Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Kebahagiaan Di Tengah Bencana


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Tiga hari tanpa matahari menampakan dirinya sekaligus hujan yang terus terusan mengamuk, membuat subuh kali ini seakan akan begitu menggigit tulang belulang, hingga kebanyakan dari kami yang sedang mengikuti kajian setelah subuh memilih membungkus diri dengan sajadah ataupun mukena yang sengaja tak kami lepas sebelumnya.


Suara sungai di sebrang beteng tembok Pesantren gemerasak kasar terdengar dari tempat kami berada, bahkan aliran sungai itu sampai keluar dari bibir sungai hingga membanjiri persawahan warga, juga mampu merobohkan bangunan benteng lama Pesantren di bagian sisi utara tepat asrama Putra. Sampai sampai serasa sungai itu tepat berada di samping kami saja.


Semua semakin membuat kami merasa tidak enak hati, saat kabar datang memberi tahu bahwa ada bencana tanah longsor yang di ikuti banjir bandang setelahnya. Dan itu tepat berada di daerah pegunungan, sampai sampai jalur utama penghubung dua Kabupaten terputus, lantaran material longsoran yang menutupi ruas jalan secara total.


Jika aku mengingat kembali letak jalan pegunungan itu, perumahan warga berada di lereng lereng serta bawah jalan, yang artinya sudah pasti bencana kali ini menelan banyak korban jiwa.


Tidak dapat ku bayangkan, betapa kedinginannya mereka saat ini, sedangkan aku saja yang berselimut sajadah seakan tak dapat menghalau dinginnya pagi ini. Dan, ahh. Membayangkan kepanikan serta tergesa gesanya mereka yang terbangun untuk menyelamatkan diri, membuatku bergidik ngeri. Apa lagi saat aku membayangkan berapa banyak anak anak yang ikut menjadi korban disana, menjerit dan menangis minta tolong. Ngilu langsung terasa di dadaku.


Pembahasan soal bencana yang terjadi, menjadi buah bibir di antara kami disini, apa lagi ada beberapa Santriwan juga Santriwati yang memang berasal dari desa dimana bencana itu terjadi. Dan hingga kini ada beberapa dari keluarga mereka yang belum bisa untuk di hubungi.


Cuaca masih belum bisa di bilang cerah, tapi cukup lumayan mendingan daripada beberapa hari lalu. Matahari sudah mulai bisa menembus tebalnya awan, meski hanya untuk beberapa menit lalu kembali berselimut awan tipis. Dan itu lumayan melegakan kami, karena dengan begitu tim penyelamat serta relawan akan segera bisa masuk memberi pertolongan tanpa kwatir terhadap cuaca yang tak bersahabat.


Tepat pukul delapan, aku sudah siap siap hendak ke rumah Laudry, bukan karena banyaknya pekerjaan, melainkan karena aku teringat akan longkang depan rumah laundry yang sering di penuhi sampah bila hujan datang dengan derasanya. Aku kwatir air masuk ke dalam dan merendam beberapa properti.


Aku keluar tepat berbarengan dengan Gus Karim yang juga sudah siap dengan kendaran Offroudnya. Dan memang untuk masuk ke area bencana membutuhkan kendaraan seperti itu. Sekarang aku baru sadar, hobi mahal Gus Karim ternyata ada manfaatnya juga sekaligus bisa di andalkan saat seperti ini.


Mengambil arah yang berlawanan dengan Mas Karim, akupun memacu pedal gasku dan sampai ditempat yang aku tuju dengan perasaan lega. Karena apa yang aku kwatirkan tidak terjadi. Akan tidak masuk akal, jika aku hanya datang mengecek keadaan tanpa melalukan apa apa. Maka, akupun bergegas mengambil sapu dan menyapu dari dalam hingga sampai ke halaman.


Butuh waktu setengah jam lamanya untuk ku mengerjakan itu. Dan karena laundry masih libur untuk beberapa hari, akupun memilih untuk kembali ke Pesantren.


Kembali membawa kuda besi dengan pelan, ku lihat di jalan jalan sudah ramai sekali para relawan yang mengumpulkan donadi untuk korban bencana. Dan tak jarang yang terjun langsung ke jalan jalan.


Sampai di pertigaan jalan hendak masuk ke Pesantren, mataku menangkap mobil yang berhenti tepat di bahu jalan, dan jangan di tanya kenapa mataku enggan sekali untuk memindahkan tatapanku, karena aku menyadari mobil itu milik siapa. Ya, mobil itu adalah milik orang yang tiga hari ini mati matian tak ku biarkan menyentuh otak ataupun hatiku.


