Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Rencana Tak Terduga.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Debur ombak menderu saling berkejaran memeluk bibir pantai, membawa angin sore terasa semakin dingin dengan di temani semburat jingga dari matahari yang hendak kembali ke peraduan. Sulur sulur keemasan yang jatuh di antara gulungan ombak tampak bak kilauan emas yang pecah berserakan memanjakan mata di setiap jengkal mata memandang.


Duduk bersisihan dengan Bang Daffa beralaskan tikar sewaan, kami seolah terlihat menjadi keluarga yang bahagia dengan Adit yang sedang bermain pasir di temani Mbak Niluh tidak jauh dari pengawasan mata kami.


Liburan dadakan tanpa perencanaan, itulah yang terjadi. Dari rencana semula yang hendak ke Timezone, berbelok ke Camping Ground adalah usulan Bang Daffa yang melihat pamflet tentang wisata baru yang berada di pinggiran kota. Camping Ground ini cukup aman bagi anak anak, karena bukan berada di pinggir pantai langsung, melainkan tepat berada Muara induknya hingga view indahnya adalah laut lepas dengan bonus sunset sore ini.


Beruntungnya kami yang tanpa persiapan atau tau menau jika ingin menginap disini harus melakukan pesanan tempat terlebih dahulu masih mendapat tempat untuk bermalam biarpun itu cuma dua tenda. Konsep penginapannya juga sudah lengkap, jadi kami lebihnya lagi aku tidak perlu kwatir tentang keadaan Adit yang baru saja sembuh dari sakit.


Tinggal satu permasalahannya yang sampai saat ini belum aku pecahkan, yakni bagaimana nanti malam kami akan tidur. Tidak mungkin aku tidur dengan Adit, karena ada Mbak Niluh. Kalau aku setenda dengan Bang Daffa, apa mungkin.?


Lebih baik biarkan itu jadi nanti saja, karena saat ini akan lenih baik jika menikmati moment langka ini sebelum semuanya hanya tinggal kenangan.


Beralih dari senyum Adit yang sedari tadi tidak pernah putus, kini ku tolehkan kepalaku ke samping dimana Bang Daffa berada. Wajah maskulin itu datar menatap jauh di lepas pantai dimana sang bola raksasa tengah menjingga sempurna, namun di balik wajah datar itu aku melihat matanya sendu dan penuh kerinduan.


Aku tau siapa yang dia rindukan. Kak Melatilah jawabannya. Aku juga sama, acap kali melihat pantai dan serba serbi tentang pantai, ingatanku akan langsung tertuju dengan Kak Melati karena memang Kak Melati sangat menyukai pantai, dan saat berada di pantai maka senyum Kak Melati akan seperti Adit saat ini.


Tidak ada rindu yang lebih menyiksa, kecuali merindukan orang yang telah tiada. Kata itu pantas aku benarkan. Dengan melihat expresi Bang Daffa yang seperti sekarang, aku tau bahwa saat ini Bang Daffa sedang merindukan Kak Melati. Dan semoga Bang Daffa tau cara menyampaikan rindu paling sempurna adalah menitipkannya lewat do'a.


"Aku akan memandikan Adit dulu." Ucapku pamit ke Bang Daffa.


Bang Daffa menoleh sesaat kepadaku, dan kemudian ikut berdiri. "Aku juga ikut." Singkat. "Aku telah melewatkan banyak moment penting Adit, hanya karena menyibukan diri." Lanjut Bang Daffa dengan nada sendu.


"Bang Daffa sedang berusaha menebusnya sekarang. Jangan kwatir aku akan membantu sampai sisa waktu yang ku miliki habis." Jawabku dengan mengimbuhkan senyum tipis yang di balas senyuk kaku Bang Daffa. "Aku akan mengambil baju ganti Adit, Bang Daffa ajak Adit ke kamar mandi umum."


Bang Daffa memberikan kunci mobilnya kepadaku lantas berjalan ke arah Adit. Sedangkan aku menuju ke mobil Bang Daffa yang berada tidak jauh dari tenda kami. Setelah mengambil baju ganti yang tidak hanya untuk Adit saja, aku langsung menuju ke kamar mandi umum dimana Adit dan Bang Daffa berada.


