
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jalan itu berkelok kelok, ada yang menikung tajam, ada yang menanjak, ada pula yang menurun, setelah melewati itu semua, akan tiba di jalan rata dan menemukan nikmatnya perjalanan yang menjadi cerita. Selayaknya aku, ada di saat aku berada di titik bobrok dalam hidup, kemudian menemukan jalan kembali yang berawal dari sakit hati karena cinta.
Dan dari cinta sendiri itu, aku menemukan makna cinta yang hakiki. Yakni cintaku kepada sang Ilahi. Dan itu jauh lebih menenangkan di hati, karena kita hanya butuh mencintai tanpa perduli akan kembali dari mana cinta itu untuk di miliki.
Sebulan lamanya, aku sudah mengubah penampilanku secara bertahap, sedikit demi sedikit. Juga mengubah pergaulanku, yang sebelumnya teman temanku kebayakan adalah laki laki, sekarang aku mulai mendekatkan diri dengan para gadis gadis.
Dari awal, aku memang tidak pernah memakai pakaian yang terbuka dimana mana. Busana keseharianku cendrung pakaian laki laki. Dan itu tidak perlu banyak perubahan tentunya, meski begitu banyak sekali protesan dan hujatan dari teman temanku, aku tidak ambil pusing soal itu. Tidak luput, Rendi juga ikut mengomentari penampilanku saat ini.
"Sumpah demi apa bidadari syurga turun ke bumi, kalau bukan untuk menemaniku menjalani hari." Ucap Rendi pas pertama kali melihatku memakai gamis dan jilbab untuk pertama kali.
"Iler tuh di kondisikan, Ren." Kata salah seorang penghuni kostan ku. "Tapi bener deh, War. Kamu terlihat mening dikit." Lanjutnya dengan kikikan pelan.
"Mau berantem sama gua, bilang Mawar mening dikit. Dia tuh bidadari Syurga gua."
"Bocah, tidur dulu baru ngimpi." Aku yang malas meladeni mereka, memilih pergi meninggalkan mereka yang tengah berdebat.
Mengubah penampilanku bukan sekedarnya saja, tapi aku juga berusaha sebisa mungkin untuk mengubah setiap perangaiku. Sulit memang, apa lagi aku yang sebelumnya tipe tipe orang yang suka rea reo dan sembrono, tiba tiba harus sedikit kalem, bahkan aku juga berusaha sangat keras untuk mengubah cara bicaraku agar terdengar sopan.
Aku tidak tau dasarnya ilmunya dari mana. Yang pasti, aku hanya berusaha untuk malu dengan jilbab yang telah aku gunakan, jika aku masih bersikap sama dengan sebelum sebelumnya. Protes keras juga sempat Erik layangkan kepadaku, kira kira semingguan yang lalu saat Erik sedang kembali ke kostan. Sampai sampai, perdebatan panjang harus mewarnai pertemuan kami kala itu.
"Apa semua karena Daffa itu. Gua sungguh tidak percaya semua ini, War. Kamu benar benar kekanakan." Ucap Erik dengan nada kesal.
"Ini tidak ada sangkut pautnya sama, Bang Daffa, Rik. Ini murni keinginan hatiku sendiri." Sanggahku dengan cepat. Karena jujur, aku tidak ingin keinginan ku berubah untuk lebih baik di hubung hubungkan dengan perasaan sakit hati semata. Meski, tidak bisa ku tampik datangnya jalan hijrahku berawal dari sana juga.
"Beri gua alasan yang tepat, War. Agar gua tidak perlu cemas dengan tren yang sedang kamu ikuti ini."
Ku hela nafasku dalam dalam, sebelum ahrinya ku benarkan cara duduk ku menghadap ke Erik. "Kita tidak pernah tau akan sampai dimana umur kita, Rik." Ku jeda ucapanku sembari menelisik reaksi Erik dari mimik wajahnya. Kerutan di kening Erik, memperlihatkan bahwa dia tidak faham dengan apa yang coba aku utarakan.
__ADS_1
"Mati itu hal yang misteri, Rik. Seperti kedua orang tuaku saat itu. Pagi itu, mereka terlihat baik baik saja dan mengantarkan aku pergi ke Sekolah dengan nasehat panjangnya, tanpa di sangka itu adalah pesan yang mereka tinggalkan untuk ku, dan aku melupakan pesan itu hingga beberapa tahun kebelakang ini." Kembali ku hela nafas dalam di tengah suasana yang menjadi serius.
Tarikan nafas dalamku, seakan menjadi irama penuh ketegangan antara aku dan Erik. "Setidaknya, aku ingin melaksanakan amanah almarhum kedua orang tuaku setahap demi setahap, Rik. Aku ingin menjadi anak yang bisa berbakti dan mendo'akan mereka."
