
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Suasana hangat begitu terasa di ruang rawat inap dimana Kak Melati berada. Pak Agung, Bu Mega, Bang Nusa, duduk mengitari bangsal Kak Melati dengan senyum tak pernah pudar dari meraka semua. Begitupun dengan ku, yang tengah berdiri tidak jauh dari mereka semua, bersama dengan Erik.
Aku menikmati kebahagiaan ini. Terutama, kebahagiaan Bu Mega, yang merasa sangat lega. Karena, kabar baik yang di sampaikan oleh dokter yang merawat Kak Melati sore tadi. Apa yang di anggap tidak mungkin, pada ahirnya menjadi mungkin bagi mereka.
"Sungguh murah hati sekali orang yang mau mendonorkan salah satu Ginjalnya untuk Melati, Ma." Pelan, Kak Melati berucap. "Apa Melati bisa bertemu dengan orang itu sebelum operasi, Ma.?" Sebuah pengharapan terlihat jelas di mata Kak Melati, membuatku mengangkat wajahku perlahan.
"Papa bisa bujuk Dokter untuk kasih tau kita siapa orang itu enggak. Mama juga ingin sekali berterima kasih secara langsung kepadanya."
"Mama tadi dengar sendiri dr.Tian ngomong gimana." Jawab Pak Agung.
"Nanti biar Nusa yang coba ngomong sama dr.Tian, Pa." Sahut Bang Nusa kalem.
"Misterius sekali orangnya, jangan jangan orangnya jelak, Mel." Timpal Erik.
Aku maju beberapa langkah ke arah bangsal Kak Melati, dan berhenti tepat di ujungnya. Ku ulurkan tanganku, menyentuh ujung kaki Kak Melati yang tengah terbungkus selimut tebal. "Mawar rasa, tidak perlu memikirkan apa alasan orang itu menyembunyikan identitasanya dari kita semua. Itu sudah pasti balasan dari Allah, atas semua kebaikan Kak Melati selama ini." Ucapku dengan menyungingkan senyum termanisku untuk Kak Melati.
Semua menatap ke arahku dengan tatapan setuju, kecuali Erik. "Tapi, tetap itu terlalu misterius. Dan bener kata Bang Nusa noh. Cari tau besok Bang." Seloroh Erik ikut mendekat dan berhenti tepat di samping ku.
"Emang mau ngapain kalau udah ketemu orangnya. Kalau dia mau menprivasinya, sudah barang tentu dia punya alasan tersendiri lah, Rik. Biarin aja kenapa." Jawabku dengan nada tenang.
"Ya enggak kenapa napa. Cuma mau mastiin dia enggak Gino." Ucap Erik sambil cengingisan.
"Kamu ini ada ada saja, Rik." Timpal Pak Agung.
"Tau nih anak." Timpalku sembari tangan ku kembali memijit kaki Kak Melati.
"Kalian berdua itu selalu berisik setiap bersama." Kalimat sederhana yang di ucapkan Bu Mega, membuat senyum yang tersunging di bibirku tiba tiba terasa kaku. Itu karena, Bu Mega mengucapkannya dengan nada sinis sembari melirik tidak mengenakan ke arahku.
Dan seperti biasanya Kak Melati akan dengan cepat sadar akan hal semacam itu, dan segera mengubah bahasan dengan yang lainnya. "War, ini sudah malam. Apa kalian tidak akan kembali malam ini. Besok kamu mesti sekolah."
"Ayolah Kak Mel, dengarkan pinta Mawar tadi siang." Rengek ku pelan dan gelengan kepala Kak Melati membuatku mengerucutkan bibirku dengan cepat. Di tambah dengan lirikan mata dair Bu Mega, membuatku dengan cepat beralih dari tempatku.
"Ini demi kebaikanmu, War. Ingat, ini sudah hampir ujian ahir. Kak Mel, enggak mau yah kamu gagal." Ucap Kak Melati pelan.
"Iya, Mawar tau. Mawar pulang dulu." Jawabku.
"Kalian pulang saja kerumah, besok pagi baru kembali ke Kostan." Ucap Pak Agung.
