Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Tetaplah Figuran.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Busa dari spon yang aku gunakan untuk mencuci piring berkumpul menjadi satu di tanganku. Meninggalkan ruang keluarga dan memilih menenangkan diri di dapur setelah usai makan malam, setidaknya memberiku celah untuk menghindari Mas Karang.


Kenapa Mas Karang harus sesantai tadi, terus membayangiku. Apakah kiranya yang di sampaikan oleh Mas Karim dan Bia kepadanya, ikut menari serta di pikiranku. Harusnya mereka berdua jelas tidak akan mengatakan lebih karena mereka hanya tau aku menikah secara mendadak.


"Bunda belum selesai. Adit sudah ngantuk." Suara Adit menyadarkan aku dari keruwetan spikulasi seorang diri.


Aku berjongkok setelah mencuci tanganku dari busa, lantas meraih tubuh Adit dan mendudukannya di kursi kecil. "Adit tunggu sebentar ya."


Mendapat anggukan dari Adit, aku bergegas menyelesaikan pekerjaanku yang harusnya sudah selesai dari tadi.


"Apa kabar.?" Suara yang tiba tiba datang membuatku menghentikan pergerakan tanganku yang hendak meletakan gelas dan itu di ikuti juga oleh dadaku yang berdenyut ngilu. "Kamu terlihat kurusan, Mawar."


"Prang.." Gelas yang sedari tadi aku coba untuk cekal erat meluncur jatuh juga dari tanganku begitu mendengar lanjutan kata kata Mas Karang.


"Adit diam di tempat saja." Kata Mas Karang dengan cepat melangkah ke arah Adit begitupun juga denganku. Dan kami sama sama sampai di tempat Adit secara bersamaan.


"Jangan takut ada Bunda disini." Lirihku dan membuat Mas Karang memundurkan dirinya begitu mendengar ucapanku.


"Bunda berdarah." Ucap Adit dan benar saja dingin di kakiku yang semula aku kira air ternyata adalah darah segar.


"Tidak apa apa hanya luka kecil." Jawabku.


"Apa yang pecah.?" Kata Bang Daffa yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Ayah, Bunda berdarah." Adu Adit.


Bang Daffa ikut masuk ke dapur dan berdiri tepat di sampingku. "Duduklah biar ku periksa." Ucap Bang Daffa.


"Hanya luka kecil, tidak apa. Adit sudah mengantuk, lebih baik sampean bawa Adit ke kamar. Saya bersihkan dulu pecahan gelasnya."


"Adit biar tidur sama aku." Timpal Mas Karang. Mas Karang langsung mendekat dan hendak meraih Adit.


"Tidak, tunggu sebentar. Kamu yang Dokter, jadi minta tolong kamu periksa kaki istriku dulu. Biar Adit tak bawa ke kamar sekalian aku ambilkan kotak obat." Cegah Bang Daffa.


"Hanya luka kecil, aku bisa berihkan sendiri lukanya." Jawabku.


"Kamu itu selalu seperti itu, nanti bisa infeksi kalau masih ada pecahan kacanya di dalam. Biar Daffin yang bersihkan." Tegas Bang Daffa dan aku tau persis nada ini adalah nada tak ingin di protes. " Lekaslah duduk, War." Lanjut Bang Daffa begitu Adit sudah di gendongnya.


Sepeninggal Bang Daffa, aku langsung berdiri dan hendak menggambil sapu guna membersihkan pecahan gelas. "Duduklah dulu, Mawar. Biar aku lihat seberapa dalam luka di kakimu." Ucap Mas Karang mencegahku.


"Hanya luka kecil, tidak perlu lebay." Ucapku.


"Aku minta duduklah, Mawar." Aku tak mengindahkan ucapan Mas Karang. "Aku bilang duduk." Mas Karang langsung mencekal tanganku dan mendudukan aku dimana aku duduk tadi.


"Hargailah orang yang perhatian terhadapmu, dan itu adalah suamimu." Entah kenapa nada bicara Mas Karang seperti sembilu yang mengiris tipis kulitku.

__ADS_1


Ku giring kepalaku menatap Mas Karang yang tengah fokus membersihkan luka di telapak kakiku. Dan aku masih tidak mengerti dengan apa yang di pikirkan olehnya.


"Sepertinya ada masalah dengan trombisitmu, makanya darahnya susah membeku." Ujar Mas Karang. "Kenapa terus menatapku seperti itu." Mas Karang ahirnya menyadari bahwa aku terus memperhatikannya.


Aku tak menjawab, tapi juga tidak pula membuang tatapanku dari Mas Karang, begitu juga dengan Mas Karang. Hingga untuk beberapa lamanya aku dan Mas Karang tetap mengisi bayangan masing masing.


"Bang Daffa orang yang baik, Mawar. Dan terlihat bahwa dia mencintaimu, dia juga sudah mapan." Ucap Mas Karang pelan begitu dia membuang tatapannya dariku.


"Lalu di sisi mana tempatku berada di hati sampean. Apa begitu mudah rasa itu pergi." Jawabku dengan berani.


Mas Karang berbatuk sekilas kemudian berdiri menjulang didepanku sebelum ahirnya mencuci tangannya. Bersandar di kitchenset Mas Karang melipat tangannya di dadanya.


"Kamu bertanya dimana tempatmu, Mawar.?" Tanya Mas Karang.


Lama berdiam diri, ahirnya aku mengangguk sebelum ahirnya aku memutus tatapan ini dengan menunduk dalam, merasa malu dengan sikapku barusan.


