
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Berbalut kerudung warna biru langit, aku berdiri di atas rooftop berlatarkan langit yang mulai menjingga. Ku giring pandanganku kebawah, diamana tenda yang sudah selasai di dirikan. Tidak tampak oleh mataku, apa yang terjadi di bawah kain Parasut yang terbentang hingga hampir ke pintu gerbang rumah Pak Agung. Persis, seperti hatiku yang tidak bisa dibaca oleh orang lain.
Jauh di atas sini, semua yang terlihat hanya Orange saja, selaras dengan langit yang berangsur angsur akan ikut menggelap dan menyembunyikan segala isi dunia. Lantas, ketika semua telah bersembunyi bersama Matahari, datanglah bulan dan bintang sebagai penghias kegelapan juga sekaligus teman dalam sunyi.
Seperti itu pula, saat ini yang mungkin sedang aku rasakan. Aku yakin dan optimis, akan tiba saat aku akan bertemu dengan Bulan dan Bintang, karena aku percaya setiap luka akan menemukan obatnya. Setiap sakit akan menemukan sembuhnya, setiap derita akan menemukan bahagianya.
Saat ini yang ku butuhkan hanyalah menanti dengan sabar, bahwa dunia akan terus berputar dan aku percaya seperti Adam yang percaya akan bertemu dengan Hawa. Bahwa, suatu saat nanti pasti akan ku temui alasanku untuk bahagia seperti Kak Melati saat ini.
Satu yang pasti, tidak akan pernah aku sesali. Hadirnya Bang Daffa dalam hidupku, adalah sebagai pemanis yang menjadi racun ketika aku tidak bisa Ikhlas melepasnya. Dan menerima ketetapan Tuhan dengan lapang dada adalah bentuk dari jalan untuk Ikhlas. Tidak akan mudah memang, tapi aku yakin, dengan tekat yang kuat, aku pasti bisa.
"Woy, jangan bunuh diri, Loe." Aku kenal betul suara siapa yang sudah menyusulku di rooftop, tanpa aku memalingkan wajahku untuk melihatnya. Siapa lagi jika bukan Erik. Tidak ada yang mengenalku lebih baik dari Erik, bahkan itu Kak Melati sekalipun. Sedekat dekatnya aku dan Kak Melati, Kak Melati tidak benar benar mengetahui apa yang ada di dalam hatiku.
"Apa kabar, Rik.?" Ucapku begitu Erik sudah berdiri di sampingku.
"Lumayan baik, tanpa kamu merecoki ku."
Kekehan kecil meluncur dari bibirku, lantas ku tutup mataku, membiarkan angin membelainya dan memberiku ketenganan. "Gimana kerjaan kamu, lancar."
Tidak ku dapati jawaban dari Erik, segera ku buka mataku, dan mendapati Erik tengah menatapku dengan intens. "Loe baik baik saja, War.?" Kata itu keluar setelah Erik menghela nafas dalamnya untuk sesaat.
Ku sungingkan senyum tipis ke arah Erik. "Everything be fine." Masih ku pertahankan senyum di bibirku, hingga Erik ikut menyungingkan senyum di bibirnya meski kaku.
"Sorry." Di buangnya tatapan Erik dan ku ikuti pula dimana arah pandang Erik tertuju.
"Sorry untuk apa.?"
"Gua, hanya mau bilang gitu aja."
"Kerjaan kamu gimana.?" Tanyaku lagi ke Erik, yang tadi tidak mendapat jawaban darinya.
"Biasa, capek sudah pasti."
"Ckckckkc, nongkrong saja juga capek, apa lagi kerja. Tapi, pas giliran dapat gaji langsung semangat. Lagian kamu punya utang traktiran sama aku yah." Seperti ku dapati diriku yang dulu, saat Erik berada di sampingku. Meski, tidak dapat di pungkiri itu tidak lagi sama seperti dulu.
"Soal lambung mana bisa lupa sih loe, War."
__ADS_1
"Aku tuh suka enggak bisa pura pura amnesia kalau untuk urusan memerasmu." Jawabku.
"Hemm. Andai gua di beri kekuatan super, gua mau memiliki kesempatan untuk memutar waktu."
"Iya, dengan begitu kamu tidak perlu berhutang padaku." Timpalku.
"Tidak juga. Gua malah ingin membuat loe banyak hutang sama gua, dengan begitu gua punya alasan untuk mencegah loe melakukan hal koyol seperti sekarang." Kata Erik dengan serius.
"Jangan lagi, Rik. Aku males membahas hal itu, yang ujung ujungnya membuat kita berantem lagi."
Di raupnya wajah Erik dengan kasar. "Gua hanya tidak habis pikir dengan kebodohan loe, War. Sumpah, cinta loe itu konyal sekali."
"Cintaku untuk Kak Melati, Rik. Aku rasa itu bukan hal konyol."
"Bungkusnya. Dalemnya tetap sama buat Daffa."
"Stop it, Rik. Aku tidak mau membahas hal ini. Please deh, hampir empat bulan kita tidak bertemu dan lagi lagi kamu cuma mau membahas hal yang sudah berlalu."
"Sebenernya gua tidak ingin. Hanya saja, gua mau loe paham. Tidak hanya Daffa satu satunya laki laki yang bisa untuk kamu cinta." Suara Erik terdengar berat.
