Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Terhayut Bujukan Setan.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Entah harus seperti apa aku lukiskan perasan bahagiaku saat ini. Tidaklah tempat yang mahal, ataupun tempat yang berkelas untuk menjadikan alasan hati di penuhi kebahagiaan, nyatanya hanya dengan duduk di taman pinggir sungai sudah mampu meledakan berjuta bunga di dadaku.


Menatap lurus ke arah bebatuan besar yang menyebar hampir di setiap jengkal dari sungai lebar di hadapanku menambah nilai lebih bagi mataku yang sesungguhnya tidak benar benar melihat itu semua nyata, karena bayangan senyum Mas Karang jauh lebih nyata berada di pelupuk mataku.


Melirik arloji yang melingkari tanganku, dadaku tak henti hentinya terus bertalu talu mengingat siapa orang yang tengah aku tunggu kehadirannya, namun sudah lebih dari sepuluh menit beralalu, belum ada tanda tanda Mas Karang akan datang. Tapi dengan begini ada baiknya juga, lantaran aku bisa lebih emyiapkan diriku agar tak tampak begitu gugub, mengingat ini pertama kalinya kami janjian secara resmi untuk bertemu.


Menit berganti jam, alasan untuk menenangkan diri sendiri yang tadinya aku buat seketika buyar dan nyatanya hingga waktu ijin yang aku miliki hampir habis, Mas Karang belum juga datang. Dadaku yang tadinya bermekaran bunga perlahan lahan berubah haluan, antara takut terjadi apa apa sekaligus perasaan sedih, karena nyatanya apa yang sudah di rencanakan harus gagal begitu saja.


Berulang ulang kali aku menekan keypad di ponselku dan tak satupun mendapat jawaban dari Mas Karang, itu membuatku semakin gelisah memikirkan yang tidak tidak mungkin saja terjadi pada Mas Karang. Di saat seperti inipun, sekaan langit ikut menyumbang suasana dengan meneteskan tangisnya pelan pelan.


Kembali menekan keypad ponselku sebelum tangis langit semakin menjadi, akupun kembali menarik nafas berat seiring dengan jawaban yang sama sebelumnya, bahwa jangkauan tidak mengijikan aku tau tentang Mas Karang saat ini. Akupun beranjak meninggalkan kursi menuju ke gazebo besar yang aku lihat tadi tepat berada di tengah tengah taman.


Sedikit berlarian kecil untuk lekas berteduh, aku kembali harus menerima hari ngenes ini yang belum mau berahir, karena beberapa orang yang sedang menepi dari hujan rata rata berpasang pasangan. Dan aku seorang yang menjadi nyamuk tanpa obat, sehingga terlihat begitu mengenaskan.


Hujan sudah pergi, menyisakan rinai yang kemungkinan akan kembali di susul hujan lagi, karena langit masih tak ingin lebih cerah.


"Sudah waktunya kembali." Lirihku, sembari menatap ke arah papper bag dengan perasaan sendu. Lantas mengayun kakiku menyusuri jalan berbatu yang kini telah basah.


Tanaman disisi sisi jalan juga basah yang justru tampak lebih segar di pandang mata. Dan langkah pelanku terhenti tepat beberapa meter dari gerbang taman, karena sosok yang aku tunggu sedari tadi tengah berjalan sedikit tergesa dengan baju yang sudah hampir separuh basah, padahal tangannya memegang payung.


Tatapannya penuh penyesalan, saat mata kami bertemu untuk sesaat. Dan langkahnya yang tadinya sedikit tergesa sekarang memelan menuju ke arahku. Tidak ada kata yang mampu aku keluarkan dari bibirku. Manatap wajahnya yang merasa bersalah sudah cukup membuatku terharu.


Mungkin kedatangannya memang sangat terlambat, tapi bagaimana cara penebusannya dengan masih datang kemari, itu sudah cukup menjadi bukti untuk ku, bahwa Mas Karang mengehargai janji kami.


"Sampean.."


"Maaf." Pelannya memotong kataku yang belum usai aku katakan. "Ada hal yang memdesak dengan tiba tiba. Ayo duduk sebentar biar aku menjelaskan yang menjadi penyebabnya." Lanjutnya dengan cepat.


