Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Bisikan Rindu.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Menunduk dalam dengan wajah yang terus merona, tanpa ku sadari angkot yang aku tumpangi sudah jauh melesat meninggalkan taman dimana seseorang telah mencuri ciuman terhadapku. Kelu dan canggung sebelumnya seakan semua orang dapat membaca expresiku.


Dalam sejarah hidupku, dekat dengan laki laki bukanlah hal yang luar biasa, namun bersama Mas Karang aku bisa melakukan hal hal yang tidak masuk akal dan jauh dari kebiasaanku. Bersama Mas Karang memabukan, mabuk dalam alunan cinta buta.


Alunan cinta ini membuat kerja jantung ku meningkat acap kali aku teringat kejadian singkat sebelum kami keluar dari taman. Tidak ada kata yang keluar baik dariku ataupun dari Mas Karang setelahnya, tapi dari gestur kami berdua itu sudah cukup menjadi bukti bahwa ini sama sama kali pertama untuk kami, meski itu tidak juga bersentuhan langsung. Manis sekali.


Bahkan aku tidak berani memandang Mas Karang setelahnya, jangankan memandang Mas Karang, untuk aku berjalan saja menuju jalan raya sangat kesusahan terlebih saat Mas Karang yang tanpa suara justru mengeratkan jemarinya di di ruas ruas jariku. Bukan iti saja, aku juga dapat merasakan bahwa tangan Mas Karang bergetar seperti aku yang tengah gemetaran.


Sungguh cinta buta ini seharusnya bukan kali ini, tapi lagi lagi aku kalah oleh nafsu yang membuatku tahluq dalam alunan cinta yang belum halal adanya. Namun jika aku hendak begitu sok suci, jelas aku tidaklah pantas untuk mengutarkan itu. Karena aku hanya seorang yang sedang belajar menjadi lebih baik dan tergoda oleh cobaan berupa cinta.


Roda terus berputar dan berputar, hingga perjalanan kembali yang penuh dengan hamburan bunga ahirnya sampai juga dimana aku harus menyembunyikan segalanya dari mata dunia.


Berjalan pelan menyusuri gang kembali ke Pesantren dengan langkah ringan dan bahagia, aku terpekur begitu sampai di halaman luas fari Pesantren karena hadirnya sebuah mobil yang sangat familiar buatku, dan seluruh kebahagiaanku seakan tercabut dari tempatnya saat mataku menyapu wajah yang dulu aku inginkan senyumnya tercetak buatku.


Bu Mega, Bu Mega berdiri dengan Adit dalam gendongannya, sementara di sebelahnya juga berdiri Ibu dari Bang Daffa. Aku masih tak mampu menggerakan kakiku lebih maju, padahal tidak jauh di depanku, Adit sedang menangis kencang, sementara kedua wanita paruh baya itu sedang sibuk menenangkannya dengan bergantian memberikannya mainan dan botol susunya.


"Itu Aunty, Mawar. Lihat anak hebat, itu Aunty Mawar sudah datang." Ucap Ibu Bang Daffa saat menyadari bahwa aku berada di sekitarnya.


"Iya, itu Aunty Mawar sudah datang." Timpal Bu Mega dan berusaha memalingkan wajah Adit agar melihat ke arahku, dan setelah Adit melihatku berangsur angsur tangisnya berhenti dan menyisakan senggukan.


Aku berjalan pelan ke arah mereka dan hendak menyalami satu persatu, namun terhalang karena Adit yang sudah tak sabar ingin masuk dalam gendonganku.


"Ti, Ti. Anti Awa." Ucap Adit dengan masih terbata.


Ku usap kepalanya pelan, dan memeluknya erat menyalurkan segala cinta yang sempat aku lupakan karena satu cinta baru yang bersemi hebat di hatiku. "Jagoan, anak pintar, anak manis." Ucapku menghibur Adit yang seakan akan suasana menjadi tiba tiba hening dan siara hanya di penuhi olehku dan Adit seorang.


Setelah selang beberapa menit berlalu, semua tangis Adit telah berganti dengan senyum dan tawa, bahkan Adit sudah sibuk memamerkan mainannya kepadaku, hingga untuk sesaat aku lupa akan keadaan sekitar, siapa saja yang datang bersama dengan Bu Mega dan Bu Asri.


Aku memutar kepalaku dan tak mendapati sesiapa bersama mereka berdua. Atau memang mereka sengaja datang berdua saja, tapi kenapa ada mobil Bang Daffa.


"Kakung dan Ayahnya Adit sedang ada di Dhalem, War." Kata Bu Asri sekaan tau dengan apa yang hendak aku tanyakan. "Kakungnya Adit itu teman dekat pengasuh Pesantren ini." Jelas Bu Asri lagi.

__ADS_1


"Oh, enggeh Bu." Jawabku.


"Kamu tadi darimana, War.?"


"Gluk.." Tanya Bu Mega membuatku menelan salivaku dengan susah payah. Dan ini membuatku delema, lantaran aku yang tidak terbiasa berbohong jika di tanya Bu Mega.


"Tugas dari Mahad ya.?" Timpal Bu Asri yang membuatku mengaggukan kepalaku berat.


