
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Riuh di ruang tamu yang mendadak menjadi sempit, lantaran hadirnya keluarga, baik itu dari keluargaku, jika aku boleh menyebutnya begitu. Begitu juga dengan keluarga Ayah Aliena yang hanya meninggalkan Mas Karang yang tak ikut datang bersama rombongan hari ini.
Setelah Aliena di perbolehkan pulang kemarin siang, Ayah Aliena memang meminta ijin kepadaku untuk memberi kabar kepada keluarga di Kota A, agar datang untuk bertemu dengan Aliena. Dan disinilah mereka sekarang.
Antusias mereka semua membuat senyum Aliena tidak pernah surut menepi dari bibirnya. Suara cempreng Aliena juga ikut menggema di tengah percakapan yang terasa begitu hangat selayaknya keluarga utuh yang telah lama tidak berkumpul bersama.
"Duduklah, War. Jangan sibukan dirimu menjamu kami." Ucap Bu Asri sembari menepuk nepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Benar, ayo lekaslah duduk, War." Timpal Bu Mega.
Menyungging senyum tipis, akupun menaruh nampan berisikan makanan ringan lantas menuruti permintaan dua orang yang pernah menjadi Ibu bagiku dengan duduk di antara keduanya. Pelan tangan Bu Asri telah mendarat di punggungku, dan berlahan berubah menjadi usapan hangat yang menenangkan.
"Aliena manis sekali seperti kamu War." Pelan sekali Bu Asri berkata. "Yang kuat ya. Alin pasti akan segera sembuh."
"Kamu tidak lagi sendiri, ada kami bersamamu." Timpal Bu Mega.
"Terima kasih, Bu." Jawabku tak kalah pelan, lantas kembali ku edarkan pandanganku kemanapun Aliena bergerak. Dan, begitu Aliena berhenti pada pangkuan Ayahnya, baru ku buang pandanganku darinya.
Tidak semua air sungai akan sampai pada muara, tidak setiap ingin itu harus sampai terpenuhi. Karena Tuhan punya rencananya sendiri. Ingin aku abai dengan ucapan Ayah Aliena tempo hari, agar rasa ingin di dada tercapai. Namun, seegois apapun aku sebagai seorang Ibu, jika sudah di hadapkan pada kepentingan anak tetap hati akan gamang. Dan oleh sebab itu, aku masih diam. Tidak mengiyakan ataupun menolak pernyataan Ayah Aliena.
Aku tak ingin kembali mengulang kesalahan dengan terlalu naif. Berjuang sendiri, berkorban yang tak di hargai. Atau sejatinya, luka yang di sebabkan oleh Ayah Aliena masih menyisakan dendam. Entahlah.
Biarlah pelan pelan. Setidaknya, hari ini aku ingin menikmati senyum dan tawa Aliena, menikmati bahagia Aliena, karena semua aku lakukan demi Aliena. Dengan membiarkan orang orang dari masalalu berkumpul kembali, bukankah itu sudah satu kemajuan bagiku untuk berdamai dengan masalalu.
"Terima kasih untuk hari ini, Mawar." Suara beratnya langsung menyapa teliangaku begitu aku berjalan menjauh sendirian.
"Tidak perlu berterima kasih, semua aku lakukan juga untuk diriku." Jawabku tanpa mau menoleh ke arahnya.
"Bagaimanapun aku harus berterima kasih padamu." Ucapan Ayah Aliena terdengar tulus di telingaku. Tapi kenapa itu malah justru asing buatku. "Sudah lama sekali, Ayah tidak sebahagia hari ini."
Aku imut menoleh dimana Pak bakti tengah duduk yang bersebelahan dengan Pak Agung. Dan sungingan tipis senyumku langsung terukir, begitu mereka berdua menyadari aku tengah memperhatikan mereka.
"Mau kemana.?" Ucap Ayah Aliena, begitu aku langsung berdiri setelahnya.
__ADS_1
"Masak."
"War." Aku menunggu lanjutan ucapan Ayah Aliena, namun hingga beberapa menit lamanya kata itu tidak mendapat terusannya, justru wajah bingung Ayah Aliena yang terlihat. Akupun meneruskan langkahku untuk menuju ke dapur.
Menyibukan diri dengan Kak Risma di dapur, tidak terasa sudah tiba hingga waktu makan siang. Beranekan lauk pauk kesukaan Pak Agung dan Pak Bakti sudah tertata di meja makan. Dan tak lupa, ayam kecap rempah kesukaan Adit juga aku siapkan.
Semua sudah siap, dan aku sebagai tuan rumah juga sudah mempersilahkan meraka. Namun, Bu Asri meminta sedikit waktu lagi guna menunggu salah seorang lagi, dan aku tau siapa yang di maksud Bu Asri. Itu membuat nafasku terasa berat untuk di hela. Jika itu untuk wajar, lalu kenapa Ayah Aliena juga ikut menarik nafasnya dalam.
Suara salam membuat kami yang sedang berkumpul seketika langsung menyahut dan menoleh serentak ke arah pintu utama, dan mungkin hanya aku seorang yang merasa kehadiran orang yang di tunggu membautku tidak nyaman.
"Ahirnya datang juga, Fin. Kami menunggu dari tadi. Ayo lekas makan, kasihan Ayah sudah lapar dari tadi, gara gara kangen masakan Mawar." Kata Bu Asri sembari menyungingkan senyum tipis kepadaku yang ku balas dengan senyum kaku saja.
Dan kembali, suasana hangat tercipta di ruang makan yang sengaja di gelar karpet agar semua bisa duduk bersama.
