
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Hari hariku serasa di penuhi dengan gulali, manis melekat yang susah untuk di hioangkan begitu saja. Bagaimana tidak, setelah drama nomer ponsel yang di berikan Bia kepada Mas Karang hampir sebulan lalu, kini hari hariku di penuhi oleh kata kata manis Mas Karang. Dan akan terasa begitu kurang jika dalam sehari semalam Mas Karang tidak menulis pesan manis kepadaku.
Duniaku juga seakan hanya berputar antara aku dan Mas Karang seorang jika aku sudah memegang ponsel bututku, yang lain seolah olah sedang pindah ke Mars untuk sementara waktu. Mungkin karena nikmatnya merindu dalam cinta itu melebihi bersua, sehingga aku begitu lupa daratan hanya karena satu dua kalimat manis yang di untai oleh Mas Karang.
Duduk di depan mesin jahit, aku terus tersenyum manis sembari merapikan sisa sisa benang. Dan sesekali aku akan menggila hanya dengan memandang kemaja Blue Ice yang baru saja selesai aku jahit. Sejatinya bukan karena kemejanya, melainkan karena membayangkan seseorang yang tengah menari nari di otak ku memakainya lantas merangkapnya dengan jas putihnya. Hanya membayangkan itu saja berhasil membuat wajahku merona tak karuan.
Setelah aku pastikan tidak ada cacatnya, akupun beranjak dan mencucinya dengan bersih sekaligus hati hati. Seakan akan kemeja di tanganku adalah barang antik yang akan mudah rusak ketika di kasari. Dan karena kemeja ini adalah rahasiaku seorang, akupun sengaja menjemurnya di tempat yang aman menurutku.
Dengan menggeleng pelan untuk mengembalikan kesadaranku akan ketidak sabaran untuk tiga hari mendatang, akupun beranjak dari tempat jemuran dan menggiring langkahku kembali ke Asrama. Berbaur dengan yang lain, akupun menyalurkan perasaan bahagia ini dengan belajar bersama yang di liputi semangat menggebu, hingga teman temanku memandangku heran. Namun, aku cukup memiliki alibi untuk mereka.
Waktu merambat dengan cepat, tidak terasa malam sudah datang. Dan seperti maling yang takut ketahuan mencuri, aku mengendap endap ke tempat setrikaan guna menyetrika kemeja yang hendak aku berikan kepada Mas Karang lusa. Tak lupa pula, ku bawa ponselku karena memang seringnya kami bertukar kabar ketika malam tiba.
Dan, benar yang terjadi. Baru saja aku sampai di tempat setrikaan, kalimat panjang Mas Karang sudah tertera di layar ponselku setelah nada ping yang terdengar. Dengan senyum yang mengembang akupun mulai mengetik untuk membalas pesan Mas Karang, sembari meraih setrika dari tempatnya.
"Selamat malam juga. Lagi ada di tempat strikaan. Sampean sekarang sedang apa.?" Begitu terlihat gambar amplop terbang, akupun mulai menata papan setrikaan dan memposisikan kemeja di tempatnya.
Ternyata menunggu balasan pesan Mas Karang itu jauh menyebalkan ketimbang menunggu setrika panas, karena justru lebih cepat setrika yang panas timbang balasan dari Mas Karang, dan itu membuat aku merengut kesal sekaligus tidak bisa mengangkat setrika dari tempatnya lantaran aku mataku masih fokus dengan ponselku yang tergletak di atas kemeja yang hendak aku setrika.
Setelah cukup lama tidak ada balasan, aku memilih memindahkan ponsel ke tempat lain, dan mulai menggosok kemeja dengan pelan. Hingga pekerjaanku usai, masih sama saja ponselku tetap tidak ada tanda tanda akan adanya balasan dari Mas Karang.
Setelah membungkus kemeja dengan kertas kado akupun memasukannya ke dalam papperbag dan menaruhnya ke dalam loker khusus tempat jahitanku. Dan ping satu nada pesan datang saat aku hendak mematikan lampu.
"Buka tidak, buka tidak." Gumamku pelan. Aku pikir akan lebih baik jika aku pura pura sibuk dengan tidak langsung membuka pesannya, tapi hatiku sungguh tidak mau setuju dengan lagak jual mahalku. Malah tanganku bergerak lebih dulu tidak sesuai dengan otak ku.
__ADS_1
"Baru selesai operasi, ini siap siap mau pulang. Terus istirahat biar bisa ketemu kamu dalam mimpi." Aku tersenyum dengan mengigit bibir bawahku karena rasa gemas yang tiba tiba muncul ketika membaca pesan Mas Karang.
"Tidak menerima tawar menawar soal undangan mimpi, pokoknya maksa. Jadi, lekaslah istirahat dengan begitu nanti kamu yang lebih dulu menungguku." Aku semakin melebarkan senyumku. Andai aku tidak ingat bahwa ini sudah sangat larut, maka aku sudah pasti jingkrak jingkrak dengan sendirinya karena kata kata receh Mas Karang.
