Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Tidak Cukup Pantas.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Cinta adalah satu satunya kebebasan di dunia. Dan aku terjebak di dalam kebebasan itu. Di satu sisi, aku ingin bertahan dengan perasaanku. Sementara di sisi hatiku yang lain, aku ingin mengabdi kepada seseorang yang telah mengikatku cukup kuat dengan janjinya kepada Allah.


Mengurung diri di kamar setelah peristiwa siang tadi, aku berusaha sangat keras untuk menata hatiku yang entah berserakan seperti apa saat ini. Dia sebelumnya yang aku inginkan, dia yang sebelumnya aku tunggu tunggu kedatangannya, dia yang aku harapkan akan membawaku pergi dari kepedihan merindu. Ternyata, semesta masih ingin bercanda denganku.


Dunia memang bulat dan aku terus berputar di pusaran yang sama. Kenapa.? Kenapa harus Mas Karang yang menjadi adik Bang Daffa. Dan kenapa harus aku yang berada di moment seperti sekarang ini. Andai aku boleh meminta sesuatu yang tidak mungkin untuk di kabulkan, aku ingin kembali di masa aku masih usia delapan tahun. Aku akan berkata "tidak" untuk Kak Melati, karena dengan begitu aku tidak akan menghadapi pedihnya cinta rumit seperti sekarang.


Haruskah aku kembali menjaga perasaan seseorang dan abai dengan perasaanku sendiri. Aku harus bagaimana.? Kalimat itulah yang sedari tadi terus aku pikirkan jawabannya. Hingga semua yang aku angankan berantakan.


Aku mencintai Mas Karang itu pasti, tapi di hatiku juga ingin menjaga perasaan Bang Daffa yang sudah berusaha menerimaku setelah sekian kali penolakannya. Ada Adit yang juga ingin aku jaga, tapi apa aku harus mengorbakan perasaanku sendiri.


Siap tidak siap, sekarang atau nanti, pada ahirnya aku akan tetap bertemu dengan Mas Karang, dan Mas Karang tetap juga akan menjadi Adik Bang Daffa.


Bisa saja hubunganku berahir dengan Bang Daffa dan menyisakan jarak di antara kami. Tapi tidak akan sama dengan Mas Karang dan Bang Daffa, karena ikatan darah akan lebih kental daripada air. Untuk itu, aku akan berkorban perasaanku lagi, demi orang yang aku jaga cintanya agar tidak perlu ada perdebatan setelahnya.


Langkah berat aku seret dengan paksa mengeluarkan diriku dari kungkungan hati yang gelisah, dan manambahkan senyum di bibirku meski hatiku sedang lara. Bergabung bersama Bu Asri menyiapkan makan malam, aku memilih banyak berkata hal yang sesungguhnya tidak perlu untuk ku tanyakan, hingga membuat Devi yang ikut serta meramaikan dapur mempertanyakan keceriwisanku sore ini.


"Mbak Mawar kenapa sih, aneh deh." Protes Devi.


"Kenapa apanya, Vi. Bukannya bagus kalau Mbakmu banyak bicara. Ibu suka." Timpal Bu Asri.


"Ihh, Ibu kurang paham sih." Balas Devi masih dengan santai. "Mbak Mawar sedang tertekan.?" Tanya Devi tiba tiba.


"Brukk." Seikat kangkung langsung mendarat di kepala Devi, membuat Devi menjerit kaget dengan apa yang di lakukan oleh Bu Asri.


"Kamu itu jangan asal ngomong, Vi." Potong Bu Asri dengan cepat sebelum Devi melayangkan kekesalannya dan aku memilih jadi penikmat drama ibu dan anak ini.


"Ibuk, Devi tuh tadi habis keramas." Protes Devi sembari membelai rambut panjangnya. "Lagian Devi sama sekali tidak asbun alias asal bunyi. Karena menurut dari kajian psikologi yang Devi pernah ikuti, orang yang sedang tersenyum dengan pandangan mata dalam dan ada kerut di tengah tengah antara kedua alis, itu bisa jadi dia cuma sedang pura pura bahagia. Atau istilahnya eccedentesias**t." Jelas Devi panjang lebar sembari menatapku intens.


"Jangan suka menyimpan masalah, Mbak. Auuh, Buk." Aku yang tadinya sudah terpojok, seketika merasa terselamatkan dengan serbet yang tiba tiba sudah membungkam mulut Devi.


"Sudah jangan banyak omong, jadikan kehadiranmu itu bermanfaat disini. Sedari tadi ngupas wortel enggak selesai selesai berisik saja. Akan lebih baik kalau kamu itu pergi saja dari dapur." Aku kembali memaksakan senyum ku untuk intraksi keduanya, hingga untuk sesaat aku melupakan siapa yang sedang kami persiapkan kedatangannya.


"Baik, baiklah, Devi pergi dulu." Ucap Devi sambil berdiri. "Mbak nanti kalau berniat konsultasi sama Devi, Mbak Mawar taukan harus mencari Devi dimana. Mumpung masih gratis Mbak." Lanjut Devi sambil cekikikan.


