
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Siang dan malam terus berlalu, dan membawaku berada lebih dekat dengan kepulanganku. Tentu saja setelah menyelesaikan ujian dan ujian, serta mahar khusus berupa hafalan sebagai tiket untuk pulang. Oleh sebab itu, aku terus bersemangat agar aku dapat pulang tepat waktu.
Dua cangkir teh yang berada di atas nampan bergoyang pelan, seiring dengan langkah kakiku membawanya memasuki ruang tamu Ndalem. Ini bukan tugasku, namun karena Ibu Nyai yang memintaku, maka akupun dengan suka cita membuat serta menyajikan teh sesuai dengan perintah beliau.
Tawa renyah, itulah hal pertama yang aku dengar ketika memasuki ruang tamu dhalem. Dan tanpa berani mengangkat kepalaku tanganku sudah terulur menyajikan cangkir kepada laki laki paruh baya yang tengah bersanda gurau dengan Abah Yai.
"Terima kasih Mbak Mawar, silahakan kembali." Ucap Ibu Nyai. Mengangguk dalam akupun kembali memutar tubuhku kembali ke dapur.
"Kalem dan cantik." Sempat aku dengar kata kata dari Laki Laki paruh baya tadi sebelum ahirnya aku menghilang di balik tembok pembatas.
Sampai di pintu dapur langkahku berhenti mendadak, lantaran tepat di sebrangku juga sedang berjalan Mas Karim dengan sebotol air yang kemungkinan baru saja di ambilnya dari lemari es. Aku memilih menepi memberi jalan untuk Mas Karim.
"Lady's first." Ucap singkat Mas Karim, dan ku lihat dari balik kepalaku yang tertunduk kaki bersih Mas Karim yang menepi ke sebelah kiri.
"Terima kasih, Gus." Lirihku kemudian melangkah melewati Mas Karim. Aroma farfum Mas Karim menusuk indra penciumanku, anehnya aku seperti akrab dengan aroma ini. Dan sampai Mas Karim menghilang dari dapur, tetap aku tidak menemukan dimana aku pernah mencium aroma farfum tadi, hingga aku memutuskan mungkin memang itu aroma khas Mas Karim, yang beberapa kali aku pernah papasan.
Aku kembali ke kelasku, dimana ujian tengah berlangsung, dan mendapati Bia serta teman lainnya yang tengah khusuk dengan kertas kertas ujiannya. Mendudukan diriku, akupun juga ikut menenggelamkan diri dengan soal soal yang jauh lebih sulit dengan Matematika, bahkan lebih rumit dari perhitungan Kimia.
Jam masjid di Asrama Putra berdentang dengan keras tepat sebelas kali, itu juga sebagai pertanda bahwa ujian Fiqih kali ini harus segera usai. Sembari meregangkan otot otot tubuhku, akupun mengemasi alat tulis serta peratan yang lainnya, lantas segera bangkit dari tempatku saat Bia menghampiriku.
Mengantri keluar dari kelas, aku dan Bia menunggu giliran untuk bersalaman dengan Ustadzah yang bertugas siang ini. Dan setelah kelas hampir kosong barulah tiba giliran kami keluar.
Merangkulkan tangannya di bahuku, Bia memulai sesi introgasinya. "Jadi, ada apa di panggil Ibu Nyai.?"
"Di suruh buatkan teh untuk tamu." Jawabku jujur sembari mendekap erat kitap kitapku.
"Kok aneh." Celetuk Bia, dan sejurus kemudian memdahului langkahku lantas berhenti tepat di depanku sembari menatapku lekat lekat.
"Ada apa.?" Tanyaku heran.
Bia memegang dagunya sembari berpikir keras, membuatku semakin heran di buatnya. "Terus habis itu suruh ngapain lagi.?"
"Ya, enggak ada, cuma buat teh terus di sajikan sama tamu. Gitu doang." Jawabku.
"Ya robbi, bakal ada yang mau nyebar undagan habis ini." Kata Bia dengan satu tangannya menutup mulutnya. Aku semakin heran dengan sikapa Bia. Tiba tiba saja membahas soal undangan. Undangan apa juga tidak jelas.
"Udangan apa.?" Tanyaku ahirnya.
"Undangan pernikahan lah." Jawab Bia santai dan kembali berdiri di sampingku.
"Siapa yang akan menikah.?"
__ADS_1
Bia menatapku dengan pandangan jenaka. Mata bulatnya bergerak gerak memberiku isyarat, namun aku sama sekali tidak paham dengan maksud Bia. Makanya, akupun ikut mengerak gerakan mataku seperti milik Bia. Bia tertawa terbahak bahak dan segera menarik tanganku menuruni tangga dengan gerakan cepat.
"Pelan pelan, Bi." Semua santriwati sedang menatap ke arah kami berdua. Terutama ke arah Bia yang tengah tertawa riang, seolah olah dirinya tengah mendapatkan hadiah besar. "Kamu itu kenapa, tiba tiba tertawa kayak gini. Lihat deh, semua ngelihatin kita." Ucapku sembari menyuruh Bia memperhatikan di sekitar kami.
"Lagi seneng aja." Jawab Bia acuh tak acuh.
Aku berdecak sembari menggeleng pelan. "Heran, cepet bener anginnya berubah. Padahal tadi sebelum masuk kelas masih suntuk mikirin Fiqih, apa Kang Faqih, bisa jadi Kang Faiq." Selorohku, dan Bia terus saja terkikik.
"Aku masih setia untuk Gusse." Bisik Bia.
"Bungkus, kalau perlu di laminating biar awet." Jawabku dan tawa Bia makin menjadi jadi mendengar penuturanku.
