Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Apa Ini..??


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Tidak inginkah mereka memberiku kesempatan berpikir, atau tidak inginkah mereka aku menikmati liburanku. Kenapa, harus seperi ini. Aku bahkan belum sepenuhnya menikmati liburan ini. Mereka sudah datang dengan senyum lebar meraka, yang menular kaku terhadapku.


Bu Mega, Bu Asri, Pak Agung dan Pak Bakti. Ke empat orang itu berdiri di belakang Bang Daffa dengan senyum tipis mereka, sementara sedikit jauh di belakang berdiri Adit dan Bang Nusa, keduanya sama terkejutnya sepertiku. Kenapa..?


"Apa ini, Bang.?" Belum aku tersadar sepenuhnya, justru Mas Karanglah yang memecah kecanggungan ini.


Tak langsung menjawab, Bang Daffa justru maju beberapa langkah dan sudah semakin dekat ke arahku.


"Berhentilah disana." Lirihku.


"War, beri aku kesempatan untuk bicara." Jawab Bang Daffa masih terus melangkah ke arahku.


Nafasku tiba tiba terasa sesak dan tubuhku gemetaran. Secara tiba tiba sekelibat peristiwa tergambar samar di kepalaku hingga membuatku harus menutup mata rapat rapat guna menghilangkannya.


"Bang, berhenti disana." Genggaman erat tangan Mas Karang membuatku mampu tetap berdiri di tengah lemas lututku yang hendak limbung. Ingatan sekelibat itu membuat kepalaku tarasa berputar putar di sertai nyeri kuar biasa yang menikam di dada. Perasaan tersakiti.


"Aku bilang berhenti disana." Teriakku histeris. "Pergi, pergilah." Lanjutku.


"Sudah, sudah, tenang nak." Bu Asri dengan segera memelukku erat dan tak lama Bu Mega juga ikut memelukku.


"Aku butuh waktu, kenapa. Kenapa kalian tidak mau paham, sebentar saja. Biarkan aku menikmati liburan ini. Tolong." Ratapku, dan tak ada yang bersuara hanya pelukan dari Bu Asri yang semakin mengerat.


"Maaf, maafkan kami. Kami bersalah. Maaf." Entah berapa banyak kata maaf yang terus terucap dari keduanya.


"Apa apain ini Bang, kekanakan sekali." Aku tidak tau apa yang di lakukan oleh Mas Karang, dari apa yang aku dengar samar, langkah berat Mas Karang terdengar tergesa dan di ikuti bunyi seretan langkah terpaksa dari beberapa langkah.


"Ayo, ayo kita masuk." Ucap Bu Mega pelan. Bu Mega dan Bu Asri membimbingku memasuki cabbin.


Aku terus memutar mutar gelas berisi air hangat yang baru saja di berikan oleh Bu Asri, dan sekelibat ingatan yang membuat kakiku lunglai coba aku ingat kembali, namun semakin aku berusaha untuk mengingatnya, seperti semakin jauh tenggelam dengan penggalan memori lain yang menurutku itu asing.


"Ayo lekas di minum." Ucap Bu Mega pelan sembari mengelus punggungku pelan.


Aku meneguk beberapa air di dalan gelas, hingga tersisa setengahnya. Dan tak lama setelahnya, semua kembali seperti tidak terjadi apa apa, karena aku telah lupa sepenuhnya dengan apa yang terjadi barusan. Begitupun dengan sekelibat memory lamaku.


"Sudah mau mahrib, kami kembali dulu ke cabbin ya, War." Ucap Bu Asri dengan nada hati hati.


"Iya Bu." Jawabku pelan.


"Kamu tidak apa apa kan, kami tinggal.?" Timpal Bu Mega dengan nada menyakinkan.


"Tentu saja, Bu." Aku menambah ulasan senyum untuk keduanya dan dengan itu mereka berdua melanggah pergi dari tempatku, meski raut kwatir tetap tercetak jelas di wajah keduanya.


