Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
KARANGSENO


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Khadijah, ahirnya ketemu juga." Ku tatap pemuda di sampingku dengan bingung sekaligus heran juga sekaligus penasaran. Aku menoleh ke arah Mbak Yesha dan pemuda di sampingku bergantian dan hendak mengeluarkan kataku untuk menyuarakan hal yang berisik sekali di otak ku.


"Say.." Belum sepenuhnya kataku keluar dari bibirmu tangan kiri pemuda itu sudah di ajungkan ke udara untuk mengintrupsiku agar diam sesaat. Kemudian mendekat ke arah meja dan meraih air mineral di atasnya.


Duduk di kursi samping Mbak Yesha, pemuda itu terus menegak air mineral dalam botol kecil di tangannya hingga tinggal separo, lantas pemuda itu kembali fokus ke arahku yang masih setia berdiri kaku dengan kebingungan.


Kembali berdiri, pemuda merogoh saku jas dokternya dan mengeluarkan sebuah tag name, lantas menyodorkan ke arahku sembari tersenyum simpul. "Ini punya kamu, Khadijah." Aku terbelelak sesaat melihat tag name yang kau cari cari ternyata berada di tangan pemuda asing.


"Mas Karang ini main ganti ganti nama orang." Celetuk Mbak Yesha yang sedari tadi diam juga ikut bingung. "Salah orang mungkin, Mas." Lanjut Mbak Yesha sembari menatap penuh permintaan penjelasan sama seperti denganku.


Pemuda yang di panggil Karang oleh Mbak Yesha, langsung memindahkan tag name yang belum ku terima ke arah Mbak Yesha. "Disini tertulis Khadijah. Fotonya juga ada." Kata Pemuda itu.


"Kiakak, ini kamu War.?" Mbak Yesha segera meraih tag name dari pemuda itu dan melihat foto pengenal Asramaku. Foto dimana aku masih teramat sangat dekil juga masih terlihat sisi tomboy di wajahku.


Aku menggaruk garuk kepala bagian belakangku yang sesungguhnya tidak gatal. "Iya, Mbak." Jawabku kalem.


"Parah banget kamu, War." Kata Mbak Yesha lagi masih dengan tawanya, hingga untuk sesaat aku melupakan maksud dan tujuanku datang ke Rumah Sakit ini untuk apa.


"Kok jadi, War. War siapa, kan disitu di tulis Khadijah.?" Kata kata pemuda itu kembali menyadarkan aku.


"Tak kenalkan Mas, biar enggak keliru panggil dan di cuekin sama orangnya." Kata Mbak Yesha lagi. "Eh, War. Duduk dulu, dari tadi berdiri terus." Tangan kiri Mbak Yesha menarik kursi di sebelahnya dan mempersilahkan aku untuk duduk.


"Tidak udah Mbak Yesha. Saya keburu buru." Ucapku sembari melirik jam yang melingkari pergelangan tanganku.


"Keburu buru mau kemana.?"


"Pulang, Mbak." Jawabku sembari merogoh tas slempangku dan tak lama mengeluarkan dompet milik Mbak Yesha.


Sempat ekor mataku mengangkap keterkejutan di wajah pemuda itu yang masih setia memegang tag nameku. "Ini Mbak Yesha, Mbak Yesha periksa, apa semuanya masih komplit." Lanjutku.


"Tidak perlu di periksa aku percaya sama kamu, War." Kata Mbak Yesha dan dengan cepat dompetnya sudah masuk ke saku kemejanya. "Sampek lupa, Mas. Ini yang ngelola Laundry yang tak rekomendasikan ke kamu.

__ADS_1


"Iya." Kata pemuda itu dengan nada kaget dan segera menatapku intens. "Tadi pagi aku kesana, kok enggak lihat." Lanjut pemuda itu dengan berpikir sejenak.


"Dunia ini terlihat sempit, ya." Katanya lagi.


Aku kembali melirik jam di tanganku. Hanya tinggal lima belas menit lagi. Bisik hatiku, dan akupun memilih segera meminta diri. "Maaf, Mbak Yesha saya benar benar harus segera pergi." Ucapku. "Mas boleh saya bawa tag name saya." Ucapku hati hati ke arah pemuda yang masih saja memegangi tag name yang tadi sudah di sodorkan kepadaku.


"Oh iya, iya ini, kalau tau kamu ada di Rumah Laundry aku tidak akan bingung terus mencari Khadijah." Ucap pemuda itu sembari menyodorkan tag name ke arahku.


Aku tersenyum simpul ke arah pemuda yang masih lekat memandangku hingga untuk sesaat aku merasa sedikit tidak enak hati. Mungkinkah ada kotoran di wajahku. Bisik hatiku.


"Mas Karang ini, sudah di bilang namanya bukan Khadijah." Sahut Mbak Yesha.


"Terima kasih, Mas. Sudah menyimpankan tanda pengenal saya. Meski nama Khadijah itu bagus, tapi itu hanya nama Asrama saya saja." Ucapku sembari meraih tag name yang tersodor ke arahku.


"Lah terus. War itu nama kamu.?" Kata pemuda itu lagi.


