
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Hanya berbekal tas kecil berisi dompet dan ponsel, ahirnya kami berjalan beriringan di bawah satu payung, dan sesekali terlibat obrolan ringan mengenai hujan yang seharusnya syahdu jika sudah sampai di tempat yang nyaman dengan beberapa makanan hangat yang menemani.
"Kamu baik baik saja, War.?" Tanya Bang Daffa begitu aku mulai melambatkan jalanku. Aku hanya mengangguk den kembali menyamakan langkahku dengan Bang Daffa yang kini juga ikut memelan.
Akan tidak pantas jika aku mengeluh terhadap Bang Daffa jika kakiku sakit oleh sepatu hak tinggi yang aku kenakan, karena jujur ini kali pertama aku menggunakan sepatu hak tinggi dan semua aku lakukan demi Erik. Jika ada pepatah yang mengatakan, jika sepatumu menyakitimu itu tandanya bukan ukuran untuk kakimu. Dan aku rasa, sekarang aku paham maksdunya itu, karena seberapa keras usahaku untuk menyamai langkah Bang Daffa tetap saja, aku tertinggal.
"War, kakimu sakit.?" Kali ini bukan lagi pertayaan yang Bang Daffa katakan, tapi merupakan pernyataan.
"Mau tampil cantik itu harus sakit dulu ternyata." Jawabku sembarang nemu saja.
"Lepaskan jika sakit." Ucap Bang Daffa.
"Aku bisa bertahan, hanya tinggal beberapa ratus meter saja." Jawabku kekeh.
"Kenapa harus memaksa tampil beda jika itu menyakitkan."
"Kadang itu di butuhkan agar orang lain merasa sempurna di hari bahagianya."
"Erik.?" Tanya Bang Daffa.
"Tentu." Bang Daffa menghentikan langkahnya, dan memberikan gagang payung kepadaku lantas segera berjongkok melepas sepatunya.
"Lepaskan sepatumu, War." Aku harus bagaimana sekarang, kenapa perlakuan Bang Daffa begitu manis. Apa ini sandiwaranya, padahal di sini tidak ada orang lain, terlebih orang yang kami kenal, bukankah ini terlalu berlebihan, atau aku harus percaya bahwa ini bukan sandiwara. Ini nyata.?
Pelan Bang Daffa menaruh tanganku di pundaknya setelah itu mengangkat kakiku dan mengantikan sepatuku dengan sepatu Bang Daffa.
"Byurrr..." Air yang menggenang menciprati kami karena sebuah mobil yang melintas tanpa ahlak. Sehingga membuat separuh dari baju kami basah kuyup. Dan itu membuatku menarik lagi kakiku dari tangan Bang Daffa.
"Aku akan menyerah sekarang dengan sepatu ini." Ucapku dengan meraih sepatu dari kakiku dan menyuruh Bang Daffa untuk lekas berdiri.
"Akan aku temani." Ucap Bang Daffa ikut menjinjing sepatunya persis seperti yang aku lakukan. "Sepertinya payung juga sudah tidak begitu berfungsi lagi, karena kita sudah terlanjur basah, jadi aku mau coba main air hujan seperti yang sering kamu lakukan dan Adit." Lanjut Bang Daffa sembari melempar payung sembarangan lantas menarik telapak tanganku untuk menikmati air hujan.
"Plak plak plak, byurrr..." Suara air yang menggenang dan sengaja aku cipratkan ke arah Bang Daffa dengan menghentakkan kakiku di dalamnya lantas bergegas berlari setelah Bang Daffa memekik kaget.
"Kamu anak nakal, tunggu balasan dariku." Kata Bang Daffa sembari berlari mengejarku dan langsung merangkul pinggangku lantas memutar mutar tubuhku berulang ulang.
Kami terus bermain air bak anak kecil yang baru tau serunya bermain air dan tak perduli dengan tatapan orang seiring dengan semakin kami mendekat di keramaian. Hingga kami sampai di pintu utama Apartement, kami masih tertawa tawa di tengah tatapan heran Satpam yang tengah bertugas.
