
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku mengambil keputusan secara cepat, saat semua di hadapkan pada Aliena. Hingga membuatku kini harus duduk di dalam mobilnya dengan perasaan campur aduk, meski wajahku terlihat tenang, tapi lain yang sedang terjadi dalam hatiku. Cemas.
Seperti sebuah keluarga cemara, gambaran ini cukup sempurna andai alasanku duduk disini bukan karena Aliena. Nyatanya hubungan ini hanya sebatas Ayah, Anak dan Ibu, tidak lebih. Sekaligus aku pastikan tidak akan pernah lebih. Karena, sedari sebelum berangkat tadi, aku sudah memberitahukan kepada Aliena, bahwa kami akan berpisah ketika sampai di Kota A.
Bukan tidak ada tanya dari Aliena setelahnya, hanya saja aku harus menegaskan kepada Aliena sekalian memberi gambaran sesungguhnya, bahwa kedua orang tuanya tidaklah seperti orang tua pada umumnya. Kelihatan seperti jahat memang, tapi ini demi kebaikan bersama tentunya, lebihnya kepadaku. Karena aku tidak ingin kembali tersakiti.
Baik itu sedikit ataupun banyak, tetap itu adalah sebuah luka. Katakan saja aku terlalu bodoh dengan ikut bersama dengannya, berlagak seolah tidak pernah terjadi hal yang tidak mengenakan di dada. Tapi biarlah, karena semua demi Aliena. Dan juga karena aku tidak ingin hidupku di penuhi dengan kebencian. Memaafkan iya, tapi lupa bukan hal yang gampang di lakukan.
"Bunda, Alin mau datang kesana." Aliena menarik ujung tanganku, hingga membuatku tersadar dan mengalihkan pandanganku ke arah Aliena yang sedari tadi aku biarkan berkelana keluar kaca mobil.
"Oh, tentu saja nanti, setelah Aliena sudah semakin membaik." Jawabku dengan mengulas senyum tipis.
"Abang pernah kesana.?" Tanya Aliena kepada Adit dengan nada tanya.
Adit tidak langsung menjawab begitu menoleh ke arah kami berdua yang duduk di jok belakang. "Pernah."Lirih, Adit ahirnya menjawab setelah cukup lama menatapku.
"Ada apa saja disana Bang.?" Kembali Aliena bersuara memecah kecanggungan kami.
"Abang sudah lupa. Itu sudah lama sekali." Jawaban singkat Adit membuat rasa penasaran Aliena menggebu dan tidak merasa puas dengan itu.
"Yah, ada apa saja disana.?" Aliena membelokan tanyanya kepada Ayahnya yang tengah fokus menyetir.
"Emm, Ayah kurang tau. Ayah belum pernah datang kesana. Besok sepulang dari rumah Oma kita lihat sama sama ya." Jawaban Ayah Aliena membuat Aliena bersorak gembira, tapi tidak halnya dengan Adit. Adit justru mendengus kesal ke arah Ayahnya kemudian membuang pandangannya kepadaku dengan kesal.
Sikap Adit yang seperti itu, mengingatkan aku akan sikap Ayahnya dulu. Tapi, aku berhak mendapatkan itu dari Adit, lantaran memang aku tidak pernah menepati janjiku untuk mengajak Adit jalan jalan di tempat yang di inginkan hingga aku menghilang. Jika kini, Adit merasa aku membohonginya itu wajar. Dan kini yang kami butuhkan adalah berbicara, namun Adit sama sekali tak ingin memberiku kesempatan dengan terus memberi jarak di antara kami.
Tidak terasa, perjalan selama tiga jam ini berahir juga dengan damai setelah Aliena menyerah oleh kantuknya di pangkuanku, hingga mengharuskan aku ikut bersama semuanya sampai di rumah orang tua Ayah Aliena. Helaan nafas dalamku yang dulu selalu di anggap remeh oleh Ayah Aliena, hari ini mampu dia pahami juga.
