Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Karang POV


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Karang POV.


Khadijah, aku terus mebolak balikan tagname di tanganku sembari terus mematri wajah pemilik benda di tanganku agar tak kulupakan andai sekali waktu bertemu dengannya lagi. Sebulan lamanya sudah, tagname itu selalu menjadi penghuni setia saku ku dan menemani dimanapun aku menjalani aktifitasku.


Aneh memang, karena baru kali inilah aku begitu perduli dengan barang milik orang lain juga sekaligus berpikir terlalu berlebihan mengenai orang yang tak ku kenal. Mungkin yang menjadi penyebabnya adalah karena aku merasa berhutang budi terhadapnya.


Tambah aneh lagi, saat aku justru sering berhenti di tempat dimana pertama kali tagname itu bisa ikut bersamaku padahal jalan yang harus aku lalui tidaklah melewati jalan itu, hanya karena alasan yang tidak logis. Siapa tau akan bertemu dengannya, atau kebetukan dia akan melintas disana.


Sebulan, waktu sebulan itu bukan waktu yang singkat untuk aku mondar mandir di jalan itu. Namun, tak sekalipun aku bertemu dengan gadis kecil itu. Jangankan bertemu, melihatnya saja tidak pernah. Seakan dia raip di telan bumi.


Hari ini, dalam hati aku sudah berjanji, jika tidak bertemu lagi dengan Khadijah. Maka, aku akan meninggalkan tagname itu di tempat pertama kali aku bertemu dengannya, serta mengubur rasa trima kasih yang sudah aku niatkan ingin menaktrirnya makan bersama.


Bersiap untuk Koas di Rumah Sakit, aku baru sadar ternyata baju dinasku belum aku ambil dari laundry, dengan sudah sersiap akupun memutuskan mengambilnya sekalian jalan ke Rumah Sakit karena aku pikir nanti bisa ganti baju disana.


Keluar dari rumah Laundry, aku seperti tertarik ke sebuah sudut di banguan berlantai dua, tiga dengan rooftop bagian jemuran. Berhenti dari langkah pelanku, sesaat aku kelilingkan pandanganku, dan berhenti tepat di jendela lantai dua.


Sebuah siluet seorang gadis atau seorang wanita yang tengah duduk juga memandang ke arahku, namun sama sekali tidak terlihat jelas karena matahari yang memantul di kaca jendela tersebut membuatku silau. Mungkin karena pandangan orang di atas sana yang memancingku untuk menoleh ke arah sana.


Anehnya, aku merasa penasaran, hingga untuk beberapa saat aku masih enggan untuk berpaling dan semakin rasa ingin tauku begitu besar. Meski, dalam otak ku sedang berdiskusi hebat, mengenai orang di atas sana yang kemungkinan bisa saja bukan manusia.


Menggeleng pelan untuk mengembalikan kesadaran otak ku, akupun melanjutkan jalanku dan bergegas menuju Rumah Sakit. Tenggelam dalam kesibukan dan fokus dalam dengan rutinas sembari terus belajar itulah yang selama empat tahun ini aku lakukan. Sampai sampai aku kadang lupa, bahwa dunia di luar sana lebih mengasikan dari buku buku serta game yang aku kutati tiap hari.


Menjadi Dokter Bedah adalah cita cita masa kecilku, meski untuk itu aku harus berusaha jauh lebih giat dan melupakan sebagian keseruan urusan dunia, lantas membuat duniaku sendiri menjadi berwarna menurutku tanpa perduli kompleinan orang tau ataupun saudara kandungku.


Tinggal jauh dari mereka sejak SMA, bukan berarti aku tidak dekat dengan mereka, justru karena aku berpisah dari mereka membuatku semakin dekat dengan mereka semua, terutama dengan Abangku dan Adik perempuanku.


Hari ini di Rumah Sakit cukup di sibukan dengan kenalan lagi dan lagi, terutama dengan anak anak Prakerin dari beberapa Akademi kesehatan. Bahkan bisa di bilang untuk tahun ini cukup lumayan membludak jumlahnya.


Usai dengan semua basa basi dan lain lainya tiba juga waktunya untuk Istirahat siang. Aku memilih menepi di lantai tiga tepat di samping ruang observasi, disana ada sebuah tempat kosong yang cukup mengasikan untuk menenangkan otak, lengkap dengan rerimbuan pohon buah dari area Parkir yang menjadi pemandangan sekaligus penghijauan.


Iseng aku lempar pandanganku ke arah Parkir sembari memperhatikan gerak dari kendaraan yang tidak begitu ramai, tapi cukup lumayan ada pergerakan dengan terus silih bergantinya antara yang datang dan pergi. Dan baru saja ingin aku alihkan pandanganku dari sana, saat tiba tiba aku mengangkap wajah yang seperti tidak asing buatku.