Setelah melalui perdebatan dengan petugas keamanan, dan harus di tahan beberapa menit lamanya di depan untuk mengurangi air yang masih menetes dari baju kami. Ahirnya kami di bolehkan menggunakan akses lift untuk sampai di lantai tujuh tentu dengan tubuh menggigil kedinginan.
__ADS_1
Kesan modern minimalis langsung menyambut mataku saat kakiku menjejak ke dalam. Lukisan, hiasan dinding lainya serta warna dari tembok aku tau persis ini adalah warna kesukaan Kak Melati. Ruang tamu yang langsung menyatu dengan ruang keluarga, tempat makan dan dapur yang terpisah dengan mini bar, sama persis yang pernah di gambarkan oleh Almarhum Kak Melati kepadaku.
"Mandilah lebih dulu, War." Kata Bang Daffa sembari memberikan aku sebuah handuk.
"Kayaknya aku butuh waktu sedikit lama untuk mandi, nanti Bang Daffa tidak keburu masuk angin.?" Jawabku.
Bang Daffa berpikir sejenak. "Baiklah, aku mandi lebih dulu."
Sepeninggal Bang Daffa, aku memilih untuk menuju ke area dapur. Melihat lihat sekilas, aku tau persis itu semua barang yang di beli oleh Kak Melati yang sebagiannya di beli bersamaku.
"War sudah." Bang Daffa keluar dari kamar sembari menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil. "Kamu bisa pakai baju tidurku buat ganti, sudah ku siapkan." Lanjut Bang Daffa.
"Iya. Ini aku buatkan teh, mau tak buatkan wedang jahe jelas tidak akan ada bahannya."
"Terima kasih, ini sudah lebih dari cukup." Bang Daffa meraih cup yang baru saja aku taruh lantas dengan segera menjelaskan dimana letak kamar mandi berada.
Tidak sulit bagiku menemukan tempatnya, karena memang Apartement ini hanya memiliki satu kamar tidur serta satu kamar mandi saja, jadi aku tidak mungkin tersesat di balik pintu lain.
Masuk ke kamar tidur, hal yang paling mencolok dimataku adalah foto besar pernikahan Bang Daffa dan Kak Melati yang menggantung di atas tempat tidur, dan itu persis seperti yang berada di rumah. Memandang foto itu aku ikut tersenyum seperti senyum Kak Melati.
"Aku telah mengembalikan semua pada tempatnya Kak Mel. Sudah waktunya Mawar pergi." Gumamku lantas menyambar baju yang sudah di siapkan oleh Bang Daffa untuk ku.
Setelah hampir lima belas menit, ahirnya aku keluar juga dari kamar mandi dengan tubuh bergetar menahan dingin. Mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar, aku seolah mendapati seperti Kak Melati masih ada. Karena setiap jengkal, setiap detial bahkan aroma yang tercium juga aroma kesukaan Kak Melati.
Mendekat ke arah meja rias, aku membuka handuk yang melilit kepalaku dan kembali mataku menangkap sebuah bingkai yang di dalamnya ada beberapa foto. Jika ku perhatikan itu mungkin pada saat Bang Daffa dan Kak Melati masih pacaran, karena rambut Bang Daffa masih gondrong juga kulit Kak Melati masih putih pucat.
Meraih hair dryer, aku kembali mengedarkan tatapanku ke arah lain guna mencari colokan listrik, dan di samping tempat tidurlah aku menemukan tempat yang tepat.
Duduk dengan hati hati agar jangan sampai kehadiranku merusak moment Bang Daffa, merusak tatanan tempat tidurnya, terlebih sampai merusak kenanganya. Aku memilih duduk di tepi ranjang dengan berupaya seminimalis mungkin bokongku menyentuh ranjang.
Rambutku aku arahkan maju semuanya ke depan, lalu dengan menunduk aku mulai mengeringkan rambutku. Hangat dari mesin menyentuh kulit tengkukku dan memberi sensasi hangat yang sungguh sayang jika harus di hilangkan. Sementara suara bising dari hair dryer bergema memenuhi seluruh kamar.
