
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Berpikir semalaman dengan terus menimbang baik buruknya, ahirnya pagi ini aku memutuskan untuk menerima permintaan maaf Bang Daffa dengan taruhan perasaan tentunya. Mencoba akur dengan Bang Daffa, adalah pertaruhan terahir yang aku ambil, dan sekaligus sebagai takaran, apakah kata Maaf Daffa kepadaku benar tulus adanya. Setidaknya, jika nanti aku benar benar harus menyerah dan pergi, ada sedikit kenangan bagus yang bisa ku ingat dengan pertemanan yang di katakan Bang Daffa.
"Selamat pagi." Sapaku ramah, seperti sebelum sebelumnya.
Terlihat Bang Daffa sedikit kaget dengan sikapku yang kembali berubah. "Pagi." Jawab Bang Daffa. "Kamu, sudah rapi mau kemana, War.?" Tanya Bang Daffa setelah menelisik aku dari atas hingga bawah.
"Mau masak." Jawabku santai.
"Pefftt, mana ada orang masak pakai gamis dan kerudung syar'i kayak gitu. Apa lagi itu di rumah sendiri." Jawab Bang Daffa dengan tawa yang di tahannya, lantas mendahuluiku menuju ke arah dapur.
"Bang Daffa mau apa ke dapur." Cegahku dengan segera menghalangi Bang Daffa dengan tubuhku.
"Mau ambil air." Jawab Bang dengan memicingkan matanya menatapku.
"Biar aku ambilkan."
"Tidak perlu, aku bisa ambil sendiri." Tolak Bang Daffa tapi dengan nada halus dan terlihat tulus bukan seperti sandiwara.
"Mawarkan istri yang sholihah.." Jawabku sembari menambahkan senyum jahil ke arah Bang Daffa yang kini tengah tertekun menatapku. "Kenapa Bang Daffa masih ikut ke dapur." Kataku lagi saat Bang Daffa tiba tiba sudah berada di belakangku.
"Biar kamu tidak perlu bolak balik." Jawab Bang Daffa sembari menarik kursi di dekat mini bar lantas mendudukan dirinya disana.
"Duh, manis banget."
"Terima kasih, sayang sekali aku pas tidak mengantongi uang. Kalau ada sudah aku bayar kamu." Kelakar Bang Daffa.
"Bayarnya enggak pakai uang juga boleh." Ucapku dengan menyodorkan air putih di depan Bang Daffa.
"Ya elah, pelit amat sih, War. Masak cuma air putih, kasih kek gula dan teh gitu." Konyol, itulah yang aku pikirkan dengan Bang Daffa kali ini, tapi ya sudahlah, aku akan menikmati ini.
"Kan Bang Daffa katanya mau air, itu sudah air."
"Pengertian dikit napa, ini sudah duduk disini ya berarti ganti dong menunya. Sekalian buat dua tehnya, biar kita bisa ngobrol santai." Mungkin kepala Bang Daffa terbentur sesuatu kemarin, hingga kata katanya pagi ini membuatku kaget. "Sudah sana buruan, kenapa malah berdiam diri di situ."
"Ini masih Bang Daffa yang sama kan." Ucapku tertahan, karena aku takut ucapanku akan memantik pagi muram penuh pertengkaran seperti sebelumnya.
"Bukan, ini valak yang sedang ngomong."
"Pefftt, ngaku juga."
"Aku dengar Mawar. Buruan keburu kering nih tenggorokan." Bang Daffa mengganti nada suaranya dengan perintah.
"Gulanya mau berapa sendok.?"
"Setengah sendok, kasih juga lemon."
"Siap." Jawabku dan sudah dengan sepenuh hati mengerjakan pekerjaanku.
Dua cangkir teh tertata saling berdekatan, begitupun dengan kami yang duduk berjajar meski tidak terlalu dekat, tapi ini bisa di katakan cukup intim bagi kami berdua, terlebih ini terjadi pagi hari. Bukankah kami terlihat seperti keluarga sempurna.
__ADS_1
"Kayaknya Adit belum bangun karena pengaruh obat yang di minum deh." Ucapku membuka percakapan. Ku tatap Bang Daffa yang tak bersuara dan justru sedang menutup matanya rapat seraya menghirup aroma teh dengan penuh nikmat. "Biar aku bangunkan." Lanjutku.
Pandangan kami bertemu karena Bang Daffa tiba tiba membuka matanya saat aku masih memperhatikannya. "Dia sudah pergi jalan jalan sama Mbak Niluh."
"Mbak Niluh sudah datang..?"
Bang Daffa mengguk lantas mulai menyeruput tehnya. "Tadi pas kamu masih mandi datangnya." Jawab Bang Daffa. "Lumayan tehnya." Lanjut Bang Daffa.
"Ohhh. Pantesan tidak dengar." Aku ikut menyeruput tehku. Dan kami kembali diam seakan sedang ada orang yang tiba tiba datang di tengah tengah kami sehingga merusak obrolan.
Tak tik tak tik, suara jari telunjukku yang terus mengetuki meja untuk menghilangkan rasa canggungku.
"Hobi kamu apa.?" Tanya Bang Daffa tiba tiba.
"Hobi.?" Tanyaku ulang.
"Iya hobi. Hobi kamu apa.?" Ulang Bang Daffa.
"Hampir semua aku suka lakukan."
"Ya yang paling mengerujut saja. Masak saat di tanya kamu suka makan apa, jawabannya semua makanan kamu suka." Kelekar Bang Daffa.
"Eh, tapi itu bener. Semua makanan aku suka, kecuali daging kambing, dan ikan air tawar." Jawabku spontan.
"Nah itu maksudku. Seperti itu juga dengan hobi, apa yang paling kamu sukai."
