Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Bukan Pernikahan Impian.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Semesta memang telah mengatur segalanya, dan aku hanya bisa mengikuti alurnya. Seperti cerita hari ini yang membuatku duduk dengan pergulatan batin yang cukup hebat, namun aku tak ada daya untuk mengungkapkannya. Semua demi senyum orang orang yang mengelilingiku, terutama anak manis yang tak ingin lepas dariku.


Tidak ada baju megah ataupun pelaminan bak singgasana Raja yang berdampingan dengan sang Ratu di sebelahnya. Semua terlihat begitu sederhana, sesederhana gamis putih bersih dengan jilbab Syar'i yang aku kenakan, begitupun dengan acara Ijab Qobul yang baru saja usai di laksanakan. Tapi, meskipun demikian semua tampak bahagia dalam kesederhanaan.


Apa ini pernikahan impianku.? Jika ada yang menanyakan itu padaku, jelas jawabku tidak. Karena setiap wanita menginginkan pernikahan itu hanya sekali saja seumur hidup, oleh sebab itu momentnyapun ingin yang benar benar bisa di kenang di sepanjang masa. Tapi sekali lagi, manusia hanya bisa berencana dan Allah yang memiliki kehendak menentukan segalanya.


Seperti rencanaku yang menginginkan Mas Karang untuk alasan menemani sisa umur yang tersisa dengan ibadah indah lalu merenda hal bahagia bersama, namun Allah justru mengahdirkan Bang Daffa sebagai jawaban atas do'a yang dulu pernah aku langitkan sebelum nama Mas Karang yang ku sebut.


Andai semua bisa di putar ulang kembali, maka memilih memendam perasaan suka kepada Mas Karang jauh lebih baik. Karena, baik cinta yang terbalas atau cinta yang tinggal dalam diam dan tak pernah sampai pada tujuannya, pada ahirnya semua hanya tinggal kenangan.


Jika aku memilih diam saat itu, mungkin apa yang aku rasakan saat ini tidak akan segalau ini. Dan kehadiran Bang Daffa juga tidak akan sememaksa dalam hati. Tapi tidak ada yang bisa menolak takdir dari Allah, begitupun denganku. Bagaimanapun dan apapun keadaanya, Bang Daffa mulai detik tadi setelah mengikrarkan perjanjiannya dengan Allah, maka dia berhak sepenuhnya mendapat hormatku dan segalanya daripadaku. Maka mulai detik itu pula, haram bagiku memikirkan laki laki lain selain dari Mahramku.


Seminggu, acara pernikahan ini hanya membutuhkan persiapan seminggu setelah aku mengangguk. Dan akan terlalu serakah jika aku ingin ini dan itu, meski aku bisa memaksakan terhadap keluarga. Namun sekali lagi, alasanku tetap diam karena Bang Daffa yang menginginkan kesederhaan dengan cukup sah di mata baik di mata Agama ataupun Negara. Dan itulah pengabdianku pertama untuknya.


Bahkan Bang Daffa juga meminta aku menyiapkan segala barangku serta punya Adit dari kemarin, karena hari ini juga Bang Daffa akan memboyong aku dan Adit untuk tinggal di luar kota. Mungkin ini juga yang menjadi alasan Bang Daffa menyegerakan pernikahan ini. Atau memang Bang Daffa sengaja memberi jarak dan tak menginginkan aku mengenal keluarganya barang sebentar saja. Entahlah.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Acara tasyakuran bersama beberapa keluarga yang aku tau itu tidak lebih dari separuhnya, berahir setelah dzuhur. Dan setelah hanya tinggal keluarga inti, Bang Daffa langsung menyuruhku untuk lekas berbenah dan menyiapkan Adit pula.


Selesai dengan persiapan perjalanan yang hendak aku tuju, yakni kota dimana pertama kali aku dan Bang Daffa bertemu. Aditpun tertidur dengan pulasnya, lantas akupun sibuk dengan pamitan dengan satu persatu anggota keluarga. Dan pada saat tiba pada Ayah Bang Daffa, beliau sengaja mengajakku menepi dan mengajakku mengobrol sekilas sebelum ahirnya pembicaraan ini berubah serius.


"Mawar, apa kamu tau Nak. Bahwa kamu sudah pernah bertemu dengan Ayah sebelumnya.?" Aku menggeleng pelan sembari memandang Pak Bakti lekat.


"Kita pernah bertemu di Pesantren kamu sebelumnya, Nak. Apa kamu ingat.?" Kembali aku menatap Pak Bakti dan kembali menggeleng.