Aku menggeleng pelan. "Aku sungguh tidak bermaksud. Tapi, aku juga tidak bisa menyuruhmua agar tidak marah padaku. Pasti kamu capek menunggu." Mas Karang salah paham dengan maksud gelengan kepalaku.


"Tidak, bukan itu maksudku, Mas." Jawabku dengan cepat. "Lihatlah tampilan sampean, sudah hampir basah semua tapi masih saja bawa bawa payung, udah gitu payungnya kayak punya incess." Lanjutku dengan menyungingkan senyumku, yang kemudian itu menular ke Mas Karang.


Mas Karang menoleh sebentar ke arah payungnya. Payung tranparan dengan aksen bunga sakura berwarna pink membuat Mas Karang tertawa geli.


"Ini masih masuk akal, Mawar. Karena aku membelinya sembari jalan kesini tadi. Ada yang lebih tidak masuk akal lagi, yaitu kamu." Ucap Mas Karang.


"Ngombal saja terus." Kilahku untuk menutupi malu. "Akan lebih baik jika sampean ganti baju dulu, biar tidak kedinginan."

__ADS_1


"Aku tidak punya baju ganti, karena aku tidak bawa mobil." Aku tersenyum manis tepat Mas Karang menyelesaikan ucapannya, lantas mengangkat papper bag yang aku pegang agar terlihat oleh Mas Karang.


"Coba ini, kalau pas bisa sampean beli dari ku." Ucapku.


"Ini untuk ku." Ucap Mas Karang antusias sembari meraih papper bag dengan cepat.


"Siapa yang bilang. Aku bilangnya kalau pas, sampean bisa membelinya dariku." Jawabku dengan memalingkan wajahku ke lain arah.


"Sama pacar sendiri perhitungan banget." Kata Mas Karang sembari berjalan masuk lagi ke area taman. "Ayo lekaslah, aku tak ingin kedinginan dan meminta hal lain padamu untuk menghangatkanku." Lanjut Mas Karang saat melihatku masih berdiri diam di tempatku. Dan aku makin terpaku saat menyadari ucapan Mas Karang barusan.


"Ayo." Ucap Mas Karang lagi sembari meraih tanganku dan mengapitkan jemarinya di ruas ruas jariku. Untuk sesaat aku yang belum sadar sepenuhnya dari keterkejutanku, hanya bisa terus mengikuti kemanapun Mas Karang menarik ku.


Mas Karang semakin mengeratkan pegangannya, saat aku yang mulai menarik tanganku darinya. "Sebentar saja, hanya sampai kamar mandi. Aku takut kamu tersesat kalau aku tidak mengandengmu." Ujar Mas Karang sembari tersenyum penuh arti.


Tidak harus di taman luas aku akan tersesat, saat ini saja aku sudah tersesat di labirin hatimu, Mas Karang. Padahal aku sedang dalam keadaan sadar, tapi aku sedang di mabuk cinta, hingga aku lupa diri serta menghalalkan yang seharusnya haram. Aku tau ini dosa, tapi aku sama sekali tidak bisa menolak pesona dosa ini jika di hadapkan pada Mas Karang.


Dan inilah dasar kenapa tidak di perbolehkan bagi yang bukan mahram untuk berdua duaan, karena pasti akan ada pihak ke tiga yang menjadi penungganya yakni setan. Dan saat ini pasti setan tengah tertawa keras, menertawaan ketipisan imanku, menertawakan keberhasilannya menjerumuskan aku dalam kebucinan selain dari pada Allah.


Setan semakin bersorak gembira, saat aku masih merasa hampa ketika jemari Mas Karang ahirnya terurai tepat di depan kamar mandi.


"Tunggu aku sebentar." Ucap Mas Karang tepat berada di depan kamar mandi, dan aku dengan patuh menunggunya hingga pintu kembali terbuka.


"Kok jadi aku yang harus membayar. Harusnya sampean yang membayar." Potongku.


"Kita lihat saja nanti. Ayo." Ucap Mas Karang lagi sembari meraih payung yang aku pegang.


Mas Karang yang sudah berjalan beberapa langkah kemudian kembali terhenti, saat menyadari aku tak ikut melangkah bersamanya. "Ayo, tunggu apa lagi. Aku perlu bicara denganmu." Kembali Mas Karang berucap pelan yang hanya aku jawab dengan gelengan kepala pelan.