"Jangan dengarkan anak itu, War. Dia memang suka sekali rame, apa lagi kalau bareng sama Daffin, Ibu rasanya capek sekali teriak teriak." Entah mengapa penjelasan Bu Asri justru membuat dadaku terasa sesak kembali.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Meja makan sudah siap lebih dari lima menit lalu, dan aku memilih untuk tetap tinggal di dapur lantaran takut akan datangnya seseorang yang sebelumnya aku inginkan kehadirannya. Mas Karang.


Berdiri di depan kompor dengan terus memilin ujung jilbabku, aku tidak sadar jika air yang aku rebus sudah mendidih. Jika bukan karena Adit yang masuk ke dapur dan dengan cepat sudah menarik tanganku, maka aku akan tetap berdiri di depan kompor dengan pikiran tak karuan.


"Om Afin, ini Bundanya Adit." Dadaku bergemuruh hebat dan mengantarkan nyeri yang juga luar biasanya saat Adit dengan tiba tiba sudah menyerukan nama Daffin yang tak lain adalah Mas Karang.


Aku tak berani mengangkat wajahku, meski tadi aku sudah mempersiapkan segalanya agar hatiku tegar. Dan ternyata sakitnya seperti ini, saat aku harus berhadapan langsung dengan Mas Karang.


Aku terus memegang pergelangan tangan Adit dengan kuat. "Bunda sakit." Ucap Adit.


"Oh, maaf sayang." Jawabku dengan nada lirih lantas dengan cepat melepaskan tangan Adit.


"Ada apa denganmu, War." Bisik Bang Daffa yang sudah berdiri di sampingku.


"Ehh, tidak. Tidak ada apa apa." Kilahku dan Bang Daffa segera merangkulkan tangannya di bahuku.


"Fin, itu kakak ipar barumu. Mawar namanya." Kata Pak Bakti.


"Mawar..?" Suaranya masih sama. Dan efek suara itu masih sama berpengaruhnya terhadap tubuhku.


"Iya, namanya Mawar. Cantik seperti namanya." Timpal Bu Asri. "War ini Daffin anak Ibu yang kedua." Lanjut Bu Asri.


Membalas anggukannya, ada sedikit perasaan kecewa mencubit hatiku. Kenapa Mas Karang justru tersenyum manis di depanku, tidak taukah dia bahwa hatiku sakit melihat itu. Tidakkah dia merasakan sakit seperti yang aku rasakan. Apa mungkin aku yang terlalu berharap banyak terhadap Mas Karang.? Tapi kenapa dia masih mengenakan kemeja yang aku jahitkan untuknya dulu.?


Di meja makan ini percakapan demi percakapan mengalir begitu saja sembari menikmati santap malam bersama. Sementara aku memilih untuk menekuri isi piringku yang sejatinya terasa hambar di mulutku. Dari sekian banyak caraku untuk mengurangi kegugupan ini, adalah dengan pura pura sibuk dengan Adit.


"Adit bisa, Bunda." Protes Adit saat aku mencoba untuk memisahkan tulang ikan dari piring Adit.


"Mawar, jangan terlalu memanjakan Adit." Kata Bang Daffa dengan nada manis.


"Itu isi piring kamu masih utuh, War." Kata Bu Asri. "Padahal kami semua sudah hampir selesai. Lihatlah piring Daffin besih seperti habis di cuci, kelihatannya cocok banget sama masakan kamu." Lanjut Bu Asri.


Sekilas mataku dan Mas Karang bersitubruk, dan entah kenapa tatapan ini berubah sendu untuk sesaat.


"Itu karena di dalam perut Bunda ada Adiknya Adit."


"Uhuk uhuk uhuk." Bang Daffa langsung terbatuk begitu mendengar ucapan Adit.


"Ehh, benarkah War.?" Tanya Bu Asri, lagi mataku kembali bertemu dengan mata Bang Daffa saat aku menoleh hendak menjawab tanya Bu Asri.


"Keluarga baru." Seru Devi. "Pantesan dari tadi Mbak Mawar moodnya berubah ubah. Ternyata Bumil."

__ADS_1


"Itu ti.." Kataku seketika berhenti begitu Mas Karang ikut andil dalam percakapan ini.


"Adit mau adik cewek apa cowok.?" Tanya Mas Karang.


"Cewek dong. Nanti akan Adit beri nama Alina. Biar bercahanya seperti bintang." Jawab Adit yang membuat semua tertawa kecuali aku dan Bang Daffa.


"Tuh, Bang Daffin. Kapan Bang Daffin mau bawa seseorang untuk di kenalkan kepada kami." Kata Devi.


"Harusnya hari ini, berhubung dia sudah memilih bahagianya bersama orang lain, dan orang lain bahagia dengan kehadirannya, aku rasa aku tidak berhak menanyakan lagi tentang dia."


"Uhuk uhuk uhuk.." Aku langsung tersedak hebat begitu mendengar penuturan Mas Karang, dan lekas pamit kepada semuanya untuk pergi dari ruang makan.


Aku tidak cukup berharga atas sebuah kebahagiaan, aku tidak cukup berharga atas sebuah kehidupan baru dengan cinta dan kedamaian. Aku juga tidak cukup kuat menanggung kesenangan hidup dan kedamaian. Dan ternyata aku masih tidak cukup pantas untuk meminta cinta yang tak terbatas atas orang yang di cintai.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


😭😭😭😭😭


Pokok e saiya mau nangis...


Like, Coment dan Votenya masih di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2