Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Yakin dan Mantab.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Duduk di bangku panjang terminal, mataku sama sekali tidak mau meninggalkan seseorang yang tengah duduk tidak jauh dariku. Jilbab lebarnya membingkai wajah putih berserinya, dan itu menjadi pemandangan yang meneduhkan di pandang mata. Dan yang membautku enggan sekali mengalihkan tatapanku adalah, di balik wajah teduhnya yang kalem ada sedikit gurat sedih juga sama seperti dirirku.


Luka seperti apa, yang pasti itu bukan luka bodoh seperti yang aku rasakan. Kenapa, aku menyebut luka ini bodoh. Karena, aku masih belum bisa menasehati hatiku agar melupakan Bang Daffa. Agak konyol memang, tapi itulah hati, suka tidak bisa mau mengikuti otak dan perlu ada paksaan keras agar mau menerima kenyataan.


Seperti sadar ku perhatikan, gadis kecil di sebrangku melempariku senyum manisnya, dan dengan kikuk ku ulas senyum balasan kepadanya, yang dengan cepat sudah kembali fokus dengan gerakan bibirnya yang sedari tadi terus berkomat kamit.


Entah karena terlalu penasaran atau apa. Aku memilih berdiri dari tempatku duduk dan mendekat ke arah gadis kecil itu duduk, dan tampak terlihat jelas wajah kagetnya saat aku mendekat dan mendudukan diriku di dekatya. Alih alih was was dengan kehadiranku, gadis di depanku justru kembali menyunggingkan senyumnya kepadaku, tentu saja itu membuatku senang tidak kepalang.


"Boleh ya, aku duduk disini." Kalimat pemaksaan itu keluar begitu saja, setelah aku duduk di sebelahnya.


Ulasan senyum kembali di sungingkan kepadaku. "Silahkan, Mbak."


"Kamu cantik dengan jilbab lebar itu." Kataku dengan menunjuknya dengan dagu ku.


Wajahnya kaget sejenak, sebelum ahirnya dia memilih memegang ujung jilbab coklat susu yang melekat di kepalanya. "Ini," Katanya singkat saja.


"Gerah enggak sih pakai kayak gitu.?" Tanya ku lagi, sembari mengubah cara duduk ku lantas sudah menghadapnya. Benar saja wajah bingungnya tidak bisa di elakan lagi kali ini. Dan tampak sekali dia sedang berfikir keras untuk mencari jawaban atas tanyaku.


"Tergantung niat, Mbak."


Merasa tidak puas dengan jawaban singkatnya. Akupun kembali memindai wajah manis di depanku, dan mencari jawaban atas keputusanku yang hendak Hijrah. Hijrah dalam artian untuk lebih baik bagi diri sendiri. "Maaf kalau membuatmu tidak nyaman gadis kecil. Mawar." Ucapku memperkenalkan diri sambari mengulurkan tanganku ke arahnya.


"Lily." Jabatan tangan kecilnya terasa hangat di gengamanku saat di ucapkan namanya. "Kita miliki nama yang serumpun Mbak. Nama bunga bungaan." Lanjutnya.


"Bener." Ku silangkan kaki ku mencari posisi paling enak. "Mau kemana, atau darimana..?" Ucapku lagi.


"Mau pulang ke Kudus, Mbak. Mbak Mawar sendiri mau kemana..?"

__ADS_1


"Mau ke Kota G." Ku tolehkan kepalaku kesana kemari dan itu di ikuti juga oleh Lily. "Kamu sendirian..?"


"Iya."


"Serius, kamu tuh masih bocah." Kataku tidak percaya.


"Sudah biasa, Mbak. Biasanya saya naik Kerera Api. Ini mau coba hal baru naik Bus." Senyum simpul kembalu di ulasnya.


Aku manggut manggut sebentar. "Beneran enggak gerah pakai jilbab lebar dan baju kayak gitu.? Apa kamu anak Pesantren..?".


"Kalau gerah, sudah pasti. Cuma ini berupa tanggung jawab sebagai seorang muslimah, Mbak." Jedanya sembari menatap ku dari atas hingga bawah, dan cukup berfokus pada celana robek robek ku. Aku punya keinginan untuk mengubah penampilanku. Tapi, aku belum punya alasan yang benar benar tepat untuk mengubahnya. Juga bukan dengan jilbab lebar juga. Aku hanya ingin hijrah lebih baik.


Ku perhatikan dengan intens, gadis kecil bernama Lily di depanku. Dan entah kenapa melihat penampilan sederhananya membuatku merasa tenang.


"Ada apa Mbak Mawar..?" Lambaian tangan Lily mengembalikan kesadaran ku. "Ehh, Bus yang saya tunggu sudah tiba Mbak. Maaf saya duluan. Assalamu'alaikum.." Lanjutnya begitu melaiht salah satu Bus besar memasuki Terminal.


