Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Cukup Bagiku.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jantungku berpacu cepat tatkala mataku menangkap sosok yang tengah berdiri di ambang pintu bersama anak laki laki yang kini tingginya sudah hampir menyalipku. Iris mata itu menyorot penuh rindu, dan aku tertekun oleh itu. Hingga, untuk sesaat fokusku terhadap mata lain terabaikan.


Seperih inikah bertemu dengan mantan. Tentu jawabnya tidak akan, andai yang di tinggalkan adalah luka. Rasanya ini sesak yang tak berhak untuk aku meneteskan airmata. Karena, bukan lagi prioritasku untuk mengingat perasaan masa muda yang menggebu.


Menurunkan pandanganku ke tangan putihnya yang berada di bahu anak laki laki berambut ikal, aku menyadari satu hal. Aku mendapati tatapan mata yang berbeda, tatapan benci juga merindu. Dan itu aku dapati dari Adit. Adit kecilku, yang dulu hanya bergantung kepadaku. Adit kecilku yang dulu hanya mau mendengar kata kataku, kini dia mengubah tatapannya kepadaku.


Semakin menjejal langkah mereka berdua, semakin debaran di dadaku bertambah volumenya, meski aku upayakan sebisanya agar tak terlihat bahwa aku sedang tidak nyaman dengan situasi ini. Namun, sekali lagi ini semua demi Aliena.


"Adit.." Sapaku pelan tanpa berani menatap orang yang berdiri di belakang Adit.


Tanganku tetap mengantung di udara, karena pipi yang hendak aku sentuh telah memaling dengan cepat dan berlalu begitu saja menuju ke arah bangsal Aliena.


"Beri Adit waktu, War." Lirih Ayah Aliena yang telah berdiri di sampingku. Tanpa berkata aku memilih memutar tubuhku sembari memuaskan paru paruku dengan udara yang seakan tiba tiba menipis.


Aku berhak mendapat perlakuan itu dari Adit, karena dimasa dia menaruh semua kepercayaannya kepadaku, aku malah pergi tanpa pamit kepadanya. Saat itu aku tidak berpikir bahwa spikologis Adit akan terguncang oleh janji yang telah aku ucapkan, dan psikis di bawah alam sadarnya sudah terlanjur berharap banyak akan janji itu.


Memilih keluar dari ruangan, aku sandarkan tubuhku pada tembok agar kakiku terus kuat menopang tubuhku yang seakan lunglai oleh setiap kejutan yang berlaku. Memang, takdir itu sangat menguncangkan jiwaku. Pertama Ayah Aliena, setiap bertatap dengannya maka hanya ada ingatan tentang kesakitan setiap kata cemo'oh yang melukai egoku, hingga aku memilih untuk menyerah terhadapnya.


Kedua adalah, seseorang yang di harapkan oleh hati namun takdir tak ingin berpihak kepadanya lantas menggiring ingatan tentang janji cinta yang ahirnya tak sampai pada tujuannya. Dan yang terahir adalah, soal janji yang tertepati hingga membuat cacat pada ingatan.


Membawa langkah semakin menjauh, ahirnya langkah ini berhenti tepat berada di taman rumah sakit. Ku tutup rapat mataku dengan kepala yang aku biarkan bersandar di kursi taman sembari menata hati, menata pikiran, serta menata perasaan. Sungguh takdir yang berwarna ini akan sulit aku jalani, jika aku tidak ingat bahwa semua tetap berhubungan hanya karena keberadaan Aliena.


"Dia cantik, Mawar." Tanpa menoleh aku paham betul suara siapa ini, dan juga siapa yang memanggilku dengan lengkap. "Kamu juga semakin cantik."


Aku tersenyum miring mendengar ucapannya. "Dengan wajah kusam dan komedo dimana mana." Lirih, itu hanya sekedar agar kau tak terlihat seperti seseorang yang masih mengharapkannya.


Kekehan kecil terdengar meluncur darinya. "Boleh aku duduk di sebelahmu."


