
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Daffa POV.
"Hore..., Besok ya Yah." Sorak Adit girang, begitu aku selesai dengan ucapanku yang akan mengajak pulang ke rumah orang tuaku minggu depan sembari membujuknya agar mau makan.
"Ya, kita lihat Aunty Mawar sudah sembuh apa belum." Repot sekali ternyata ketika Mawar sakit, dan sudah tiga hari ini dia terus menggigil meski selimut tebal membungkus tubuh kurusnya.
Menikah dengan Mawar tidak pernah terpikir sama sekali di benakku. Karena, aku tidak pernah berpikir bahwa akan bisa mencintai orang lain selain Melati sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Terlebih ini Mawar, orang yang sedari awal pertemuan kami, tidak sama sekali terbayang akan menjadi orang ketiga di antara aku dan Melati.
Jikalau bukan karena janji yang pernah aku ucapkan kepada Melati bahwa aku akan menikahi Mawar, aku akan lebih senang sendirian seumur hidup setelah kepergian Melati.
Hanya karena buku Diary milik Mawar yang tertulis tentang perasaannya kepadaku. Melati rela meletakan perasaanya kepadaku, dan memaksaku untuk menikahi Mawar hingga kami harus bertengkar hebat, lantas berakibat kecelakaan dan merenggut Melati dari sisiku.
Siapa yang harus di salahkan, tentu saja ini semua kesalahan Mawar. Kenapa, Mawar harus memiliki perasaan kepadaku dan yang aku tau sebelumnya Mawar tidak menunjukan perasaannya kepadaku saat kami satu kostan dulu. Ini jelas sengaja dilakukan oleh Mawar, karena sifatnya Mawar yang serakah dan ingin memiliki apa yang di punyai oleh Melati.
Mawar bisa mencuri segalanya dari Melati dengan pura pura bersikap baik dan terlihat kasihan di hadapan orang banyak. Keluarga Melati, keluargaku, bahkan Adit, semua berhasil di curi oleh Mawar, tapi tidak akan denganku. Aku bersumpah, akan merampas kembali semua milik Melati yang terlah di curi oleh Mawar dengan tebusan penderitaannya.
Melihat sisi lemahnya hatiku sangat puas, terlebih lagi saat matanya menyorot dengan embun yang siap menetes tapi bibirnya terus tersenyum, aku sangat menikmati itu. Ketika dia berusaha sangat keras tetap terlihat kuat dinhadapanku dan tidak ada bahu untuk bersandar, sisi setan dalam diriku terus bersorak dan menyemangatiku agar aku benar benar melihatnya luluh lantak di depanku.
Dan setelah hampir tiga minggu sering bersama dengan Mawar, aku menyadari satu hal. Bahwa, tidak ada cara yang lebih menyakitkan lagi untuk membuatnya benar benar dalam delema, kecuali memporak porandakan perasaannya. Dan cara itu adalah dengan pura pura mendekatinya lantas menjatuhkannya dalam keputusasaan.
Itu tidak sulit, karena cukup dengan dua hari merawatnya yang sedang sakit, tatapan sombong itu berubah terhadapku, dan kembalilah dia dengan tatapan serakahnya terhadapku.
"Tempat tidur ini nyaman sekali. Sebentar saja, biarkan aku tidur disini." Andai aku tidak ingat, bahwa ini adalah salah satu jalan untuk balas dendamku, maka melemparnya dari tempat tidurku sudah aku lakukan sebelum sempat dia merebahkan tubuh jalangnya disini.
Menekan segala ego, aku biarkan dia menikmati syurga sesaat sebelum neraka panjang yang akan di dapati kemudian hari. Melihatnya terlelap dengan wajah seakan dia adalah gadis polos tanpa noda, membuat aku mengepalkan tanganku kuat kuat untuk menahan emosi agar jangan modusku terendus oleh Mawar.
"Tidak, tidak Kak Mel." Igaunya saat malam semakin larut, dan setelah aku periksa dahinya ternyata panasnya meninggi lagi. "Kak Melati, Kak Melati." Terus saja Mawar menggumamkan nama Melati, dan mau tidak mau aku ahirnya membangunkannya.
"Oh, maaf." Ucapnya singkat lantas berusaha untuk lekas bangun.
"Tetaplah tidur disini." Ucapku datar dan aku lakukan itu karena rasa kemanusiaan saja lantaran melihat Mawar yang benar benar kepayahan. "Aku tak ingin Adit terganggu, karena dia baru saja tidur." Lanjutku.
__ADS_1
"Tidak apa, aku bisa tidur di sofa tunggal di ruang tengah." Jawabnya datar dan dengan susah payah sudah berjalan tertatih menuju pintu kamarku.
Harusnya aku suka melihat ketidak berdayaannya kali ini. Tapi, yang aku inginkan bukan ketidak berdayaan yang seperti ini, melainkan ketika seluruh jiwa Mawar sehat, tapi perasaannya sakit terlampau dalam hingga tak seorangpun bisa memberi obat untuk itu. Dan aku rasa kali inilah kesempatan itu.
"Sudah ku bilang tidurlah disini." Ucapku dengan lantang, dan bisa kulihat keterkejutan Mawar ketika tubuhnya yang tiba tiba menegak.
Tanpa berucap ulang, aku bergegas menuju dimana Mawar tengah berdiri dan langsung menyambar tubuhnya dalam gendonganku. Tak ku perdulikan tatapannya yang lurus memindaiku, ketika aku berjalan kembali ke tempat tidur. Bahkan tatapan itu tidak berpaling dariku sampai aku menidurkannya dan menyelimutinya.