"Mamang sekolah mau masuk jam berapa, Pa. Biar saja langsung kembali ke kostan." Ketus Bu Mega, membuat Pak Agung menghembuskan nafasnya dalam.
"Rik, kamu bisa nyetir dengan benar malam kayak gini.?" Tanya Pak Agung kepada Erik.
"Percaya sama Erik, Om." Dengan jumawa Erik menepuk nepuk dadanya. "Jangan lupa bayarannya besok, War. Servis geratis di Bengkel loe." Lanjut Erik, dan hanya ku jawab dengan mencebikkan bibirku ke arahnya.
__ADS_1
"Halah, kayak biasanya enggak gratis saja." Timpal Bang Nusa.
"Ini beda, Bang. Free oli garda.ckckck."
"Itu malak namanya. Hahaha.." Ucapan Bang Nusa sukses membuatku menyungutkan bibirku ke arah Erik yang masih cengingisan.
"Sudah malam, lekaslah." Kembali ucapan Bu Mega membuatku segera menyudahi ini semua dengan berpamitan kepada mereka semua.
"Ayo, Bapak antar sampai ke depan." Ucap Pak Agung pelan.
"Tidak perlu, Pak. Kan sudah ada Erik." Sengaja ku jawab seperti itu, lantaran tatapan keberatan yang di layangkan oleh Bu Mega menyiutkan nyaliku.
"Tidak apa apa. Ayo." Ucap Pak Agung tanpa menghiraukan tatapan tidak setuju Bu Mega. Dan dengan cepat Pak Agung merangkul bahuku, lantas mengajak ku melangkah meninggalkan ruang rawat inap Kak Melati.
Langkah kami sudah sampai di selasar menuju ke arah tempat parkir ketika Pak Agung menghentikan langkahnya dan menyuruh Erik meninggalkan kami terlebih dulu. "Maafkan perkataan Ibu tadi ya, War." Ucap Pak Agung pelan, sembari menekan kedua pundak ku dengan tangannya.
Aku hanya menggelang sembari tersenyum pelan. "Tidak apa apa, Pak."
"Maafkan kam.."
"Tidak Pak, jangan ulangi lagi kata kata maaf buat Mawr. Itu tidak pantas Mawar dapatkan, setelah semua yang Bapak dan keluarga berikan untuk Mawar selama ini." Dengan cepat ku potong ucapan Pak Agung yang selalu akan panjang jika sudah meminta maaf kepadaku. Apa lagi jika sudah menyangkut soal Bu Mega.
"Kamu anak yang baik, War." Di usapnya kepalaku pelan. "Ini, buat uang saku." Di sodorkannya beberapa lembar uang pecahan seratusan ke arahku oleh Pak Agung.
"Mawar masih ada pegangan, Pak. Pemberian Ibu kemarin juga masih." Pelan kembali ku angsukan tangan Pak Agung ke tempat semula.
"War, kamu jangan bohong. Bapak tau, meskipun kamu kekurangan uang, jelas kamu tidak akan meminta kepada kami." Pak Agung berusaha sangat keras menyelipkan uang itu di sela sela jariku yang tengah mengepal rapat.
"War.?"
"Percaya sama Mawar, Pak. Mawar pergi dulu yah, nanti kalau ada apa apa sama Kak Melati, tolong kabari Mawar." Ku raih tangan Pak Agung, menciumnya dengan takdzim lantas bergerak menyusul Erik yang tentunya sudah menungguku di parkiran.
Muka bete Erik di parkiran menyambut kedatanganku, dan dengan cepat sudah memberikan helm kepadaku, sembari menggumam protes dengan nyamuk yang sudah membuat tato di kakinya. "Buruan pakai helmnya, War." Ucap Erik saat menyadari aku yang tak kunjung memakai helmku.
"Aku, akan tetap disini." Pelan, dan ku sodorkan kembali helm kearah Erik yang sudah duduk di atas motor gedenya. Lantas bergegas pergi, saat helm sudah kembali berpindah ke tangan Erik.
Langkah tergesaku terhenti begitu ku rasakan tanganku di cengkram erat dan itu oleh Erik yang masih lengkap dengan menggunkan helm di kepalanya. "Loe, mau kemana.?"