"Tidak, Pak."


"Jangan paggil, Pak. Panggil Ayah. Kamu sekarang adalah putri kami. Ayo coba panggil Ayah.!" Pinta Pak Bakti.


"Ay, Ayah. Kapan Ayah pernah datang ke Pesantren.?" Cicitku dengan nada suara pelan.


Pak Bakti tersenyum ramah dan entah senyum ini mengingatkan aku dengan senyum tipis Mas Karang. Ahh, kenapa, kenapa aku justru di saat seperti ini Mas Karang hadir di otak ku.

__ADS_1


"Waktu itu, Ayah datang kesana dengan tujuan ingin mencari pendamping adiknya Daffa yang bernama Daffin. Dan saat Ayah melihatmu, Ayah selalu yakin bahwa kamu akan menjadi putri Ayah. Dan Alhamdulillah, sekarang kamu benar benar menjadi putri Ayah, meski itu untuk Daffa." Senyum Pak Bakti semakin melebar dan menular pula kepadaku, meski itu hanya sebuah ulasan tipis.


"Ayah tau, kamu anak yang baik, Mawar. Ayah percaya kamu mampu menjadi Ibu yang baik bagi Adit sekaligus istri yang hebat untuk Daffa. Karena Ayah percaya padamu, maka kamu harus percaya pada Ayah." Hatiku mencoes mendengar penuturan Pak Bakti, bagaiman itu tidak terjadi, lantaran hatiku yang kurang ajar justru terus memutar wajah Mas Karang.


"Mawar, apa kamu mau percaya sama Ayah.?" Tanya Pak Bakti.


Aku terdiam untuk sesaat mencari jawaban yang tepat untuk tanya Pak Bakti. "Bagaimana caranya, Yah.?" Ahirnya jawabku keluar.


Pak Bakti tersenyum lantas menepuk nepuk bahuku pelan. "Ayah tau akan sulit bagimu menghadapi Daffa nantinya. Dan karena itu, jangan pernah ragu untuk menceritakan apapun kepada Ayah, terlebih jika itu menyangkut prilaku kurang baik yang mungkin Daffa lakukan padamu. Apapun itu, Ayah akan mendengarkan dan akan berada di pihakmu."


Aku menatap intens Pak Bakti, dan mencoba memahami maksud Pak Bakti tentang kesulitan yang akan aku hadapi jika bersama Bang Daffa. Kalau Pak Bakti bisa memprediksi itu, sudah barang tentu Pak Bakti tau sesuatu yang bahkan aku tidak ketahui. Atau memang karena Pak Bakti yang paham dengan karakter Bang Daffa. Semuanya tampak misterius bagiku, semesterius kehidupan rumah tangga yang hendak aku jalani nanti.


Pak Bakti tidak henti terus memberiku semangat serta wejangan bahkan pujian, hingga kebahagiannya memiliki menantu idamannya. Dan entah aku harus tersanjung atau justru harus bersedih, karena pada kenyataannya hatiku masih bercabang. Hingga Bang Daffa datang di tengah kami, dan Pak Bakti bahkan sampai memberi pesan khusus kepada Bang Daffa agar menjagaku.


Ahirnya tiba juga bagiku kelauar dari rumah yang memberiku naungan, dan pergi di bawa oleh orang asing yang di sebut suami. Dam dari sekian hal yang aku lakukan hari ini, hanya inilah yang berjalan sesuai rencanku. Yakni di bawa pergi dengan status istri.


Terus menatap kebelakang hingga semua hilang dari pandangan, lantas ku kembalikan segalanya ke depan. Seperti meninggalkan masalaluku disana, dan memilih menata masa depan. Entah akan sesulit apa, pada ahirnya berjalan yang benar itu tetap maju ke depan, dan meninggalkan segalanya di belakang sebagai kenangan. Begitupun nantinya dengan Mas Karang, dan semoga selama usahaku untuk kembali membuka hati lagi bagi Bang Daffa, aku tidak kembali di pertemukan dengan Mas Karang.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sebulan telah berlalu, aku menikmati peranku sebagai ibu rumah tangga, meski kepala keluargaku jarang pulang ke rumah. Dan selama sebulan ini, Bang Daffa hanya pulang dua kali setelah meninggalkan aku dan Adit di rumah yang cukup besar untuk kami berdua waktu itu.


