Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Karang POV


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Mas Karang POV.


Ku kira semua akan berjalan mulus seperti bagaimana aku mulai menggumi hingga berhasil megenggam hati Mawar. Tapi hari ini, ketika aku mengatakan bahwa aku harus pergi mengejar cita citaku, dan aku memintanya untuk mendukungku dengan cara terus merajut hubungan ini meski harus berhubungan jarak jauh, Mawar keberatan.


Sungguh, aku tak ada maksud mempermainkan perasaannya dengan tak menyetujui permintaan Mawar untuk menemui orang tua angkatnya. Hanya saja menurutku, akan terlalu berani bagiku jika mengambil langkah ini terlalu cepat. Karena tidak mudah mengambil tanggung jawab sebagai kepala keluarga ketika finasialku belum stabil.


Melihatnya pergi begitu saja dengan tertunduk, hatiku juga sakit. Hanya saja aku tak punya nyali untuk menyuruhnya berhenti lantas menyetujui permintaannya tanpa pemikiran matang. Dan aku rasa dengan memberi waktu bagi kami berdua untuk berpikir akan membuat kepala kami dingin nantinya, sehingga akan bisa mengambil keputusan dengan benar.


Ikut melangkah meninggalkan caffe yang belum sempat kami nikmati, aku mengambil langkah berlawanan dengan Mawar. Bukan karena aku tak ingin mengantarkannya pergi, tapi karena memang ada hal yang harus aku urus secepatnya dan harus pula selesai sore ini.


Sore datang dengan cepat, semuanya telah siap dan rumah sudah pula aku kosongkan. Karena rencanaku hari ini aku akan pulang dulu ke rumah orang tuaku di ibu kota. Dan baru akan kembali lagi besok pagi, sehingga sorenya aku bisa bertemu dengan Mawar sebelum aku berangkat.


"Asslamu'alaikum Mas Karang." Ucapan salam dari Mas Karim membuatku menghentikan aktifitasku.


"Wa'alaikumussalam." Jawabku dan memeprsilahkan Mas Karim untuk masuk ke dalam rumah.


Untuk sesaat Mas Karim terus memandang keseliling, dan aku langsung tersenyum paham lantas segera menarik kain yang aku buat menutup sofa.


"Silahkan Mas Karim." Ucapku mempersilahkan Mas Karim untuk duduk. "Maaf hanya ada air putih." Lanjutku sembari mengangsukan botol air mineral.


"Iya terima kasih, Mas Karang. Ini lebih dari cukup. Maaf jika kedatangan saya menganggu aktifitas beres beres sampean." Jawab Mas Karim.


"Ah, tidak sama sekali, Mas. Kebetulan sekali, sampean bisa datang kesini, rencananya saya akan pamitan kepada sampean besok setibanya dari rumah orang tua saya."


"Saya merasa menjadi orang penting sampean Mas. Hahahah." Kelekar Mas Karang. Kamipun larut dalam obrolan mengenai banyak hal, dan sekaligus aku memiliki kesempatan menjelaskan kepada Mas Karim, jika akan ada yang menggantikan aku di rumah sosial.


"Berarti rumah ini akan kosong setelah ini Mas.?" Tanya Mas Karim lagi.


"Mungkin tidak akan terlalu lama kosongnya, berhubung Abang saya akan mimindahkan kantor Notarisnya ke kota ini." Jawabku.


"Itu bagus, Mas. Sayang rumah seimut ini jika di tinggalkan kosong. Terus terang saya suka sekali dengan konsep rumah minimalis seperti ini."


"Saya juga punya mimpi tinggal disini dengan tenang Mas."


"Bersama Mbak Mawar." Mas Karim terkekeh begitu menyelesaikan ucapannya.


"Iya jika boleh jujur. Tapi sayangnya rencana itu tinggal rencana, karena Allah memiliki rencana yang jauh lebih baik untuk saya."


Aku tau, Mas Karim bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain, termasuk urusanku dengan Mawar, meski sedikit banyak aku melibatkan Mas Karim untuk perijinan Mawar agar bisa keluar dari Pesantren. Dan melihat expresi Mas Karim yang sedikit terkejut aku sadar, Mas Karim tak ingin mengorek leboh jauh lagi, karena jelas sungkan.

__ADS_1


"Mawar meminta saya menemui keluarganya, Mas. Dan saya belum siap." Ucapku datar.


"Belum siap,.?"


"Iya, karena saya belum siap secara finansial, dan saya takut tidak bisa mencukupi kebutuhan Mawar dengan layak." Jawabku jujur.


"Jika sudah jodoh yang datang, masalah finansial juga akan dengan mudah di kendalikan. Dan kenapa sampean risau soal urusan yang sudah ada yang mengatur. Karena Allah sudah pasti akan menjamin setiap hambanya dengan rizki masing masing. Dengan menikah bukanya ada yang membantu menengadahkan tangan untuk berdo'a, dan jika di kalkulasi, bukannya tambah satu malah makin bertambah rizkinya." Jelas Mas Karang.


"Tapi Mas. Ini bukan hanya soal rizki berupa materi saja yang saya pikirkan. Melainkan juga soal kesehatan Mawar setelahnya." Paparku kepada Mas Karim.


"Maksud Mas Karang.?" Tanya Mas Karim.


Ku hela nafasku dalam sembari menerawang jauh memikirkan keberadaan Mawar. "Mawar hidup dengan satu ginjal, dan itu sangat berisiko. Oleh sebab itulah saya haru lebih preper."


Raut terkejut Mas Karim terlihat jelas, sama halnya saat aku baru tau dulu, bahwa Mawar pernah melakukan operasi pengangkatan ginjal. Dan yang lebih parah lagi, Mawar memiliki kelainan pada trombositnya, sehingga rentan mengalami infeksi dan penurunan kekebalan tubuh.


