Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Harus Egois


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Eh, War. Cepet bener. Belum juga sejam." Ucap Bia begitu melihatku masuk ke dalam kamar kami.


Benar yang di ucapkan Bia, belum ada satu jam aku meninggalkan Pesantren dan sudah kembali lagi. Dan ucapan Bia sebelum aku pergi keluar, bahkan juga terjadi. Awas pulangnya malah nangis, kalau bahagianya misterius gitu. Karma itu langsung di bayar kontan saat ini juga. Meskipun air mata belum menetes dari mataku, tapi badai telah lebih dulu mengamuk di dada.


Sesak yang ku rasa ini salah, andai aku mau sadar. Tapi hati ini terlalu banyak noda untuk mengakui bahwa menangisi seseorang yang bukan menjadi teman kita menjalani ibadah panjang, adalah hal yang sia sia sekaligus tidak di benarkan dalam agama.


Harusnya, aku tetap teguh dengan pola pandangku dari awal mengenai cinta di dalam hati. Bahwa tidak ada cinta yang lebih indah selain dari di tumbuhkan ketika seorang laki laki sudah menjabat tangan waliku. Jika, semua yang terjadi sekarang seperti ini, maka tidak ada alasan bagiku untuk mengeluh, apa lagi menyalahkan tulisan takdir. Karena jelas semua terjadi karena kesalahanku.


"Iya, Bi. Sudah selesai semua urusannya." Lirihku. Termasuk usai sudah segalanya dengan Mas Karang. Lanjutku membatin sendiri.


"Muka kenapa tuh. Perasaan tadi perginya berseri banget, kok jadi kusut gini. Kamu baik baik saja kan, War." Bia menangkup wajahku dengan kedua tangannya dan menatapku dengan kening berkerut sesaat setelah menelisik mimik ku yang berusaha untuk tetap tersenyum meski kaku.


"Kalau mau nangis, ya nangis saja, War." Lanjut Bia sembari menyentuh ujung mataku. "Nih lihat." Kata Bia lagi dengan menunjukan ujung jari telunjuknya yang sedikit basah.


"Aku tidak apa apa, Bi." Kilahku dan sengaja sekali memutus kontak mata dengan Bia dengan langsung mengalihkan tangan Bia lantas pergi menaruh tas slempangku di tempatnya.


Untuk sesaat Bia terlihat bingung. Tapi tidak berlangsung lama, karena aku segara mengupayakan agar terlihat biasa biasa saja dengan mengajak Bia lekas mengemasi barang yang hendak kami bawa sore nanti. Sekuat dan sebisaku, aku tak ingin Bia melihat kesedihanku dengan terus berbicara hal yang tak perlu sama sekali untuk di bicarakan hingga waktu berangsur angsur semakin mendekat dengan kepergian kami.


Matahari sudah tergelincir ke barat saat kami bertiga berdiri di pinggir rel dan ikut berdesakan dengan berpuluh puluh orang yang juga tengah menanti datangnya Kereta Api. Maklum Kereta Api ekonomi, jadi wajar saja jika yang mengantri juga banyak.


Masih stay dengan drama baik baik saja yang aku ciptakan, aku ikut masuk ke dalam Kerata Api dengan ikut hore selayaknya Bia dan Fatma. Tapi, jujur di dadaku terasa sesak dan rasa ingin menangis sangat besar sekali mendominasi. Namun, aku tak ingin membuat kedua temanku merasa tak enak hati, terlebih ikut merasakan sedih jika aku bercerita kepada mereka.


Patah hati, kenapa rasanya tidak mengenakan sekali. Dan yang membuatku tidak habis pikir, kenapa setiap indahnya cinta itu harus di selingi dengan rasa sakit pula. Kenapa tidak cukup dengan bahagia akan cinta saja. Mungkin karena setiap luka akan mengajarkan kita bahwa tidak ada yang abadi dengan cinta manusia, karena jika bukan terpisahkan oleh takdir yang tak berpihak, maka maut juga akan menjadi salah satu jalan.


Berlahan Kereta mulai meninggalkan Staisun, meninggalkan semuanya yang tak ingin bergerak bersamanya juah di belakang. Menghembuskan nafas dalam dalam, ku letakan tanganku di kaca dan mengukir ukir satu dua kalimat yang tak jelas untuk di lihat, namun cukup aku pahami.


