Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Luluh Lantak.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Aku menginginkannya malam ini." Jawaban Bang Daffa membuatku ikut menutup mata rapat seperti yang di lakukan oleh Bang Daffa.


Kali ini tidak ada lagi jalan bagiku mundur dan keluar dari gairah hebat yang sedang melanda kami berdua. Setiap sentuhan, setiap kecupan, setiap nafas panas yang menyentuh kulitku membuatku semakin meringan dan terbang tinggi di bawah kungkungan tubuh kekar Bang Daffa.


Aku meleleh seperti lilin yang terbakar, aku meringan seperti kapas yang tertiup angin, aku seperti air yang terbawa arus, arus gairah Bang Daffa. Aku hanya terus pasrah dengan sentuhan Bang Daffa yang memabukkan, hingga sesuatu yang selalu aku jaga dan aku banggakan di reguk oleh Bang Daffa dengan penuh kelembutan, dan aku melepasnya dengan ikhlas untuknya.


Malam semakin larut, hujan juga masih menjatuhkan dirinya dengan hebatnya, sementara dunia berselimut dingin, tapi tidak dengan kami berdua yang justru tengah di sulut api membara untuk sampai pada satu titik dengan peluh yang menjadi satu, karena tidak ada sekat lagi antara kulitku dan kulit Bang Daffa, kami menyatu di bawah selimut tebal yang menyembuyikan tubuh polos kami.


Kami terus berkejaran dengan rancauan dan nafas yang memburu. Di bawah remang lampu tidur kami seakan tengah meraup setiap kenikmatan dari penyatuan seperti seorang musafir yang menemukan air di tengah padang pasir.


Aku di terbangkan begitu tingginya oleh Bang Daffa dengan setiap kelembutannya, hingga rasanya enggan bagiku untuk kembali lagi ke bumi. Dan satu kata mantra membuatku semakin mengeratkan tanganku di bahu Bang Daffa agar aku tak terjatuh bersama ambruknya tubuh Bang Daffa dengan nafas yang masih memburu di ahir dari pertarungan kami menuju puncak.


"I Love You." Kata itu keluar terbata dengan nafas panas yang masih aku rasakan menempel di leherku, membuat dadaku ikut menghangat seperti sesuatu yang mengaliri rahimku. Tapi, hangat itu tak berlangsung lama. Karena Bang Daffa kembali membantingku dengan hebatnya, saat kata mantra itu di teruskan dan bukan di tujukan untuk ku.


"I Love You, Melati." Aku yang berada di bawahnya, aku yang menghangatkan ranjangnya, tapi orang lain yang di sebutnya. Seketika tubuhku kaku.


Jangankan menangis, menggerakan tubuhku saja aku tak mampu, hingga dengkuran halus Bang Daffa membuatku sadar bahwa Bang Daffa telah menyakitiku dan menghinaku begitu dahsyatnya hingga seluruh harga diriku luruh bersama air mataku yang kini sudah mulai menhaliri pipiku tak mamou terbendung lagi. Dia mengulang setiap rasa sakit yang di berikannya lebih dari pada yang bisa di tampung hatiku, dan mungkin saja akan abadi di memoriku.


Memunguti baju yang berserakan sembari menahan sakit di salah satu bagian tubuhku, aku tau ada yang jauh lebih sakit lagi dari segalanya, yakni hatiku. Hingga tanpa aku sadari air mata tak ingin meninggalkan mataku barang sejenak saja.


Memuaskan diri menumpahkan air mata di kamar mandi, aku terus mencoba agar aku waras. Jangan sampai ada darah yang mengalir salain dari darah yang mengering di sepray sebagai tanda kebodohanku yang terhanyut oleh gairah dan lupa diri.


Aku lupa, bahwa manusia hanyalah malaikat yang memiliki satu sayap saja. Dan hanya bisa terbang jika saling memeluk erat. Tadi, Bang Daffa mampu menerbangkan aku hingga sampai di tahapan mencapai awan dengan setiap kelembutannya.