Menunggu di depan toilet Pria dengan sabar, aku terus tersenyum mendengar suara Adit dan Bang Daffa yang tengah tertawa tawa, dan sesekali Bang Daffa akan menayai Adit dengan berbagai topik, hingga acara mandi itu usai.


"Lho, tidak boleh tanpa kain penutup kayak gitu." Seruku ke Adit ketika keluar dengan telanjang bulat, sementara Bang Daffa di belakangnya dengan pakaian yang sudah basah separo.


Aku langsung menangkap Adit yang berlari ke arahku dengan handuk dan lekas menutup seluruh tubuhnya. "Bang Daffa langsung mandi saja, ini sudah hampir Mahrib juga." Ucapku ke Bang Daffa sembari memberikan satu handuk lagi kepada Bang Daffa sekaligus baju gantinya.


"Aku mau lihat Adit pakai baju dulu." Jawab Bang Daffa. "Sini biar Ayah gendong."


"Jangan dong, nanti basah semua handuknya." Potongku dengan cepat lantas memberikan tas kain berisi baju ganti kepada Bang Daffa dan menggendong Adit ke gazebo terdekat dimana Mbak Niluh berada.


"Mbak Niluh bersih bersih dulu, habis ini gantian." Ucapku ke Mbak Niluh. "Bang.."


"Apa..?" Tanya Bang Daffa bingung.


"Kunci mobilnya ada di saku tas itu." Ujarku.


"Oh." Singkat Bang Daffa sembari merogoh tas dan memberikan kepada Mbak Niluh kunci mobilnya. "Biar aku yang pakaikan baju Adit." Ucap Bang Daffa lagi.


"Mana bisa, baju Bang Daffa itu sudah basah. Nanti kena baju Adit." Jawabku.

__ADS_1


"Adit bisa pakai baju sendiri. Aditkan sudah besara." Ucap Adit dan langsung mengambil baju gantinya.


Cukup lama Adit mengenakan kemejanya karena dia susah mengancingkan kemejanya, dan ngeyelnya Adit, dia tidak mau di bantu sama sekali hingga ahirnya dia benar benar berhasil.


"Nda mana bedak dan farfumnya." Tanya Adit membongkar peralatan wajib selepas mandinya.


"Tidak bawa sayang, kan tadi tidak ada rencana mau nginep. Ini cuma ada sisir."


"Oke." Jawab Adit dan langsung mengambil sisir dari tanganku lantas mulai menyisir rambutnya.


"Di belahnya dari kanan ke kiri, sayang." Ucap Bang Daffa dan tak lama sudah mengambil alih sisir dari tangan Adit. Aku tersenyum melihat mereka berdua yang sudah kembali seperti sebelumnya. Satu persatu mungkin semua juga akan kembali seperti sedia kala saat aku pergi.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Malam datang dengan bintang yang memenuhi angkasa, kerlap kerlipnya jauh lebih indah, karena disini memang minim pencahayaan. Setelah makan malam usai, Adit langsung minta tidur, begitupun dengan Mbak Niluh yang memilih menemani Adit setelah aku keluar dari tenda Adit untuk mengeloninya.


"Sudah dapat ikannya." Ucapku kepada Bang Daffa yang sedari habis makan makan malam tadi sudah sibuk dengan kailnya.


"Lagi pada puasa kali ikannya." Jawab Bang Daffa dengan asal. "Adit sudah tidur.?"


"Sudah, capek banget dia." Jawabku lirih.


"Duduklah, War." Pinta Bang Daffa sembari memberi menggeser duduknya.


Aku berpikir sejenak, sebelum ahirnya menjatuhkan bobotku di atas bangkai kayu besar tempat Bang Daffa duduk. "Sebenarnya hobiku memancing, tapi semakin kesini aku semakin tidak memiliki waktu luang." Buka Bang Daffa.


"Apa mungkin seperti itu ya." Aku tersenyum mendengar penuturan Bang Daffa dan kembali kami diam sembari mengawasi kail yang terlepar jauh.


"Bang, senarnya gerak gerak." Ucapku spontan.


"Masak.?" Bang Daffa segera meraih pemancingnya dan benar saja ternyata memang kailnya sedang di sambar oleh ikan.


Bertarung beberapa menit dengan tarik ulur pancing. Ahirnya seekor ikan seukuran telapak tangan orang dewasa berhasil Bang Daffa angkat ke daratan.


