
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Adakah orang yang mudah berubah dengan cepatnya.? Tidak ada yang mungkin jika Allah berkehendak membalikan hati manusia yang semula membenci lantas mencintai. Ragu, sudah pasti.Tapi pagi ini, setelah jejak hangat bibir Bang Daffa tertinggal di keningku, seluruh keraguanku menguap seketika.
Seperti Bang Daffa yang berubah dengan ceptanya dalam seminggu ini, hatikupun sama setelah kepergian Bang Daffa pagi ini. Dan ada rasa bersalah yang tiba tiba muncul dengan kurang kesabaranku dengan menumbuhkan rindu kepada orang lain.
Duduk termenung merenungkan kejadian pagi ini rasa bersalahku semakin bertambah, saat Adit yang tiba tiba berlarian mengacungkan ponselnya kepadaku. "Bunda, Bunda. Ayah telfon mencari Bunda."
Dengan tidak percaya ku tempelkan benda pipih di genggaman ke telingaku. Dan selama setahun menjadi istri Bang Daffa, baru kali inilah Bang Daffa menelfonku. Yang bahkan, dalam kontak ponsekupun aku tak memiliki nomer ponsel pribadinya.
"War, apa kamu sibuk siang ini.?" Tanya Bang Daffa.
Mengontrol luapan emosi bahagia, aku menarik nafasku dengan dalam untuk menjadi penetral. "Hanya bersih bersih rumah." Jawabku seadanya dan tanpa menambahkan kebohongan barang sedikit saja. Karena memang hanya itulah pekerjaanku selama setahun ini. Menjadi Ibu rumah tangga.
"Bisakah kalau aku minta tolong." Nada ini sangat lembut dan baru kali ini aku mendengar nada suara Bang Daffa yang lembut setelah Kak Melati tidak ada. Aku terbuai.
"Katakan saja, Bang Daffa."
"Ini akan merepotkanmu, War. Apa kamu tidak keberatan.?" Ucap Bang Daffa lagi masih konsistent dengan nada lembut.
"Katakan saja."
"Aku tidak enak, War." Ucapan ini seperti seorang kekasih yang tak ingin merepotkan pacaranya saja. Dan ini sukses membuat dadaku tiba tiba menghangat dengan sendirinya. Begitu mudahnyakah hatiku berbelok..?
"Tidak apa Bang, selagi aku bisa kenapa tidak." Kali ini hangat itu tidak hanya di dadaku belaka, tapi menjalar juga di pipiku.
"Baiklah kalau kamu memaksa." Bang Daffa menjeda ucapannya. "Aku ingin makan siang bersama staf yang lain, dan tadi aku merekomendasikan masakanmu. Jadi, bolehkah jika aku minta tolong untuk kamu memasakkan kami disini, sekalian mengantarkannya."
Aku tersenyum simpul sembari menoleh jam yang mengantung di dinding. "Makan siangnya jam berapa.?" Tanyaku.
"Seperti biasa, di jam istirahat siang. Antara jam setengah satuan." Jawab Bang Daffa. "Tapi kalau kamu tidak bisa tidak masalah, War. Lagi, ini sudah hampir jam sebelas. Sebab itulah, aku merasa tidak enak tadi." Lanjut Bang Daffa lagi.
"Orang berapa, dan mau makan apa. Kalau ada persediaan di lemari es, aku rasa akan cukup waktunya." Aku berdiri dan langsung berjalan ke arah dapur dimana lemari es berada. Entah ada rada tak ingin mengecewakan Bang Daffa yang baru pertama kali meminta tolong kepadaku.
"Delapan dengan Satpam. Terserah kamu saja, yang terpenting ada dua jenis sayur dan satu daging atau ikan." Aku manggut manggut mendengar penuturan Bang Daffa.
"Oke, ini mencukupi. Sebelum jam setengah satu aku akan tiba disana."
"Serius.?" Tanya Bang Daffa dengan nada tak percaya.
"Serius, Bang Daffa bisa percaya padaku."
"Terima kasih banyak, War. Ya sudah aku lanjutkan kerajaanku. Jangan lupa belajarlah mencintaiku. Tutt." Panggilan langsung mati setelah Bang Daffa usai dengan kalimatnya.
Tidak ada kesempatan bagiku untuk berdebat dengan hatiku sendiri, terlebih untuk berdebat dengan Bang Daffa yang mengatakna agar aku belajar untuk mencintainya. Bukankah seharusnya aku yang mengatakan hal itu kepada Bang Daffa, mengingat perasaan Bang Daffa masih untuk Kak Melati.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Jam menunjukan pukul dua belas kurang sedikit, dan semua masakan telah siap di dalam kotak masing masing, tinggal menunggu taksi online yang aku pesan saja untuk mengantarkannya.
Adit juga sudah siap meski dengan kantuk yang susah untuk di hilangkannya, karena memang ini sudah masuk jam tidur Adit. Adit terpaksa aku bawa, lantaran tidak ada yang di titipi.
Meneteng dua tas besar dengan Adit yang lemas dalam gendonganku, membuat peluhku bercucuran menembus jilbab intas yang aku kenakan. Jika orang menganggap aku seperti seorang pembantu, maka itu tidak akan aku salahkan. Karena, saat melintas di cermin besar dan memperlihatkan penampilanku, akupun akan setuju dengan pendapat orang itu.
"Mari saya bantu, Mbak." Kata seorang Satpam begitu aku melintas di pos jaga. "Mbaknya ada kepentingan apa, kok sampai nekat bawa bawa seperti ini." Lanjut satpam itu.