Setelah perdebatan panjang dengan hatiku, ahirnya otak ku kalah oleh hati ku, oleh sebab itulah akupun membelokkan kembali arah motorku ke jalan yang tidak seharusnya aku lewati untuk kembali ke Pesantren.


Tanpa banyak drama, akupun segera menepikan motorku tepat di samping mobil Mas Karang yang tengah ngambek lagi. Dan melihat kehadiranku, Mas Karang cukup kaget dan segera menyapu yang sudah menggulung lengan bajuku.


"Mawar, dari mana kok ada di sekitar sini.?" Tanya Mas Karang.


"Saya kan memang tinggalnya di dekat dekat sini Mas Karang." Ucapku dengan sudah memeriksa mesin mobil Mas Karang. "Ini kenapa lagi kok rewel." Gumamku seorang diri.


"Kamu tinggal di dekat sini." Kata Mas Karang sedikit sedikit kaget. Melihat aku yang mengangguk pasti, Mas Karangpun ahirnya melanjutkan ucapannya. "Berarti kamu tinggal di Pesantrennya keluarga Mas Karim atau rumah kamu deket sini.?" Tanya Mas Karang.


"Mas Karang kenal sama Gus Karim." Tanyaku balik.


"Mas Karim itu teman sebangku ku waktu SMU." Jawab Mas Karang sembari tersenyum tipis.


"Mas ini kayak e Akinya deh. Mana Akinya Aki kering, jadi musti di cas sebentar agar bisa jalan." Ucapku tanpa memandang sedikit saja ke arah Mas Karang.

__ADS_1


"Butuh waktu berapa lama kalau di cas.?" Tanya Mas Karang sembari memperhatikan jam tangannya.


"Kira kira tujuh jam kalau dengan aliran sepuluh persen."


"Cara tercepat bagaimana caranya.?" Tanya Mas Karang sungguh sungguh.


"Ganti Aki, kalau enggak gitu cari mobil lain terus numpang." Jawabku jujur berbarengan dengan ponsel dari Mas Karang yang tengah berbunyi.


Mas Karang menyuruhku agar tetap di tempatku selama Mas Karang mengangkat panggilan telfonya. Dan, bodohnya orang suka itu ya seperti aku, yang menuruti saja perkataan Mas Karang terhadapku.


Samar, aku dengar pembicaraan Mas Karang dan orang di sebrang sana. Dan Mas Karang menjawab bahwa akan segera sampai sana sesegera mungkin. Melangkah kembali ke arahku Mas Karang tampak gusar.


"Di dekat sini apa ada rental mobil, Mawar.?" Tanya Mas Karang.


"Kayak e enggak ada Mas. Apa ada masalah Mas.?"


"Iya, aku harus segera sampai di tempat bencana terjadi. Obat obatan banyak yang aku bawa." Jelas Mas Karang.


Aku diam sesaat seraya berpikir. "Mas Karang bisa tak anter kalau memang urgent." Kataku pelan, dan oleh ucapan itu, akupun terus merutuki kebodohanku dengan menawarkan bantuan. Tapi apalah daya, kata yang sudah terlanjur keluar juga tidak akan bisa di tarik kembali. Maka saat ini aku hanya berharap bahwa Mas Karang menolaknya saja.


"Kalau enggak gitu, motornya Mas Karang bawa saja." Lanjutku dengan cepat.


"Tidak, aku tidak bisa naik motor. Makanya aku butuh kamu untuk memboncengku." Ucap Mas Karang serius di tengah wajah bengongku.


"Mas." Mas Karang seakan tau akan apa yang tengah menganggu pikiranku saat aku menjeda ucapanku.


"Cukup antarkan saja aku sampai sana, Mawar. Nanti biar aku telfon Mas Karim soal perijinan." Kata Mas Karang.


"Tapi Mas." Ucapku lebih tak enak lagi.


"Apa lagi, Mawar. Waktu waktu seperti ini amat sangat berarti untuk mereka yang sedang membutuhkan pengobatan. Jadi lekaslah." Terdengar nada tegas dari Mas Karang, dan di balik nada tegas itu ada kekwatiran akan keselamatan orang banyak.


Membuang rasa tak enak serta atas dasar panggilan hati nurani, akupun segera meraih helmku. "Mas ini mobil enggak apa apa di taruh sini." Tanyaku sembari membelokan motor.


"Tadi aku sudah menghubungi pihak bengkel." Meletakan bobotnya di belakangku, Mas Karang berhasil membuat gemetar tanganku karena gugup. Seumur umur, baru kali ini aku membonceng cowok. Pikirku.


