
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Mawar..." Lengkingan suara Bia membuatku menolehkan kepalaku dengan segera ke asal suara dan mendapati Bia yang tengah berjalan dengan cepat sembari membawa rensel besar di pungungnya.
Sedikit masih kurang percaya dengan penglihatanku, aku tetap terpaku di tempatku hingga Bia benar benar berada di hadapanku dan memeluk ku dengan erat. "Kangen banget tau." Ucapnya.
"Bi, ini beneran kamu. Kok bisa.?" Ucapku heran.
"Ih, kok tanyanya malah gitu." Sungut Bia dengan nada kesal di buat buat.
"Bukan gitu maksudku."
"Iya, aku paham." Potong Bia dengan cepat. "Ini baju baju kita untuk beberapa hari kedepan. Sekalian sama ponsel kamu tak ijinin untuk di bawa kesini, habisnya dari kemarin berisik banget." Lanjut Bia.
"Eh, iya." Jawabku sembari memeriksa ponsel yang di sodorkan Bia kepadaku. Aku tercengan beberapa saat, karena mendapati begitu banyak panggilan yang di buat oleh Kak Melati kepadaku. Dan seketika perasaanku langsung tidak enak sendiri.
"War, kamu dengar apa yang aku katakan.?" Tanya Bia.
"Apa.?" Tanyaku, karena jujur saja aku sama sekali tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh Bia.
Bia menepuk keningnya pelan. "Gusse meminta ijin seminggu buat kamu, dan juga buat aku menemanimu disini." Aku manggut manggut sekilas saja. Seperti menyadari dengan perubahan yang terjadi padaku, Bia kembali melambaikan tangannya di depanku
"Kamu telpon saja, Kak Melatinya. Siapa tau memang penting." Tanpa Bia berucap aku sudah terpikir dengan itu, namun saat melihat tanda jaringan tidak tersedia membuatku semakin gelisah.
"Oh jadi tidak ada jaringan." Ucap Bia lagi begitu aku memperlihatkan layar ponselku ke arahnya. "Ehh, kenapa ada buah Coklat disini dapat darimana.?" Ucap Bia tiba tiba dan membuatku tersadar dengan buah pemberian Mas Karang semalam sebelum kami istirahat.
"Buah apa, Bi.?"
"Buah Coklat. Ini." Ucap Bia sembari mengangkat buah yang aku taruh di atas lipatan jaketku.
"Namanya buah Coklat." Gumamku pelan sembari manggut manggut mengerti.
"Enak tau ini. Ada manis dan aem asemnya gitu." Lanjut Bia.
"Kok kamu tau.?" Tanyaku heran ke Bia.
"Aku kan bukan dari Ibu Kota kayak kamu, War." Ucap Bia sembari tersenyum simpul. "Eh, betewe kalau kamu tidak tau itu buah apa, kenapa kamu bisa punya buah itu. Atau jangan jangan...Ckckckkckck." Aku langsung berdiri dari tempatku duduk.
"Sudah waktunya kerja ya Bi. Jangan banyak ngobrol aja."
"Ada yang coba main rahasia rahasian nih. Baru juga tiga hari, apa sudah ada yang nyantol." Bia ikut berdiri dan meletakkan tangannya di bahuku.
Aku menggeleng pelan. "Ayo, sudah waktunya bantu bantu, jangan sampai keberadaan kita disini tidak manfaat dengan hanya pindah tempat gosib saja." Serkahku sembari menarik tangan Bia agar segera keluar dari tenda.
"Du du du.. Mawar lagi salah tingkah nie." Olok Bia tanpa menghiraukan aku yang memasang wajah jutek ku di depannya. "Aku semakin curiga deh kalau kayak gini."
__ADS_1
"Biaaaa.." Ucapku sedikit panjang.
"Iya, Mawarrrr." Jawab Bia masa bodoh. Dan langsung merangkulku lantas kami keluar bersamaan dari tenda.
Kami terus berjalan dengan Bia yang berusaha sangat keras agar moodku kembali membaik. Jujur, pikiranku saat ini benar benar sedang terbang jauh menemui Kak Melati. Karena, tidak mungkin Kak Melati menelponku hingga berpuluh puluh kali jika tanpa ada sebab. Dan kemungkinan yang aku pikirkan justru yang aneh aneh, semisal Adit sakit dan di larikan ke Rumah Sakit, atau apalah itu pokoknya pikiranku tidak tenang saat ini.
