
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Daffa POV.
Setelah lima tahun kenapa dia harus muncul lagi di hadapanku, saat semua sudah mulai membaik. Terutama setelah hubunganku dengan Adit mulai membaik, meski tidak bisa di katakan baik baik saja, setidaknya Adit sudah mulai mau bicara denganku.
Masih aku ingat jelas di kepalaku, apa yang terjadi lima tahun lalu dan yang di lakukan keluarga terutama Ayah saat aku resmi bercerai dengan dia yang sedang berdiri sama terkejutnya denganku saat ini.
"Lihatlah Fa, dia Ibumu, dia adikmu, mereka sama perempuan seperti Mawar yang tak kamu hargai. Pernahkah kamu berpikir andai hal itu terjadi terhadap adikmu, apa kamu akan terima. Demi Allah, aku tidak ingin memiliki anak sepertimu." Kalimat itu sampai saat ini masih sering terngiang di telingaku, karena sejak saat itu seluruh keluargaku membenciku.
Dan kebencian itu semakin aku rasakan saat rencana pernikahan Daffin ahirnya tidak pernah terjadi, lantaran Daffin memilih membatalkannya dengan alasan ada janji yang belum tunai di laksanakan oleh Daffin.
Satu yang tak bisa aku pahami adalah, Adit. Adit hanya sekali bertanya kepadaku, dimana Bundanya, kenapa dia tidak menjemput Adit, kenapa dia pergi tanpa pamitan kepada Adit, dan setelah itu dia tidak pernah bertanya lagi juga tidak lagi berbicara kepadaku, hingga dua bulan lalu Daffin kembali ke tengah tengah kami mendekat kepada Adit dan hubungan kami sedikit lebih baik.
Jika karma di bayar tunai, maka aku sudah merasakannya. Karena sejak kepergian Mawar, dia juga membawa seluruh keluargaku bersamanya, kebahagian, ketentraman juga hati keluarga. Dan saat semua sudah berangsur angsur ingin kembali membalik, dia datang lagi. Demi apapun tidak akan aku biarkan dia kembali mempora porandakan semuanya.
"Apapun tujuanmu datang kemari, aku tak ingin kamu bertemu dengan Adit. Sudah cukup kekacauan yang kamu tinggalkan untuk kami." Aku rasa dengan kata singkatku dia sudah cukup paham dan akan lekas menyingkir jika memang tujuannya datang kemari bukan karena apa apa.
Empat bulan berlalu semua berjalan normal dan kembali ke posisi semula dengan apik. Kaki Adit juga sudah kembali seperti sedia kala hingga tidak perlu memakai kruk untuk berjalan, meski harus ritin cek up ke rumah sakit.
Ini kali pertama Adit meminta sesuatu kepadaku dan aku tak ingin mengecewakannya. Adit ingin di antar ke rumah sakit, padahal kakinya sudah di nyatakan sembuh total. Dan yang membuatku heran kenapa dia ngenyel sekali ingin ke rumah sakit hanya karena ingin bertemu dengan teman sesama pasiennya.
Sampai di taman rumah sakit, aku cukup terheran dengan Adit, karena apa yang aku hayangkan sebagai teman Adit ternyata tidak sesuai. Dia yang di temui Adit ternyata adalah seorang anak perempuan kecil dengan pakaian tebal yang menyembunyikan kulitnya, padahal hari ini cuacanya cukup lumayan panas.
"Apa kamu tidak kepanasan.?" Tidak ada jawaban darinya, justru dia hanya terus menatapku lekat sembari mengulurkan tangan kecilnya ke wajahku memindainya hati hati. Aku seperti pernah merasakan hal seperti ini, tapi aku lupa kapan dan siapa yang melakukannya.
"Ayah. Ini Ayah Alienakan." Bibir kecilnya bergetar mengatakan hal itu dan matanya berkaca kaca.
Aku terkejut untuk sesaat dan menoleh ke arah Adit, saat Adit mengangguk aku membiarkan anak kecil yang menyebut dirinya Aliena menyentuh wajahku dengan puas.
"Abang, apa kita bersaudara. Kenapa Ayah Abang seperti Ayah Aliena.?" Tanya Aliena.
"Tentu saja kita bersaudara, bukan begitu Yah.?" Lempar Adit kepadaku.
"Bisa di bilang begitu." Jawabku tidak pasti, karena menurutku ini sangat konyol dan Adit juga terlalu konyol.
__ADS_1
"Jadi Bunda bohong, jika Om bukan Ayah Aliena." Ucapnya dengan mata meredup kemudian lekas tertunduk.
"Aliena bisa menganggap Ayah Abang sebagai Ayah Aliena kalau mau." Kini giliranku yang menatap Adit dengan keberatan. Namun aku tidak bisa berkata apa apa, mengingat ini kali pertama hal yang di minta Adit dan tampak jelas wajah Adit yang bahagia, mungkin setelah ini dia akan segera lupa dengan apa yang selalu di tunggunya. Aku ambil ini sebagai kesempatan.
"Tidak terima kasih, Aliena hanya punya satu Ayah saja, dan Aliena tidak mungkin salah mengenalinya." Tuturnya dengan menatapku tanpa mau berpaling.
Cukup lama, kami berada di taman hingga suster datang hendak membawanya masuk. Sebelum dia pergi, sempat dia secara sengaja menjatuhkan bonekanya. Sebuah boneka pisang yang sudah buluk warnanya.
"Terima kasih, Om." Ucapnya lirih sembari menyembunyikan bonekanya di balik selimut yang menutup kakinya rapat, lantas meninggalkan kami berdua.
