
Serangkaian pemeriksaan telah di lakukan, dan nyatanya aku bisa fokus mengurus segalanya untuk Aliena, karena selama seminggu apa yang aku takutkan tidak sama sekali terjadi. Hari ini adalah hari dimana seluruh hasil pemeriksaan akan di bacakan oleh dokter, setelah kemarin Aliena menjalani pemeriksaan terahir.
Aliena benar benar anak yang kuat dan hebat, kenapa? Karena dari awal pemeriksaan hingga terahir kemarin, Aliena tidak pernah mengeluh berlebihan, padahal aku tau bagaimana rasa sakitnya saat obat di masukan melalui selang infuse. Dan sakitnya saat beberapa kali harus di ambil darahnya guna di bawa ke lab.
Sungguh, Aliena membuatku terharu sekaligus kuat memijakan kakiku di bumi lebih dalam. Mungkin karena Aliena tau tidak ada tempat bersandar bagi Bundanya. Aliena baru tampak manja saat lusa Rendi datang menjenguk kami, sekaligus membawa Budenya yang tak lain adalah Bu Gina ibu kostku dulu. Dia masih sama baiknya seperti dulu, meski agak kaget melihat penampilanku saat ini.
Berada di lantai tiga dengan kamar berisikan beberapa orang, hanya Aliena seorang yang tampak seperti anak sehat namun harus banyak jarum serta obat yang di konsumsi. Itu yang membuatku bertanya tanya, ada apakah dengan Aliena, apa dia hanya demam biasa.
Aku semakin bingung saat Aliena bertanya. "Alin sakit apa, Bun.?" Karena aku benar benar belum tau, bertanya kepada dokter maupun perawatan jawabannya sama semua. Yakni di suruh menunggu hingga hari ini tiba. Namun, sampai menjelang siang aku belum juga di panggil ke ruangan dokter.
Dan ahirnya setelah satu kantong antibiotik habis semua alat medis Aliena di lepas, tinggal menyisakan jarum untuk memasukan obat atapun infuse lagi. Saat aku tanya kenapa begitu, jawaban perawat semakin membuatku bingung, karena kemungkinan Aliena akan masih tetap menjalani perawatan.
"Untuk lebih jelasnya nanti akan di sampaikan oleh dokter, Bunda." Jawab dokter ketika aku terus mendesak ingin tau. Benar tidak lama berselang aku di beritau suster untuk bertemu dengan dokter.
"Bunda, Alin jenuh disini terus. Aliena mau ke taman itu boleh yah." Ucap Aliena begitu aku pamit hendak ke ruangan dokter.
Menoleh sekilas melalui jendela besar, memang tampak sebuah taman di bawah sana. Tapi, membiarkan Aliena kesana seorang diri jelas aku tidak tega. "Nanti sama Bunda ya. Bunda hanya sebentar bertemu dokter, nanti Bunda akan cepat cepat dan kita main di bawah sama sama." Jawabku ahirnya.
Aliena tidak menjawab apa apa, hanya kepalanya tidak berpaling sedikitpun dari sana dan aku tau sikap Aliena yang seperti itu. Bertanda bahwa Aliena sangat ingin kesana dan tak ingin memberi jawaban nanti, persis seperti Ayahnya.
Menghela nafas dalam, aku berusaha keras untuk memberi pengertian kepada Aliena bahwa bukan maksudnya tak membolehkannya, hanya saja aku terlalu kwatir, karena ini adalah tempat baru sekaligus banyak orang.
"Bunda janji, sabar ya." Kali ini Aliena melihat ke arahku, matanya yang bening menyorot tidak ada expresi tapi sejurus kemudian kepalanya mengangguk. "Anak pintar. Bunda pergi dulu sebentar." Lanjutku lantas segera mencium kepala Aliena dan melangkah keluar setelah menitipkan Aliena kepada salah satu orang yang juga sedang menjaga anaknya serta ke perawat juga.
Setelah melintasi lorong rumah sakit, kini tiba aku di depan pintu lift, dan tak menunggu lama pintu baja itu telah terbuka tanpa ada seorangpun didalamnya. Dengan pasti aku masuk ke dalam, mendial nomer dimana lantai yang hendak aku tuju, lantas pintu hendak tertutup kembali.
