Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Mawar dengan keelokannya.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Meja kayu berbentuk bundar yang berada di bawah payung besar di penuhi oleh piring yang berisi makanan. Ada Bebek kremes plus nasi putih yang tepat berada di hadapan Bia, sedang piring yang tepat berada di sebrangku berisikian nasi lengkap dengan sayur dan lauknya berupa dada Ayam panggang tanpa bumbu. Sementara yang berada di hadapanku berupa mangkok besar yang berisikan cap cay.


Benar yang di katakan Mas Karang, aku tidak memiliki alasan untuk menolak ajakan Mas Karang, sehingga saat Mas Karang mengucapkan kata "Ayo." Akupun spontan saja mengikuti langkahnya tanpa mengeluarkan alasan untuk berkelit lagi. Dan aku lakukan semua karena Bia.


Hingga, disinilah kami sekarang di sebuah rumah makan yang cukup bagus untuk ukuran ku. Dan menurutku ini lebih layak di sebut Caffe tapi menyediakan menu menu tradisional. Kenapa aku menyebutkan ini layak menjadi Caffe, lantaran tempatnya yang lumayan menjual lewat sua fotonya bagi kaula muda.


Berada di pinggiran sungai dengan view tanaman Bambu Kuning yang di tata rapi, serta perbukitan si sebrang sungai membuat mata enggan berpaling. Di tambah angin semilir dan bebuyian alam nan asri membuatku serasa tak rela hanya sekedar untuk berkedip.


"Mawar, kamu akan sampai kapan memandangi Bia dan aku secara bergantian.?" Ucap Mas Karang santai, namun efeknya sungguh luar biasa bagiku. Karena, mukaku langsung memerah oleh itu, meski sejujurnya bukan Mas Karang yang aku lihat sedari tadi, melainkan orang yang tengah memancing di sungai.


"Eh, makanan kamu masih utuh, War." Ucap Bia yang kini ikut mendongak menatap aku dan Mas Karang secara bergantian. "Dhemm." Bia berdebem pelan hingga membuatku menoleh ke arahnya begitupun dengan Mas Karang.


"Cepat makan, War." Ucap Bia sembari tersenyum yang aku tau itu senyuman untuk mengolok ku. Aku bingung saja kenapa Bia harus memberiku senyumnya yang seperti itu, dan aku yakin seyakin yakinnya, setibanya nanti di Pesantren pasti Bia akan mengangguku dengan pertayaan yang sulit untuk ku jawab.


"Benar kata Bia, cepat makan makananmu, Mawar. Apa kamu menunggu ada orang yang menyuapimu."


"Uhuk, uhuk, uhuk." Bia langsung tersedak mendengar penuturan Mas Karang, sementara aku yang masih sedikit tidak percaya dengan ucapan orang yang duduk di depanku memikih untuk meraih sendok serta garpuku yang masih tertutup tisu.


Mendorong pelan mangkuk yang masih berisi separuh dari makananku menandakan bahwa makanku telah selesai. Begitupun dengan Bia dan Mas Karang, cuma bedanya piring mereka hanya menyisakan tulang tulang saja.


"Apa kurang cocok makanannya, Mawar.?" Tanya Mas Karang setelah menenggak air putihnya.


Aku menggeleng pelan, juga sambil meminum minumanku, dan hendak mengeluarkan kataku setelahnya, namun sudah di dului oleh Bia. "Mawat tidak bisa makan pedes. Juga memang porsinya terlalu banyak untuk Mawar, Mas Karang."


"Segitu kebanyakan.?" Tanya Mas Karang kepadaku.


"Bohong banget Mas, Bianya." Ucpaku. Aku hanya tidak ingin di sangka sebagai perempuan yang suka jaim di hadapan laki laki. "Saya tadi sudah keganjel sama Kue Balok dua potong." Lanjutku.


Dan rumitnya pikiranku kali ini, kenapa aku harus repot repot memberi penjelasan kepada Mas Karang mengenai aku, harusnya aku biarkan saja Mas Karang berpikiran buruk tentangku. Anehnya, hatiku tak terima dengan itu, hanya karena aku tak ingin di anggap seperti wanita pada umumnya. Ada apakah gerangan denganku, seseorang tolong beri tau aku dengan perasaan ini.


"Kalau di lihat dari perawakan mu, Mawar. Kamu memang tipekal tipekal orang yang susah makannya." Di jedanya ucapan Mas Karang, lantas menelisik ke arahku dengan seksama sebelum ahirnya di lanjutkan lagi kata katanya. "Di biasakan hidup sehat, makan teratur dengan memperbanyak sayur kuga air putih, dan yang tidak kalah penting adalag tidur teratur. Selain itu baik untuk kesehatan, juga sekaligus bagus menjaga kulit agar tidak mengalami kerutan dini." Jelas Mas Karang.