Tapi, aku lupa. Konsekwensi terbang pastikah jatuh. Dan ketika Bang Daffa melepaskan rengkuhannya, aku menyadari aku telah terbang terlalu tinggi dan Bang Daffa tak lupa mengingatkan aku akan bumi. Aku jatuh sejatuh jatuhnya, hingga rasa yang ku punya luluh lantak tak berbentuk lagi. Aku mati rasa.


Katakan aku bodoh, karena masih bertahan di apartement ini hingga pagi datang bahkan masih mau menyiapkan sarapan untuk seseorang yang telah merenggut harga diriku seperti alas kaki baginya, hanya karena satu harapan bahwa akan terucap satu kata untuk mengembalikan harga diriku.


Tapi, hingga usai sarapan tak satu katapun keluar dari bibirnya dan justru sikap dingin yang aku dapati. Tidak sadarkah dia bahwa aku terluka begitu hebatnya karena ulahnya.


"Aku akan pulang ke rumah." Lirihku di ahir dari heningnya sarapan.

__ADS_1


"Pulanglah, aku akan disini beberapa hari lagi." Kalimatnya membuatku lekas bergegas pergi meski dengan satu harapan, bahwa akan terucap kata dimana hatiku akan luluh. Tapi hingga aku melangkah pergi, tidak juga aku mendapati kata itu.


"Jika kata maafmu begitu mahal untuk ku terima karena telah merenggutnya tanpa cinta, setidaknya ucapkanlah terima kasih kepada seseorang yang telah memberikan kesuciannya dengan suka cita karena terlena." Batinku sembari menatap pintu yang telah tertutup rapat seperti hatiku untuknya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Seminggu telah berlalu dan selama itu pula tidak ada sama sekali rasa yang bisa menyetuh dadaku, aku benar benar mati rasa oleh penghinaan Bang Daffa malam itu. Dan selama seminggu pula Bang Daffa belum kembali ke rumah.


Tidak tau mau bercerita dengan siapa, juga karena hal yang tabu untuk di ceritakan kepada orang lain, membuat aku semakin di landa stres, hingga itu berakibat pada menurunnya kesehatanku.


Dengan tubuh panas dan pusing yang seakan tak ingin meninggalkan kepalaku, ku paksa tubuhku bangkit dari sofa yang menopang tubuhku menuju pintu yang sedang di ketuk berulang ulang. Bukan main reaksi tubuhku, begitu melihat siapa orang yang tengah berdiri di hadapanku dengan wajah datar. Bang Daffa.


Menggeser tubuhku ke samping, tak ku biarkan hatiku mengulang rasa sakitnya, oleh sebab itu aku membiarkan Bang Daffa berlalu tanpa sepatah katapun juga tak ingin aku menanyainya. Dan aku memilih mengurung diriku di kamar setelahnya.


Malam datang dengan cepat, dan aku juga tidak ada niatan untuk keluar dari kamarku, hingga kembali ketukan pintu mebuatku bangkit dari tempat tidurku.


"War, kamu tidak masak.?" Tanya Bang Daffa dengan wajah datar, seolah olah aku adalah seorang pembantu baginya. Tidak inginkah dia bertanya bagiamana keadaanku setelah malam itu. Nyatanya aku yang terlalu meninggikan hatiku.


"Tidak." Jawabku sembari hendak menutup pintu kembali, namun segera di halangi oleh Bang Daffa yang langsung masuk ke dalam dan melihat beberapa barang yang telah aku siapkan hendak aku bawa pergi besok sesuai rencanaku.


"Aku akan pergi." Lirihku. "Itu yang aku ingin katakan dimalam seminggu lalu." Lanjutku dengan sengaja melihat mata Bang Daffa agar dia tau bahwa aku butuh penjelasannya. Aku ini apa baginya.


"Pergi, ini bel.." Harapan tinggalah harapan, aku rasa Bang Daffa tidak ingat kejadian malam itu.