__ADS_1
Derap kaki seseorang berlari menuju lift membuatku kembali menekan tombol untuk menghentikan pergerakan pintu. Namun orang yang berlari itu justru berhenti yang juga membuat aku menegakkan kepalaku guna melihat ke arahnya. Bukan karena aku ingin tau ataupun kenapa, hanya saja mendengar namanya di sebut membuatku ingin memastikan apakah itu dia.
"dr.Karang." Seperti itulah suster memanggilnya, dan jika aku lihat dari postur tubuhnya yang kini sedang membelakangiku, aku dapat memastikan bahwa itu dia. Maka mengambil langkah seribu adalah hal yang harus aku lakukan sekarang, karena aku tidak ingin seseorang dari masalalu mengetahui tentang Aliena.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Polisitemia.?" Aku mengulang kata kata dokter dengan tanya. Karena ini terdengar asing sekaligus seperti hal yang berbahaya, karena dari mimik dokter menyampaikan penuh dengan kehati hatian sekaligus memastikan aku siap untuk mendengarnya.
"Jadi begini Bunda. Polisitemia atau Eritrositosis adalah meningkatnya jumlah sel darah merah dalam sirkulasi. Dan tergolong ketidak abnormalan pada sel darah merah yang bermula di sumsum tulang belakang. Ini bisa terjadi karena faktor keturunan, namun seringnya terjadi karena tanpa adanya faktor itu dan juga bukan karena bakteri." Aku terus mendengarkan apa yang di sampaikan oleh dokter dengan perasaan campur aduk, juga masih menerka nerka apa yang sesungguhnya terjadi dengan Aliena.
"Ini termasuk langka, Bunda. Karena biasanya Polisitemia ini menyerang penderitanya di kisaran umur limapuluhan tahun." Banyak sekali penjelasan yang di sampaikan oleh dokter yang justru membuat kepalaku terasa pusing. Karena terus berputar putar di seputaran hal yang belum aku pahami benar.
"Dokter, jika bisa di jelaskan secara ringkasnya, apa yang terjadi dengan anak saya.?" Tanyaku begitu dokter menjeda kalimat panjangnya.
Dokter menatapku dengan iba, lantas mengusap tanganku pelan seperti sedang memberiku sebuah energi agar tetap kuat. "Polisitemia dengan kata lain bisa di sebut dengan Kanker darah langka."
Ingin aku berteriak Tuhan tidak adil padaku andai aku tidak ingat bahwa tidak ada daya dan upaya selain mengadu kepada Tuhan lewat do'a. Memang do'a tidak memiliki nyawa, ia tidak mungkin nyata kecuali kita mengusahakannya.
Menyimpan airmataku agar Aliena tak melihatnya aku kembali ke ruang rawat Aliena dengan berjalan pelan melewati setiap anak tangga. Hingga aku rasa kakiku goyah, tubuhku butuh sokongan bahu agar tetap mampu berdiri tegak, aku memilih bersimpuh di lantai dengan airmata yang terus berderai. Betapa menyedihkannya saat seperti ini.
Teringat dengan kuatnya Aliena, aku bangkit dan kembali melanjutkan langkahku dengan semangat yang sama saat dulu dokter memvonis Aliena harus di aborsi. Bukankah ini situasi yang sama dengan kondisi yang berbeda. Dulu, aku hanya bisa mengajaknya berbicara sembari mengelus perutku, sekarang aku bisa mengajaknya bicara sembari memelukanya erat.
Aliena semangatku, selama Aliena bisa tetap tersenyum dan kuat dengan segalanya, kenapa aku tidak. Andai di umpamakan bukankah sayangku untuk Aliena lebih dari segalanya. Derasnya hujan, kerasnya ombak yang menghantam, dan dahsyatnya badai mampu aku hadang untuk Aliena. Semua untuk Aliena.
Tatihan langkah pastiku meniti anak tangga dengan cepat tersendat dan kakiku serasa mengaku bak di tancap di bumi dengan kedalaman di atas rata rata, saat mataku menangkap sosok yang juga tengah mematung di ujung tangga.
__ADS_1
Entah kenapa hari ini begitu banyak kejutan yang terjadi, orang orang dari masalalu seolah berbondong bondong datang dengan di undang. Jika ini kebetulan, kenapa Tuhan tidak memberikan kebetulan yang indah saja, dan kenapa harus dia yang berdiri disana.
.
.
.
.
.
Bersambung...
###
Drama, drama, drama...
Like, coment dan Votenya selalu di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862