"Hanya sebentar saja, War. Setelah menemui Ayah yang sedang sakit, aku akan lekas mengantarkanmu ke rumah.. mu." Kata rumahmu yang di penggalnya cukup aku pahami. Tapi tidak dengan sikap baiknya terhadapku, karena bagiku itu tetap asing.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Terbaring lemah dengan selang infuse yang tertancap di tangannya, Pak Bakti berusaha untuk bangkit begitu pintu kamar di buka oleh Bu Asri dan mempersilahkan aku masuk. Kondisi Pak Bakti tidaklah begitu serius menurutku, atau mungkin karena kedua anak beliau adalah dokter, jadi semuanya akan mudah di atasi.
"Assalamu'alaikum." Sapaku pelan ke Pak Bakti.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam." Jawab Pak Bakti dengan menambah ulasan senyum tipis. "Alhamdulillah, kamu sampai di rumah ini lagi, Mawar." Lanjut Pak Bakti lirih sarat akan perasaan sentimentil.
"Bapak sakit apa.?" Ucapku datar dengan mengulas senyum. Aku bukan tipikal orang yang pandai basa basi, tapi entahlah jika itu menyangkut soal perasaan sentimentil yang mengarah padaku, dengan sendirinya otakku mencari bahan lain untuk pengalihan. Karena aku masih sama, tak ingin di lihat orang dengan iba.
"Asam lambungnya naik lagi, War." Sahut Bu Asri. "Untungnya, Daffin pas ada di rumah pagi ini." Lanjut Bu Asri yang membuat senyumku menjadi kaku.
"Kamu bersama Aliena kan. Dimana Aliena.?" Seolah tau dengan apa yang aku rasakan Pak Bakti segera ikut mengalihkan pembicaraan kami.
"Aliena sedang tidur, Pak."
"Bagaimana kesehatan Aliena, War.?" Tanya Bu Asri sembari membelai punggungku pelan.
Perasaan hangat lansung menghinggapiku, begitu tangan Bu Asri terus bertahan dibelakang tubuhku. Aku merasa hidup ini tidak terlalu berat, karena aku memiliki seseorang yang menguatkan aku, sebelum ahirnya itu berubah menjadi dingin lagi karena sebuah suara yang menjawab tanya Bu Asri, sehingga aku tersadar bahwa sesungguhnya aku hanya orang asing tanpa Aliena berada di tengah tengah kami.
"Aliena menunjukan kemajuan kesehatan yang lumayan siknifikan, Buk." Jawab Ayah Aliena sembari masuk dan langsung mengambil tempat disisi lain dari tempat tidur Pak Bakti.
"Syukur Alhamdulillah. Semoga pengobatan Aliena segera bisa lekas di mulai." Jawab keduanya bersamaan dan ku ikuti mengamini ucapan baik tersebut dengan harapan besar, bahwa semua akan kembali seperti semula sebelum Aliena sakit.
"Ibu sampai lupa belum membuatkan kamu minum, War." Potong Bu Asri dengan senyum yang semakin melebar, sembari berusaha lekas bangkit dari tempatnya duduk.
"Tidak, tidak perlu repot repot, Bu. Sudah ibu duduk saja disini." Ucapku sembari menarik tangan Bu Asri.
"Tidak apa, War. Kamu pasti haus, datang datang langsung di todong untuk menemui orang yang tengah sakit." Jawab Bu Asri sembari menepis tanganku dengan halus.
Perbincangan hangat ini, semakin terasa hangat saat teh manis buatan Bu Asri menemani obrolan ringan kami. Obrolan yang jauh akan kenangan masalalu, hanya obrolan seperti keluarga jauh yang telah lama tidak bertemu. Hingga semuanya usai saat suara tangis Aliena khas bangun tidur semakin mendekat ke tempat kami berada.
Kebal, atau mungkin lebih tepatnya aku telah sangat siap akan segala konsekwensi yang harus aku hadapi, ketika memutuskan untuk datang kemari. Sampai sampai reaksiku biasa saja, saat melihat Aliena berada dalam gendongannya.
