Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Dalam Pengasingan.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hidup tak pernah memberikan pilihan. Tapi, kita yang memiliki andil untuk menentukan pilihan. Apa puncak dari rasa itu adalah harus bahagia dengan pilihan.? Tentu masih tidak, karena bahagia itu ada lantaran kita memilihnya. Bahagia itu karena kita yang menentukan untuk bahagia. Seperti diriku yang ahirnya bahagia dengan setelah menentukan pilihan dalam hidupku.


Dua tahun telah berlalu sejak pernikahan Kak Melati dan Bang Daffa, sejak saat itu pula aku memilih menentukan pilihan dengan tinggal di sebuah Pesantren yang berada jauh dari kediaman Pak Agung. Berada di pinggiran kota, bukan berarti tertinggal. Karena penyeratan, semua nampak tidak ada sekat.


Tidak ada gedung gedung tinggi, mungkin hanya itu saja perbedaan dikota tempatku dahulu dan disini. Tapi, baik dalam ekonomi dan teknologi terlihat sama saja.


Dua tahun, ku sibukan diriku dengan mendalami ilmu agama. Menghafal dalam belajar seperti sebuah lingkaran yang tidak ada garis putusnya. Namun, semua terasa begitu menyenangkan dan mentramkan seiring dengan solidaritas yang terjalin. Satu wadah. Aku juga ikut keseluruhan kegiatan yang berada di dalam Pesantren, juga sekaligus terliabt andil dengan usaha Pesantren yang berada lumayan cukup jauh dari Pesantren utama tempat ku tinggal.


Suara mesin jahit terus berderit, benangnya juga ikut berputar putar menyisakan gulungan kecil seiring dengan kain warna Mocca yang ku jahit menjadi sebuah kemeja. Fokus. Seperti itulah saat aku sedang mengerjakan yang menjadi tanggung jawabku.


"Masya'Allah. Bagus banget, War." Aku berdecak, karena seketika gunting yang aku buat untuk menggunting benang terjatuh.


Tanganku terulur mengambil gunting sebelum aku menyahuti suara yang selalu membuatku terus bersyukut karena memiliki teman baik sepertinya. "Kebiasaan, Bia. Suka ngagetin." Aku mengangkat kepalaku memandang Syabia gadis cantik keturuan Arab.


Syabia Saif Al-Qatani. Begitulah dia memperkanalkan dirinya kepadaku dua tahun lalu. Syabia, gadis yang dengan gigih terus menyemangatiku meski tidak sedikitpun dia tau masalah apa yang membuatku terus saja berdiam diri. Syabia, satu satunya teman yang aku miliki saat semua meninggalkan aku tanpa kepercayaan.


"Pasti ini punya Gusse ya.?" Mata belok Bia selaku akan terlihat begitu terkagum kagum, entah itu memang benar karena hasil karyaku bagus atau memang sengaja untuk membuatku senang saja dan aku tidak perduli keduanya. Karena, bagiku Bia sudah cukup dengan Bia sendiri.


"Iya, dengan susah payah ahirnya selesai tepat waktu juga." Jawabku sembari meraih kemeja yang baru selesai aku jahit.


"Masak sih susah. Kayaknya enak enak saja." Bia lalu terkekeh dengan ucapannya. "Mawar.."


Tanganku yang tadinya sedang sibuk merapikan benang benang pada tempatnya, seketika berhenti begitu ku dengar suara Bia yang aku tau itu adalah senjata untuk merayuku. "Katakan saja." Ucapku tanpa basa basi.


"Senang deh, sama Mawar yang pengertian." Jawab Bia dengan senyum yang semakin melebar. "Aku tadi pas di ajak ke pasar sama Ning Ruhah, lihat kain bagus. Jadi tak beli. Ini dia kainnya." Di angkatnya kresek warna hitam yang baru aku sadari datang bersama Bia.


Tau akan arti tatapan ku, Bia segera memasang tampang melasnya, tentu juga di bumbui rayuan juga. "Ini terahir deh, janji. Nanti kalau kamu jadi seorang Desainer. Aku akan jadi pelanggan tetap kamu."


Aku memicingkan mataku, menatap Bia dengan tatapan keberatanku. Sedekat dekatnya aku dan Bia. Bia tidak pernah tau Mawar yang di kenalnya dengan baik, bukanlah selayaknya Mawar yang di lihatnya saat ini. Bagiku, biarkan itu tetap menjadi rahasiaku yang aku simpan seorang diri, bahkan membaginya dengan Bia aku serasa tak rela. Tak rela karena aku terlalu takut ketika Bia akan meninggalkan aku sendiri tanpa kepercayaan. Seperti semuanya.


"Jum'ah depan, depannya lagi tidak apa apa. Pokoknya jadinya sebelum kita pulang untuk liburan." Desak Bia.


Liburan, mendengar kata itu, hatiku sedikit terkesiap. Ya, sudah dua tahun harusnya ini sudah tidak apa apa jika aku pulang, seperti perjanjian yang di berikan padaku oleh Bu Mega waktu itu. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, hingga tumbuh di dasar hati sebuah kerinduan berada di tengah tengah mereka. Dan aku putuskan untuk pulang liburan bulan depan.


Jika, masih tidak ada kepercayaan terhadapku dari mereka, setidaknya aku akan pulang karena ada yang juga memiliki rindu serupa denganku, Kak Melati. Kaka Melati, yang menjadi alasanku untuk pulang liburan ini. Namun, akankah aku siap menyaksikan kebahagiaan Kak Melati dan Bang Daffa.?