Tangan Erik sudah terulur hendak menyeka airmata yang tiba tiba menetes di pipiku, namun dengan gerakan cepat aku menghindarinya. "War, loe orang yang baik gua tau itu. Loe taat pada Agamamu."
"Itu tidak cukup, Rik." Mata kami bertemu kembali, dan kali ini ku lihat tatapan Erik sudah berubah melembut dari sebelumnya.
"Jadi, apa.kabar hatimu sama Bang Daffa.?" Ucap Erik yang tiba tiba keluar dari jalurnya.
Aku meringkik persis seperti kuda yang tengah tersenyum, lantas dengan cepat ku buang pandanganku jauh ke depan. "Biarlah itu berahir di dalam hati. Dia sudah menemukan cintanya."
"Maksud loe..?" Tanya Erik bingung.
Ku sungingkan senyum kecut dan mencoba mengumpulkan setiap partikel kecil dari sakitnya mencintai diam diam, dan semakin terasa sakit lagi saat hati masih tidak mampu menerima keadaan bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan, ada yang jauh lebih meyakitkan, lantaran cintanya mencintai orang terdekatnya yang menyanginyanya.
Hamburan cerita Kak Melati tentang semakin erat hubungan Kak Melati dan Bang Daffa, membuat aku melukiskan kisah romantosme mereka dalam sebuah imajinasiku sendiri. Dan menambah sayatan luka yang tidak terlihat apa lagi berdarah, namun begitu perih di rasa.
"What. Loe jangan bercanda deh, War. Gimana caranya Melati sana Daffa bisa saling kenal.!" Nada suara Erik terdengar keget bukan kepalang.
Aku hanya menggeleng lemah dengan masih mempertahankan senyum kecut di wajahku. "Itu salah satu rahasia, Jodoh." Jawabku pelan. "Well, tapi aku baik baik saja, Rik. Aku ikut bahagia ahirnya Kak Melati bertemu dengan seseorang yang tepat juga mencintainya dan Kak Melati bersemangat akan hal itu. Itu leb.."
"Bohong, War. Gua melihat luka di hatimu. Itu cinta pertamamu."
"Ha.ha.ha.. Sebulan dua bulan, setahun dua tahun, akan masih terasa sakitnya. Tapi, pasti akan datang juga bagiku, seseorang yang menawarkan bahagia bersamanya. Lantas menghapus semua luka hingga aku lupa bagaimana caranya menangis. Dan yang terpenting lagi, aku juga akan mencintianya." Ucapku dengan tawa palsu.
"Gua yakin, loe enggak cerita soal Daffa ke Melati." Sinis Erik. "Harusnya itu bisa bahan diskusi buat kalian. Mengingat itu tidak akan mudah untuk kelian nanti, jika rencana indah Melati dan Daffa benar benar terealisasikan."
"Kak Melati berhak bahagia, Rik."
"Loe juga berhak bahagia, War." Tegas Erik.
__ADS_1
"Bahagiaku mudah saja. Melihat Kak Melati bahagia itu akan membuatku bahagia." Jawabku dengan tenang.
"Bohong. Tidak ada sebuah kebahagiaan dari kebohongan." Balas Erik dengan sengit.
"Terus aku harus bagaimana, Rik. Katakan aku harus bagaimana.? Apa dengan memberi tau ke Kak Melati.? Dan Kak Melati akan melepas Bang Daffa untuk ku. Apa seperti itu akan memberi kebahagiaan untuk kami." Erik hanya diam mendengarkan ucapanku.
Aku tau betul dengan sifat Kak Melati, yang akan memberikan apapun yang aku inginkan meskipun Kak Melati sangat menyukainya. Dan andai saja aku mau egois memikirkan perasaanku seorang tanpa melibatkan apa yang di rasakan Bang Daffa, memberi tau Kak Melati segalanya maka akan mudah. Tapi, hatiku terlalu naif untuk itu.
Bagiku cinta itu tidak perlu ada timbal baliknya. Apa lagi cinta seorang diri. Sedang dalam kasus yang aku alami. Aku mencintai Bang Daffa diam diam, sedangkan Kak Melati dan Bang Daffa saling mencintai. Lalu tempatku dimana..?
"Mengalah itu memang tidak mudah. Apa lagi mengalahkan ego sendiri. Tapi, jika semua di landasi atas dasar cinta, maka semua akan menjadi mungkin dan ringan di rasa. Bohong, jika tidak merasa sakit. Namun, drajat tertinggi dari mencintai itu, ketika hati mampu melepaskan seseorang yang di cinta agar dia bahagia." Entah aku dapat kalimat darimana, tapi dengan kalimat itu membuat Erik memahami dengan sikap yang akau ambil, dan perdebatan dengan Erik berahir tanpa kejelasan tenang protesnya soal jalan hijrahku.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Koment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862