"Wah, Mas Karang keren banget." Ucap Bia dengan mengacungkan dua jempolnya ke arah Mas Karang. "Demen banget punya teman seperti Mas Karang. Bukan begitu, War.?"


"Iya, terima kasih banyak Mas Karang." Ucapku dengan tulus.


"Terima kasih untuk apa, Mawar.?"


"Maaf menyela sebentar. Kenapa Mas Karang selalu memanggil Mawar dengan lengkap Mawar, kenapa tidak War." Tanya Bia dengan nada penasaran khas Bia, dan itu juga membuatku ikut bertanya tanya, padahal sebelum sebelumnya aku tidak pernah mau tau soal itu.


"Kenapa.? Ya tidak kenapa kenapa." Jawab Mas Karang santai hingga membuatku menghela nafas lega, karena itu sama persis seperti yang aku pikirkan. Hanya sebuah kebetulan.

__ADS_1


"Ya jelasnya ada alasan spesifik dong, Mas." Tuntun Bia, hingga aku harus menginjak pelan kakinya agar Bia berhenti mau tau urusan orang.


Mas Karang seperti berpikir sebentar, sebelum ahirnya menjatuhkan tatapannya ke arahku dan mengulas senyum tipisnya. "Ya, seperti Bunga Mawar saja. Bunga Mawar indah karena keelokannya, juga karena Bunga Mawar adalah bunga yang memiliki sejuta alasan untuk di berikan kepada orang lain dengan segala keindahannya meski dia akan layu pada ahirnya. Kalau di sebut War atau Maw, akan kurang tepat. Dan aku rasa, Mawar tepat di panggil Mawar seperti bunga Mawar yang memiliki berjuta juta alasan."


Penjelasan panjang Mas Karang membuat aku hanya bisa terus melonggo menatapnya. Tidak menyangka, itulah yang aku rasakan. Dan justru kini Bia yang bersemangat menjawab kata Mas Karang dengan kata kata anehnya hingga membuatku mengurut keningku pelan lantarna pusing menyambungkan kata dengan pemahamanku.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah kurang lebih setengah jam lamanya makan sing tadi, ahirnya aku juga yang menyampaikan bahwa waktu santai telah usai. Lantas pamit kepada Mas Karang setelah ucapan terima kasih baik aku ataupun yang di ucapkan oleh Bia. Lagi dan lagi, jawaban Mas Karang membuatku tercengang.


"Aku akan memberi konpensasi untuk makanan yang tidak kamu habiskan tadi, Mawar. Jadi hutangku belum lunas ya." Ucap Mas Karang tadi, sebelum meninggalkan aku dan Bia di rumah Laundry


Ingin sekali, aku memupuk perasaan hangat ini. Namun, jika aku ingat bahwa cinta sendiri itu cukup menguras emosi. Memupusnya dengan segera adalah jalan terbaik, sebelum rasa ini kian bertunas lantas menancapkan segala akar akarnya hingga ke dasar hati.


Cukup, perasana GeEr terhadap Bang Daffa yang aku pelihara sebelumnya, hingga aku tidak perlu mengulangi kebodohan ku untuk yang kedua kalinya. Mas Karang, memang baik. Dan itu tidak baik hanya denganku seorang, melainkan terhadap siapapun juga yang di temui di rumah Laundry, memang sedikit berlebih untuk ku. Tapi, aku tau alasan apa yang membuat Mas Karang lebih baik kepadaku.


Yah, perasaan hangat ini tidak perlu untuk di teruskan, karena aku tidaklah bisa selayaknya Rabi'atul Adawiyyah yang memiliki keteguhan hati. Aku hanyalah Mawar yang sedang belajar untuk sholihah.


Seperti yang pernah ku katakan kepada Bia sebelumnya. Harus memiliki poin khusus agar terlihat, harus memikiki kwalifikasi yang mumpuni jika ingin di perhatikan oleh orang yang di kagumi, agar perasaan itu tidak hanya berahir di dalam hati seorang diri.


Dan melihat basic pendidikan juga kesenjangan ekonomi yang begitu menjomplang, aku sudah memutuskan untuk tidak memupuk rasa dalam asa. Karena pada ahirnya aku pastinya yang akan terluka. Jika, mau memcintai tanpa adanya rasa sakit, maka mencintai setelah halal adalah jalan utama.