Aku berpikir sejenak kamudian menjawab Bang Daffa dengan cepat. "Aku suka alam bebas, naik gunung, berkemah, main layang layang."
"Idih, tuh hobi enggak ada manis manisnya banget dah." Ucap Bang Daffa memenggal kataku. "Enggak cocok banget sama kamu."
"Aku kira kamu dulu cowok, War, pas baru pertama kali aku bertemu denganmu. Dan satu lagi yang lucu, cowok gay." Bang Daffa kembali tertawa terpingkal pingkal begitu usai dengan kata katanya dan tawa itu ikut menjalar kepadaku hingga tanpa sadar kami terus bersahut sahutan membahas masalalu sebelum semua kekacauan terjadi.
Cukup lama kami saling olok yang di selingi dengan tawa ringan kami, seolah kemarin hal yang tak mengenakkan tidak pernah terjadi di antara kami. Sampai Adit datang menambah tawa kami semakin melebar, karena Adit datang tidak dengan tangan kosong saja.
Bubur ayam, bubur sum sum, klepon dan beberapa jajanan pasar tradisional memenuhi meja makan kami pagi ini. Dan Adit tampak lahab menyantap bubur ayamnya, dengan sesekali bercerita serunya jalan jalan di ujung komplek ketika weekend tiba.
"Bunda belepotan makannya." Ucap Adit.
"Masak, dimana coba Adit yang bersihin." Jawabku.
"Tangan Adit tidak sampai. Ayah bersihkan mulut Bunda." Kata Adit dan tangan Bang Daffa sudah langsung menjulur ke arahku dengan tisu di ujungnya. Lembut, pergerakan tangan Bang Daffa menyentuh ujung bibirku, hingga ada sesuatu yang ku rasakan aneh menelusup di dada, terlebih saat Bang Daffa untuk sesaat mengikatku dalam manik matanya yang tajam.
"Terima kasih." Ucapku kikuk.
"Ayah. Ayah hari ini libur kan. Adit mau jalan jalan." Pinta Adit.
"Tidak bisa dong. Adit kan baru sakit." Jawabku dengan cepat.
"Eeee, Adit mau jalan jalan, Adit bosan." Rujuk Adit.
"Itu tadi kan sudah jalan jalan sama Mbak Niluh." Imbuh Bang Daffa.
"Adit mau jalan, pokoknya mau jalan jalan." Adit mulai menaruh sendoknya dan melipat tangannya di dadanya sebagai bentuk protesnya.
__ADS_1
Untuk sesaat, aku dan Bang Daffa saling pandang bingung dengan kerewelan Adit yang tidak seperti biasanya.
"Memang Adit mau jalan jalan kemana.?" Tanyaku kepada Adit.
Senyum Adit kembali merekah dan matanya kembali berbinar. "Adit mau ke Savana melihat hewan hewan dan tidur di tenda disana." Kembali aku dan Bang Daffa saling tatap dan kali ini aku memberi isyarat untuk Bang Daffa agar yang memberi pengertian terhadap Adit.
"Sayang, itu sedikit jauh. Untuk kesana perlu waktu sekurangnya tiga jam dari sini. Dan Adit baru saja sakit, bagaimana kalau kesananya nanti saja setelah acaranya Om Daffin selesai, dua minggu lagi. Oke." Aku tersenyum melihat melihat intraksi keduanya.
"Tapi Adit mau jalan jalan sekarang gimana dong."
"Hari ini jalan jalannya di ganti ke Timezone saja. Bagaimana Bunda.?" Lempar Bang Daffa kepadaku.
"Boleh, asal hanya main yang tidak membuat capek." Jawabku.
"Tapi janji ya, Yah. Nanti kalau Adit sudah benar benar sembuh, Ayah ajak Adit dan Bunda ke Savana."
"Janji."
"Janji laki laki harus di tepati." Ucap Adit lagi dan di angguki oleh Bang Daffa yang itu membuatku tersenyum bahagia, karena pada ahirnya Bang Daffa benar, ikatan darah itu jauh lebih kental dari apapun.
Adit beranjak pergi, begitu Bang Daffa mengatakan bahwa akan segera pergi saat ini juga, agar nanti tidak kesorean pulangnya.
"War, sekalian nanti kita cari kain buat seragam keluarga untuk acara Daffin, juga sekaligus acara Erik." Lirih Bang Daffa saat aku mulai membereskan meja makan.
"Boleh." Jawabku singkat.
"War.?" Bang Daffa menjeda ucapannya, dan aku menangkap nada cemas dalam suaranya.
"Ada apa.?" Tanyaku saat Bang Daffa tak segera melanjutkan kata katanya.
"Apa kamu baik baik saja mendengar kabar Daffin akan bertunangan.?" Seperti ada kelegaan sendiri saat Bang Daffa bisa mengeluarkan kata itu. Dan sorot mata Bang Daffa menyipit menantikan jawabanku.
Ku ulas senyum tipis sebelum menjawab tanya Bang Daffa. "Aku baik baik saja. Tidak perlu bersikap sebaik tadi, hanya karena mengasihani aku. Karena pada kenyataannya bukan aku saja yang tersakiti dengan takdir ini. Mau jauh, dekat, bahkan yang tak terlihat sekalipun, jika Allah sudah berkehendak apa yang tidak mungkin terjadi. Dan aku rasa, fase ini juga merupakan kehendak Allah agar aku lebih sabar sekaligus ikhlas menerima rencana Allah yang jauh lebih baik." Ku tutup kataku dengan senyum yang semakin aku tambahkan rekahannya. Dan melanjutkan membereskan meja dengan Bang Daffa yang masih senantiasa di tempatnya bersama mata tajamnya yang terus mengikuti setiap gerak ku.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Koment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi.
__ADS_1
@maydina862