"Aku ada urusan sebentar, Rik. Kamu pulang saja." Jawab ku sembari melepaskan tangan Erik dari tanganku.
Erik memandangku dengan tatapan membunuhnya, hingga membuatku merinding di buatnya. "Loe, masih enggak mau ngaku sama gua.".
"Apa sih, Rik. Aku bener ada urusan." Ucapku.
"Loe bisa bohongin semuanya, tapi tidak sama gua."
"Aku enggak ngerti maksud kamu apa. Aku hanya kwatir dengan ke adaan Kak Melati." Erik semakin mempererat tangannya, hingga ku rasakan sedikit sakit di pergelangan tanganku.
__ADS_1
"Tiba tiba ada yang mendonorokan Ginjal buat Melati, setelah hampir setengah hari loe menghilang. Apa loe pikir gua bodoh, War. Jawab." Suara Erik meninggi.
"Sakit, Rik." Ucapku tanpa menghiraukan kaliamat Erik. Dan tujuanku hanya untuk pengalihan saja.
"Tatap mata, gua." Kata Erik lagi. "Gua bilang tatap mata gua, Mawar." Ku tatap mata Erik yang menyorot penuh kwatir terhadapku. "Loe kan yang donorin Ginjal ke Melati." Kali ini nada suara Erik terdengar lebih rendah, namun terasa menyakitkan.
Aku hanya terus diam tanpa bisa menjawap tanya Erik. Dan memilih membuang pandanganku terhadap Erik. "Apa ini juga masih karena Daffa.?"
Lirih, itu ucapan lirih. Namun, mampu membuat mataku kembali tertuju ke arah Erik lagi. "Ini murni karen Kak Melati, Rik." Jawabku sembari menggeleng pelan.
"Nonsens. Itu kamu lakukan juga karena Melati menyerah soal Daffa." Erik melepaskan tanganku dengan kasar. "Kamu tau kan konswensinya hidup dengan satu Ginjal, War."
"Kamu tau kan, Rik. Bagaimana Kak Melati kesakitan selama ini. Kamu tau itu menyakitkan aku juga. Lalu apa salahnya jika aku sedikit saja berkorban untuk Kak Melati."
"Aku tanya, kamu tau konswensinya hidup dengan satu Ginjal.."
"Bagiku Kak Melati segalanya, Rik." Tidak perduli dengan apa pertanyaan Erik, aku hanya menyuarakan apa yang ingin aku suarakan di dalam hatiku.
"Kamu tidak ak.."
"Rik, aku tidak akan perduli seperti apa itu. Aku hanya ingin Kak Melati mendapatkan bahagianya." Ku sela ucapan Erik.
"Pergilah." Aku melangkah pergi meninggalkan Erik, namun belum langkahku benar benar pergi meninggalkan Erik, kembali pergelangan tanganku di tarik oleh Erik dan dengan cepat membalikan tubuhku menghadapnya.
"Setidaknya pikirkan aku yang perduli padamu, War." Aku menatap Erik tidak percaya, ini kali pertama Erik menyebut aku dan kamu, bukan gua dan loe. Ini terasa asing buatku, apa lagi tatapan yang di berikan padaku. "Aku harus bagaimana jika terjadi sesuatu terhadapmu."
Ku kerjapkan mataku berulang ulang, untuk memastikan bahwa yang aku dengar dan kau lihat itu benar adanya. Namun, berulang ulang itu aku lakukan tetap sama saja. Aku masih tidak bisa memahami apa yang ada di otak Erik mengenaiku.
"Aku akan lebih senang, jika kamu egois sesaat untuk dirimu dan melupakan Melati sementara waktu dengan mengajar Daffa. Itu akan terasa lebih normal."
"Cinta tidak akan egois. Cinta juga tidak akan memaksa seseorang untuk tetap tinggal di sampingnya dengan berjuta alasan. Karena, cinta itu selayaknya kepercayaan yang kamu dan aku anut." Jawabku pelan.
.
.
.
.
.
Bersambung....
####
Like, Coment dan Votenya di tunggu..
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862