"Senangnya mancing itu kalau pas dapat kayak gini." Ucap Bang Daffa sambil tersenyum lebar, dan aku lihat senyum itu adalah senyum terikhlas yang aku lihat ahir ahir ini. Dan membuatku terasa enggan berpaling dari wajahnya, bahkan sampai aku berpikir jika senyum itu bisa aku dapatkan setiao hari, maka aku rela tetap berada di sampingnya menemaninya membesarkan Adit.


"Tapi kalau pas lagi tidak dapat, itu yang bikin pemasaran dan membuat ingin datang lagi dan lagi. Persis seperti Melati waktu itu." Lanjut Bang Daffa.


Entah bagaimana mulanya, Bang Daffa mulai menceritakan pertama kali bertemu dengan Kak Melati dan menyukainya dari pertama melihatnya. Sikap Kak Melati yang jaga jarak di tambah dengan dengan Bang Nusa yang over protectif kepada Kak Melati itulah yang membuat Bang Daffa semakin tertarik kepada Kak Melati.


Ada ngilu sedap yang aku rasakan dari cerira Bang Daffa. Tapi, ada pula bahagia karena pada ahirnya kami bisa mengobrol seolah olah kami adalah teman lama yang sudah sekian purnama tak berjumpa. Dan ini kali pertama Bang Daffa berbicara padaku seolah tanpa beban, sekaligus menganggalkan bebannya sendiri untuk melepas rindunya.


Berdehem pelan setelah cerita panjang Bang Daffa, aku kembali membuka kataku. "Jadi itu tadi ikan apa.?" Tanyaku ke Bang Daffa.


"Ikan bodoh." Jawab Bang Daffa sekenanya.


"Kok ikan bodoh.?" Tanyaku makin bingung.


"Gimane enggak bodoh, di kasih mainan udang di sambar. Gitu mau di bilang pinter."

__ADS_1


"Yang benar saja. Itu tidak masuk akal sama sekali Bang. Bilang saja kalau Bang Daffa tidak tau nama ikannya." Jawabku.


"Nah itu kamu tau. Lagian aku payah banget kalau soal menghafal nama nama ikan." Jawab Bang Daffa sembari sudah menarik lagi gagang pancinganya.


Kali ini tarik menarik ikan terjadi cukup alot, sampai sampai Bang Daffa harus berdiri dari duduknya dan tersenyum makin lebar di tengah konsentrasinya untuk menarik ikan ke daratan. Dan begitu ikan itu berahasil di tarik langsung terlepas dan menggelepar tepat berada depanku.


Aku dengan sikap langsung berusaha menangkap ikan itu agar tak lagi kembali kemuara, begitupun dengan Bang Daffa. Saling berebut selayaknya anak kecil sampai tak sadar kami berdua sekarang sudah duduk di atas pasir dengan tangan saling bertumpuk di atas ikan.


"Jangan di lepaskan, War." Ucap Bang Daffa.


"Tapi ini sakit, Bang." Jawabku saat aku rasa jari manisku di gigit ikan itu.


"Tunggu sebentar, tunggu aba aba dariku." Ucap Bang Daffa. "Satu, dua, lepas."


Usai dengan drama ikan yang bandel, kami berdua kembali duduk di tempat semula setelah membersihkan tangan juga baju yang kena pasir.


"Apa masih sakit.?" Tanya Bang Daffa.


"Sedikit." Jawabku sembari meniupi jariku yabg terasa panas.


"Sini." Bang Daffa langsung meraih tanganku dan membuatku terkesiap saat nafas hangatnya sudah meniupi jariku.


Di bawah remangnya malam, dengan bintang yang mengintip. Sumpah demi apapun, aku tiba tiba teringat dengan wajah lama Bang Daffa saat rambutnya masih gondrong. Dan aku semakin terkesiap saat Bang Daffa membalas tatapanku dengan intens, hingga kami sama sam terbawa suasana yang membuat kami canggung setelahnya.


"Maaf, maafkan aku." Lirih Bang Daffa dan dengan serta merta aku dan Bang Daffa saling jaga jarak.


"Aku akan tidur lebih dulu, selamat malam." Ucapku pelan dan berjalan menjauh dari Bang Daffa.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2