"Sudah waktunya untuk ku kembali." Kataku ahirnya sembari menunjukan arloji yang melingkar di tanganku.


Mas Karang kembali melangkah ke arahku, dan memayungi kami berdua. "Kita bicara sambil berjalan memutari taman, aku rasa itu sudah cukup untuk membahas segalanya. Jadi, tunggu apa lagi. Ayo." Ujar Mas Karang, dan mensejajarkan berdiri kami.


"Bisa kayak gitu." Jawabku.


"Tentu saja, kamu hanya perlu mendengarkan aku saja." Ucap Mas Karang, sembari berjalan pelan yang kemudian aku ikuti di belakangnya. "Jangan terlalu jauh, Mawar." Lanjut Mas Karang.


Ahirnya kami berjalan beriringan dengan payung yang kini berada di tanganku. Hujan sudah berhenti, tinggal rintik yang sesekali saja terbawa angin. Menyusuri jalan berbatu, langkah kami semakin masuk ke dalam hingga berada di jalan tepian sungai.


Mendengarkan Mas Karang mengemukanan semua alasannya kenapa bisa datang terlambat, aku menyadari bahwa Mas Karang adalah sosok yang sangat menghargai orang orang terdekatnya. Oleh sebab kedatangan Ibu juga Kakaknya yang secara tiba tiba untuk bertemu dengan Mas Karang, Mas Karang memundurkan agendanya denganku.


Satu hal lagi yang aku tau dari cerita Mas Karang. Mas Karang sangat menghormati dan menyayangi Kakaknya yang sekaligus menjadi inspirasi baginya. Dan menurut Mas Karang, Kakaknya adalah orang terbaik yang selalu memberinya semangat baginya.

__ADS_1


Meninggalkan cerita tentang keluarga Mas Karang, kini giliran Mas Karang membicarkan hal pribadi tentang dirinya yang ujung ujungnya ke arah gombal mengombal. Jika, aku boleh jujur, aku lebih senang Mas Karang bercerita tentang keluarganya, dengan begitu aku tidak perlu mengontrol detag jantungnya yang sibuk menggila.


"Aku kelihatan kerenkan dengan kemeja ini, Mawar." Ucap Mas Karang sembari sedikit menjauh dariku.


"Ih, narsis banget sih. Biasa aja kali." Jawabku sembari berjalan pelan ke arahku.


"Kamu bilang gitu karena tidak mau bertangung jawab dengan perbuatanmu."


"Memang apa yang aku buat.?" Tanyaku bingung.


"Kamu membuatku terlihat lebih keren dengan kemeja ini, jadi kamu harus membayarnya. Anggap saja sebagai biaya endorse." Ucap Mas Karang dengan santainya, dan peralahan kembali mengikis jarak kami dan berhenti tepat di hadapanku menjulang tinggi, hingga aku harus sedikit mendongak dan menyingkirkan payung di atasku.


"Hatimu telah merubah hatiku. Sebelum hatiku bertemu hatimu, dan setelah hatiku bertemu dengan hatimu, terjadi sebuah perubahan yang tidak pernah bisa dilakukan hati manapun sebelumnya, dan tidak pernah dirasakan hati manapun di dunia ini kecuali hatiku." Ucap Mas Karang lembut.


"Jadi, karena hatimu telah begitu berani menguasi hatiku, maka aku minta bayarannya sekarang juga." Lanjut Mas Karang dan dengan cepat sudah di tariknya tepian dari payung hingga menutupi wajahku. Aku yang kaget, belum sepenuhnya tersadar dengan apa yang hendak Mas Karang lakukan, hingga payung tranparan itu menyentuh keningku yang di dorong oleh bibir tebal Mas Karang. Aku kaku di tempatku dengan mata terpejam dan dasa bergetar hebat.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Kembali tanganku ternoda olehmu, Mas Karang. Maapkuen, Emak ya readers, yang tidak bisa memberi pengertian kepada Mas Karang. Harap pembaca bijak, dengan jangan sampai menirukan apa yang di lakukan Mas Karang dan Mawar. Itu Dosa ya...


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2