Ku layangkan tatapan kesal kepada Erik dan satu gerakan cepat aku berbalik ingin meninggalkan Erik. Aku hanya tak ingin kembali berselisih dengan Erik lagi dan lagi, oleh sebab itulah aku tak ingin berlama lama melanjutkan obrolanku dengan Erik.
"War, aku juga akan sakit hati jika kamu terluka. Aku merasakan ngilu di dadaku, saat kamu harus pura pura tertawa." Kembali ku balikan tubuhku, lurus menghadap ke arah Erik. Tatapan matanya intens tertuju ke arahku. Tidak ada canda dalam tatapan yang menghujam lurus ke arahku
Aku tak bergeming, dalam otakku hanya terbersit keinginan agar Erik paham dengan jalan pikiranku. Ini bukan sekedar cintaku kepada Bang Daffa, tapi lebih kepada cintaku untuk Kak Melati dan mereka saling mencintai. Bukankah itu sudah cukup.
"Rik, tolong pahami aku. Ak."
"Diam, War. Kali ini jangan penggal kata kataku. Biarkan aku meluapkan segalanya." Tegas Erik, seumur umur aku tidak pernah melihat Erik akan serius sekali dengan ku.
Pelan Erik berjalan ke arahku, dan kembali kami saling berhadapan. "Aku mencintai seseorang yang begitu mencintai Tuhannya. Hingga di setiap cobaan hidupnya, tidak di biarkan bibirnya mengeluh dan menganggapnya itu sebagai teguran akan cinta Tuhannya. Di senandungkan do'a do'a, meski begitu kepayahan. Aku mencintai seorang gadis yang selalu menopengi kebaikannya di hadapan orang lain. Aku mencintaimu, Mawar." Kata kata terahir Erik membuatku ternganga, dan menutup mulutku dengan kedua tanganku.
Tak percaya, itulah yang aku rasakan dalam hatiku. Dan mataku masih saja menatap Erik tanpa berkedip. "Kamu jangan bercanda, Rik." Kini tawaku pecah. Aku merasa lelucon yang di buat Erik begitu berani, hingga Erik melibatkan perasaan di dalamnya. Apa aku semenyedihkan itu di depan Erik, hingga Erik membuat lelucon ini untuk membesarkan hatiku. Apa wajahku terlihat begitu menderita, hingga aku patut untuk di kasihani.
"Aku tidak bercanda, War. Aku memang menyukaimu, dan aku menyadari perasaan itu sejak kamu mengaku bahwa kamu menyukai Daffa." Erik menjeda ucapannya. "Aku siap memasang badan agar kamu tidak tersakiti." Lanjutnya lirih.
Aku masih terus menggelengkan kepalaku pelan, masih tidak ingin percaya dan berharap jika semua ini hanya mimpi. Karena, ini jauh lebih menyakitkan daripada cinta seorang diri. "Ini konyol, Rik. Aku tidak percaya ini. Aku berharap ini hanya sebuah mimpi."
"War. Lihatlah aku sekali saja. Beri ruang di hatimu untuk ku, aku siap meninggalkan Tuhanku demi Tuhanmu."
Mataku menatap nyalang ke arah Erik, aku kecewa. Bukan karena alasan perbedaan Agama yang membuatku tak percaya dengan pernyataan cinta Erik. Hanya saja, aku menghargai persahabatan ku dengannya. Aku tak ingin persahabatku dan Erik berantakan hanya karena soal urusan hati.
__ADS_1
"Aku tidak memiliki kwalifikasi hebat, Rik. Hingga kamu harus meninggalkan Tuhanmu." Lirih aku menjawab Erik dan ingin menyudahi suasana yang tak aku inginkan.
"Kamu punya, aku tau itu."
"Cukup, Rik. Cukup. Aku tidak mau. Aku tidak mau kamu meninggalkan Tuhanmu, hanya karena aku."
"Kenapa. Apa karena satu laki laki yang tak mencintaimu lantas kamu berfikir bahwa tidak ada laki laki lain yang akan menyukaimu. Bahkan termasuk aku." Jawab Erik.
Kembali ku tatap Erik dalam. "Pahamilah, Rik. Agama itu seperti cinta, tidak ada paksaan di dalamnya. Di dalam Agama ada cinta Tuhan. Dan, Tuhan tidak pernah meninggalkan cintanya. Carilah cintamu itu karena Tuhan, dan ketika saat itu kamu temukan pada diriku, aku tidak akan pernah keberatan, Rik. Tapi, semuanya pasti tidak akan sama lagi seperti sebelumnya, jika pada ahirnya alasanmu hanya karena aku."
Erik terdiam tatapanya goyah, wajahnya ikut melemah. "Aku harus bagaimana. Aku menyukaimu, aku ingin kamu baik baik saja. Aku tak ingin kamu terluka. Saat aku mulai menyukaimu semua juga sudah berubah."
"Bukan patah hati, bukan cinta, bukan pula di tinggalkan sendiri, hal yang paling menyakitkan yang tak akan sanggup di tanggung hati deritanya. Melainkan kehilangan sahabat, Rik. Dan aku tidak mau itu terjadi di antara kita." Ucapku pelan. "Maafkan aku." Ku balikan tubuhku dan berjalan pelan ke arah pintu yang tengah terbuka lebar dimana Kak Melati sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan penuh tanyanya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Dengar enggak sih Kak Melati sama obrolan Mawar dan Erik.
Like, Coment dan Votenya di tunggu enggeh.
Love love love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1