Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Kota G.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Menatap buku tabungan dengan larikan angka yang bukan berkurang jumlahnya, tapi malah bertambah membuatku mengurut keningku pelan. Haruskah, kali ini aku memakai uang itu untuk bekalku ke kota G. Jika iya, apa aku berhak menahan Aliena ketika sang pemberi konpensasi meminta Aliena untuk bersamanya. Aku rasa pemikiranku yang terahir itu, terlalu berlebihan. Karena sudah jelas kami tak di inginkannya.


Memilih mengembalikan buku tabungan ke tempat semula, dan berusaha berpikir darimana aku bisa mendapatkan sumber uang tanpa harus mengusik uang yang merendahkan aku. Bukan tanpa sebab, jika saat ini aku tak memiliki apa apa. Karena hampir semua tabungan serta aset orang tuaku yang tersisa habis saat aku tengah mengandung dan pasca melahirkan Aliena.


Jadi, jika saat ini aku dan Aliena hidup dengan sederhana itu saja sudah cukup dan bersyukur karena kami merasa damai dan bahagia. Tapi, siapa yang menyangka bahwa kedamian dan bahagia ini seperti baru sekian menit kami rasakan. Karena harus kembali ke kota G, tidak suka dan tidak siap, aku harus mempersiapkan kemungkinan terburuknya.


Setelah jelajah jauh berdebat dengan perasaanku, ahirnya aku memilih untuk mendial ponsel jadul yang selalu setia menemaniku selama ini. Bukan apa apa, karena aku rasa bersembunyi itu harus totalintas, termasuk bersembunyi dari media sosial sekalipun. Karena aku tak ingin kembali berhubungan dengan masalalu. Masalalu sudah cukup berlalu jadi pelajaran saja.


Termasuk dengan Mas Karang sekalipun. Masih aku ingat pasca bercerai dengan Ayah Aliena. Aku yang menenangkan diri di tempat Bia yang tak lain adalah Pesantren keluarga Mas Karim, harus beranjak kaki dari sana dengan tanpa pamit pemilik tempat. Lantaran Mas Karang yang bisa mengakses keberadaanku melalui sosial media, sekaligus langsung menghubungi Bia. Dan hingga kini aku tidak pernah berani menyebutkan keberadaanku kepada orang lain kecuali satu orang Erik.


"Halo, War. Biar gua aja yang telfon loe." Jawab Erik dan dengan cepat panggilan sudah terputus dan tak lama berselang ponselku sudah berdering kembali. "Tumben bener nelfon gua duluan. Gimana kabar ponakan gua, baik baikkan dia.?" Tanya Erik tanpa babibu.


"Saat ini baik, Rik." Jawabku dengan nada datar.


"Maksud loe.?"


"Aku akan kembali ke kota G besok malam, apa aku bisa numpang di staffhouse milikmu.?" Tanyaku ke Erik.


"Ke rumah gua aja. Bella pasti seneng banget." Tawar Erik.


"Akan tidak nyaman, Rik. Aku ada dan Aliena ada beberapa yang harus di lakukan." Karena sebenarnya aku tak ingin Erik tau soal Aliena yang sedang tidak terlalu baik baik saja.


"Kami kan bisa bantu, War. Pokoknya ke rumah gua saja. Gua persiapkan." Potong Erik dengan cepat tanpa mau mendengar alasanku. "Kira kira loe sampai sini kapan.?"


"Mungkin sorenya."Jawabku.


"Gila loe ya, loe ajak anak loe naik bus antar kota. Gua kirimin uang, beli tiket pesawat sana."


"Jangan Rik, sudah cukup aku merepotkan kamu." Potongku dengan cepat, karena jujur aku sudah sangat sering merepotkan Erik dan aku tidak enak dengan Bella.

__ADS_1


"Gua enggak dengar. Pokoknya besok gua tunggu di Bandara sama Bella." Putus Erik dan langsung memutus panggilan begitu saja.


Selalu akan seperti itu jika dengan Erik. Erik selalu memastikan aku dan Aliena baik baik saja. Oleh sebab itulah aku jarang menghubungi Erik, bahkan kadang memang sengaja tak ingin menerima panggilan dari Erik. Karena ujung ujungnya pasti Erik akan repot mengirimiku uang setiap kali menelfonku.


Apa aku sebegitu menyedihkannya atau memang Erik yang telampau baik hati kepadaku, hingga tanpa berucap Erik seakan paham keadaanku bagaimana.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Maaf aku tidak bisa menemanimu kesana, War." Ucap Rendi begitu kami sudah sampai di Bandara.


"Tidak apa apa, ini sudah lebih dari cukup." Jawabku pelan.


"Aku sudah memberi kabar kepada temanku disana, dia akan membantumu untuk mengurus segalanya, hanya perlu mengikuti arahannya saja." Aku mengangguk pelan ke arah Rendi sebagai tanpa aku mengerti.


