Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Sikap Bang Daffa.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terbaring tak berdaya dengan alat alat yang menempel serta berbagai bunyi silih berganti, kadang berdenting cukup panjang, kadang juga hanya sekilas dan samar. Sementara, orang yang berada di sampingnya seakan tidak lelahnya terus mengenggam tangan Kak Melati, yang penuh dengan sayatan hampir mengering.


Tidak ada luka cukup serius yang di dapat oleh Kak Melati, namun cukup fatal dengan kepala Kak Melati yang berbalut perban tebal. Sedangkan Bang Daffa sendiri, sudah cukup pulih.


Sudah hampir satu jam aku berdiri di depan kamar tranparan ini, dan tidak sedetikpun aku melihat Kak Melati menggerakan tubuhnya. Kak Melati seolah tengah pulas dalam tidurnya, wajahnya yang putih tampak berseri meski dalam keadaan pucat.


Menahan sesak, sekaligus menanti ijin dari Bang Daffa. Aku sama sekali tak beranjak dari tempatku. Bahkan, bujukan Erik tak mampu melemahkan inginku menemui Kak Melati. Meski, Bang Daffa seakan enggan menyilahkan aku menemuinya. Entah, apa yang sedang di pikirkan oleh Bang Daffa terhadapku.


Tatapan jijik itu kembali Bang Daffa layangkan kepadaku persis seperti beberapa tahun silam, saat Bang Daffa melihatku bersama Rendi di dalam kamar. Dan, kini tatapan itu kembali Bang Daffa berikan padaku, tepat aku datang ke Rumah Sakit pagi tadi.


Dari tatapan Bang Daffa itu seolah berkata, bahwa akulah penyabab semua ini. Dan, aku rasa memang iya, andai aku bisa langsung mengangkat telfon Kak Melati dan memberi penjelasan kepada Kak Melati dengan segera, mungkin saja Kak Melati tidak akan bertengkar dengan Bang Daffa dan mengalami kecelakaan.


"Makanlah dulu, War." Tanpa menoleh aku memilih menggeleng sebagai jawaban tolakan kepada Erik. "Kamu membutuhkannya, War. Jika bukan karena Melati, lakukan karena Adit. Mereka sebentar lagi akan datang." Lanjut Erik.


Adit. Kenapa, aku bisa melupakan Adit begitu saja, padahal Kak Melati pernah menitipkan Adit kepadaku. Lalu, bagaimana saat ini keadaan Adit.


"Adit, Adit juga akan datang kesini.?" Tanyaku pelan.


"Iya." Jawab Erik pendek dengan mensejajari berdiriku.


Helaan nafas dalam sekaligus berat Erik terdengar hingga telingaku, seakan sebuah beban berat di pikul di pundaknya, sementara tatapan Erik searah jarum jam denganku, yakni memperhatikan ke depan dimana Kak Melati terbaring.


"Ini titipan Melati." Lirih Erik sembari menyodorkan sesuatu yang di gengamnya rapat di balik jemarinya.


"Apa itu." Tanyaku pelan tanpa bergeming mengambil dari tangan Erik.


Perlahan Erik membuka jemarinya, dan tampak olehku sebuah cincin bertahtakan berlian. Dan aku tau itu adalah cincin pernikahan Kak Melati. Tapi, kenapa itu bisa sampai ke tangan Erik.?


"Kenapa itu bisa ada padamu, Rik.?" Kini ku alihkan pandanganku sepenuhnya guna menatap Erik. Dan tampak olehku wajah Erik yang penuh beban.


"Melati menitipkan kepada gua, agar ngasih ke elo." Mendengar penuturan Erik seketika aku mencari kejujuran lewat wajah Erik, yang jelas tidak akan bisa berbohong padaku. Namun, hingga ahir aku sama sekali tidak menemukan alasan apa yang membuat Erik harus berbohong padaku.


"Kamu tau ini cincin apa bagi Kak Melati dan Bang Daffa.?" Tanyaku lagi.


"Ya, di dalam sini terukir nama Daffa." Erik menjeda ucapannya sembari menghela nafas dalamnya. "Gua juga tidak tau alasan apa yang membuat Melati menitipkan sama, gua. Dia hanya berpesan, bahwa kamu berhak memiliki ini, dan Melatilah yang telah mencuri segala bahagiamu."