Dan malam ini, aku rasa saat yang tepat untuk berbicara dengan Bang Daffa lantas memulai segalanya dari awal. Mulai dari kesalah pahaman sampai kenapa pernikahan ini harus terjadi. Serta aku sudah siap segalanya, termasuk jujur mengenai Mas Karang, yang sudah aku pikirkan matang matang.


Aku sudah menyiapkan makan malam serta menidurkan Adit lebih awal. Aku hanya berpikir, mungkin kami butuh bicara berdua tanpa ada gangguan. Namun, hingga jam dinding menunjukan pukul 21.00, tidak ada tanda tanda Bang Daffa akan keluar dari kamar yang aku sendiri tidak tau ada apa di dalam sana, lantaran Bang Daffa mengunci kamar itu sejak dia pergi.


Mengingat makanan yang mendingin, aku beranikan diri untuk mengetuk pintu yang tertutup rapat tepat di samping kamarku dan Adit. Satu kali dua kali tidak ada jawaban, hingga setelah ketukan yang ke empat pintu perlahan terbuka dan seketika hawa dingin seketika menyelingkupiku, karena tatapan dingin Bang Daffa kepadaku.


Tidak berucap apa apa, Bang Daffa terus menatapku dari atas ke bawah. Dan aku yang pelik juga mengikuti hal serupa yang di lakukan Bang Daffa terhadapku. Tetap tanpa kata Bang Daffa melebarkan pintu kamarnya lantas masuk ke dalam, akupun mengekorinya. Namun langkahku terhenti seketika, saat ultimatum keras dari Bang Daffa yang menggelegar bak petir tanpa adanya hujan.


"Berhenti di tempatmu Mawar." Tatapan Bang Daffa nyalang ke arahku. "Kamu pikir, kamu mempuyai hak untuk masuk kesini." Lanjutnya dengan nada menakutiku.


"Ak, aku, hanya mau bil."


"Diam." Katanya dengan nada kasar sembari berjalan perlahan ke arahku dengan mata elangnya yang tak lepas memindaiku. "Lihat dirimu yang seperti ****** ini." Di raihnya tali daster yang berada tepat di atas dadaku.


Aku tersentak kaget dan karena begitu kagetnya aku bahkan tak bisa menjawab apa apa, dalam otak ku, aku hanya berpikir bahwa pakaianku tidak salah, dan itu wajar di gunakan di dalam rumah. Apa lagi hanya ada suami saja, dan aku sebut itu sebagai usaha menyenangkan suami.

__ADS_1


"Kamu berusaha menggodaku dengan pakian tranparan seperti ini. Biarpun kamu menanggalkan satu persatu pakainmu di depanku aku tidak akan pernah tertarik denganmu, War."


"Ak, ak.."


"Kamu tidak berhak untuk bicara di depanku." Kata Bang Daffa sembari melemparkan beberapa kertas kepadaku. "Baca dengan benar, dan enyahkan pikiran bahwa kamu akan menggantikan tempat Melati. Meski kamu dapat mengambil tempat Melati di dunia ini, tapi kamu tidak akan pernah bisa menyentuh hatiku."


Hatiku sakit, aku ingin menangis saat ini juga. Namun, egoku melarangnya. Aku tak ingin terlihat lemah, entah apa yang menjadi alasannya. Dan oleh sebab itu akupun mengelilingkan pandanganku ke segala arah asal itu tidak ke Bang Daffa. Akupun menemukan foto pernikahan Bang Daffa dan Kak Melati yang terbingkai besar tepat di atas rangjang king size.


"Kak Melati sangat cantik."


"Pergi dari sini, aku jijik melihat tubuh jalangmu berada di kamar ini." Dingin nada Bang Daffa sampai ke hatiku. "Ingatlah satu hal, aku memintamu untuk menjadi Ibu dari Adit, bukan untuk menajadi Istriku. Jadi, jangan coba coba menggodaku, karena itu membuat aku semakin benci padamu. Pergiii.." Satu pekikan keras Bang Daffa membuatku mundur perlahan, meski ku buat kepalaku tetap tegak, namun gemetaran badanku tidak bisa menyembunyian bahwa hatiku benar benar terluka.


"Satu lagi, jangan pernah berpikir untuk jatuh cinta padaku Mawar." Ucap Bang Daffa lagi sebelum membanting pintu di belakangku pas berbarengan dengan airmataku yang luruh tak terkira derasnya. Sesakit inikah berada di pernikahan yang tak di inginkan, atau wanita yang tak di inginkan.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


😭😭😭😭😭😭


Like, Coment dan Votenta di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2