"Papa nanti pasti akan merindukan Aliena, bagaimana dong.?" Ucap Erik sembari mengangkat tubuh Aliena.


"Sebut nama Aliena dalam do'a, nanti Aliena pasti akan datang ke mimpi dr.Papa. Aliena sering seperti itu saat merindukan Ayah. Bukan begitu, Bunda." Aku mengangguk dan Aliena lekas tersenyum girang.


Butuh waktu memang bagiku untuk kembali seperti semula, dan aku rasa kebaikan Rendi, sikap baik Rendi serta permintaan kecil Rendi agar aku memanggilnya hanya nama tanpa embel embel dokter, perlu aku kabulkan. Karena tidak ada salahnya jika aku memberi tempat percaya kepadanya yang dulu adalah teman meski tidak terlalu akrab.


"Aku akan kesana papa ahir pekan, untuk memastikan Aliena baik baik saja." Kata Rendi sembari menurunkan Aliena dari gendongannya.


"Itu tidak perlu, Ren." Jawabku dengan nada tidak enak.


"Aku kesana tidak hanya memastikan keadaan Aliena, tapi juga karan aku merindukan tempat disana. Sudahlah, mana kamu paham. Sana cepat masuk." Kata Rendi sembari mengibas ngibaskan tangannya.


Melihat expresi Rendi yang seperti itu, membuatku teringat dengan sikapnya yang tengil dan sering menggangguku. Siapa yang mengira dulu sering menggaggu sekarang jadi orang yang paling sering membantu.


Meninggalkan Rendi, aku dan Aliena masuk lebih dalam hingga kami sampai di Pesawat lantas mengudara meninggalkan persembuyian untuk menyembuhkan luka. Dan kali ini aku masih tidak tau akan takdir yang tertulis kepadaku, kenapa harus kembali ke kota G.


Hampir empat jam di udara, ahirnya kami sampai juga di kota G. Melangkahkan kaki keluar dari pesawat hal pertama yang aku rasakan adalah was was serta ritme detak jantungku yang memberi sinyal, sinyal ngilu. Lima tahun ternyata belum cukup bagiku untuk mengahapus ingatan tentang luka, meski obat dari luka itu sudah aku terima.


Memaafkan mungkin bisa, tapi untuk lupa kenapa masih belum bisa. Apa mungkin karena memang luka itu terlalu dalam torehannya, atau memang aku yang belum bisa menjadi orang yang kona'ah dengan mengembalikan semuanya padaNya. Atau mungkin karena noktah luka itu sekarang menjadi Aliena. Entahlah, satu yang pasti bahwa kembalinya aku ke kota G jelas karena sudah ada rencana dari yang maha kuasa.

__ADS_1


Sambutan hangat dari Erik dan Bella sejenak membuatku lupa bahwa kota ini membebat luka di dada. Dan memang bukan seperti itukah isi dari dunia. Di balik kesusahan, Allah pasti menyisipkan kesenangan, di balik peristiwa yang terjadi baik susah maupun senang, Allah memerintahkan kita agar belajar dari sana. Lalu, masih pantaskan jika aku ragu, kenapa aku harus kembali ke kota G.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Malam ini, ahirnya setelah perdebatan hebatku dan Erik serta Bella. Aku bisa juga bernafas lega dengan tidak perlu bermalam di rumah Erik, dan bisa tinggal berdua saja dengan Aliena. Tentu itu juga dengan bantuan Erik dan Bella. Mereka berdua memang teman yang lebih daripada saudara.


Sengit awalnya, karena Erik dan Bella begitu melihat Aliena langsung jatuh cinta dan memaksa kami untuk tetap tinggal bersama mereka. Tapi, jarak rumah sakit yang jauh serta ke kwatiranku mengenai kesehatan Aliena yang tak ingin aku beri tahu ke Erik, membuatku yakin ingin tinggal di luar meski ketakutan begitu melanda.


Ketakutanku bukan tanpa alasan, karena selain dekat dengan rumah sakit, tempat ini juga dekat dengan Apartement Ayah Aliena. Kemungkinan dunia akan selebar daun kelor itu yang membebaniku. Tapi, jika si runut dari sikap dan sifat Ayah Aliena yang lumayan bukan orang ramah, juga kelas atas. Tidak akan mungkin dia akan sampai di tempat tempat seperti ini. Bukankah sebelumnya aku telah mempersiapkan hal terburuknya, dan tujuanku kesini hanya untuk kesehatan Aliena.


Menatap wajah kecil yang tengah tertidur pulas, aku airmataku berlinang. Dari masih dalam kandungan Aliena terus berjuang agar bisa menghirup di kefanaan dunia untuk menjadi obatku, dan kini setelah semua berangsur angsur membaik dia harus kembali ke kota ini juga untuk berjuang.


Semoga semua baik baik saja, dan kita akan terus bersama sama, Alienaku, bintangku. Gumamku sembari mengelus kepala Aliena pelan.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Koment dan Votenya di tunggu.


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2