Tertekun sesaat mendengar penuturan Erik, dan aku tak bisa menemukan alasan atas pesan Kak Melati yang mengatakan bahwa Kak Melati telah mencuri bahagiaku. Kalaupun yang di maksud Kak Melati adalah Bang Daffa, harusnya aku yang merasa bersalah kepada Kak Melati. Karena aku tidak jujur dari awal. Jika saja aku jujur dari awal tentu hal ini mungkin tidak akan terjadi.

__ADS_1


"Kenapa kamu terima itu, Rik. Kamu tau, bahwa bahagiaku terletak pada bahagia Kak Melati. Harusnya, kamu bisa memberi pengertian kepada Kak Melati. Jika aku hanya mengagumi Bang Daffa secara diam diam."


"Jika, kamu keras kepala. Maka, Melati jauh berkepala batu dari pada kamu." Memang benar yang di ucapkan oleh Erik. Mengingat Kak Melati yang selalunya mendulukan apa yang ku mau tanpa berucap padanya, sudah barang tentu Kak Melati akan mengorbankan dirinya. Tapi, kali ini cara Kak Melati salah.


Kak Melati lupa, bahwa sifatnya hati itu mudah berubah ubah. Dulu, memang iya aku memiliki perasaan terhadap Bang Daffa, sebelum ahirnya aku bertemu dengan Mas Karang. Dan karena itu pulalah, aku terus berdiri disini guna menunggu kesempatan guna menjelaskan kepada Kak Melati, bahwa Kak Melati tidak pernah mencuri bahagiaku.


"Lekaslah sarapan, War. Aku tidak bisa meninggalkan kamu dengan tenang, jika kamu belum sarapan." Ucapan Erik mengembalikan kesadaranku dan membuatku juga menggiring pandangan ke arah kursi tunggu tak jauh dari pintu ruangan ICU.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Erik benar benar meninggalkan aku setelah aku menghabiskan bubur ayamku, dan kembali aku berdiri di depan kaca besar itu guna memperhatikan Kak Melati yang masih sama seperti aku datang. Begitupun dengan Bang Daffa yang terus berada di sisinya.


Fokusku melihat ke dalam teralihkan begitu ku dengar suara tangis anak kecil, dan menoleh ke arah pintu masuk kudapati Bu Mega yang tengah mengendong Adit yang menangis sambil meronta ronta, sementara di sampingnya Pak Agung sibuk membujuk Adit agar mau diam dengan mengeluarkan beberapa mainan dari tas kecil yang terslempang di bahu Pak Agung.


Belum genap setahun aku berpisah dari mereka, lihatlah sekarang. Karena beban anak yang sakit, membuat kedua orang tua itu terlihat lebih tua dari sebelumnya. Gurat sedih di bawah mata mereka tampak jelas. Dan sekali lagi akulah penyumbang kesedihan mereka.


Membalikkan badanku dengan cepat, ku pacu langkahku menyongsong mereka. Dan alangkah terkejutnya aku, karena sambutan yang di berikan Bu Mega berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Tersunging senyum hangat untuk ku dari Bu Mega, senyum yang sedari dulu aku inginkan.


"Lihat, Aunty Mawar ada disini." Ucap Bu Mega mencoba membujuk Adit agar mau diam setalah aku usai menyalami tangan keduanya.


"Adit. Sini gendong Aunty." Ucapku sembari mengangsukan kedua tanganku kepada Adit.


"Titi, Awa." Ucap Erik di sela tangisnya.


"Semalam, Pak." Jawabku sembari menimang nimang Adit, yang kini sudah tenang dalam gendonganku.


"Daffa sudah keluar apa belum.?" Aku menggeleng pelan mendengar penuturan Bu Mega. Sementara Bu Mega, bergegas masuk ruang sterillisasi dan tak lama setalah itu sudah berada di dalam ruang ICU bersama Bang Daffa.


Entah apa yang mereka berdua bicarakan di dalam, tak lama setelah itu mereka berdua keluar dan lagi lagi kilatan kemarahan di mata Bang Daffa membuatku begitu menyesakan nafasku dan menciutkan nyaliku. Padahal bibirku sudah terbuka hendak meminta ijin untuk bertemu dengan Kak Melati.