Hembusan nafas dalam, lantas membuangnya dengan kasar bertepatan dengan motor yang kami tumpangi memasuki halaman belakang Pesantren. Mengunci motor dengan cepat, aku dan Bia bergegas menuju kantor guna untuk mengembalikan kunci motor, sekaligus untuk melapor bahwa kami telah sampai di Pesantren.


Langkah pelanku dan Bia sudah hampir sampai di kantor pengurus. Namun segera ku perlambat, karena aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Dia yang tengah berlari lari kecil menyongsongku, merentangkan kedua tangannya.


Uforia kebahagiaanku yang di beri kejutan oleha Kak Melati membuatku tak henti hentinya terus terusan tertawa lepas dengan Adit yang tak ingin lepas dari dekapanku.


"Ih, anteng lho dia. Padahal kalau di rumah suka bikin rusuh." Ucap Kak Melati dengan menjawil pipi Adit.


"Masak sih. Adit bikin Mama capeknya kalau di rumah." Ucapku degan menyentuh kedua pipi adit gemes.


"Bukan lagi." Jawab Kak Melati lagi. "Kamu tadi darimana, ponsel tidak bisa di hubungi. Bikin kwatir." Lanjut Kak Melati memulai sesi introgasinya.


"Cari reverensi buat bahan Makalah, Kak Mel." Jawabku.


"Terus kenapa ponselnya tidak di aktifkan.?"


"Ya, kalau keluar tidak boleh bawa ponsel bagis Kak Mel. Jadinya ponsenya ada di Kantor." Jawabku jujur.


"Kamu enggak keluyuran kan, War." Tanya Bang Daffa tiba tiba.


"Enggaklah, Bang. Kak Mel bisa tanya ke pengurus ataupun kepada Bia, soalnya tadi Mawar keluarnya sama Bia." Jelasku.


"Iya, Kak Mel tau. Kak Mel percaya sama kamu." Ucap Kak Melati.

__ADS_1


"Jangan sia siakan kepercayaan Melati, War. Karena itu akan kamu banyar mahal jika sampai terjadi." Kata Bang Daffa sungguh sungguh.


Akupun tidak kalah sungguh sungguh, karena aku tidak pernah berpikir untuk merusak kepercayaan Kak Melati. "Siap Bang."


"Sampai lupa, Kak Mel darimana kok bisa mampir kesini.?" Tanyaku ke Kak Melati yang tadi mengatakan bahwa dari satu tempat terus mampir kesini.


"Oh itu. Kak Mel dan Mas Daffa baru saja menghadiri acara Wisudanya Daffin adik Mas Daffa." Jawab Kak Melati, akupun membulatkan bibirku sebagai jawaban mengerti. "Dan malah anaknya langsung menghilang begitu selesai."


"Mungkin mau main sama teman temannya Kak Mel." Jawabku.


"Daffin bukan orang yang mudah akrab sama orang lain." Ujar Bang Daffa.


"Kalau sedang jatuh, ceritanya lain lagi, Mas. Daffin kelihatannya bahagia banget tadi pas pamit pergi lebih dulu. Dan yang bisa merubah adik kamu yang pendiam itu sudah pasti seorang perempuan." Timpal Kak Melati.


"Apa mung.."


"Sudah jangan di debat lagi, buktinya saja Mas Daffa bisa bucin banget sama aku." Kata Kak Melati dengan senyum penuh kebahagiaan dan senyum Kak Melati terlihat seakan bersinar terang. "Tapi, ingat secinta cintanya Mas Daffa sama aku, ada Adit yang juga butuh cinta kamu."


Aku tersenyum meyaksikan intraksi mereka berdua yang seperti sedang pacaran saja. Merangkai kata rayuan satu sama lain, di hadapan jomblo, dan aku bisa apa selain hanya duduk dengan pura pura tak mendengar kata kata mereka.


Kembali waktulah, yang menjadi pembatas kami. Tepat menjelang Asar Kak Melati pamit untuk kembali ke rumah, dan nasehat panjang tak lupa Kak Melati berikan kepadaku. Tapi, yang membuatku pelik adalah kata kata Kak Melati yang menitipkan Adit kepadaku, seolah olah Kak Melati tidak akan bisa bersama Adit hingga dewasa kelak.


"Aku titip Adit, jagalah sepenuh hatimu. Sayangi dia seperti anakmu sendiri." Kata kata Kak Melati terus menari di otak ku hingga mobil perlahan lahan mengecil lantas menghilang dari penglihatanku.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu.


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2