"Bang Daffa jangan terlalu baik padaku. Karena itu asing buatku." Pergerakan tanganku terhenti mendengar ucapan sombongnya, terlebih saat perlahan Mawar memunggungiku perasaan tak terima membuncah dalam dada, dan membuatku semakin tidak sabar untuk segera meluluh lantakan sikap sombongnya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Bunda, apa disini akan ada Alina.?" Aku terbatuk batuk hebat mendengar ucapan Adit.
"Minum dulu, Bang." Mawar menyodorkan gelas penuh berisi air kepadaku. "Adit kata siapa sayang.?" Lanjut Mawar dengan nada santai, dan inilah yang sangat aku benci darinya. Karena dengan mudahnya, dia bisa merubah mimiknya penuh kasih kepada Adit, seolah olah dirinya adalah Malaikat bagi Adit.
"Kata Bima. Ibunya Bima sakit sebelum di dalam perutnya ada adik bayinya."
"Dittt.." Ucapku panjang memperingati Adit agar fokus dengan sarapannya.
"Baik yah."
"Namanya Alina ya, Bunda." Sayup sayup aku dengar apa yang mereka obrolkan dan aku malas untuk menanggapi mereka berdua.
"Yah, Bunda sudah sehat kan. Jadi, kapan kita akan berkunjung ke rumah Oma." Ucap Adit begitu kami usai sarapan.
"Nanti setelah Ayah tidak sibuk."
"Adit bisa kesana sama, Bunda. Iya kan Bunda.?" Tampaknya Adit benar benar merindukan rumah, sejujurnya aku juga merindukan rumah, terlebih ini sudah hampir mendekati peringatan kepergian Melati.
"Tidak, Aunty Mawar tidak akan ikut pulang kesana. Aunty Mawar sedang sibuk." Sengaja aku menekankan kalimatku, karena aku tidak ingin keluargaku semakin dekat dengan Mawar. Cukup aku yang telah mengorbakan diriku dengan hidup bersama Mawar, meski tujuanku tetap balas dendam kepadanya.
"Bunda sibuk apa.?" Tanya Adit polos.
"Bunda, sedang menyiapkan Adit masuk sekolah, jadi harus sering sering keluar." Ucapan Mawar membuatku tersadar kembaku, bahwa mode balas dendamku bukan lagi marah marah di hadapannya.
__ADS_1
"Kalau begitu Adit tunggu Bunda selesai sibuknya, Yah." Lagi ini yang membuatku benci dengan Mawar, karena play victimnya dapat dengan mudah di perankannya, tanpa harus berucapa banyak Adit sudah dengan mudahnya terpengaruh dengan ucapan Mawar.
"Kita tunggu hari Saptu depan, barengan dengan Om Affin yang pulang untuk liburan." Jawabku ahirnya. "Dan juga Aunty Mawar sudah selesai dengan sibuknya, bukan begitu, Bunda." Sengaja menekankan kata terahirku, membuat Mawar mengangkat kepalanya menatapku dan dengan susahnya ku sunggingkan senyum tipisku, hingga membuat Mawar memalingkan wajahnya dariku.
Tidak ada hukuman yang akan lebih berat bagi Mawar. Kecuali Mawar akan terjebak oleh oase kebahagiaan yang aku ciptakan. Dan hari ini, drama akan segera aku mulai dengan mengikuti alur seperti yang Mawar ciptakan.
Seminggu, sebelum datang kerumah, aku pastikan bahwa aku akan berhasil membuat Mawar mengikuti sandiwaraku, dan membuat semua orang percaya bahwa kehidupan disini baik baik saja, lantas orang akan merasa bahwa Mawarlah yang salah ketika mengadu kepada orang lain.
Pelan dan pasti, semua yang bukan miliknya akan kembali kepemilk aslinya. Dan itu tidak akan lama lagi. Aku pastikan saat itu terjadi, bukan aku yang berada di pihak yang mengahiri, lantas semua kesalahan akan terarah kepada Mawar semua.
Bukankah drama harus totalitas, dan hari ini aku benar benar telah memulai dramaku dengan menerima uluran tangan Mawar yang selalu aku abaikan ketika hendak menyalamiku. Ku tambah dengan meninggalkan jejak di keningnya, membuat Mawar tak berkutik dengan tangan yang terulur menyusuri bekas bibirku disana.
Melihat expresinya yang membatu, membuatku puas dan menambah satu tembakan lagi sepertinya akan membuat rencanaku berhasil dengan cepat. "Jangan lupa, belajarlah untuk mencintaiku. Karena, aku tak akan membiarkan orang yang kamu cintai berhasil merebut kesenanganku." Bisik ku pelan.
Aku melangkah dengan pasti meninggalkan Mawar yang seakan terpaku di bumi tempatnya berpijak. Dan memudarkan seluruh senyumku, bahkan sampai mengusap anggota tubuhku yang bersentuhan dengan Mawar menggunakan tissu basah sampai aku rasa bau wanita rendahan itu lenyap dari diriku, meski itu tidak mudah.
Jalan balas dendam itu memang harus ada pengorbanan, seperti aku yang mengorbakan harga diriku di hadapan Mawar. Merendah sedikit, sebelum ahirnya aku berhasil menginjkanya tanpa bisa Mawar kembali bangkit lagi, dan menghilang selamanya dari kehidupan ku dan Adit.
Daffa POV End.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu enggeh..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862