Sepeninggal mereka, aku menyeret kakiku melangkah menuju kamar mandi. Ku basuh wajahku dengan air wudhu lantas menunaikan kwajibanku dengan khusyu' bukan karena meminta apa apa, melainkan karena memang sudah menjadi tanggung jawabku atas hak yang aku tuntun agar ahirat juga aku gapai.

__ADS_1


Selayaknya berada di tengah hutan, berbagai bunyi binatang malam menjadi melodi yang tak mungkin bisa di pisahkan ketika gelap semakin menuan.


Ketukan pelan dari pintu, membuatku bangkit dari tempatku dan beranjak menuju pintu. Terlihat tubuh Adit yang berdiri di depan pintu dengan kepala tertunduk menatap lurus kedua kakinya.


"Lho, kenapa ada di luar. Ayo masuk." Ucapku sudah menarik lengan Adit, namun dengan cepat Adit menghindarinya.


"Bunda sudah di tunggu untuk makan malam." Ucap Adit dengan menunjuk dengan kepalanya.


"Oh iya. Tunggu sebentar ya." Jawabku setelah mengikuti arah pandang Adit. "Adit tunggu Bunda, jangan pergi dulu." Lanjutku sebelum bergegas kembali masuk. Tidak butuh waktu lama, aku kembali keluar dan mendapati Adit masih berada di tempatnya seperti tadi.


"Ayo." Ku tarik tangan Adit yang kini tingginya sudah hampir menyamaiku. "Bentar lagi kayaknya Bunda yang bakal gendong di punggung Adit." Ucapku pelan.


Tidak ada jawaban dari Adit, karena kau tau Adit adalah tipe seperti Ayahnya. Dingin serta cuek, tapi kadang akan mulai ngobrol dengan santai saat waktunya pas. Dan aku rasa malam ini, mood Adit sedang tidak baik karena sedari tadi dia lebih senang menekuk kepalanya.


"Wah, Barbekyu." Ucapku dengan nada girang seperti biasa. "Bell, Erik mana.?" Tanyaku ke Bella setelah duduk di sampingnya.


"Masih jemput satu anggota lagi yang nyasar entah dimana gitu." Jelas Bella.


"Siapa.?" Tanyaku dan hanya di jawab oleh Bella dengan mengangkat bahunya.


"Kak Ima, Mawar bantu." Ucapku mendekat ke arah Kak Rima yang tengah sibuk membakar beraneka seafood.


"Hemm, tentu saja. Sini, sekalian sama Bella juga bantuin biar cepat kelar." Jawab Kak Risma.


Tidak butuh waktu lama, semua telah siap sedia di meja yang membundar. Api yang tadinya tinggal bara, kini telah di isi kayu kembali oleh Bang Nusa yang di fungsikan sebagai penghangat.


"Daffa sedang sibuk, War. Biarkan saja, ayo kita makan saja dulu." Ucap Bu Asri setelah semuanya bungkam soal Bang Daffa.


"Liburan, masih mikirin kerjaan. Keterlaluan." Ucapku. "Biar tak panggil, Bu." Lanjutku sembari sudah hendak beranjak.


"Tidak usah, biar aku saja yang panggil, Bang Daffa." Potong Mas Karang.


"Kenapa.?" Tanyaku saat aku melihat seakan semuanya menghela nafas lega dengan keputusan Mas Karang. "Apa ada yang aku lewatkan.?" Lanjutku.


"Tidak, tidak ada. Ayo, ayo cepat isi piringnya." Jawab Bu Mega dan langsung memberikan piringnya kepadaku.


Aku terus berpikir, namun sama sekali tidak ketemu tentang apa yang mungkin telah aku lewatkan. Tapi, semakin aku berusaha keras untuk mengingat semakin aku lupa akan hal lainnya.


Muncul bersama Mas Karang, lagi lagi aku di buat terkejut dengan wajah Bang Daffa. Karena, tampak beberapa lebam di wajahnya, terutama di ujung bibirnya yang sedikit bengkak dan membiru.


"Dia kenapa.?" Bisikku ke Bella.


