Melihat kulit wajahku yang belang sudah membuatnya melayangkan protes kerasnya. Yang suruh pakai skincarelah, sunbloklah, luluranlah dan apalah itu namanya aku kurang tau.
Sebulan ini memang aku sering menghabiskan banyak waktuku di luar ruangan, di karenankan Laundry yang kebanjiran cucian. Juga sekaligus memang matahari lagi hobi banget mentereng tanpa berselimut awan.
Berada di rooftop untuk menjemur Badcover, serasa sauna yang ku rasakan. Padahal jam di pergelangan tanganku masih menunjukkan pukul 09.45. Dengan terus menyemangati diri dengan mengingat bahwa sudah mau gajian, senyumku ku paksakan kembali terbit.
"Mbak, Mbak Mawar." Terdengar suara meneriakkan namaku, dengan cepat ku singkap sepray di depanku sembari menyahuti untuk memberi tau keberadaanku.
"Iya, Mbak Shasa."
"Mbak ada uang pecahan sepuluh ribuan enggak..? Mengacungkan uang lima puluh ribu kepadaku Mbak Shasa berkata sembari mendekat ke arahku.
"Di meja kasir apa tidak ada Mbak.?" Tanyaku balik.
"Kalau ada kan saya enggak nyari Mbak Mawar. Lagian Mbak Mawar kok malah sibuk di atas sini, kan itu kerjaan Mbak Ninik."
Aku tersenyum simpul ke arah Mbak Shasa. "Mbak Ninik sudah kerja dari pagi, daripada saya cuma duduk duduk kan mending membantu, biar terlihat bermanfaat keberadaan saya disini."
"Ya kan bisa bantu nyetrika Mbak." Bantah Mbak Shasa.
"Lihat keadaan saja, mana yang lebih sibuk dan butuh bantuan saya." Jawabku sembari berjalan menuruni tangga menuju ke ruanganku dan di ikuti oleh Mbak Shasa.
Usai menukarkan uang, Mbak Shasa bergegas menuju ke kasir sementara aku memilih duduk di kursiku dengan buku absen pekerja di pangkuanku dengan jendela di hadapanku yang ku biarkan terbuka lebar lebar.
Menutup mata menikmati matahari menyentuh wajahku lewat sela sela jendela, aku seperti merasakan seseorang sedang memperhatikan aku dan dengan cepat ku buka mataku. Benar saja, ternyata di depan teras tepat di samping motor yang aku pakai, tengah berdiri seorang pemuda memicingkan matanya menatap lurus ke arahku.
Selaras dengan dirinya, akupun juga sama memicingkan mataku, lantaran pantulan kaca spion dari motor yang membuat wajah pemuda itu tak terlihat jelas olehku, hanya kemeja kotak kotak serta celana jins warna biru yang di gunakannya. Selebihnya hanya samar saja. Hingga pemuda itu melepas tatapannya dan melangkah menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Hingga pemuda itu menghilang masuk ke dalam mobil, anehnya mataku masih saja mengikuti siluet itu hingga pergi meningglkan debu berterbangan di udara bersama deru mobilnya.
"Sepertinya aku harus menyutujui ide Bia untuk menggunakan kacamata." Gumamku pelan untuk menyudahi rasa penasaranku terhadap pelanggan laundry pantas memilih fokus untun rekapan gajian beberapa hari lagi.
Siang datang dengan panas yang menjadi jadi, mengisi waktu istirahat sekaligus makan siang, aku ikut berseru seruan dengan membuka bekal masing masing dari kami. Kotak bekal warna biruku sudah ikut berjajar di atas meja makan siap dengan piring yang memang di sediakan disini.
Baru beberapa suap makanan tumpang sari masuk ke mulut kami, terdengar bel yang terus terusan di bunyikan, hingga membuatku berinisiatif bangkit terlebih dulu sekaligus memberi tau yang lain agar tetap melanjutkan makannya.
"Iya, tunggu sebentar." Teriakku dari dalam.
__ADS_1
"Eh, Mawar. Tumbenan jam segini sudah disini." Ucap pelanggan laundry yang tak lain adalah salah satu Mahasiswi yang ngekost tidak jauh dari tempat ini.
"Mbak Yesha saja yang jarang kesini, saya sudah hampir sebulan shif pagi terus.." Jawabku sembari mengulas senyum ku untuk salah satu pelanggan yang selalu setia sejak rumah laundry ini di didirikan.
"Ye, aku mah seminggu sekali selalu rutin kesini, War." Di angsukan kertas nota penerimaan kepadaku oleh Mbak Yesha.
"Berarti pas saya lagi sembunyi di dalem Mbak. Mbak Yesha sih enggak mau panggil panggil saya." Timpalku sembari mencari di loker penyimpanan. "Ini kok tumben banyak bener, Mbak.?" Ucapku sembari mengangkut satu demi satu kresek bertulis Rumah Laundry.
Tiga kresek besar sudah berada di atas etalase hingga kepala Mbak Yesha tertelan di belakangnya. "Mau pindahan aku, War."
"Eh, Pindah jauh Mbak.?" Tanyaku dengan nada setengah kaget.
"Lumayan sih, War. Kalau habis praktek ini bisa langsung ke terima disana ya berarti langsung kontrak di Rumah Sakit sana. Lumayan lah, biar enggak kelihatan nganggur setelah lulus." Jawab Mbak Yesha dengan senyum cerah.
"Saya ikut senang Mbak Yesha dengarnya." Ucapku dengan tulus.
"Kok malah seneng, kan itu berarti akan berkurang pelangganmu, War." Kata Mbak Yesha sembari menyerahkan uang seratus ribuan.