"Maaf, bisa minta tolong ambilkan Ayam gorengnya." Tanpa basa basi aku langsung mengasukan piring berisi Ayam goreng kepada Mas Karang. "Terima kasih."
"Sayur asemnya seger sekali, War." Kembali Bu Asri sengaja mencairkan suasana yang terasa sedikit canggung antara aku dan Mas Karang.
"Itu yang masak saya, Bu." Timpal Kak Risma.
"Oh iya, tak kira tadi Mawar yang masak. Tapi benar semua masakan hari ini enak. Terima kasih, War." Aku hanya menimpali ucapan Bu Asri dengan senyum tipis saja, lantas kembali fokus ke piringku lagi.
Usai makan siang dan beres beres, sudah waktunya untuk istirahat bagi Aliena dan sekaligus waktunya bagi mereka untuk pamit. Tidak ada drama panjang bagi satu persatu pamit dengan Aliena. Hanya saat giliran, Ayah Aliena dan Adit saja yang membuat Aliena menutup rapat mulutnya untuk menyetujuinya.
"Baiklah, Ayah dan Abang akan disini sampai sore. Tapi sebeluk itu, Ayah harus mengantar Oma dan Opa ke rumah Ayah dulu."
"Kenapa Ayah harus punya rumah sendiri. Kenapa Ayah dan Bunda tidak punya satu rumah saja." Deg, tanya Aliena membuat semua langsung terdiam dan dadaku sesak seketika. "Kenapa Bun.?" Aliena menarik tanganku pelan sebagai tanda bahwa dia butuh jawaban segera.
"Boleh Oma yang jawab." Potong Bu Asri setelah membaca situasi, namun oleh Pak Bakti segera di tarik tangan Bu Asri agar tidak maju.
"Opa sama Oma ikut mobilnya Om Affin. Jadi, Ayah dan Abang bisa tinggal disini." Potong Pak Bakti.
Aliena memainkan matanya, tanda dia tidak setuju dengan pengalihan tanyanya oleh Pak Bakti. "Bunda, ayo ikut ke rumah Ayah saja."
Aku berjongkok menyamai tinggi Aliena, dan mengahadap lurus di wajah Aliena. "Alin, mau ikut ke rumah Ayah.?" Tanyaku serius. Dan anggukan Aliena membuatku menghela nafasku dalam, bahkan sangat dalam.
"Tapi, Bunda tidak ikut ya." Kembali Aliena mengagguk. "Baik, Bunda akan siapkan baju untuk Aliena." Lanjutku.
__ADS_1
"Tapi, War." Nada Bu Asri terdengar terkejut ku dengar.
"Tidak apa, Bu. Bukankah besok Ayah Aliena masih libur, juga masih ada Ibu bersama Aliena besok." Jawabku dengan tersenyum tipis.
Mungkin akan terlihat jika aku adalah Ibu yang tega terhadap anaknya, tapi semua aku lalukan untuk menebus kesendirian Aliena selama ini yang tidak pernah mendapatkan figur seorang Ayah, juga kasih sayang dari keluarga lain selain aku.
"Tidak bisa, Ayah akan sibuk besok. Adit ada kegiatan di sekolah sampai sore." Potong Adit, setelah dari tadi hanya diam. "Pokoknya Adit tidak mau."
"Dit.!" Bentak Ayah Aliena.
"Abang."Lirih Aliena sembari meraih tanganku.
"Kalau, Aliena ikut pulang, Adit akan pulang ke rumah Om Affin." Kekeh Adit.
"Bunda, Alin tidak mau ikut ke rumah Ayah." Ucap Aliena sambil tersenyum, dan membuat senyum semuanya sirna.
Aliena memang sangat perasa seperti aku, dan senyum Aliena itu menunjukan bahwa dia menginginkannya, tapi dia menjaga perasaan Adit. Lagi, lagi itu juga sepertiku. Hingga aku harus kembali menghela nafasku dalam.
"Tidak apa, besok Ayah akan kesini lagi. Abang juga kan. Hari ini dokter papa juga akan datangkan Bunda. Alin akan bermain dengan dokter papa saja." Lanjut Aliena.
Raut tak terbaca langsung tercetak jelas di wajah Ayah Aliena, begitupun dengan yang lainnya. Terlebih saat Rendi benar benar muncul setelahnya, dan dengan riangnya Aliena langsung bermanja kepada Rendi, sembari memperkenalkan satu persatu sebagai bentuk pamer Aliena.
Bagaimana reaksi Rendi, dia seperti biasanya. Sangat mengerti Aliena, makanya senyumnya tidak sama sekali surut di hadapan Aliena, meski kaget juga ingin tau bisa aku baca dari senyumnya, terlebih saat harus berhadapan dengan Mas Karang.
Dengan lambaian tangan santai Aliena, ahirnya mereka beranjak juga dari rumahku. Bukan Aliena yang merasa tidak enak di tinggal, melainkan mereka yang meninggalkan. Terlebih itu untuk Ayah Aliena sejak kehadiran Rendi, tapi kenapa dan apa alasannya, sekali lagi itu asing buatku.
Arti tatapannya untuk ku, hangat sikapnya untuk ku, nada lembut yang keluar saat menanyaiku, semua asing buatku. Tapi kenapa dengannya hingga harus tepot repot merubah perangainya kepadaku memenuhi otak ku. Jika, semua karena Aliena. Tanpa harus dia mengubah segalanya Aliena tetaplah anaknya. Sekali lagi dia asing buatku.
Bersambung...
Like, Koment dan Votenya di tunggu.
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi.
__ADS_1
@maydina862