__ADS_1


"Khadijah, itu Khadijah, aku tidak salah mengenali." Bisik ku pelan, lantas segera berjalan turun guna menemuinya.


Sudah seperti orang gila atau yang lebih parah sudah seperti orang kesurupan saja apa yang aku lakukan. Aku terus berlari mencari kesana kemari dari satu lorong ke lorong yang lain, guna mencari keberadaannya. Dan aku yakin dengan apa yang aku lakukan saat ini, aku sudah gila beneran.


"Itu dia." Ucapku kepada diri sendiri, saat aku menemukan siluet Khadijah yang tengah berjalan membelah kerumunan menuju ke arah kantin. Aku ikut berdesakan mengikuti langkahnya yang lumayan gesit untuk ukuran gadis kecil sepertinya, sampai sampai aku harus menabrak orang yang membuatku berhenti untuk beberapa saat.


Semakin dekat, aku semakin yakin bahwa itu adalah Khadijah, namun anehnya saat aku menyerukan namanya, dia sama sekali tidak bereaksi, justru yang tampak dia celingukan bingung saat aku menyeru namanya sembari bergegas ke arahnya. Mungkin, karena dia tidak mengenalku sehingga wajar jika dia terlihat bingung dan justru berjalan masuk ke dalam kantin dengan santainya.


Mawar, kenapa bisa aku tidak kepikiran dengan gambar di belakang kertas warna kuning itu. Dan justru fokus dengan nama Khadijah yang tertera cukup besar di sana. Yang ternyata itu adalah nama Asramanya. Dan justru yang semakin membuat kaget lagi, adalah dia ternyata adalah pengelola Laundry milik sahabat semasa SMA ku.


Dunia kadang bisa hanya selebar daun kelor belaka. Tapi, justru kita yang membuat drama dengan terus berputar putar di tempat yang sesungguhnya putarannya hanya mengitar di sekitar kita saja. Karena, juga Allah belum berkendak menemukan dengan waktu yang di tentukannya.


"Bialah apa kata Allah dan para malaikat yang mencatatnya saja." Kata kata sederhananya membuatku terkagum kagum, saat aku tawarkan untuk makan bersama. Tidak menolak sekaligus tidak mengiyakan, begitulah jawaban yang di biarkan mengantung di udara. Dan karena itu, aku memiliki alasan untuk mengajaknya sedikti bicara yang itu jauh dari kebiasaanku selain daripada dengan keluargaku.


Enam bulan berlalu, janji makan siang bersama tak kunjung menjadi realisasi. Sampai hari ini tepat aku mendapatkan gelar Dokterku, aku masih belum bisa menepati janjiku untuk makan bersama. Meninggalkan Abang serta Kakak Iparku setelah acara usai, aku bertekat untuk segera melunasi hutangku. Karena, aku merasa waktuku kedepanya akan sering aku habiskan di Rumah Sakit.


Bukankah ini aneh, rasa balas budi ini terlalu berlebihan aku lakuakn terhadapnya. Padahal dia saja tidak pernah menginginkannya, cendrung aku sedikit memaksa. Sejatinya perasaan seperti apa ini.? Perasaan balas budikan, perasaan carekah, perasaan kagum, atau perasaan penasaran.?


Kali ini tidak ada alasan baginya untuk menolak permintaanku, dan dengan gaya masih apa adanya seperti biasanya, dia ahirnya duduk di hadapanku untuk makan bersama. Dan nyatanya hati ini masih belum mau puas hanya dengan makan bersama hari ini, lantas membuatku mengikatnya dengan janji makan di lain hari.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jarang di jaman sekarang ini, ada gadis sepertinya, yang tidak ada gedged di tangannya saat melakukan kebaikan, atau sibuk di tangan kirinya mengabadikan kebaikannya sebagai konten sementara tangan kanannya memberi kepada orang lain.


Dan aku semakin menaruh respeck lagi, saat aku memberi kejutan ulang tahun kepadanya. Sebelumnya jangan tanya bagaimana caraku tau hari ulang tahunnya, yang jelas itu dari tagname yang tak sengaja terbawa olehku hampir setahun silam.


Aku terus saja membuntutinya setelah pulang dari rumah Laundry, dan lagi lagi menbuatku harus menambah stok respeck terhadapnya, bahkan sampai repa hujan hujanan demi sebuah kebaikan, dan itu kebaikan yang di sembunyikan dari orang lain. Dan itu sukses membuatku ingin dekat dengannya, walau hanya sekedar ngobrol saja.