"Oh, iya. Hati hari di jalan anak kecil. Wa'alaikumussalam." Ucap ku dan mengikuti langkah kecilnya hingga menghilang di keramaian.


Ku pejamkan mataku sesaat, menikmati sakitnya cinta seorang diri. Dan keputusan untuk merelakan adalah hal yang mudah untuk di ucapkan, namun begitu sulit untuk di lakukan. "Jatuh cinta, adalah cara yang paling mudah untuk mati." Gumamku pelan tanpa membuka mataku.


"Mbak Mawar." Aku dengan cepat membuka mataku dan mendapati Lily sudah kembali berdiri di hadapan ku dengan ulasan senyum tipisnya.


"Eh, kamu. Ada apa, apa ada masalah." Ucapku sembari hendak bangkit dari tempatku duduk guna untuk membantunya. Namun kekehan kecilnya membuatku menghentikan gerakanku.


"Tidak, Mbak. Saya hanya ingin memberikan ini untuk Mbak Mawar." Di ulurkan tanganya bersama sebuah khimar berwarna merah maron. "Mbak Mawar cantik, pasti akan lebih cantik lagi kalau menggunakan ini. Pemgetahuan saya masih sangat dini untuk tau soal kegelisahan hati Mbak Mawar. Tapi, Insya'Allah obat dari segala gundah itu adalah do'a. Dan jangan pernah menghentikan do'a do'a sampean sebelum sampai pada tujuannya. Itu yang selalu Almarhum Ibu saya nasehatkan kepada saya Mbak."


Mendengar kata kata Lily, seketika hatiku gerimis. Gerimis karena mengingat memori kebersamaan ku dengan Almarhum Ibuku, juga Ayahku. Kebersamaan yang hanya singkat belaka. Tanpa tau harus menyalahkan siapa atas kecelakan yang menimpanya. Karena, aku masih terlalu kecil untuk tau akan hal itu pada waktu itu.


Dengan tangan bergetar ku raih khimar dari tangan Lily dan ku ulassenyum kecil ke arahnya seraya bergumam terima kasih.


"Tidak harus di paksa saat ini, Mbak. Akan tiba hati akan yakin dengan sendirinya nanti, dan semoga itu tidak akan lama lagi." Ucapnya lagi, lantas segera berbalik meninggalkan aku setelah menggumamkan salam untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


Merasa tertohok oleh ucapan gadis kecil yang baru saja ku temuai. Pikiranku melang lang jauh kembali ke masa masa dimana aku masih kecil dan tinggal bersama kedua orang tuaku.


Wajah sabar Ibuku terasa berada di pelupuk mataku. Segala pesan dan nasehat sebelum hari naas itu terjadi terekam kembali di otak ku. Sentuhan hangat angannya di kepalaku, juga tidak kalah aku rindukan, yang selama ini tidak pernah aku dapatkan dari Bu Mega. Justru dari Kak Melatilah aku mendapatkannya.


Namun, bagaimana bisa kedepannya aku akan merepotkan Kak Melati lagi, karena Kak Melati bukan Ibu ku, Kak Melati hanya seseorang yang memprioritaskan kebahagiaanku di atas kebahgiaannya. Dan aku rasa ucapan Bang Daffa ada benarnya juga, bahwa sudah saatnya aku Kak Melati memikirkan kebahagiaanya.


Tutup mulut tentang perasaanku kepada Bang Daffa, memang jalan terbaik untuk memberi kebagiaan kepada Kak Melati. Dan bukankah setingi tingginya cinta itu, adalah rintihan hati yang paling dalam oleh lautan perasaan di dalam kasih sayang. Aku meyayangi Kak Melati lebih dari diriku sendiri, dan Kak Melati menyayangi Bang Daffa, seseorang yang aku sayangi. Dengan begitu kasih sayang ini akan terus terjaga, meski orang lain yang menjaganya.


Khimar merah maron pemberian Lily aku masukan ke dalam tas ranselku, seiring dengan datangnya Bus yang akan membawa ku kembali ke Kota G. Dan disana akan ku tata hatiku dengan tidak hanya mengingat tapi juga melaksanakan nasehat orang tuaku yang telah tiada. Agar mereka di syurga bahagia melihat anak satu satunya tumbuh sesuai dengan keinginan mereka, meski sebelumnya telah salah jalur.


Dan benar yang di katakan Lily, tidak perlu memaksa untuk saat ini. Karena yakin itu akan tiba dengan sendirinya. Dan itu tidak akan di sangka datangnya darimana. Juga dengan diriku, yang tiba tiba mantab berhijrah dengan kata kata sederhana Lily.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya masih di tunggu enggeh..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2