"Kamu tetap menjadi wanita yang aku kagumi." Ucapan lirih Mas Karang mengembangkan kembali hatiku. "Menjadi seorang ibu sambung yang di sayangi anaknya itu bukan perkara mudah. Menjadi Istri yang di sayangi keluarga suami itu bukan hal gampang. Terlebih menggeser dan menempati hati kemudian bisa menata kembali semuanya, itu termasuk hal yang istimewa. Oleh sebab itulah aku masih mengagumimu, Mawar." Mas Karang menjeda ucapannya dengan helaan nafas dalam.


"Jujur, aku sempat kecewa saat Mas Karim bilang bahwa kamu telah membina rumah tangga. Bahkan dalam hatiku, sempat aku pikir ingin merebutmu dari suamimu sebelum aku tau siapa yang telah berani mencurimu dariku. Tapi, saat ku lihat senyum Bang Daffa, antusiame Adit, dan curahan cinta dari keluargaku. Aku ikut bahagia untukmu, Mawar."


"Apa sampean yakin bahwa aku bahagia.?" Lirihku.


"Aku tau persis Abangku. Dia pasti mampu mencukupi segala kebutuhanmu, bahkan apa yang kamu inginkan."


"Jika yang aku inginkan adalah sampean..?"


"Apa sampean benar benar bahagia melihat aku menjadi ipar sampean.?"


"Bukankah sudah aku bilang tadi."


"Apa masih ada rasa untuk ku.?"


"Jaga ucapanmu, Mawar. Jangan buat aku kehilangan respeck untuk mu, karena kelakuan rendahan seperti ini. Ingat aku adalah iparmu."


"Aku tau." Lirihku kemudian berdiri dari duduk ku dan berjalan menjauh dari Mas Karang.


"Pertahankan, apa yang telah kamu miliki Mawar. Genggam erat, karena apa yang sudah pernah lepas, sekali waktu dia kembali, maka tidak akan pernah sama lagi."


"Ada pertimbangan yang cukup alot pada seorang wanita ketika memilih menduakan perasaannya. Pertama, mungkin rasanya memang tidak ada harganya, atau memang sebenarnya harga dirinya serendah dari cinta yang di pertahankan." Ucapku tanpa menoleh lagi.


Aku tau sikap yang di ambil Mas Karang benar, dan sebagai seorang yang berpendidikan serta menjaga persaudaraan, itu akan wajar di lakukan oleh Mas Karang. Tapi, yang membuat aku kecewa adalah, kenapa dia tidak mau egois sedikit saja dengan memikirkan bahwa aku menginginkannya.


Aku bahkan sampai begitu menunjukan kebodohanku dengan merendah serendahnya di depannya. Tapi, apa yang aku dapat. Sebuah kekecewaan. Apa ini akan cukup sepadan denganku, karena telah menghianati kepercayaan Bang Daffa yang telah berusaha untuk menerimaku.


"Lama sekali.!" Suara bariton Bang Daffa langsung membelah gendang telingaku, begitu aku masuk ke dalam kamar.


"Itu, tadi."


"Cepat kemari, biar aku lihat lukamu."

__ADS_1


"Hanya luka kecil."


"Aku bilang kemari biar aku lihat lukamu." Nada dingin yang keluar dari bibir Bang Daffa membuat aku tak berani membantahnya.


"Daffin Dokter hebat bukan. Di usianya yang ke dua puluh tujuh, dia sudah menjadi Dokter spesialis." Aku menatap Bang Daffa yang tengah memangku kakiku. Aku mencium ada yang tidak beres dengan ucapannya.


"Makanya, dari awal bertemu tadi matamu seakan enggan meninggalkan dia." Deg, Aku tak seharusnya meremehkan insting Bang Daffa sebagai Pengacara yang sering membaca gerak tubuh seseorang.


"Em, aku, aku."


"Tidak perlu kamu jelaskan, War. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku tidak suka ada penghianat, apa pagi penghianat kepercayaan. Jangan sampai aku menemukan buktinya dengan sendirinya."


"Tapi, ak."


"Diamm. Aku muak denganmu, Mawar." Bentak Bang Daffa. "Kamu boleh bermain main dengan laki laki manapun yang kamu suka, asal itu bukan satu dari keluargaku. Terutana Daffin, jauhi dia. Enyahkan tatapan serakah terhadapnya, karena kamu tidak pantas dengannya."


"Bang Daffa." Bang Daffa langsung menatapku dengan tatapan tak sukanya, lantas menyeru lantang. "Aku dan Mas Karang sud."


"Ohh, kamu langsung membuat nama panggilan akrab rupanya. Hebat sekali." Ejek Bang Daffa tanpa mau mendengarkan penjelasanku. "Sekali rendahan tetap rendahan."


"Itu karena sampean tidak benar benar memberiku tempat di samping sampean." Jawabku dengan berani.


"Tempat, bukankah semua tempat sudah kamu ambil." Aku tidak yakin jika kemarahan Bang Daffa hanya karena menganilisis tatapanku dan Mas Karang, atau sebenarnya dia telah mengetahui sesuatu. "Kamu telah mengambil semua tempat Melati, apa itu tidak cukup, hah."


Deg, deg, deg. Dadaku berdetag cukup kencang karena ahirnya Bang Daffa kembali menyebut nama Kak Melati, dan aku sadar figuran tetaplah menjadi figuran.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By:Ariz Kopi.


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2