Melupakan adalah jalan terbaik, dan membiarkan segalanya berjalan sesuai takdir. Dan berusaha melupakan yang telah berlalu, seperti Kereta yang meninggalkan satu Stasiun lantas berhenti di Stasiun baru dengan membuat cerita baru. Seperti itu pula yang aku inginkan.


Mas Karang, nama ini akan menjadi nama yang akan sulit aku lupakan kedepannya. Karena, kenangan serta cara kami berpisah tidak memiliki alasan untuk saling melupakan terlebih untuk membenci.


Andai aku mau menunggu atau Mas Karang mau datang kerumah maka akan jauh lebih mudah kerja jodoh, nyatanya sesuatu yang bukan menjadi tatanan dan persetujuan jauh sebelum aku menghirup nikmatnya kefanaan dunia tetap tidak bisa berjalan lancar meski sekuat hati mempertahankan.


"War, kamu yakin baik baik saja. Kamu mulai siang tadi kenapa sih, kok beda gitu." Ketus Bia dengan tiba tiba, hingga membuatku tergagap serta dengan cepat sudah menjatuhkan tanganku.


"Iya, perasaan dari tadi Mawar diem diem bae." Timpal Fatma.


"Aku baik baik saja, hanya sedikit mau mabuk karena AC." Kilahku, lalu dengan cepat sudah menjatuhkan kepalaku di bahu Bia sembari mengeluarkan ponselku dari saku ku, lantas mengelusnya dengan gelisah.

__ADS_1


"Allohu robbi. Naik kereta cuma sampai tiga stasiun juga." Bia mengusak jilbab di kepalaku. "Ya sudah merem gih, nanti tak bangunin." Ucapan Bia hanya ku jawab dengan anggukan sebagai tanda persetujuan. Namun, sesungguhnya meski mataku terpejam aku masih saja mendengar semua percakapan mereka berdua, hingga kami sampai di stasiun tujuan kami.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Malam berambat semakin larut, dan kami betiga sudah kembali ke rumah Fatma setelah sesi jalan jalan di taman tengah kota. Benar, rumah Fatma termasuk berada di pusat kota Kabupaten. Jadi, memilih ikut pulang ke rumah Fatma untuk liburan sesungguhnya hal yang tepat jika saja keadaan hatiku baik baik saja.


"War, aku yakin kamu sedang tidak baik baik saja." Ucap Bia membuyarkan lamunanku tentang Bulan yang tengah membulat sempurna dan menjadi penghias langit sehingga tampak penuh tanpa kekosongan.


"Hemmm." Jawabku masih tak ingin mengalihkan pandanganku dari langit.


"Aku serius, War." Lagi nada ketus Bia terdengar. "Kamu anggap aku apa, aku ini temanmu, War. Aku tau kamu banyak tekanan termasuk dari Ibu Kak Melatimu. Jadi, sekurangnya ajaklah aku berbagi. Mungkin aku tidak bisa memberi solusi, setidaknya aku bisa menjadi pendengar setiamu." Mata Bia telah berair begitu usai dengan kalimatnya.


Ku peluk erat tubuh Bia yang kini tengah tergugu dengan tangisnya. "Terima kasih, Bi. Aku hanya tidak terbiasa bercerita mengenai hal pribadiku." Hiburku ke Bia. "Aku butuh waktu untuk mencerna kejadian hari ini, sekaligus berpikir apa ini cukup pantas jika di ceritakan."


Melihat airmata Bia yang deras mengalir, membuatku ingin juga menumpahkan airmataku, namun jika ku ingat untuk apa airmataku akan jatuh, aku marasa sangat malu sekali. Airmata Bia tumpah untuk sahabat, sedang airmata yang hendak luruh dariku adalah airmata cinta buta terhadap anak manusia.


"Semua telah berahir hari ini, Bi." Lirihku setelah cukup lama kami sama sama diam.


Bia menatapku bingung. "Apa yang berahir.?" Tanya Bia.


"Hubunganku dan Mas Karang." Kali ini ku buang wajahku jauh dari telisik Bia yang menyirat tidak percaya dengan ucapanku.


Ku hela nafasku dalam dalam sebelum ahirnya bibirku pelan membuka hubunganku dan Mas Karang yang menjadi rahasia. Dan entah apa ini bisa di sebut benar, jika aku yang dengan sepihak memutuskan untuk mengakui hubunganku kepada Bia.


Pelan dan pasti, bibirku sudah menceritakan dari awal hubunganku dan Mas Karang mulai terjalin dan yang sekarang hanya tinggal kenangan saja. Dan bibirku baru terkatup saat usai menceritakan kejadian siang tadi, dimana hubungan kami aku ahiri.