Berjarak sekitar dua jengkal kami duduk saling diam dengan pemikiran masing masing. Pandanganku lurus menatap matahari sore yang sedang siap siap kembali keperaduan, namun sinarnya terhalang oleh awan yang tiba tiba datang.


"Kamu apa kabar.?" Lirih ucapannya di sertai angin dingin yang tiba tiba berhembus menerpa pipiku. Aku tau dia memperhatikan aku.


"Seperti yang sampean lihat. Aku baik baik saja." Jawabku tak kalah lirih.


Helaan nafasnya terdengar hingga sampai ke telingaku. "Aku bersalah Mawar." Di jedanya ucapanya tatkala aku memilih menundukkan kepalaku di bandingkan harus menatap ke arahnya.

__ADS_1


Jujur, di dadaku bercampur aduk. Ingin lekas berdiri menjauh, tapi kakiku tak punya daya hanya untuk sekedar mengangkat tubuhku lantaran terpengaruhi oleh otak yang menyuruhku agar tetap duduk di tempatnya dan mendengar semua uraiannya. Mungkinkah hatiku memiliki dendam hingga aku mendengar kisahnya selama lima tahun ini.


"Aku tak mengenalimu dengan benar, Mawar. Saat kamu bilang baik baik saja, justru sebaliknya apa yang terjadi padamu." Kembali helaan nafas itu terdengar berat dia tarik. Sesesak itukah dia sama seperti diriku waktu itu, saat merendahkan diriku di hadapannya.


"Aku tau kamu perempuan yang baik, dan sudah seharusnya aku percaya itu dulu, bahwa semua perempuan yang baik, yang selalu menjaga kehormatannya, selalu menjaga prilakunya, selalu memikirkan baik buruknya setiap keputusan yang akan di ambilnya, tidak akan pernah dengan begitu mudahnya mengatakan masih memikirkan laki laki lain selain daripada suaminya, jika tanpa sebab. Maafkan aku, Mawar."


Senyumku mengukir di bibirku, senyum kelu di tengah bibirku yang bergetar mengingat setiap kejadian dimana aku menurunkan harga diriku di hadapan Mas Karang.


"Kenapa waktu itu kamu tidak jujur, jika Bang Daffa sebenarnya tid.."


"Apa sampean akan percaya andai aku mengatakan kejujuran menganai orang yang sampean sanjung." Potongku dengan cepat.


"Mungkin tidak akan cepat, tapi setidaknya aku meng.."


"Setiap kejadian, pasti memiliki hikmahnya. Dengan membicarakan hal yang telah lalu lantas menyalahkan kejadian yang telah usai, apa itu akan membuat kita kembali kesana. Tidak akan, kecuali rasa sakit yang kembali timbul. Aku tak ingin membenci, terlebih membenci kejadian yang jelas itu ada campur tangan dari Tuhan." Sakit, sesak, sedih, semua telah aku lalui, kini tinggal kembali meprioritaskan diriku kepada Aliena.


Kami kembali diam yang kini di sertai dengan rintik yang turun menandakan bahwa hujan mungkin saja akan datang. Tapi, badai telah lebih cepat menghampiri dadaku. Terlebih dengan ucapan Mas Karang.


"Mawar, beri aku kesempatan untuk menunaikan janji cinta kita." Amarahku tiba tiba berkumpul menjadi satu di dada. "Aku telah mencarimu selama ini, dan terus mengingat bahwa aku memiliki janji denganmu, janji yang terus mengikatku seperti seorang Qais yang kehilangan Laila."


Semenyedihkan itukah, atau itu di buat hiperbolis bagi orang pintar seperti Mas Karang.? Aku tidaklah memiliki poin yang sebegitunya harus di perhitungkan. Katakanlah itu, karena kasihan atau sebagai bentuk ungkapan rasa bersalah, karena saudara laki lakinya telah menoreh luka bagiku. Sekali lagi, hatiku telah begitu waspada. Aku telah mati rasa.


