
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Menangis memang tidak memberi jalan keluar, tapi dengan menangis kadang bisa melegakan di hati meski tidak bisa mengurangi bebannya. Bisakah seseorang kembali kemasa lalu, lantas menghapus sesuatu yang bakal menjadi jawabnya hari ini. Jika itu bisa, maka aku ingin melakukan itu.
Jika ini sebagai jawaban do'a yang aku pernah panjatkan ke langit, maka tidak sepatutnya jika aku menangisinya. Karena, itulah konsekwensi dari do'a yang di paksakan. Salahku dulu, karena meminta sekaligus memaksa melalui do'a, jika Bang Daffa menjadi jodohku bukan meminta jodoh yang terbaik untukku. Kini ketika do'a itu di dengar langit lantas di kembalikan padaku, maka tidak ada cara lain daripada menjadikan ikhlas menerimanya.
Pernikahan impian, pernikahan sempurna, pasti menjadi mimpi setiap wanita. Akupun memiliki mimpi serupa, meski pada kenyataanya aku di kalahkan dan harus bersaing dengan cinta yang lebih dulu hadir di hatinya yang telah membawa pergi seluruh cintanya dalam keabadian.
Kak Melati, entah apa maksud Kak Melati menjadikan aku sebagai penggantinya. Mungkin saja agar aku menjadi orang yang lebih sabar dan ikhlas saat bersama Bang Daffa. Tapi kenapa harus aku.?
Tidak semua cinta itu berawal dari suka pada pandangan pertama, aku percaya akan hal itu saat bersama Mas Karang. Dan itu pula yang aku usahakan sebulan ini, namun pada ahrinya tidak ada harapan karena Bang Daffa menutup celah bagiku dengan lembaran kertas yang berisikan apa saja yang harus dan tidak perlu aku lakukan.
Menyandang nama Istri, dan menjadi seorang Ibu hanya ketika berada di hadapan keluarga saja. Itulah isi salah satu poin dari kertas yang Bang Daffa suruh aku pahami dan di hafalkan. Dan dalam waktu berjangka tertentu semua akan di kembalikan seperti sedia kala. Haruskah ku sebut ini pernikahan kontrak.?
Dan itu benar benar terjadi setelahnya, karena sejak kertas itu berada di tanganku beberapa bulan lalu, Bang Daffa benar benar abai terhadapku bahkan juga jarang pulang ke rumah, sekalipun pulang Bang Daffa hanya mengurung diri di kamarnya.
Aku tidak tau harus mencari kemana ketika Adit bilang merindukannya, karena hingga kini aku sama sekali tidak memiliki kontak Bang Daffa yang bisa cepat untuk di hubungi. Bang Daffa bisa benci dan abai padaku, namun tidak sepatutnya jika itu karena aku Bang Daffa juga abai terhadap Adit.
Seperti saat ini, aku bingung harus menghubungi Bang Daffa kemana. Karena saat ini Adit tengah sakit dan terus memanggil manggil Ayahnya, dan aku yang bingung mengajak seseorang untuk bertukar pendapat ahirnya memilih menelfon Bu Mega. Dengan sigap Bu Mega mengarahkan aku agar pergi ke Rumah Sakit.
Setelah melalui proses yang cukup membuatku tegang, karena harus menyaksikan tangan kecil Adit di masuki jarum infuse. Kini Adit tengah tidur dengan pulasnya, suhu panas badanya juga berangsur angsur menurun, sehingga aku tidak kwatir lagi jika Adit akan kejang seperti pagi tadi.
Aku yang memang semalaman tidak tidur, dalam dudukku juga ikut tertidur dengan posisi kelapaku berada di bangsal Adit. Seperti baru beberapa detik aku tertidur, dan harus membuka mataku dengan paksa saat terdengar bunyi cukup keras yang entah berasal darimana.
Seperti linglung, aku memutar kepalaku ke sagala arah, dan entah ini mimpi atau memang benar adanya, karena Bang Daffa sudah berada di dalam ruang rawat inap Adit dengan wajah dinginnya yang terus mengintimidasiku hingga membuat kantuk ku lenyap dan langsung berdiri dengan sigap.
"Adit sak."
"Aku tidak buta." Potong Bang Daffa dengan dingin.