"Setahun, kalian bisa merahasiakan ini selama setahun dan terutama dariku, War." Ucap Bia dengan nada masih heran, dan sejurus kemudian memandangku dengan intens. "Kamu anggap aku apa, War. Tega kamu, War." Lanjut Bia kali ini dengan nada yang boleh aku artikan jika itu kecewa.


"Maaf, Bi. Aku, aku hanya ti.."


"Aku tidak butuh kata maafmu, War. Aku hanya kecewa saja." Ucap Bia dengan nada dingin.


"Biiii.." Ucapku panjang dan tanpa bisa aku komando ahirnya airmataku meleleh juga setelah seharian aku coba untuk menahannya.


"Menangislah, War. Setidaknya kamu akan terlihat waras ketika seperti ini." Ketus Bia sembari meraihku dalam dekapannya dan memberiku kehangatan seperti yang oernah di berikan Kak Melati.


Ku puaskan mataku meneteskan badainya dan sesekali akan aku selingi dengan cicitan cerita yang belum usai aku jabarkan kepada Bia.


"Sekarang juga, jelaskan kepada Mas Karang, kalau sebenarnya bukan kamu tergesa ingin segera di lamar tapi semua karena kamu di paksa keadaan." Ucap Bia dengan segera memberikan ponselnya kepadaku.


Aku menggeleng pelan. "Kalau Mas Karang memang serius denganku, maka dia yang akan menghubungiku lebih dulu, Bi." Lirihku.

__ADS_1


"Mana ponselmu.?" Tanya Bia membuatku tersadar jika dari turun dari kereta api sore tadi aku lupa menaruh dimana ponselku. "Harusnya, kamu tuh jujur dulu sama Mas Karang. Kamu tuh kebiasaan apa apa di pendam sendiri, di kira semua orang bisa mengerti dengan diam mu apa." Cerocos Bia lagi.


"Bi, coba buat panggilan di nomerku." Tangan Bia langsung bergerak di layar pipihnya begitu aku selesai dengan ucapanku.


"Di luar jangkauan, War." Kata Bia begitu berulang ulang mendial nomer ponselku dan tetap sama hasilnya. "Tadi pas aku pukul tanganmu di Kereta Api kayaknya ngenai sesuatu yang terjatuh, jangan jangan itu ponselmu, War.!"


Aku berusaha untuk mengingat ingat dengan apa yang di ucapkan Bia, dan benar yang di katakan Bia, ponselku terjatuh tanpa aku sadari. "Bener kayaknya, Bi." Ucapku dengan nada lemas.


"Mending kamu telfon Mas Karang pakai punyaku aja nih." Bia mengangsukan ponselnya kepadaku. "Sekarang, harus, jika kamu masih ingin hubunganmu dan Mas Karang tetap berlanjut."


Pelan tanganku terulur juga meraih ponsel Bia. Dan aku rasa ini perlu aku lakukan sebagai upaya memperbaiki hubunganku dengan Mas Karang, sekaligus hal egois yang harus aku lakukan untuk menjadikan alasan dari tekanan Bu Mega. Namun, hingga sudah kali kelima nomer Mas Karang aku dial, sama sekali tidak ada respons darinya dan itu membuat keneranianku mengendur dengan sendirinya.


"Tidak di angkat, Bi." Ucapku sembari mengembalikan ponsenya Bia. "Lagian ini sudah malam."


"Terus, gimana.?"


"Besok sore aku akan menemuinya." Ucapku pelan.


"Aku setuju, akan ku temani besok." Bia menyemangatiku. "Sekarang yang di butuhkan olehmu dan aku adalah istirahat, karena ini sudah malam sekali." Lanjut Bia dengan menarik tanganku agar segera beranjak dari tempat dudukku.


Ya, biarkan saja aku egois satu kali saja dengan mengejar Mas Karang besok. Dan berharap Mas Karang juga bisa memberi solusi atas keterpaksaanku mengatakan hal itu siang tadi. Namun sekali lagi, semua tetaplah akan berjalan sesuai takdir. Jika, nanti apa yang di tulis takdir tidaklah seindah dengan harapku, dan tak menjadikan Mas Karang sebagai teman menjalani ibadah terpanjangku, aku tidak perlu mengeluh dan akan harus tetap tersenyum, karena sudah barang tentu Allah telah lebih dulu menempatkan orang yang lebih tepat di sampingku.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2