Langkah sedangku dan Bia mula mula biasa saja. Tapi, Bia langsung menarik tanganku untuk berhenti begitu melihat sosok Mas Karang dan Gus Karim yang tengah terlibat obrolan serius di depan tenda perawatan, lantas berbisik pelan.
"Tau sudah aku. Pasti buah Coklat itu dari Mas Karang, iya kan.?" Telak Bia kepadaku, dan aku paham dengan itu lantaran terusannya Bia cekikian begitu usai dengan bisakannya.
Aku memutar mataku jenggah, tapi juga di ikuti dengan wajahku yang menghangat. "Suwit suwit. Ckckckckck." Lanjut Bia dan seketika aku mencubit lengan Bia agar berhenti mengolok ku.
"Ampun, ampun.." Pekik Bia.
"Duh seru banget." Ucap Mbak Yesha yang sudah berada di belakang kami dengan beberapa obat obatan yang sudah di tatanya di baki.
"Eh, Mbak Yesha. Maaf, Mawar telat gara gara ada penganggu." Ucapku dengan mencibirkan bibirku ke arah Bia.
"Aseli, sebenarnya saya bukan penganggu sih Mbak Perawat, cuma ada yang sedikit terganggu dengan keberadaan saya..Hahahah." Timpal Bia masih saja berusaha untuk mengolok ku.
Mbak Yesha menggeleng pelan sembari tersenyum ramah. "Aku suka sama teman kamu, War. Kayak e bakal seru beberapa hari dengan dia. Kenalkan Yesha." Ucap Mbak Yesha.
"Tuh dengar, War. Aku tuh emang gimana gitu. Harusnya kamu bersyukur punya teman kayak aku." Celoteh Bia kemudian menyambut tangan Mbak Yesha yang tengah terulur ke arahnya. "Syabia, di panggilnya Bia, Mbak."
"Bagus namanya, sama cantiknya kayak orangnya."Puji Mbak Yesha dan membuat Bia melebarkan senyumnya. "Tapi, akan lebih cantik lagi kalau sekarang kita semangat untuk bekerja. Cus ikut saya." Lanjut Mbak Yesha dan segera berjalan mendahului kami.
Aku dan Bia menundukan kepala, ketika kami sudah dekat dengan Mas Karang dan Gus Karim. Dan sekilas dapat aku dengar apa yang tengah mereka berdua obrolkan ketika kami sudah dekat, yakni akan melakukan beberapa treatment trauma healing untuk para korban setelah sarapan dan pengobatan selesai.
"Enggeh, Gus." Jawab Bia lantas aku mengikutinya saat Bia menyenggol lenganku pelan.
"Mbak Bia, Mbak Mawar. Nanti bisa ikut mengisi kegiatan, mengingat Mbak Bia aktif dalam komunitas dongeng di Pesantren." Ucap Gus Karim. Jelas, itu untuk Bia. Karena aku tidak begitu pandai mengolah kata, apa lagi sampai bercerita. Untuk itu, aku lebih baik diam saja hingga Gus Karim selesai dengan ucapannya dan menyuruh kami untuk kembali beraktifitas lagi.
Bia terus saja senyum senyum tidak jelas dan itu tentu karena Gus Karim yang tau kegiatan yang di ikuti oleh Bia. Hingga tidak sabar untuk menanti acara sarapan selesai.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku, Bia dan Mbak Yesha kembali duduk di batang kayu pinggir lapangangan setelah usai kegiatan siang kami sembari menikmati makan siang seadanya. Seperti yang kemarin, Mbak Yesha menyebutnya ini adalah pemandangan yang sayang untuk di lewatkan jika sudah meyangkut Om Om Loreng.
"Tuh, keren keren banget kan mereka. Bener kan, Bi. Kamu setuju dengan aku kan, Bi. Jangan kayak Mawar, lihat pemandangan kayak gitu kesedak sedak." Ucap Mbak Yesha.
"Sebenarnya itu dosa sih Mbak Yesha. Tapi, kok ya Mubadzir kalau enggak di lihat." Ucap Bia sambil cekikikan.