Merebut Adit dariku dengan kasar, Bang Daffa sama sekali tidak perduli dengan Adit yang kembali menangis meski tidak histeris, serta membiarkan Adit terus meronta.


"War, masuklah. Biar Daffa istirahat sebentar." Ucap Pak Agung kepadaku. Aku sudah memajukan satu kakiku hendak melangkah, namun terhenti karena ultimatum dari Bang Daffa.


"Diam di tempatmu. Aku hanya butuh tiga menit untuk makan." Ucap Bang Daffa sembari meraih tempat bekal yang di bawakan Bu Mega.


"Biarkan Mawar masuk kedalam, Fa. Meski mereka bukan sekandung, tapi mereka cukup dekat." Bela Bu Mega. "Masuklah, War." Imbuh Bu Mega sembari menyungingkan senyumnya untuk ku.


Tanpa memikirkan apa yang akan di pikirkan oleh Bang Daffa, akupun melangkah juga menuju dimana Kak Melati berada, namun baru ku sentuh knop pintu tangan besar Bang Daffa sudah menutup pintu kembali yang baru berapa centi terbuka.


"Aku bilang jangan masuk." Ucap Bang Daffa dengan nada berbisik, dan itu terlihat sekali jika Bang Daffa tengah meredam amarahnya di depan mertuanya.

__ADS_1


Tubuhku mengaku, begitupun dengan Pak Agung dan Bu Mega yang berdiri tidak jauh dariku. Apa yang membuat Bang Daffa begitu tak menginginkan aku menemui Kak Melati, dan apa sesungguhnya yang mereka bicarakan terahir kali, hingga tumbuh rasa benci yang begitu besarnya dari Bang Daffa untuk ku.


"Dia baru sampai pagi tadi, Ma. Dari perjalan jauh pasti membawa beberapa bakteri, akan lebih baik jika membersihkan diri dengan benar dulu." Ucap Bang Daffa lagi.


"Benar. Kenapa Mama tidak berpikir seperti itu." Timpal Bu Mega.


"Pulanglah dulu, War. Sopir Bapak ada di kantin Parkiran." Imbuh Pak Agung.


Aku mengedarkan pandanganku dan berhenti cukup lama ke arah Bang Daffa yang kini tengah memangku Adit.


"Titi, Awa. Titi." Seperti itulah ucapan Adit yang terus meronta hendak ikut aku. Namun Bang Daffa bersikeras mengeratkan tangannya di tubuh kecil Adit. Melihat perlakuan Bang Daffa yang mencoba menjauhkan aku dari Adit, membuat hatiku terasa ngilu.


"Adit mau ikut pulang sama Aunty Mawar.?" Tawar Bu Mega, dan di angguki oleh Adit dengan cepat, namun lagi lagi Bang Daffa segera menyahutinya dengan tegas.


"Adit disini sama Papa, habis ini Uti sama Om Avin datang." Adit menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak boleh bandel. Dengar apa yang Papa ucapkan." Terdengar nada kasar dari Bang Daffa yang membuat Pak Agung seketika angkat suara.


"Cukup, Fa. Jika kamu capek maka istiratlah, jangan lampiaskan kemarahanmu sama anak." Kata Pak Agung sembari mengangkat tubuh kecil Adit dari pangkuan Bang Daffa.


Adit memenang langsung diam begitu ucapan Bang Daffa berhenti, namun yang terlihat bukan karena Adit ingin diam. Melainkan, karena Adit yang ketakutan terhadap Bang Daffa. Bahkan sampai Adit tak berani melihat ke arah Bang Daffa.


"War, pulanglah dulu. Istirahat sebentar, nanti gantian berjaga disini." Lanjut Pak Agung sebelum ahirnya membawa Adit pergi dari ruangan itu.


Meninggalkan segala tanya yang tak tau akan mendapat jawaban dari siapa. Aku memilih meninggalkan Rumah Sakit seperti yang di ucapkan Pak Agung. Dan mungkin saja Erik tau beberapa hal yang mungkin saja sengaja Erik rahasiakan dariku. Mengingat Erik tadi belum menjelaskan segalanya tentang cincin yang kini tengah berada di dalam sakuku.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2