"Saat saya sampaikan itu kepada Mawar. Mawar merasa bahwa saya kurang menghargainya dan tidak serius dengannya." Ku jeda ucapanku dan mengambil sebotol air lantas segera mengenggaknya dengan kasar.


Sumpah, memikirkan Mawar membuatku seperti tak mengenali diriku sendiri. Aku hanya ingin Mawar paham, bahwa aku benar benar belum siap karena belum mapan. Andai saja Mawar mau menunggu dua tahun saja, maak semuanya akan terasa mudah.


"Sejatinya Mas Karang, jika Mas Karang sudah yakin dengan Mbak Mawar maka benar yang di sampaikan oleh Mbak Mawar. Menemui orang yang di tuakan itu adalah salah satu cara agar hubungan yang terjalin memiliki nama. Maka, jika ada yang tiba tiba datang mengkhitbah Mbak Mawar, Mbak Mawar telah memiliki nama dari sampean. Coba tanya diri sampean apa sampean sudah benar benar yakin dengan Mbak Mawar atau belum.?" Ucap Mas Karim panjang berbarengan dengan berbunyinya ponselku, dan tertera nama Abangku di layarnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Ibu tipikal orang yang senang memendam segalanya sendiri, dan aku tau pasti kali ini alasan kondisinya yang tetiba drob lantaran pikiran yang menumpuk. Satu, jelas memikirkan nasib Abangku yang di tinggal istrinya meninggal saat anaknya masih kecil. Ya meski, ponakanku lebih banyak di asuh oleh Ibu dari Istri Abang, aku yakin Ibu juga pasti memikirkannya.


Yang kedua, sudah pasti aku yang di pikirkannya. Sudah berapa kali aku menolak untuk di kenalkan dengan seorang gadis. Bahkan aku juga menolak dengan terang terangan saat Ayah memintaku untuk menemui adik ipar Abang. Karena menurutku, cukup hubungan Abang dan Istrinya, tidak perlu melibatkan aku di dalamnya agar makin terjalin kekeluargaan.


Lagi pula, menurut cerita Abang, adik iparnya bukanlah tipikel cewek baik. Bahkan juga pernah menjalin hubungan dengan beberapa laki laki di tempat kostnya dulu. Yang lebih parah, Abang pernah ngegeb dia sedang tindih tindihan dengan seorang laki laki.


Tepat pukul sepuluh malam, aku sampai di rumah, dan segera melakukan yang terbaik untuk Ibu. Sampai aku lupa, bahwa aku belum mengabari Mawar, jika kemungkinan besok aku tidak bisa datang untuk menjumpainya. Tapi, sepertinya dia sangat marah padaku, karena sudah berulang ulang aku menghubunginya tetap di luar jangkauan.


Usai memeriksa Ibu, aku memilih menungguinya hingga tertidur setelah aku beri obat. Dan bertepatan dengan itu Abang datang dengan satu kresek makanan.


"Makan dulu, Fin." Ucapnya datar.


Aku ingat, Abangku bukan orang yang datar datar saja saat di rumah, namun semenjak kepergiaan Istrinya, tidak ada lagi senyum di bibirnya. Bahkan bibirnya serasa mahal hanya sekedar terbuka. Itulah ketakutanku terbesar saat aku belum siap secara finansial saat menikahi Mawar.


Karena aku tau, bagaimana kondosi kematian Istri Abang, meski bukan karena Ginjalnya yang bermasalah, melainkan karena kecelakaan, tapi aku tau jika sebelumnya dari rekam mediknya, dia memiliki riwayat gagal ginjal dan entah itu Abang tau apa tidak, karena hingga kini aku belum sempat menanyakannya.


"Fin." Ulang Abang.


"Iya, Bang."

__ADS_1


"Devi sudah tidur.?" Tanya Abang.


"Sudah."


"Baguslah." Abang mengangsukan kreseknya kepadaku saat aku sudah menata meja makan. "Apa tidak masalah, jika Ibu tetap di rumah.?"


"Tidak apa apa, Bang. Ibu hanya perlu istirahat, terutama mengistirahatkan pikirannya." Jawabku.


"Itulah yang coba Abang usahakan, agar Ibu tidak terlalu berpikir banyak. Kamu juga."


Aku terkekeh pelan ke arah Abang dan paham dengan maksud yang di utarakan Abang kepadaku. "Aku masih ingin mengejar cita citaku, Bang." Ucapku pelan.


"Itu bagus. Fokuslah, jangan mencampur adukkan dengan perasaan, apa lagi samapu patah hati."


"Sayangnya itu sudah terlanjur terjadi." Jawabku dengan terkekeh kembali, dan tatapan tak percaya Abang terlihat mengejek ke arahku.


"Fokuslah, Fin. Aku tak mau kamu mengalami patah hati seperti yang aku rasakan, sampai sampai rasanya ingin melepas hidupku sendiri, jika tidak ingat bahwa ada cinta dari buah cinta kami yang harus aku jaga." Mata Abang terlihat menerawang jauh dengan berjuta kesakitan di tinggalkan orang yang di cintainya. Dan jika melihat itu aku tidak yakin, bahwa Abang akan kembali merasakan jatuh cinta lagi kepada orang lain.


Sekali lagi aku juga takut sekali jika pada suatu saat nanti aku harus menemui keadaan dimana aku akan kehilangan Mawar, apa lagi sampai Mawar meninggalkan aku selamanya seperti Istri Abang. Tunggu, tunggu aku kembali dua tahun lagi, Mawar. Dan semoga saja, saat aku kembali lagi nanti, Mawarku masih menungguku dengan setia dan belum termiliki orang lain..


Mas Karang POV end.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Koment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2