"Bertemu dengan Kak Melati adalah anugrah terbesar dalam hidupku, kemudian perlahan milik Kak Melati berpindah kepadaku. Dan menjadi bagian dari Adit juga Bang Daffa merupakan kebahagiaan yang tak ternilai besarnya. Tapi, menempati tempat yang bukan miliknya bukanlah kebahagiaan yang sesunguguhnya, apa lagi ada keterpaksaan di antara salah satunya. Seperti janjiku, semua telah aku kembalikan pada tempatnya. Jadi ayo kita berpisah." Dengan lancar kata itu keluar dari bibirku, dan itu sukses membuat rahang Bang Daffa mengeras.


"Setelah kamu berhasil memanjat ranjangku." Ucapan Bang Daffa menambah sayatan luka yang masih memerah darahnya. "Kenapa kamu hanya diam, Mawar. Karena begitu inginnya aku menyentuhmu, sampai sampai kamu rela menghangatkan ranjangku di saat kamu tengah datang bulan."


Tanganku mengeras meremas ujung jilbabku, dan sudah ingin terulur menampar wajahnya yang juga tidak kalah merendahkan aku seperti kata katanya. Tapi, aku tak ingin menodai tanganku seperti dirinya yang telah ternoda di hatiku.


Aku ingat, bahwa Bang Daffa sangat membenciku saat aku tengah berusaha agar tetap tersenyum di depanya, oleh sebab itu ku sunggingkan senyumku untuknya sembari berkata pelan. "Bukankah Bang Daffa tau persis bahwa itu yang pertama buatku."


Rahang Bang Daffa semakin mengeras dan matanya menatapku nyalang. "Katakan berapa yang harus aku bayar sebagai konpensasinya, harga dari keprawananmu." Sumpah demi apapun, aku tak ingin lagi bertemu dengan orang yang bernama Daffa setelah ini ataupun nanti di kehidupan yang lainnya andai itu ada.


"Dalam perpsektifmu, rasa yang aku miliki tak lebih rendah dari debu. Kemarin aku masih berharap ada kata lain yang keluar dari bibir Bang Daffa, orang yang dulu pernah aku kagumi. Dan aku juga sempat berpikir akan meminta hal lain dari Bang Daffa. Tapi, kali ini aku yakin, aku ingin hal lain selain dari perceraian." Kataku dengan nada yakin meski dadaku terasa sangat sesak di buat olehnya.

__ADS_1


"Baik, aku akan menceraikanmu. Dengan begitu kamu tidak perlu menempel denganku lagi. Katakan tuntutan apa saja yang kamu inginkan, agar semua bisa di urus dengan cepat oleh tim pengacaraku." Jawab Bang Daffa dengan nada tak kalah yakin.


"Tidak ada, cukup ceraikan aku." Aku tidak pernah menyangka, bahwa akulah orang yang berada di pihak yang mengahiri. Tapi kenapa ini masih terasa sakit dan menyesakkan, hingga airmata yang selalu aku tahan agar tak keluar di hadapan Bang Daffa ahirnya dengan sendirinya berhianat kepadaku dengan luruh tanpa bisa aku bendung.


Aku hanya ingin memiliki harga diri di depan Bang Daffa, oleh karena itu aku tak ingin meminta terlebih lagi memohon agar Bang Daffa memperbolehkan aku tetap tinggal di sampingnya. Aku ingin memiliki sisa harga diri di hadapan Bang Daffa, dengan mengambil keputusan bahwa berpisah itu lebih baik dari pada harus selamanya hanya menjadi bayangan.


"Biar aku yang anjak kaki dari sini. Kamu bisa memiliki rumah ini sebagai konpensasi dariku." Ucap Bang Daffa dengan nada marah, yang itu harusnya aku yang melakukanya, karena akulah yang paling di rugikan. "Satu lagi. Kamu tidak perlu datang ke persidangan, karena akan lebih cepat jika tidak ada mediasi."


Tidak tau seberapa besarnya luka yang di sebabkan oleh Bang Daffa. Tapi, aku menyakini bahwa setiap luka pasti akan menemukan obatnya. Begitupun denganku.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


😭😭😭😭😭😭 Racun, racun, racun...


Like, Coment dan Votenya selalu di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2