
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Matahari masih mentereng dengan angkuhnya, saat aku baru saja keluar dari lingkungan Pesantren lima belas menit yang lalu. Dan kini, tiba tiba saja mendung berarak dengan cepat lantas meneteskan airmatanya dengan derasnya.
Meminggirkan sepeda ontelku di emperan toko yang tengah tutup. Aku merapatkan gamisku, guna menghalau dinginnya angin yang juga tidak mau kalah ributnya. Agak sedikit menyesal, saat Bia mengingatkan aku agar senantiasa membawa payung ataupun jas hujan di tasku kemanapun aku akan pergi, mengingat aku akan mudah saja sakit saat terkana air hujan. Dan aku sama sekali tidak mengindahkannya peringatan Bia ketika aku hendak berangkat tadi.
Pasti, saat ini Bia sedang mondar mandir di kamar yang kami tempati dengan wajah cemasnya. Bia tau, aku tidak bisa tahan dengan hawa dingin. Dan pasti setelahnya aku akan demam atau yang lebih parah lagi aku akan Hepotermia.
Bukan aku tidak tau sebab musabab kenapa hal itu terjadi, hanya saja aku tak ingin mengingat ingat itu, biar semuanya terkubur bersama diamku dan kepergiaanku, juga sekaligus semakin menjauhnya Erik dariku. Karena, tidak semua harus terlihat ataupun menentukan harga atas apa yang di lalukan sebagai penghormatan. Tidak perlu terlihat untuk berbuat baik, dengan begitu hati tidak akan serakah dengan pujian.
Sepuluh menit berlalu, hujan sudah mereda menyisakan rintik kecil yang aku yakini akan segera ikut pergi juga. Ku ulurkan tanganku guna untuk mengechek, apakah hujan masih cukup deras. Dan aku rasa hujan sudah bernar benar berhenti. Akupun melanjutkan perjalanku.
Putaran roda sepeda ontelku beru berjalan beberapa meter, namun aku puruskan untuk kembali mengehentikannya dan memutar baliknya lagi. Karena mataku yang menangkap sebuah mobil yang sedang mogok di tengah tengah jalan raya, sedangkan tidak ada seorangpun yang berusaha untuk membantu agar mobil itu menepi.
Seorang pemuda berdiri di samping mobil itu dengan wajah penuh permintaan maaf kepada pengendara lain. Dan setelah menempatkan sepedaku di tempat yang tepat, akupun berjalan menghampiri pemuda itu.
"Mari Mas saya bantu menepikan mobilnya." Ucapku datar, dan pemuda di depanku menatapku dengan tatapan herannya. "Kasian pengendara lain, jika mobil sampean tetap disini." Lanjutku.
"Apa kamu bisa menyetir. Tentu, akan tidak pantas jika kamu yang mendorongnya.?" Akupun mengangguk pelan lantas pemuda itu tersenyum seraya menyuruhku untuk masuk ke mobilnya.
"Mas, di bawah pohon Trembesi itu saja. Takutnya akan hujan lagi." Kataku, saat mobil sudah berada di pinggir jalan. Dan dengan peluh yang bercucuran pemuda itu menuruti permintaanku.
"Kayak e ada masalah sama oli remnya, atau kalau enggak gitu ada di oli kampas koplingnya deh Mas. Makanya untuk pindahin giginya enggak bisa, remnya juga dalem banget." Jelasku, dan pemuda yang berada di depanku semakin bingung dengan ucapanku.
"Saya pernah sekolah jurusan otomotif, Mas. Jadi, sedikit tau." Ucapku lagi, menjawab keheranan wajah pemuda di depanku.
"Owhh." Jawabnya singkat setelah meneguk air yang baru di ambilnya dari dalam mobil. "Seminggu lalu baru tak bawa ke bengkel." Katanya lagi sembari mengamatiku. "Mbak, eh, Dek saja."
"Coba tak lihat, Mas." Ucapku dengan pasti, dan entah kenapa aku begitu bersemangat sekali, seakan akan diriku yang dulu kembali.
__ADS_1
Setelah kap mobil terbuka, akupun melepaskan tagname kamarku yang membuat repot pergerakanku dan memegangnya. Melihat aku yang kesusahan menggulung lengan bajuku, pemuda di sampingku meminta tagname ku untuk di pegangkannya.
"Mas, ada bawa peralatan seperti obeng atapun kunci kunci.?" Tanyaku.
"Sepertinya ada." Pemuda itu bergegas mengalungkan tagnameku di lehernya dan memasukan ujungnya di saku kemejanya. Lantas bergegas menuju ke bagasi belakang setelah mendengar ucapanku.
Kembali dari belakang, pemuda itu membawa satu kotak peralatan bengkel dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya di sibukan dengan ponselnya yang tengah berbunyi nyaring. Setelah memberikan kotak persegi panjang itu kepadaku, pemuda yang tak ku tahu namanya itu bergegas menepi agar tidak terlalu berisik dengan kendaran yang lalu lalang guna untuk menerima panggilan yang aku rasa penting.