"Lumayan agak lama perjalanannya." Ucap Mas Karang, entah itu untuk dirinya atau mengajakku bicara, karena aku memilih konsen ke arah jalan yang seakan memiliki gelombang tersendiri.


Sejam telah berlalu, aku mulai membelokan jalan keluar dari jalan raya. Memasuki jalan berbatu yang sudah persis sungai tanpa air, membuat Mas Karang melingkarkan tangannya di pinganggku dan itu berhasil membuyarkan konsentrasiku dengan sesekali mengelinjang geli.


"Mas, jangan kenceng kenceng pegangannya." Ucapku sedikit berteriak ke Mas Karang. Karena aku mulai menambah kecepatku di saat jalan mulai menanjak.


"Kamu naiknya motor extrem, Mawar." Balas Mas Karang juga sedikit berteriak.


"Pegangan belakang aja. Jangan pegangan sama Mawar."

__ADS_1


"Tidak bisa, penuh sama Ransel."


Akupun ahirnya hanya bisa mendesah keberatan tanpa bisa mengungkapnya kepada Mas Karang, hingga kami mulai bersalipan dengan beberapa relawan yang juga memasuki area bencana. Dan, tatapan mereka semua nampak heran dengan aku dan Mas Karang, jelas itu karena perempuan membonceng laki laki.


Tepat di area yang di sterilkan dengan beberapa Om Om Loreng yang menjaganya, Mas Karang menunjukan kartu aksesnya sebagai tenaga medis tanpa turun dari boncenganku. Lantas motorpun kembali melaju menuju tenda tenda pengungsian.


Tidak begitu jauh, sudah terlihat tenda tenda besar berwarna warni dan ahh, kenapa ini begitu menyedihkan saat suara tangis masih terdengar disana sini. Apa lagi saat orang orang hilir mudik antara yang di bantu dan membantu, dan evakuasi warga semakin banyak sementara relawan serta tim di lapangan kurang mencukupi.


Mas Karang segera turun dari motorku, begitu motor aku berhentikan tepat di pinggir lapangan, dan tanpa berkata kata Mas Karang segera melangkah meninggalkan aku yang masih sibuk menata motor agar tidak menghalangi jalan bagi orang lain.


Aku baru saja hendak membantu seorang wanita paruh baya yang terluka, sata tiba tiba ada yang menyerukan namaku dengan lantang dan saat aku menemukan si penyeru ternyata itu adalah Mbak Yesha. Mendekat ke arah Mbak Yesha, tanpa meminta persetujuanku Mbak Yesha segera menyuruhku untuk melakukan sesuatu yang membuatku syok seketika.


"Mawar, jangan berpikir macam macam. Disini ada nyawa yang harus kita selamatkan, aku minta kamu mengikuti seluruh petunjuk ku." Ucap Mbak Yesha begitu aku masuk tenda dan mendapati seorang ibu hamil tengah kesakitan terbaring di terpal di tanah. Kesakitannya lantaran mau melahirkan, itulah yang membuatku syok.


"Oke, tarik napas dalam dalam, War. Kamu pasti bisa." Ucap Mbak Yehsa menyemangatiku.


Ahirnya dengab kaki bergetar hebat, akupun mencoba untuk kuat demi ibu juga bayinya. Dan setelah hampir dua puluh menit lamanya berjuang dengan dada berdebar hebat, tangisan bayipun menggema di tenda kecil ini. Dengan kecekatan Mbak Yesha, bayi sudah merah itu sudah berada di depanku, Mbak Yesha menyuruhku membersihkan dengan kain bersih seadanya, sementara Mbak Yesha mengurusi Ibu Bayinya.


Aku menangis terharu, sembari memeluk bayi yang kini sudah ku bungkus dan menyerahkan kepada keluarganya yang berada di luar tenda. Ku sungingkan senyum kepada keluarga yang berucap terima kasih penuh ketulusan kepadaku, dan akupun hendak masuk kembali ke tenda lagi. Namun, langkahku seakan berat aku lakukan, karena aku merasa ada yang sedang mengawasiku.


Itu benar sekali, karena saat aku menoleh ke belakang aku mendapati Mas Karang dan Mas Karim tengah menatapku, dan kebahagiaan di tengah bencana ini kian membucah, saat terlihat di mataku senyum Mas Karang yang menunjukan kebanggaan terhadapku. Dan semoga itu bukan cuma firasatku saja.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Like, Coment dan Likenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2