"Denger tuh, War. Mubadzir." Ulang Mbak Yesha. "Kamu lihat, Bi. Itu yang sedang berdiri di dekat tenda sebelah kiri, kemarin malam aku kenalan, namanya Sertu Deni, keren yah." Kali ini aku ikut menoleh ke arah Mbak Yesha sedang menunjuk dengan dagunya.
"Itu ya, Mbak." Timpal Bia.
"Iya, itu. Ada satu yang lebih keren lagi, orangnya bener bener cool banget, senyumnya juga mahal banget kayak harga cabe di pasar. Namanya Serda Yudha. Asli, penasaran banget aku tuh sama dia. Orang kok bisa kayak frezer ke bangetan esnya gitu, mana cakep lagi. Kan jadi gumust." Ucap Mbak Yesha.
__ADS_1
"Bukannya orang berseragam ijo itu selalu kaku ya, Mbak." Timpalku dengan tiba tiba dan membuat Mbak Yesha juga Bia menatapku heran. "Apa.?" Tanyaku bingung dengan membersihkan wajahku, karena baik Mbak Yesha maupaun Bia kompak tidak ingin berpaling dari wajahku.
"Kamu kesambet, War.?" Bia mengulurkan tangannya di keningku.
"Apaan sih, Bi." Ku raih tangan Bia.
"Huahahahah." Tawa Mbak Yesha pecah melihat intraksiku dan Bia. "Aku kira, aku doang yang berpikir Mawar tidak begitu normal."
"Mbak Yesha bisa berpikir gitu juga."
Aku berdecak kesal dengan mereka berdua yang masih asik menertawaiku. "Ini kali pertama Mawar komet soal laki laki, biasanya dia paling anti ngomongin soal laki laki kecuali satu laki laki yang ahir ahir ini ser. Ahh, sakit War." Aku seketika menginjak kaki Bia yang hampir saja kelepasan mengumbar rahasiaku kepada orang lain.
Aku mendelik kesal ke arah Bia yang sedang meringis kesakitan. "Biii.." Ucapku panjang.
"Ih, jadi kepo tau." Kata Mbak Yesha, dan ahh tatapan ini sungguh membuatku seperti di telanjangi saja. Dan ini gara gara Bia.
"Aku adalah teman yang setia Mbak Yesha, jadi maaf ya, aku memilih Mawar." Bia dengan cepat berujar setelah aku tak kunjung melepas tatapan mautku darinya.
"Yah, kecewa dong aku. Tapi tidak apa yang terpenting hari ini aku menikmati tontonan orang yang sedang dalam fase bunga bunga bermekaran di dadanya." Ucap Mbak Yesha dengan masih menyungingkan tawanya.
"Tapi, mereka kan selalu tugas dan penuh dengan bahaya. Apa yang jadi pacar mereka tahan ya." Ucap Bia tiba tiba.
"Itu dia tantangannya. Dan menurur sebagian orang profesi sebagai Nakes juga terlalu sibuk. Kayaknya akan cocok sibuk sama sibuk." Timpal Mbak Yesha.
"Tapi, bukan memang harus seperti itu ya Mbak Yesha. Jika berada dalam satu jalur akan lebih mudah. Seperti, Dokter dengan Perawat ataupun Bidan, karena mereka berada dalam profesi yang sama dan memiliki kecendrungan lebih cocok." Ucapku pelan, dan aku tidak tau tujuanku berbicara seperti itu karena apa.
Hanya saja, setelah mengucapkan itu ada perasaan aneh yang menggerogoti di dada seperti nyeri yang menggiring pemikiran ke otak akan ketidak tauan diri akan perasaan seorang diri. Terlebih setelah Mbak Yesha menjelasakan memang akan lebih mudah ketika menjalin hubungan memiliki prinsip serta pemikiran yang hampir sama.
Dan lebih terasa nyeri lagi, saat Mbak Yesha menceritakan kejadian semalam sesaat setelah Mas Karang tiba di lokasi dengan membawa banyak buah Coklat, aku semakin sadar bahwa ternyata aku bukan orang yang istimewa. Ternyata akulah yang terlalu berpikir lebih tentang itu, hingga terus mengingat kejadian singkat semalam. Ternyata aku yang terlalu Baper.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Koment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862