Aku tersenyum puas. Puas dalam artian yang sebenarnya, yakni tanpa ada embel embel kepalsuan ataupun keterpaksaan. Jiwaku memang masih berada di otomotif dan aku terpaksa harus meninggalkannya demi sebuah kepercayaan yang entah kira kira akan aku dapatkan kembali atau tidak.
Tidak ada masalah berarti pada mobil putih depanku ini. Hanya sekrup yang kurang pas peletakannya serta ada selangnya yang sedikit bocor. Setelah, aku menisolasinya dan membetulkan sekrupnya, ahirnya mobilpun kembali menyala dan rem serta koplingnya berfungsi dengan baik.
Aku masih berdiri di samping mobil menunggu si empunya menyelesaikan telfonya. Tapi, sudah beberapa menit berlalu, belum ada tanda tanda bahwa dia akan menyelesaikan panggilannya. Ahirnya, dengan memberanikan diri, akupun masuk kembali ke dalam mobil dan mencari buku yang aku lihat tergletak di atas dashboard.
"Calon dokter." Gumamku, saat aku melihat dan membaca sampul buku tersebut. Ku ambil selembar kertas dan menuliskan apa apa yang hendak aku sampaikan namun aku tidak bisa menunggunya, karena keterbatasan waktu yang aku miliki.
Usai menulisnya, ku taruh tepat di samping setirnya. Dan akupun segera melenggang pergi, karena jauh di atas sana, mendung kembali menghitam sebagai bertanda bahwa dia akan kembali menangis lagi.
"Mbak, cucian yang punya anak kost depan sana dari kemarin belum di ambil ambil apa di antar saja yah.?" Tanya salah seorang yang juga sama sama bekerja di Laundry ini, namun dia bukan salah seorang Santri seperti ku.
"Katanya mau di ambil apa di suruh nganter.?"
"Di ambil sih." Jawabnya. "Iyalah, kayak kurang kerjaan aja, ini aja masih mau nyuci yang baru dateng itu tadi." Lanjutnya.
Aku mengikuti langkah temanku ke depan guna untuk memeriksa baju yang baru datang. "Ini kok ada baju laki laki, Mbak Sa..?" Tanyaku, saat aku melihat satu kresek penuh baju kotor yang tadi aku lihat di depan. Memang, kebayakan pelanggan dari Laundry ini adalah perempuan, jadi aku agak gimana saat menemukan pakaian laki laki.
Berada di kawasan kost kostan para Mahasiswa perguran tinggi Negri yang terkenal dengan kesibukan tugasnya, membawa berkah tersendiri bagi Laundry yang sudah aku jalankan hampir setahun belakangan ini. Bahkan, kami sudah memiliki langganan. Karena, selain hanya jasa cuci kami juga melayani, ambil serta antar layanan. Sehingga, Laundry kami menjadi primadona di tengah tengah para Mahasiswi yang tak ingin menyita waktu mereka.
"Ini punya teman Mas Karim, Mbak. Tadi kesininya sama Mas Karim." Aku manggut manggut mendengar nama Gusse di sebut. Dan segera berjalan ke bagian setrika karena aku tau disana pasti akan terasa lebih hangat.
Jam di dinding menunjukan pukul 17.00, saat aku mulai mengunci pintu utama dari Laundry. Jika di hari biasa tutupnya dari Laundry adalah jam 15.45, maka lain halnya dengan hari Jum'ah. Karena di hari Jum'ah selain bukanya sudah siang, juga karena aku libur di Pesantren. sehingga aku memiliki waktu sedikit panjang.
__ADS_1
Menahan serangan sakit kepala yang aku sadar ini akibat dariku yang terkena hujan tadi dan tidak langsung mandi, aku beranjak untuk kembali ke Pesantren. Dan harus siap mental akan di omeli oleh Bia, karena suaraku juga sudah sedikit sengau. Itu, pasti akan membuat Bia terjaga sepanjang malam untuk menjagaku. Dan inilah aku, yang katanya hendak mandiri, tapi masih saja merepotkan orang lain.
Memasuki pelataran Pesantren, ku tajamkan mataku untuk menatap mobil yang tadi sepertinya aku bantu untuk di perbaiki. Namun, aku tidak yakin, karena jenis mobil seperti itu tidaklah hanya satu saja. Ku teruskan langkahku kembali ke asrama putri dan ku temukan Bia yang tengah cemberut dengan tangan bersendekap di dada sementara tatapan matanya penuh pengintimidasian terhadapku.
"Ampun, Mama tiri." Ucapku, lantas dengan cepat berlari ke kamar mandi mengabaikan Bia yang sudah siap menceramahiku.
.
.
.
.
.
Berambung.
####
Oh, Gusse namanya Gus Karim tho.
Like, Koment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1