Rambutku sudah hampir mengering, saat tiba tiba tanganku yang sedang memegang hair dryer di pegang oleh Bang Daffa, dan membuatku reflek berdiri dengan cepat karena sangking kagetnya.
"Maaf, aku lancang memakai punya Kak Melati." Ujarku sembari mematikan mesin yang masih menyala.
"Aku yang salah, karena mengagetkanmu." Jawab Bang Daffa yang tengah menatapku lekat dan setelah aku sadar dengan apa yang di lihat Bang Daffa, aku langsung menyilangkan kedua tanganku di dada guna menutupi bagian dadaku yang tak mengenakan pakaian dalam di balik baju tidur tipis dengan kancing yang sedikit terbuka tanpa aku sadari.
"Kenapa di matikan, rambutmu belum kering. Sini biar aku bantu." Ucap Bang Daffa dengan berusaha acuh lantas sudah duduk bersila dengan hair dryer berada di tangannya. "War.?" Kata Bang Daffa lagi.
"Aku bisa sendiri, Bang." Jawabku.
"Aku hanya ingin membantu. Buru War.!" Kata Bang Daffa lagi.
__ADS_1
Tanpa suara aku menuruti permintaan Bang Daffa, karena jujur aku tak ingin berdebat dengannya. Lagi pula ini kesempatan baik bukan bisa duduk akrab dengan Bang Daffa, lantas membahas kelanjutan dari hubungan ini. Dengan kaku akupun mendudukan diriku di depan Bang Daffa.
Mesin hair dryer kembali berbunyi dengan tangan Bang Daffa yang sudah mengulak alik rambutku. Dan beberapa pertanyaanku seputar Kak Melati juga di jawab singkat oleh Bang Daffa. Aku masih duduk di depan Bang Daffa saat Bang Daffa mengatakan bahwa rambutku sudah selesai sembari menggulung kabel hair dryer.
"Aku kembalikan ke tempatnya." Ucapku tanpa menoleh ke Bang Daffa dan langsung berusaha untuk berdiri. Namun, tubuhku segera kaku dengan aliran darah panas yang menggiring jantungku berpacu, karena sentuhan lembut tangan hangat Bang Daffa di tengkuk ku.
"Cup." Kali ini bibir panas Bang Daffa yang ganti mendarat di tengkuk ku, membuat darahku semakin memanas dan sebelum aku semakin terhanyut dalam suasana yang salah, aku harus sadar.
"Aku tidak menggoda, sungguh." Lirihku sembari berdiri dan hendak melangkah pergi namun kembali Bang Daffa mendekapku dan membalikan tubuhku pelan. Kini kami saling berhadapan dan aku bisa melihat kabut gairah menyelimuti mata Bang Daffa. "Aku tidak ada maksud menggoda Bang Daffa, biarkan aku pergi." Renggekku antara ingin tetap seperti ini dan pergi sebelum terjadi sesuatu yang tak di inginkan.
Walau bagaimanapun kami adalah orang dewasa, dan kami sama sama normal. Akan wajar jika tempat mendukung, suasana mendukung dan kami akan terbawa suasana dingin jika tidak ada salah satu dari kami yang memutus moment ini.
"Aku akan ti.." Belum usai kata kataku, Bang Daffa telah lebih dulu ******* bibirku dengan lembut, jauh lebih lembut dari yang pernah di lakukan sebelumnya dan itu sukses membuat kewarasanku di ambang pertaruhan. Aku ikut terhanyut seperti awan yang ikut kemanapun angin meniupnya.
"Apa ini sandiwara, katakan apa ini sandiwara." Ucapku di tengah ambang antara ingin terus dan menyudahi, karena aku butuh jawaban Bang Daffa yang pasti agar tak perlu ada drama setelahnya.
"Aku menginginkanya malam ini." Jawaban Bang Daffa membuatku ikut menutup mataku rapat seperti yang di lakukan oleh Bang Daffa..
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
####
Cut cut cut, besok lagi..😅😅😅
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862