"Ini pesanannya Pak Daffa."
"Oh, baik saya mengerti. Mari saya antar sampai dalam." Ucap Satpam tersebut lantas segera meminta diri begitu aku sudah sampai di depan pintu utama.
Aku terus mengedarkan pandangaku keseluruh ruangan, dan tampak sepi. Akupun langsung menuju ke ruangan Bang Daffa. Sama, disanapun sepi tidak ada orangnya.
Ku dudukan diriku di sofa panjang, lantas mengendurkan gendongan di pundakku dan membiarkan Adit tetap dalam pangkuanku. "Pegal juga." Ucapku pelan sembari memijat bahuku bekas gendongan Adit.
Sepuluh menit berlalu, tidak ada tanda tanda Bang Daffa akan datang. Duduk sendiri tanpa aktifitas di tambah menanggung beban di pangkuan, membuat mataku ikut berat dan lambat laun seluruh cahaya sirna begitu saja.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, yang pasti aku membuka mataku dengan paksa saat ku rasakan sebuah tangan dingin menyusuri pipiku di sertai desisan kebencian. Begitu mataku benar benar terbuka, dan seluruh ingatanku kembali, aku mendapati Bang Daffa yang tengah berada cukup dekat denganku.
Ingatan tentang Bang Daffa yang beringngas merebut ciuman pertamaku, saat mata Bang Daffa terus memindai wajahku lekat lekat. Dan tatapan ini, aku sungguh takut sekali hingga membuat bulu kudukku meremang karena sangking dinginnya atmosfir yang di ciptakan oleh tatapan Bang Daffa.
"Maaf membangunkanmu." Apa mungkin aku tadi berhalusinasi, karena apa yang aku lihat saat ini justru tatapan hangat Bang Daffa.
"Maaf, aku ketiduran." Ucapku sembari memindahkan letak kepala Adit karena tanganku terasa kebas. "Jam berapa sekarang.?"
"Ya Allah, cukup lama juga aku tertidur." Ucapku.
"Hemm, tidak mau, mau seperti ini saja." Rengek Adit saat aku mencoba memindahkan bokong Adit.
"Sebentar saja sayang." Ucapku.
"Tidak mau, tidak mau, tidak mau." Rewel Adit khas bangun tidur. Dan ini biasanya akan terjadi cukup lama jika tidur Adit terganggu.
"Biarkan Adit sebentar." Cegah Bang Daffa saat aku hendak memaksa Adit turun dari pangkuanku.
"Tapi, makan siangnya."
Tatapan Bang Daffa berubah penuh penyesalan. "Maaf, kami sudah makan siang di luar tadi. Aku sudah berupaya menelfon di nomer Adit, tapi sedang berada di luar jangkauan."
"Ponsel Adit sengaja aku matikan." Jawabku.
Kami sama sama diam dan tak berapa lama Bang Daffa berjalan kembali ke arahku sembari mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya.
"Mana ponselmu.?"
"Ada di dalam tas." Ucapku sembari menunjukan tas yang masih terslempang di bahuku.
Tangan Bang Daffa terulur mengambil ponselku. "Apa kata sandinya."
__ADS_1
Aku terkesiap lantas berujar lirih sarat akan rasa bersalah. "Khadijah."
"Khadijah..?" Tanya Bang Daffa heran tapi tanganya masih fokus mengetikan sandi yang aku berikan padanya. "Kenapa dengan Khadijah.?"
Ku tarik nafasku dalam dalam. "Karena aku suka nama itu." Jawabku berbohong.
"Bukan karena ada hubungannya dengan masalalumu.?" Telak Bang Daffa sembari menatapku.
Aku kesusahan menelan salivaku hanya dengan tatapan yang di layangkan oleh Bang Daffa.
"Kamu tau semua tentangku, Mawar. Dan seluruh masalaluku. Aku rasa itu tidak adil jika kamu tidak memberi tauku." Ucap Bang Daffa.
Aku semakin diam dan terus menerus memainkan kedua ibu jariku bertanda bahwa aku sedang bingung ingin menjawab bagaimana.
"Tidak hari ini, mungkin lain waktu." Lanjut Bang Daffa santai sembari mengembalikan ponselku. "Aditama."
"Apanya.?".
"Sandimu yang baru. Dan aku rasa wallpapermu juga sangat jelek."
"Apa.?"
"Cup, cekrek." Satu kecupan mendarat di pipiku berbarengan dengan kilatan flas dari kamera ponselku yang sudah kembali berada di tangan Bang Daffa. "Ini baru bagus." Kembali Bang Daffa mengembalikan ponsel kepadaku yang masih membeku dengan perlakuan Bang Daffa.
"Aku nanti akan pulang terlambat, jadi tidak perlu menungguku pulang." Lanjut Bang Daffa dengan nada santai sembari berdiri dan berjalan pelan menuju pintu meninggalkan aku yang masih membeku berdebat dengan perasaanku.
Apa aku harus mempertahankan perasaanku untuk Mas Karang yang belum ada kejelasan, atau kembali menumbuhkan rasa untuk Bang Daffa yang sudah terikat dalam pernikahan serta halal adanya. Jika Bang Daffa berlaku seperti sekarang bukan tidak mungkin itu adalah jawaban dari do'a do'aku selama ini. Tapi, memindahkan perasaan itu bukan perkara mudah. Kecuali Allah telah mengatur segalanya dan membuatku dalam delema.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like Koment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1