Dengan sanda gurau, ahirnya kami sampai juga di kamar kami. Dan kembali terlibat obrolan halu yang jika di teruskan bakal tidak akan ada habisnya. Meraih mukena, akupun berniat pergi lebih awal ke Mushalla menunggu dzuhur disana. Karena, jika terus berada di kamar resikonya pasti akan ngantuk secara ini adalah jam jam krusial untuk rebahan.
"Bentar lagi napa sih, War. Masih enggap nih." Ucap Bia sembari meraih tanganku dan akupun ikut ambruk di kasur lantai dimana Bia sedang merebahkan dirinya.
"Tinggal beberapa menit saja. Enak ngadem disana." Jawabku.
"Sebentar lagi yah. Please.." Rengek Bia.
"Tumben bener manja." Singkatku.
Ku ulurkan tanganku meraih jadwal lomba serta kegiatan yang lainnya jelang liburan, ku susuri setiap detail ketentuan yang di buat oleh Panitia yang tak lain adalah para pengurus, baik itu pengurus putra maupun putri.
Akupun hanya mengangguk memberi jawaban untuk Bia, sementara mataku masih fokus dengan kertas di depanku. "Ada pembukuan yang harus di selesaikan sebelum aku pulang." Ucapku begitu ku lirik Bia masih terus menatapku dengan pandangan tidak setujunya.
"Ohh. Aku tuh heran sama kamu ya, War. Kok bisa bisanya kamu ngerjain pembukuan segala. Padahal secara lagika, kamu sekolah jurusan Tata Busana, bukan Akuntansi." Aku mengangkat bahuku ke atas sebagai jawaban tidak tau
Jujur, aku tidak tau saja. Karena menurutku semua bisa di pelajari. Tapi, jika soal Jurusanku yang Tata Busana, aku yakin itu pasti karena aku memang memiliki gen disana. Almarhumah ibuku dulunya seorang penjahit, jadi tidak mungkin jika aku tidak sedikit saja mewarisi itu, meski sebelumnya sempat aku tidak yakin juga.
"Nah, itu sudah Adzan." Ucapku, begitu terdengar suara Kang Wahib menggema di seluruh komplek Pesantren.
"Baiklah, baiklah. Ayo." Ucap Bia.
Kamipun beriringan kembali keluar dari kamar menyusuri koridor menuju ke Mushalla yang terletak di lantai dua. Mengantri untuk Wudhu kami masih sempat berbincang bincang barang sebentar, dan sesekali juga menyapa santriwati lainnya.
"Oh iya, Bi. Tadi kamu bilang bakal ada yang nikah, siapa.?" Tanyaku seusai kami wudhu.
Bia tidak lekas menjawab, justru menatapku dengan lekat dengan senyum yang terukir manis di bibirnya.
"Misterius sekali." Kataku lagi.
"Kura kura dalam perahu." Ucap Bia konyol sekali.
"Ya enggak renang dong kura kuranya." Jawabku dengan cekikikan.
__ADS_1
Bia terlihat merengut gemas ke arahku, dan segera mencubit pipiku seraya berkata. "Kamu yang bakal jadi manten."
"Sembarangan saja." Sergahku dengan cepat sembari menepis tangan Bia.
"Sembarangan gimana, tadi kamu di suruh ngapain di dhalem.?" Tanya Bia dengan serius.
"Suruh buat Teh."
"Kira kira, kenapa Bu Nyai menyruhmu membuat teh. Apa di dhalem kekurangan khadimah sampai sampai harus menyuruhmu." Aku menggelengkan kepalaku bingung dengan ucapan Bia.
"Dan kamu juga di suruh untuk menyajikan juga." Aku mengangguk saja, seperti tidak memiliki kata untuk memabantah kata kata Bia.
"Biasanya, kalau seperti itu cuma ada satu kemungkinan. Kamu sebenernya sedang di pertemukan dengan seseorang yang akan di jodohkan denganmu oleh keluarga dhalem. Makanya siap siap saja di panggil lagi dan langsung di nikahkan." Penjelasan Bia membuatku ternganga untuk sesaat. Kemudian lekas menutup mulut Bia yang sudah hendak mengeluarkan kata lagi.
"Ini asli ngarang. Mana ada seperti itu. Tamunya itu Bapak Bapak." Ucapku mendahului Bia yang hendak protes dan aku bergegas melangkah meninggalkan Bia lantaran suara iqomah yang menandakan bahwa shalat akan segera di mulai.
Terbersit juga di pikiranku, bahwa itu aneh. Tapi, jelas jelas tadi disana tidak ada seorang pemuda, masak iya Bapak Bapak tadi sedang mencari jodoh. Namun, saat mengingat perkataan Bapak tadi tiba tiba aku merasa ngeri sendiri. Memang jodoh itu sudah ada ya g mengatur dan sifatnya rahasia. Tapi, jika aku yang harus di jodohkan dengan Bapak tadi bukannya aku pantas jadi anaknya.
Aku semkin bergedik memimirkan kemungkinan yang tidak tau kepastiannya, hanya karena opini yang di giring oleh Bia. Tapi, jika itu benar benar terjadi, aku harus bagaimana.? Tawadhu' kepada guru dengan menerima Bapak tadi atau malah memilih cara tercela dengan mengecewakan dengan tidak megindahkan titahnya. Allahu robbi, Bia benar benar berhasil merasuki otak ku dengan pikiran yang tak sepatutnya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Bapaknya duda keren kali War yang lagi cari Gadis manis..😅😅😅😅
Like, Coment dan Votenya di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1