__ADS_1


"Kalau diam berarti setuju." Ucapan Bia sukses mengembalikan keberadaan nyawaku yang sedikit terbang bersama lamunan.


Ku hela nafasku sebelum ahirnya aku mengangguk pelan. "Modelnya cari sendiri, alu tidak mau pusingin itu." Ucapku sembari maraih kresek di hadapanku lalu menyimpanya di rak yang tersusun yang bertuliskan namaku.


"Itu bisa di atur nanti malam." Jawaban Bia membuatku mendelikan mataku kesal. Nanti malam, dan ujung ujungnya aku yang akan kembali di repotkan oleh Bia.


"Ini, kemeja Gusse sudah mau di setrika.?" Aku mengguk dan beranjak pergi ke tempat menyetrika yang itu juga di ikuti oleh Bia.


"Ini serius, War. Bukan karena aku teman baikmu. Jahitan kamu bagus, buktinya keluarga Dhalem sudah jadi langganan setia kamu." Ucap Bia serius.


"Juga kamu. Dan itu hampir setiap bulan selalu jahit."


"Ckckkckc, itu diskualifikasian. Aku kan emang Brand Ambassador milikmu. Jadi, percayalah aku hanya akan setia kepadamu."


Aku memilih tak menyahuti Bia, kareba Bia akan suka sekali ngaco jika sudah ngomong hal hal yang membuatku pusing untuk merangkai kata. Kata kata Bia kadang terlewat manis dan itu mengingatkan aku pada sebuah buku yang sengaja aku tulis untuk mengakui perasaanku terhadap Bang Daffa.


"Hari ini kamu masih ke tempat Laundry.?" Tanya Bia.


"Iya." Jawabku singkat.


"Kalau menurutku, War. Lebih baik kamu fokus jahit saja deh, daripada riwa riwi terus."


Terdengar Bia mendangus kesal mendengar ucapanku. "Ya, meski tidak seratus persen benar, itu juga menyumbang sedikit." Bia terkekeh pelan. "Hanya saja kamu akan capek."


"Tidak akan, apa lagi kalau sudah terima gaji." Jawabku sembari menyentil hidung bangir Bia.


"Huhahahah. Dasar cewek mata duitan."


"Nah itu tau. Bu Nyai, tau kalau aku suka duit oleh sebab itu beliau mempercayakan usaha Laundry kepadaku. Perfeck." Ucapku begitu aku mengangkat kemeja menandakan bahwa pekerjaanku sudah selesai.


"Bukan karena mau di ambil mantu. Ckckkckc."


"Sama sekali tidak lucu kalau ini." Jawabku dengan cepat. "Terlalu halu." Lanjutku.


"Tidak apa apa kalau halu jadi kenyataan."


"Lagi dan lagi, bahasannya ujung ujungnya soal Gusse." Kataku dengan memukul jidatku pelan. "Cantik juga masih kamu, Bi. Pintar juga masih kamu. Kaya juga masih kamu. Aku, tidak memiliki potensi apa apa yang bisa menyumbang haluku."


"Dehh. Baper, baper. Bercanda kali, War." Ucap Bia sembari merangkulku. "Tapi, kaluapun iya jadi kenyataan juga Alhamdulillah."

__ADS_1


"Stop, titik. Rasanya tidak akan pantas jika Ghibahin Gusse, di tambah di haluin lagi." Pungkasku dan kamipun tertawa bersamaan tanpa tau tawa itu datangnya dari mana.


Berjalan meninggalkan tempat jahit, kami kembali ke kamar kami bertepatan dengan suara pengeras Masjid yang menandakan bahwa sudah hampir masuk shalat Jum'ah. Masih dengan canda Bia, kami terus memacu langkah kami, agar jangan sampai tertinggal ketika ziarah ke Makam saat Kang Santri sedang shalat Jum'ah.


Melawati samping Dhalem, kami berdua segera menunduk dan tak bersuara sekaligus memelankan jalan kami. Karena, tidak jauh di depan pintu Dhalem sedang berdiri Gusse dan Abah Yai yang siap siap untuk berangkat ke Masjid. Dan langkah kami benar benar berhenti, ketika Ibu Nyai menyerukan namaku dan memintaku untuk mendekat kepada beliau.


Harum ini begitu khas. Dan aku jadi familiar dengan aroma ini, setelah beberapa kali berpapasan dengan Gusse. Aku masih terus menunduk hingga Abah Yai dan Gusse berjalan meninggalkan kami bertiga.


Alasan Bu Nyai memanggilku, karena beliau sedang kurang enak badan dan memintaku untuk menyampaikan kepada Mbak yang lebih senior untuk menggantikan Bu Nyai mengimami Tahlil di Makam. Tidak butuh waktu lama, kamipun pergi meninggalkan teras Dhalem dengan wajah Bia yang bersinar bahagia.


"Gusse bener bener cakep, War." Bisik Bia pelan saat kami sudah agak jauh meninggalkan dhalem.


"Bi, Bi. Kamu itu." Hanya ucapan itu yang mpu aku katakan untuk Bia.


"War, War. Kamu sih tidak tau indahnya jatuh cinta." Jawab Bia. "Jatuh cinta itu membuat orang waras menjadi gila. Orang gila menjadi edan."


"Yang namanya jatuh itu sudah pasti sakit." Jawabku dengan ketus, dan berjalan dengan cepat meninggalkan Bia yang tengah terbengong dengan ucapanku.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love love love


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2