"Jatuh mungkin." Jawab Bella singkat. "Sudah, enggak usah di pedulikan. Toh, sudah ada dokter disini." Lanjut Bella.


"Piringnya kenapa cuma satu. Kamu enggak berniat ngambilin Erik." Sesuai ucapan Bella, aku tidak perlu perduli dengan Bang Daffa. Tapi, melihat wajahnya yang mengenaskan, membuat rasa simpatiku muncul begitu saja.


"Biar aku ambilkan." Kataku, meminta piring yang di pegang oleh Bang Daffa. Dan apa ini, kenapa tatapannya terhadapku begitu membuat dadaku merasa bersalah. Di dalam manik hitamnya, menyiratkan kesakitan yang tak bisa di ucapkan, dan dalam tatapannya seolah memintaku untuk memahaminya. Tapi, aku justru semakin bingung dengan itu.

__ADS_1


"Bang Daffa kenapa.? Jatuh ya.?" Ucapku sembari mengambilkan makanan untuknya. Tatapannya terhadapku semakin terlihat menyedihkan saat aku masih terus mencari jawaban atas luka yang di dapatkannya.


"Tidak apa apa." Jawabnya lirih, dan langsung mengambil piring dari tanganku, padahal aku belum selesai dengan itu.


"Ehh, sudah di obati belum.?" Tanyaku lagi saat Bang Daffa hendak beranjak.


"Kerjakan saja pekerjaanmu, tidak perlu perdulikan aku." Dingin udara disini, tidak sebanding dengan nada bicara Bang Daffa kepadaku.


"Tunggu." Ucapku dan langsung mencegat Bang Daffa. "Aku tanyanya baik baik ya, kenapa seolah olah aku yang salah." Lanjutku.


"Mawar, Mawar. Sudah, biarkan saja Daffa." Bu Asri langsung menarik tanganku agar menyingkir dari hadapan Bang Daffa.


"Tidak bisa, Bu. Mawar tanyanya baik baik kok." Kekehku. "Lihat sikap Bang Daffa, seolah olah Mawar yang salah." Lanjutku.


"Sudahlah, Mawar. Ada hal yang dia mau simpan sendiri." Timpal Bang Nusa. "Sudah, ayo ambilkan makanan buat Abang." Aku bisa melihatnya, Bang Nusa memberi isyarat mata ke arah Bang Daffa. Dan, kenapa perasaanku terasa tidak enak, dan penasaran ingin tau apa yang terjadi sebenarnya.


Menuruti permintaan Bang Nusa, aku kembali ke posisiku dan sesekali masih melirik ke arah Bang Daffa yang seakan mengucilkan diri dengan duduk menjauh dari semuanya. Tidak ada yang berusaha mendekatinya, ataupun mengajaknya bicara. Itu sukses membuatku semakin penasaran. Kenapa dan ada apa.?


"Maaf, saya datangnya terlambat." Deg, dadaku tiba tiba berdetag di atas ritmenya saat sebuah suara yang tak asing tiba tiba muncuk di tengah pikiranku yang tengah sibuk menyelami apa yang terjadi dengan Bang Daffa.


Ku giring kepalaku ke arah asal suara. Dan betapa menyebalkannya Erik yang berada di sampingnya, senyum Erik melengkung penuh di bibirnya, dan aku sadar itu senyum apa, yakni senyum mengejek. Terlebih, saat Rendi yang dengan terang terangan membuang pandangannya dariku. Dan lebih memilih menyapaku paling ahir, sembari menyodorkan piringnya kepadaku.


"Kata Erik, kamu merindukan aku." Ucap Rendi pelan dengan wajah datar. Sementara aku tidak tau apa yang terjadi dengan wajahku, pasti saat ini tengah memerah karena menahan malu. "Aku akan tunggu jawabanya besok pagi sebelum matahari seujung tombak, di atas tebing sana." Lanjutnya masih dengan wajah datar, padahal sebelah matanya mengedip menggoda kepadaku. Apa ini.?


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2