"Akan datang pengganti Mbak Yesha lagi nanti, bisa jadi malah lebih banyak." Kusodorkan dua lembar uang pecahan sepuluh ribuan ke arah Mbak Yesha. "Terima kasih banyak, Mbak Yesha. Semoga sukses menanti Mbak Yesha disana."
"Aku suka optimisme mu, War. Terima kasih. Semoga rumah laundry ini juga makin sukses, begitupun denganmu." Jawab Mbak Yesha. "Kurang lengkap kayak e kalau enggak foto bareng." Lanjut Mbak Yesha dan segera mengambil ponselnya lalu mengangkatnya tinggi tinggi.
"Cekrek, cekrek, cekrek." Beberapa pose foto sudah di ambil lantas Mbak Yesha segera pamit setelahnya, dan akupun kembali masuk ke dapur guna melanjutkan makanku yang tertunda.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jam berdentang dua kali, dan itu sudah waktunya bagiku untuk kembali. Aku sudah siap siap dengan jaket serta helmku, dan hendak pamit untuk kembali lebih dulu. Namun, niatku hanya tinggal niat belaka, karena di bagian depan sedang ramai dengan penemuan sebuah dompet.
"Mbak Mawar saja yang suruh buka." Kata Mbak Ninik dengan cepat melemparkan dompet berwarna coklat berbahan kulit ke arahku.
"Ini punya siapa.?" Tanyaku.
"Belum tau Mbak Mawar. Kan belum di buka. Makanya cepat di buka, siapa tau dia sekarang lagi bingung nyarinya." Timpal Mbak Shasa.
Setelah memastikan mereka semua menjadi saksi, akupun membuka dompet tersebut. Ada beberapa kartu yang terselip di dalamnya dan aku memilih kartu pengenalnya. Lantas aku tersenyum begitu mengetahui milik siapa dompet ini.
"Ini punya Mbak Yesha." Ujarku pelan, lantas memberikan dompet tersebut kepada Mbak Ninik kembali.
"Oh, Mbak Yesha." Jawab semuanya lega, tapi tidak berlangsung lama karena Mbak Shasa yang tiba tiba berteriak dan membuat kaget kami semua.
"Eh, Mbak Yesha mau pindah katanya pas ngantar cucian kemarin."
"Iya, tadi Mbak Yesha juga bilang ke saya." Timpalku. "Mbak Yuli, coba sampean hubunhi nomer ponsel Mbak Yesha." Celetuk ku dengan cepat.
__ADS_1
Mbak Yuli berlari ke arah meja resepsionis dan segera meriah gagang telepon, tak lama sudah berbincang lantas memanggilku.
"Mbak Mawar, Mbak Yesha mau bicara dengan sampean." Panggil Mbak Yuli, tanpa masuk ke dalam kembali, akupun meraih gagang telpon tersebut dan mendengarkan arahan Mbak Yesha sembari melirik ke arah jam tanganku.
"Baik, akan saya antarkan kesana Mbak Yesha." Ucapku dan segera menaruh yelpon pada tempatnya. "Saya pergi dulu, besok saya kesini habis dzuhur ya. Assalamu'alaikum." Lanjutku dengan bergegas pamit tanpa memerdulikan dengan tatapan heran mereka semua. Aku pikir masih ada waktu besok untuk menjelaskan kepada mereka daripada aku harus terlambat untuk kegiatan di Pesantren jika menunda waktu.
Memacu pedal gasku dengan kecepatan di atas rata rata seperti biasanya, ahirnya sampai juga aku di sebuah Rumah Sakit Swasta. Ponsel di tanganku terus ku tempelkan di telingaku, sembari melangkah menyusuri koridor mencari dimana kantin berada.
Membaca setiap petunjuk yang tertera aku terus mengikuti arah dimana aku janjian bertemu dengan Mbak Yesha. Tidak jarang aju berpapasan dengan orang sakit, atau orang yang tergesa gesa menemani sanak saudara yang juga sedang sakit. Juga, banyak muda mudi dengan pakaian serba putih menandakan bahwa mereka semua adalah calon Perawat, calon Suster atau bahkan juga calon Dokter.
Warna kontras tembok sudah terlihat di depan mataku, akupun menambahkan kecepatan langkahku meski di belakangku sedang ramia dengan orang yang berteriak teriak. Memliaht sekilas ke belakang, mataku melihat punggung seorang dengan pakaian serba putih sama dengan yang aku lihat tadi tengah menabrak ibu paruh baya.
Aku mencoba untuk acuh, karena keterbatasan waktu yang aku miliki. Dan memilih memacu langkahku untuk menemui Mbak Yesha. Sampai di pintu kantin, Mbak Yesha melambai lambaikan tangannya dan ku balas dengan senyum ramahku.
"Khadijah, Khadijah, Khadijah tunggu." Suara itu terus mengikutiku, hingga aku memilih untuk menoleh ke belakang dan bingung sendiri sembari menoleh kiri, kanan. Semakin bingung lagi, karena tidak seorangpun yang sedang berdiri di dekatku, sedang pemuda itu semakin mempercepat langkahnya untuk sampai di tempatku.
Takut di kira GeEr, akupun memilih melanjutkan langkahku ke arah Mbak Yesha yang tidak kalah pelik sepertiku. Dan sampai di tempat duduk Mbak Yesha bertepatan dengan sebuah tangan besar meraih bahuku sembari menyebut nama yang sama sekali bukan namaku.
"Khadijah, ahirnya ketemu juga."
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1