Menunduk dalam, aku tidak berani menatap wajah yang kini tengah berdiri di sebrangku dengan wajah kuburannya, bahkan aku juga tidak berani meneruskan kata kataku, karena aku sadar, Bang Daffa bukan orang yang bodoh hingga tidak tau kondisi Adit daripada harus mendengar aku menjelaskannya terlebih sampai bertanya padaku.
"Apa saja yang kamu lakukan untuk menjaga Adit, sampai kamu harus melibatnya orang lain untuk membawanya ke Rumah Sakit. Apa otakmu benar benar tumpul, atau kamu memang sengaja membuatku harus berada di posisi seperti sekarang. Dasar wanita munafiq." Kembali, selalu kata kasar dan tak mengenakkan di dengar ketika aku bertemu dengan Bang Daffa.
Dan kali ini cukup bagiku untuk diam. Maka dengan berani akupun menegakkan kepalaku dan ku balas tatapan Bang Daffa, meski tidak sedingin sikap Bang Daffa, aku rasa Bang Daffa bisa membaca bahwa aku tidak menyukai kata katanya barusan.
"Sampean menanyakan perananku, apa saja yang aku lakukan dengan Adit. Kalau aku kembalikan tanya itu, apa peran sampean sebagai Ayahnya Adit.?" Kataku dengan nada datar sarat akan kecewa, namun akan cukup di dengar Bang Daffa tanpa perlu aku meneriakinya.
__ADS_1
"Kamu tidak punya hak unt.."
"Cukup, sudah cukup. Sampean bisa menghinaku sesuka sampean. Sampean bisa membenciku sedalam hati sampean. Dan aku tidak lagi perduli. Yang aku perdulikan adalah Adit. Dimana peran sampean untuk Adit, dia tidak hanya butuh nama besar Ayahnya untuk menemani tumbuh kembangnya."
"Diam kamu, War." Desis Bang Daffa.
"Dimana sampean setiap kali Adit menanyakan keberadaanya Ayahnya."
"Kamu jangan membuat opini."
Aku tidak memerdulikan ucapan Bang Daffa dan terus saja mengeluarkan unek unek ku mengenai Bang Daffa yang tak mau mengesampingkan egonya demi Adit. Jika di tanya apa Bang Daffa yang berada dalam keterpaksaan pernikahan ini, jelas jawabnya tidak. Karena aku juga terpaksa sebelumnya, namun saat mengingat bahwa perjanjian dengan Allah jauh lebih besar tanggung jawabnya, maka akupun berusaha agar pernikahan ini menjadi ladang pahala buatku, meski tidak ada itikat baik dari Bang Daffa.
Kami terus berdebat menyuarakan kebenaran masing masing, hingga tangan Bang Daffa terangkat nyaris menyentuh pipiku dan harus terhenti di tempatnya saat tiba tiba Adit bangun dan membuat Bang Daffa membeku mendengar panggilan Adit yang juga baru hari ini aku dengar pula.
"Bunda, Ayah." Kata Adit dengan nada lemah. "Bunda." Ulang Adit sembari menarik tanganku dan seketika senyum aku terbitkan di bibirku saat aku kembali duduk.
"Adit mau minum.?" Tanyaku.
"Minum susu." Ucap Adit.
"Minum susu belum boleh, sayang. Minum air putih dulu ya." Tawarku.
Adit mengalihkan pandangannya ke arah Bang Daffa yang masih tak ada reaksi. "Ayah, tidak sibuk lagi.?" Tanya Adit membuatku merasa berdosa karena harus membohongi Adit sedemikian rupa, dan semua karena kehadiranku.
"Kalau Ayah sibuk, tidak apa apa. Adit sudah ada Bunda." Kata Adit dengan cepat dan aku yang mendengar kata kata Adit membuat mataku berkaca kaca haru. Tapi, justru wajah suram langsung tercetak jelas di wajah Bang Daffa di sertai dengan kepalan tangannya.
"Dia bukan Bundamu, Dit." Lagi, aku kecewa dengan sikap Bang Daffa yang terlalu egois. Bahkan di situasi yang seperti ini, Bang Daffa tidak mau mengalah sedikit saja dengan Adit.