Aku sadar aku bukan lagi seorang gadis remaja, oleh sebab itu, bagiku kehadiran Mas Karang mampu aku tangani. Aku memiliki kontrol, itu harus pasti. Masalalu, sudah cukup menjadi masalalu, andaipun akan ada cerita masalalu yang belum usai, itu sudah ku buat usai dengan mengingat statusku. Dan apa tujuan dari hidupku. Bahagia bersama Aliena, obat dari lukaku.
Menenagkan Aliena kali ini ternyata tidak semudah biasanya. Apalagi Aliena terus saja merengek memintaku untuk tetap tinggal disini, aku ajak untuk ikut bersama ke rumah Pak Agungpun juga tidak mau. Sehingga membuat aku harus terjebak di rumah ini seharian.
"Kenapa Bunda tidak tinggal disini saja bersama kami. Aliena mau tidur bareng sama Ayah dan Bunda." Ucap Aliena sembari terus merengek.
Aku memijat kepalaku pelan, sebelum ahirnya memilih meraih tubuh Aliena dan mendudukannua di pangkuanku. "Sayang, bukankah Bunda sudah cerita tadi sebelum berangkat. Aliena sudah janji kan sama Bunda." Ucapku masih dengan nada aku buat sedatar mungkin.
"Tapi Aliena mau, pokoknya mau." Keras kepala, persis seperti Ayahnya. Dan ketika Aliena sudah seperti ini, langkah yang bisa aku ambil hanya mengikuti maunya sembari membujuknya, hingga Aliena luluh kembali.
"Abang, Abang mau bobok sama Ayah dan Bunda tidak." Teriak Aliena begitu melihat kelibat Adit di pintu kamar yang tengah terbuka.
__ADS_1
"Tidak." Jawab Adit dengan cepat.
"Tapi Alin mau." Aliena semakin histeris, hingga membuat nafas Aliena tersengal dan bibirnya sudah membiru. Sontak saja, aku menjadi panik.
Semua langsung berdatangan begitu mendebgar aku berteriak meminta tolong, dan beruntungnya Mas Karang masih belun jadi pergi, sehingga Mas Karang dengan cepat memberi pertolongan pertama pada Aliena.
Sebulan tidak kambuh, membuat aku merasa sedikit lega sebelumnya. Bahkan aku sempat berpikir bahwa Aliena bisa sembuh, tanpa harus menjalani pengobatan yang di sarankan oleh dokter. Dan kambuhnya Aliena hari ini membuatku kembali tersadar, bahwa aku perlu mengambil tindakan cepat atas apa yang di sarankan dokter kepada kami. Tapi apa aku akan mampu melakukan itu.?
"Terima kasih, dr.Karang." Lirihku tanpa menatapnya.
"Kenapa ini terdengar aneh untukku, Mawar." Jawabnya pelan.
Tidak ada niatan sama sekali aku ingin menjawab ucapannya, karena bagiku itu hanya soal perasaan. Dan bagiku, soal perasaan pribadi yang menyangkut asmara telah punah, sejak kehadiran Aliena. Di tambah dengan penyakit yang di derita Aliena, membuat aku benar benar melupakan hal lain soal dunia ini. Karena duniaku telah sekarat oleh penyakitnya.
Saat mengingat kata sekarat, bukankah sudah seharusnya jika aku memenuhi setiap dari pinta Aliena. Tapi nyatanya, hanya sebuah pinta kecil dan sederhana dari Aliena, aku masih tidak bisa mengabulkan dengan alasan bahwa itu tidak pantas untuk kami lakukan. Walau sejujurnya, egokulah yang tak menginginkan hal itu.
Kini, saat pertanyaan kembali aku lontarkan untuk diriku sendiri tentang prioritasku untuk Aliena, untuk usaha kesembuhan Aliena. Sanggupkah aku melakukan itu. Sanggupkah aku berdamai seutuhnya dengan masalalu. Sanggupkah aku kembali bersama Ayah Aliena.??
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862