Tiga hari berlalu, hujan menjadi penghalangku untuk sekedar melihatnya dari kejauhan. Dan apa lagi kabar pagi ini yang aku dapatkan, membuatku di landa kegalauan yang tak sepatutnya aku rasakan. Membayangkan harus berada di tempat pengungsian hingga beberapa hari, membuatku merasa sedikit aneh jika tidak menyempatkan diri pamit dengan Mawar.


Tapi, mau pamit kemana.? Jangankan nomer telfonnya, alamat tempat tinggalnya saja aku tidak pernah tau. Ya, kebetulan itu memang tidak pernah tau dimana tempatnya. Dan aku akan menikmati kebetulan ini, bisa juga memanfaatkan kebetulan ini sebaik baiknya saat dia mengatakan akan mengantarku ke tempat pengungsian bencana berlangsung.


Hari ini, aku mengetahui sisi lain dari Mawar. Mawar yang selama hampir setahun ini aku lihat, sebagai gadis kalem meski tidak juga kalem kalem banget, hari ini dia menunjukkan sisi bar barnya saat mengendarai kuda besi dengan cara yang extreme, bahkan cendrung seperti pembalab.


Dan aku semakin sadar aku sama sekali tidak mengenalinya dan hanya penuh kagum terhadapnya saat dia membantu Yesha menangani seorang ibu bersalin di camp pengungsian. Bertambahlah satu stok mengagumi yang aku miliki terhadapnya. Sampai sampai itu dapat di lihat oleh Mas Karim, yang tak lain adalah anak Kyai dimana Mawar menimba Ilmu, juga sekaligus sahabat baik ku.

__ADS_1


"Kalau benar benar suka Mbak Mawar tidak masalah Mas Karang, asal itu langsung menembusi keluarganya. Minta secara baik baik dan tujukan untuk ibadah, agar tidak menambahi dosa." Ucap Mas Karim saat menyadari tatapanku terhadap Mawar.


"Ah, itu terlalu jauh jika kesana Mas." Jawabku kalem.


"Kalau niatnya untuk main main atau pacaran lebih baik jangan Mas. Tapi, kalau memang Mas Karang ada niat serius dengan Mbak Mawar saya siap menjembatani." Timpal Mas Karim dengan serius dan aku sama sekali tidak menjawabnya lagi.


Aku masih ragu dengan perasaanku dan aku putuskan untuk menjauh beberapa hari dari Mawar. Tapi, belum genap sehari aku berada di camp pengungsian yang lainnya, aku justru semakin kepikiran terhadap Mawar. Dan aku terus terngiang perkataan Mas Karim, yang tidak membolehkan bermain perasaan untuk menghindari dosa, yang kemungkinan juga akan ke Zina jika di teruskan.


Tapi setelah siang tadi, aku melihat Mawar, Yesha dan Bia menatap ke arah Om Om Loreng penuh dengan tatapan kagum, membuat hatiku tidak nyaman, rasa tidak rela senyum Mawar di berikan kepada orang lain membuat dadaku memanas, dan disini aku sadar perasaan yang aku miliki untuk Mawar bukan perasaan kagum. Melainkan aku sedang jatuh cinta terhadap Mawar.


Terlalu lamban memang untuk mengetahui nama dari perasaan yang ada di dadaku. Dan malam ini, memanfaatkan ketakutan unik Mawar dengan Kucing, membuatku lupa akan nasehat Mas Karim. Aku menyatakan perasaanku terhadap Mawar.


"Setidaknya harus memiliki ke unggulan dan kwalifikasi khusus ketika melihat sesiapa orang yang di inginkan, agar kelak menjadi cukup pantas jika di kehendaki menjadi pelabuhan terahir. Saya bukan siapa siapa juga bukan apa apa, untuk itu biarkan saya menjadi apa dan siapa, agar kelak tidak ada rasa malu berada di sisi sampean ataupun sebaliknya" Ucapan panjang di sertai dengan semu merah di wajahnya, membuatku mantap dan tidak menyesali mengutarakan perasaanku padanya malam ini, meski kami sepakat untuk menyimpan rasa bahagai cukup di hati kami masing masing.


Jalan orang jatuh cinta memang sangat aneh, hampir setahun kenal, tidak ada komunikasi berarti selama itu, tidak pula saling tau asal masing masing, tidak tau apa yang di suka dan tidak disuka, tapi nyatanya cinta tumbuh subur di hati kami berdua. Semoga cinta yang tumbuh ini akan terus mekar, hingga kami benar benar siap mengatakan kepada dunai bahwa ada cinta yang bermekaran di dada kami.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2