Adit menoleh kami berdua bergantian. "Aunty Mawar Bundanya Adit kan.?" Tanya Adit dan dengan cepat akupun mengangguk sembari memberinya senyum lebar dan aku tau Bang Daffa saat ini tengah menahan amarahnya, karena dengan jelas terlihat dari ekor mataku, tangan Bang Daffa semakin mengepal rapat. Dan aku tidak perduli..
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sore datang dengan gerimis syahdu membawa kabut menempel di kaca besar di ujung ruangan. Dan sejak siang perdebatanku dengan Bang Daffa tadi, aku memilih tidak begitu perduli dengannya. Karena prioritasku saat ini adalah kesehatan Adit. Aku rasa itulah satu cara waras untuk menghadapi Bang Daffa.
Tembok kuburan saja seakan minder dengan wajah yang lebih datar dari papan strikaan milik Bang Daffa. Lagi, aku tidak mau perduli dengan itu. Aku milih asik bercengkrama dengan Adit meski kadang ultimatum keras di lontarkan Bang Daffa kepada kami, lantaran terganggu dengan suara kami berisik kami.
"Harimaunya naik ke pohon, mengejar mangsanya." Ucapku sembari menaikkan tanganku yang semula berada di perut Adit.
"Ah, Bunda, Adit takut. Ah, tidak." Kata Adit.
__ADS_1
"Mawar. Diamlah." Kata Bang Daffa dengan suara menggelegar sampai sampai Adit berjingkat kaget dan langsung menggemam tanganku erat.
"Tidak apa apa, Sayang. Ayah hanya terganggu dengan suara berisik kita. Jadi kita bisik bisik saja yah." Ucapku menenangkan Adit yang ketakutan dan Aditpun mengagguk menyetujui ucapanku lantas langsung memilih memejamkan matanya, memaksakan diri untuk tidur.
Bunyi Keybord yang sedari tadi tak tik tak tik milik Bang Daffa, berhenti berbarengan dengan suara pintu yang berderit. Akupun reflek memutar kepalaku ke arah pintu, dan alangkah terkejutnya aku, karena Ibu Bang Daffa dan Bu Mega yang membuka pintu.
Ingin segera menyongsong mereka berdua, namun aku kembali ke posisi semula karena mereka yang berbisik memintaku agar tetap di tempatku. Jelas mereka melihat tangan Adit yang tengah memeluk lenganku sebagai gulingnya.
"Bagaimana keadaan Adit sekarang." Tanya Bu Asri yang baru saja usai mencium kedua pipiku.
"Alhamdulillah, sudah mendingan, Buk." Jawabku.
"Apa kata dokter.?" Tanya Bu Mega.
"Belum bisa di pastikan, Buk. Karena menunggu hasil lab. Untuk saat ini dokter fokus menurunkan panasnya, agar jangan sampai kejang." Jawabku dengan lugas. "Ibu hanya datang berdua saja.?" Tanyaku setelahnya.
"Tidak. Bapak juga ikut, mereka masih di bawah tadi." Dan benar saja, ketika Bu Asri usai dengan kata katanya, Pak Agung dan Pak Bakti masuk.
Setelah berbasa basi sedikit, Pak Bakti segera menegur Bang Daffa yang masih sempat sempatnya membawa pekerjaan padahal anaknya sedang sakit. Dan Pak Bakti juga cukup jeli dengan sikap kami berdua yang kaku, terlebih dengan sikap Bang Daffa yang acuh kepadaku.
Tidak cukup hanya memantau saja, Pak Bakti bahkan sampai mengikutiku dan menanyaiku secara pribadi mengenai sikap Bang Daffa. Dan bagiku, mau seperti apapun sikap Bang Daffa kepadaku, tidak akan layak bagiku mengumbar kejelakannya, terlebih itu kepada orang tua. Karena, bukan tidak mungkin segalanya nanti akan berubah dan aku akan di baut malu oleh keluhanku.
Cukup dengan waras saja menghadapi Bang Daffa, karena jika aku terlalu berpikir mendalam, yang ada maka aku akan gila. Lantaran akan sia sia membuat seseorang menyukai kita tanpa adanya pertolongan dan campur tangan dari Allah. Cukup semua aku kembalikan kepada Allah saja yang maha membolak balikan hati manusi.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862