Entah, kenapa melihatnya menjauh, hatiku tiba tiba gamang dan tak ingin berpisah dengannya. Mungkin karena keadaanya yang memprihatinkan atau karena Adit juga tak rela berpisah dengannya. Andai semua bisa di beli dengan uang, aku mau menggelontorkan berapapun uang untuk membeli senyum Adit melalui Aliena.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sebulan telah berlalu, Adit sudah mulai sekolah dengan Aktif kehidupanku juga sudah aktif seperti sedia kala. Semua membaik sesuai keinginanku, dan hanya satu yang membuatku tak ingin bersemangat di pagi yang seharusnya aku jalani penuh semangat. Mawar.
Bukan orangnya langsung yang membuatku tak bersemangat melainkan notif dari Bank yang aku terima selama dua bulan terahir ini membuatku muak, hingga aku memutuskan untuk menyewa seorang detektif untuk mencari tau apa saja yang di lakukannya hingga uang yang lumayan banyak dengan cepatnya raip begitu saja.
Meremehkan Mawar adalah hal yang aku sesali, ini buktinya. Baru pagi tadi notif dari bank aku terima dan dia datang juga ahirnya, lantaran memang sengaja aku belum mengiriminya uang di bulan ini. Lihatlah, dia tanpa merasa malu justru berdiri menyongsong aku dan Melanie.
Wanita itu menyusahkan saja, kecuali Melati tentunya. Di depan ada Mawar di sampingku ada Melanie, keduanya aku sama sama tak menyukainya, biar wajah Melanie mirip dengan Melati sekalipun. Tapi, apa boleh buat demi pura pura kehidupanku baik baik saja dan sempurna di hadapan Mawar, aku rela bersandiwara dengan Melanie.
Tidak perlu menunggu dua sampai tiga hari, hari itu juga uang yang aku tranfer sudah langsung di gunakan oleh Mawar, lagi aku tak mau ambil pusing, tapi kenyataan berkata lain di pikiranku, hingga membuat aku berpikir panjang serta sibuk menerka nerka apa yang sebenarnya di lakukan dengan uang itu.
Apa untuk gaya hidup, jelas tidak akan mungkin. Karena melihat wajahnya yang tidak terawat serta pakaian yang di kenakan seadanya, jelas bukan untuk itu. Lalu untuk apa.? Apa mungkin dia memiliki suami yang jahat dan tak bertanggung jawab.
"Ahh, apa yang aku pikirkan lebih baik menunggu informan saja, lagi pula untuk apa aku perduli dengan itu semua. Bodoh amat." Putusku sembari mengacak rambutku dengan asal.
Hari yang aku tunggu ahirnya datang juga. Amplop coklat berisikan informasi yang aku butuhkan sampai juga di mejaku beserta dengan orang suruhanku yang duduk dengan santainya di depanku.
"Katakan apa saja yang bagus dari dalam sini." Ucapku untuk memastikan bahwa informasi yang akan di berikan adalah hal yang penting.
"Target datang dari dari daerah enam bulan lalu bersama seorang anak perempuan, us.."
"Anak saja suami.?" Tanyaku tak ingin membuang waktu.
"Dari catatan sipil, dia tidak menikah lagi. Bahkan anak itu lahir empat bulan setelah kalian resmi bercerai." Ucapan pastinya membuatku tercengang dan membuatku berpikir jauh kemana mana, hingga sampai di malam yang tak di inginkan.
__ADS_1
"Anak itu prematur." Deg, kelibat wajah pucat Mawar saat berusaha menemuiku seketika membayang di pelupuk mataku, juga sekaligus aku ingat tangan dinginnya yang menyentuh setiap inci dari wajahku sama persis dengan apa yang di lakukan Aliena. Apa mungkin..?
"Dimana dia tinggal sekarang.?" Tanyaku tak sabar dan langsung menarik jasku bersiap pergi di tempat dimana kemungkinan putriku berada. Kenapa aku bisa yakin anak yang di bawa Mawar adalah putriku, karena aku tau malam itu aku yang pertama bagi Mawar.
Mengendarai kendaraan dengan kecepatan di atas rata rata, ahirnya aku sampai juga di sebuah rumah kecil dengan pagar landai yang bisa di lihat dari luar. Rumah minimalis dengan cat putih itu di luarnya terdapat tenda permanen yang kelihatannya belum lama terpasang.
Baru aku ingin mengamati dengan seksama, mataku mengangkap sosok yang aku penasaran ingin lekas berjumpa dengannya. Jilbab ungu muda membungkus kepalanya, badannya yang kecil sedang bersimpuh di lantai yang beralaskan karpet warna warni, boneka berbie di biarkan tergletak di sampingnya, sementara dia justru sibuk dengan boneka pisangnya.
Kini semua kilasan itu berbalik lagi, harusnya aku percaya saat Aliena mengatakan bahwa aku adalah Ayahnya, dan seharusnya aku sudah menyadarinya saat dia pertama menyentuh wajahku, serta saat dia secara sengaja menjatuhkan boneka pisang itu di hadapanku.
"Aliena." Sapaku dan mata kecil itu langsung menatapku kaget lantas dengan cepat segera clingak clinguk mencari sesuatu di belakangku.
"Om, datang sendiri. Mana Abangnya.?" Tak menjawab aku langsung memeluknya dengan erat meski dia kebingungan.
"Ini Ayah, Ayah Aliena bukan Om."
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Happy Idul Fitri everyone. Minal aidzin walfa idzin. May Allah blass you and our heart back to fitri. Amin..
Like, coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi.
@maydina862