"Orang pinter mau kenalan saja kok repot bener, tinggal tanya saja kali Mas. Kok ruwet kesana sini." Timpal Mbak Yesha dengan cekikikan.


Ku balik tag nameku, dan memperlihatkan gambaran tanganku di belakangnya. "Ini yang nama saya." Ucapku pelan.


"Mawar.?" Katanya pemuda itu sembari menepuk jidatnya pelan. "Kok enggak kepikiran yah aku." Lanjut pemuda itu seraya tertawa.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Aku baru melintasi beberapa koridor saat langlahku kembali di sejajari oleh Mas Karang hingga membuatku memelankan langkahku dan kami kini benar benar berjalan beriringan.


"Ada apa Mas.?" Tanyaku setelah berjalan beberapa langkah Mas Karang hanya diam saja.


"Aku hanya melupakan satu hal yang selalu aku pikirkan sebelum bertemu denganmu, Mawar." Ucap Mas Karang.


Aku tak menjawab hanya menoleh sebentar ke arahnya sembari terus fokus ke arah jalanku. Karena jalan sudah mulai rame, dan orang di sampingku tengah sibuk dengan membalas sapaan orang orang menyapanya dengan ramah.


Tak terasa langkah kami sudah jauh, dan sudah jauh meninggalkan keramaian. Berbagai pohon buah menjadi pelindung panas alami di tempat parkir yang sedang tidak terlalu padat oleh kendaraan. Dan hingga sampai aku berada di samping motorku, Mas Karang masih senantiasa berada di sampingku.


"Mawar. Terima kasih waktu itu kamu sudah membantu saya. Maaf juga karena terlambat bilang terima kasihnya. Dan benar saran kamu mengenai mobilku waktu itu. Kamu benar benar bisa jado montir yang keren." Ucapnya dengan sungguh sungguh.

__ADS_1


"Akan kurang sopan jika hanya terima kasih berupa ucapan saja. Lain kali bisa makan siang bareng." Lanjutnya dengan membubuhkan senyum tipis di bibirnya.


Aku yang sibuk mengancingkan helmku, sampai harus meleset dan segera melambaikan tanganku ke udara. "Tidak, tidak perlu Mas. Tidak perlu repot repot." Ujarku.


"Tidak bisa begitu, aku sudah berjanji dalam hati soalnya. Juga ini sedikit memaksa."


"Saya tidak bisa Mas. Lagian saya ikhlas kok membantunya." Ucapku dengan terang. Aku hanya tidak ingin dikira suka mengambil kesempatan lewat pertolongan. Waktu membantunya dulu, aku benar benar tidak ada niatan apapun selain dari tergeraknya hatiku untuk menolong.


"Saya juga tidak kalah ikhlas mengajaknya makan bareng." Katanya lebih dengan nada penekanan yang tak ingin di bantah.


Aku bengong untuk sesaat, karena baru kali ini aku bertemu dengan seseorang yang tingkat kengeyelannya melebihi aku dan ini mengingatkan aku dengan Erik. "Aku bilangnya kan lain kali, sesempatmu saja. Dan jangan lupa kabari aku." Katanya dengan langsung mengambil ponsel dari saku celananya.


Aku meringis sejenak sebelum ahirnya mengucapkan maaf terus terusan. "Saya benar benar minta maaf, Mas. Saya tidak bisa memberikan kontak saya kepada orang asing, apa lagi seorang laki laki. Dan saya juga bukan yang setiap saat akan memegang ponsel, hanya waktu waktu tertentu saja."


"Iya baiklah, saya tidak akan memaksa untuk yang itu. Tapi, kalau soal makan siang aku akan tunggu kamu bisanya kapan."


"Saya juga tidak bisa janji, Mas. Biar apa kata Allah dan cara kerja Malaikat saja yang telah menulis akan hari esok." Ucapku dengan terpaksa. Toh, setelah ini pasti kebetulan bertemu juga belum tentu ada. Jadi, biarkan saja waktu yang menentukan.


"Aku suka itu. Biar apa kata Allah saja. Sampai lupa, kita belum berkenalan dengan bebar. Aku Karangseno." Di sodorkan tangannya ke arahku dan aku justru melipat tanganku di dada seraya menyebut namaku.


"Mawar Ayudia." Jawabku pelan.


"Nama yang bagus." Ucapnya sembari menyorokan botol kecil air mineral ke arahku. " Anggap ini sebagai DPnya. Cukup air putih saja, karena itu bagus untuk kesehatan juga perawatan Ginjal. Aku tau kamu taid belum semapt minum." Senyumku memudar mendengar ucapan Mas Karang.


Sudut hatiku sedikit tercubit akan ucapan sederhananya. Apa karena ihklas itu berat. Atau sebenarnya ikhlas itu tidak ada, bisa jadi karena di paksa oleh keadaan hingga lanbat laun ikhlas itu menetap di hati. Tapi, jika menyangkut Kak Melati aku tidak pernah pamrih apapun dan menjadikan landasan cintaku untuk Kak Melati sebagai patokan ikhlasku, karena cintaku untuk Kak Melati tidak ku patri di dalam hati, melainkan ku titipkan kepada sang maha cinta.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


__ADS_2