"Tidak mau, aku masih ada yang harus di kerjakan." Jawabku pura pura menarik ulur Mas Karang sembari berjalan melewati selasar guna kembali ke kamarku.
Kembali, tidak ada jawaban dari Mas Karang, hingga aku sampai di lantai tiga letak di mana kamarku berada, bertepatan dengan itu ponselku bergetar dan tertera nama Mas Karang disana. Aku bingung hendak mengangkatnya, aku takut akan menganggu yang lain, jadi aku memutuskan untuk merejectnya. Namun beberapa saat saja sudah kembali bergetar hingga berulang ulang, ahirnya akupun memutuskan untuk mengangkatnya dan menuju ke rooftop dengan langkah pelan agar tidak menganggu yang lain.
"Assalamu'alaikum." Ucapku dengan nada berbisik. Dan hening tidak ada yang menjawab hingga desir angin malam seolah aku dengar kemrasaknya begitu mampir di pipiku.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Mas Karang setelah beberapa saat.
"Mas Karang kenapa buat panggilan telfon. Ini sudah sangat malam, takut menganggu yang lain." Kataku masih dengan nada berbisik.
"Posisinya sekarang dimana." Tanya Mas Karang yang justru tidak pada bahasanku.
"Sebentar saja." Pelan Mas Karang. "Sekarang berjalanlah ke samping pagar dekat dengan tangki air." Aku sedikit heran dengan ucapan Mas Karang, karena bisa bisanya Mas Karang tau letak tangki air di rooftop. Tapi, hendak membamtahnya aku tidak bisa karena Mas Karang sudah lebih dulu melanjutkan kata katanya.
"Sudah. Sekarang lihatlah ke atas, dimana Bintang dan Bulan sedang bersinar dengan indahnya." Mengikuti perkataan Mas Karang aku mendongak ke atas dan bemar yang di ucapkan oleh Mas Karang, Bulan separuh nampak penuh kilau di atas sana.
"Tapi, cantiknya Bintang dan Bulan masih kalah jauh dengan dia si gadis berjilbab hitam." Aku seketika memutar kepalaku mencari cari sosok seseorang yang mungkin saat ini tengah memperhatikanku.
Dan benar saja, dia berada di sebrang jalan tepat berada di balik pagar tinggi Pesantren. Bersandar di badan Mobil dengan kaki di silang dan ponsel menempel di telinganya, pandangan kamipun bertemu di balik pekatnya malam. Ya, dia Mas Karang yang tengah memperhatikan aku.
Memicingkan mata, samar aku lihat senyum membingkai bibirnya. "Di setiap hari hariku, aku melihatmu. Aku merasakanmu, begitulah caraku untuk bertahan. Dekat, jauh dimanapun kau berada, kau ada di sini, di dalam hatiku. Cintamu aman dalam hatiku. Cinta adalah ketika kau mencintaiku. Klik." Panggilan di matikan olah Mas Karang dan bertepatan dengan itu, finger love Mas Karang acungkan ke arahku.
Dadaku berdetag dengan hebatnya, merasa begitu di hargai dan di sanjung begitu tingginya oleh Mas Karang. Dan memang mungkin seperti inilah cinta jika mendapat balasnya. Berjuta alasan menutup mata akan sia sia, karena dia yang akan terus menganggu di pelupuk mata saat kau mencoba untuk menutup matamu dan menemuinya di dalam mimpi.
__ADS_1
Dan apa yang kami lakukan hingga sampai sejauh ini dengan menipu orang orang di dekat kami, semoga tidak akan hilang begitu saja. Meski hingga saat ini, Mas Karang belum pernah sekalipun membahas akan sampai di bawa kemana hubungan ini kelak. Namun, jika aku boleh serakah akan kebucinanku, aku ingin kami terus bersama hingga nanti kami berdua sama sama menua dan mengisi satu sama lain masih dengan cinta.
Terlalu muluk memang, karena kami masih sama sama tidak tau asal kami darimana. Dan seperti apa latar belakang keluarga kami, jika di lihat dari kendaraan dan pendidikan Mas Karang, jelas saja keluarga Mas Karang termasuk berada. Dan itulah yang membuat aku merasa rendah di hadapan Mas Karang, serta butuh waktu untuk membuat diriku cukup terlihat dan menonjol.
Tapi, jika pada ahirnya hal yang terburuk yang aku dapat, setidaknya aku memiliki kenangan dengan seseorang yang menghargai dan menghormati aku sebagia seorang wanita tanpa menoleh darimana aku berasal. Dan, jika Allah berkehendak lain dengan tidak menakdirkan kami berdua, setidaknya sudah cukup bagiku bahwa Mas Karang adalah pilihan yang tepat bagiku.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1