"Mawar, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku berjanji akan mempercayaimu melebihi dari diriku sendiri." Ahirnya kepalaku mengarah juga kepada Mas Karang.


Dengan helaan nafas dalam aku masih memilih menatap Mas Karang yang kini terlihat lebih matang. "Soal perasaan itu bukan lagi prioritasku. Karena aku hanya ingin menggegam apa yang telah menjadi milikku saat ini. Aku tak ingin serakah." Kataku sembari membuang pandanganku dan itu justru berahir kepada Ayah Aliena yang telah berdiri tidak jauh dari kami berdua.


Melewati Ayah Aliena begitu saja, aku tak ingin tau apapun persepsinya tentangku. Kehadiran dua orang dengan nokhtah yang berbeda tertinggal di hatiku, cukup membuat dadaku penuh sesak. Dan apapun maksud Tuhan membuat aku terlibat kembali dengan mereka berdua tak ingin aku pikirkan saat ini, ya karena prioritasku adalah Aliena saat ini.


"War, tunggu." Tak ku indahkan triakan Ayah Aliena, aku memilih memacu langkahku. "Aku bilang tunggu." Tangan Ayah Aliena berhasil menggapai bahuku tepat saat aku hampir sampai di kamar rawat Aliena dan membalikannya dengan cepat.


"Apa lagi.?" Aku kalap.


"Oke, oke." Ucapnya dengan cepat begitu melihat kilatan amarah di mataku. "Aku tak ingin ikut campur soal kamu dan Daffin. Hanya saja, aku ingin kamu mendegarkan ceritaku soal Daffin selama lima tahun ini."


"Aku tak mau, itu bukan urusanku." Jawabku dan sudah hendak berbalik kembali.


"War, sebentar saja."


"Aku tak ingin." Jawabku masih kekeh.

__ADS_1


"Kamu telah mencuri seluruh bahagia Daffin, War. Tidak hanya Daffin, tapi seluruh keluargaku. Bruk." Tubuh Ayah Aliena ambruk tepat mengenai tembok di sampingku dan disisi lain dari itu dapat aku lihat wajah Erik yang berang dengan tangan mengepal.


"Masih saja." Nada geram Erik luncurkan di tengah nafasnya yang memburu karena emosi. "Perlu loe tau, Fa. Mawar tidak pernah mencuri apapun darimu. Dasar picik."


"Rik, Rik." Aku langsung merangkul tubuh Erik yang sudah hendak memukul lagi Ayah Aliena.


"Biarkan bajingan ini puas, War. Biar dia tau, sebernya penjahat itu adalah dirinya sendiri." Erik terus melampiaskan kekesalannya di tengah aku yang memeluk tubuhnya dengan erat.


"Kamu salah sangka, Rik. Aku tidak bermaksud mengatai Mawar." Balas Ayah Aliena.


"Loe kira gua budek apa. Asal loe tau, Melatilah yang mencuri semuanya dari Mawar." Ucapan Erik sontak membuat kakiku melemas dan mungkin saja itu juga yang terjadi dengan Ayah Aliena. Karena tiba tiba saja semua diam.


Tanganku sudah berusaha keras untuk menutup mulut Erik, namun emosi Erik beanr benar berada di puncaknya hingga dia tidak lagi perduli tempat juga orang orang yang sudah mulai melihat ke arah kami.


"Kamu tau, Melatilah penyebab Mawar menjadi yatim piatu di hari yang sama, dan orang yang kamu sebut pencuri kebahagiaan, dia juga yang memberi bahagia bagimu dan Melati dengan memberikan ginjalnya untuk Melati. Mawar bukan pencuri. Tapi, Mawar penyumbang terbesar bagi Melati juga bagimu, apa itu belum cukup."


"Cukup Rik. Cukup." Tubuhku luruh di lantai hanya dengan satu kata untuk Erik. Karena aku rasa semua telah cukup. Cukup bagiku orang menatap iba kepadaku saat ini, tak terkecuali tatapan Ayah Aliena terhadapku.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2