"Semoga kamu cepat lulus, War. Jadi Adit tidak akan kesepian lagi jika kamu sudah di rumah." Gumam Bu Mega dengan tatapan intens mematriku.


"Saya juga berharap seperti itu, Jeng. Coba saja Mawar menuntut Ilmunya dekat. Pasti kita akan sering menjenguknya. Bukan begitu, Bang Adit.?" Sahut Bu Asri.


Jujur, aku bingung dengan maksud kata kata mereka berdua. Kenapa harus melibatkan aku dengan urusan Adit. Aku tau, Adit menyukaiku bahkan lebih dari siapapun, tapi menurutku itu tidak harus menjadikan alasan bahwa ketenangan Adit tergantung dariku.


Meninggalkan segala obrolan yang tak ku pahami, ahirnya Pak Bakti dan Bang Daffa kembali lagi ke Asrama tamu. Aku masih tak berani bersitatap dengan Bang Daffa, karena dari suhu yang seakan mendingin itu sudah cukup menjadi bukti, bahwa Bang Daffa tak menginginkan bertemu denganku.


Menyalami tangan Pak Bakti dengan takdzim, di tepuknya bahuku berulang ulang oleh Pak Bakti. Ku beranikan diri mengangkat kepalaku dan dapat terlihat senyum tercetak di bibir Laki Laki paruh baya yang masih terlihat tampan meski tengah lewat masa kejayaannya.


"Senang sekali, ahirnya saya bisa bertemu secara langsung denganmu, Dhok." Ucap Pak Bakti. "Benar yang di katakan Almarhumah Melati. Kamu cantik dan baik." Lanjut Pak Bakti.


Tapi, jika boleh di bilang siapa yang paling kehilangan tentu saja Adit. Dan, Bang Daffa tak seharusnya bersikap egois dengan terus terusan menumbuhkan benci terhadapku. Karena, jika Bang Daffa tetap seperti itu, maka akan sulit bagiku untuk berhubungan dengan Adit tanpa seijin Bang Daffa.


"Berapa lama lagi pendidikanmu akan berahir, War.?" Tanya Pak Bakti memnyadarkan aku dari lamunanku.


"Jika tidak ada kendala mungkin satu setangah tahun atau dua tahun, Pak." Jawabku seadanya.


"Belajarlah dengab giat, War. Kelak kamu akan menjadi kebanggakan anak anakmu. Kami semua berharap banyak kepadamu." Ucap Pak Bakti yang sedikit ambigu. "Daffa, berikan kepada Mawar." Lanjut Pak Bakti dengan nada tegas dan berat.


Bang Daffa maju dan berdiri di samping Pak Bakti lantas mengangsukan sebuah amplop berwarna coklat yang sedikit tebal kepadaku.


"Ini untuk biaya setahun." Ucap Bang Daffa yang justru terdengar sinis serta dingin di telingaku. Tanganku tak bergeming, tapi justru kepalaku yang mendongak menatap ke arahnya. Tatapanya seakan menguliti setiap dari ari yang menempel di badanku. Dan dalamnya samudra mengalahkan kepekatan matanya yang menyorot benci tak bertepi kepadaku.


"Tidak perlu, Bang. Mawar dapat beasiswa." Jawabku ahirnya.


"Terimalah, War. Itu amanah dari Melati." Timpal Bu Mega. Mendengar nama Kak Melati di sebut membuat ngilu menikam dadaku. Apa maksud dari ini semua, apa ini sebuah konpensasi terhadapku atau ini sebuah harga untuk membeliku.

__ADS_1


"Jika kamu tak menginginkannya, kamu bisa menyumbangkannya." Ujar Bang Daffa.


"Jaga bicaramu, Fa." Tegas Pak Bakti. "Baik, jika sementara ini kamu belum membutuhkan ini. Maka biar sementara waktu Bu Mega yang menyimpannya." Putus Pak Bakti dan segera di setujui oleh semuanya.


Kamipun kini di sibukan membujuk Adit agar mau di ajak pulang, dan setelah panjang lebar memberi tau Adit bahwa nanti saat liburan atau saat Ayah Adit sedang tidak sibuk, Adit bisa datang kesini sambil lihat gunung tinggi, ahirnya umpan itupun berhasil.


Satu persatu menyalami dan memeluk ku erat. Lantas mulai masuk dalam mobil, tinggal Bu Mega seorang yang masih belum masuk ke mobil, karena beliau masih enggan dan sesekali memeluk ku erat dengan kata kata yang membuatku tak mampu berkata kata.


"Gantikan Melati, gantikan tempat Melati, agar Ibu tenang meninggalkan Adit bersamamu dengan alasan yang tepat." Ucap Bu Mega terahir kali sebelum ahirnya masuk ke dalam mobil, meninggalkan aku yang seorang diri bersama semua benda yang akan tetap akan bersamaku hingga esok tiba.


Ketika angin akan meniup mereka menjauh ke tempat terlupakan, dimana hanya ada sepi yang menuan menjadi berkuasa. Disinilah aku sadar, bahwa aku merindukan cinta yang memberiku tempat seperti rumah, sejauh mana aku pergi disana pula aku akan kembali. Aku merindukan cinta seperti itu, cinta yang di miliki Kak Melati untuk ku ataupun sebaliknya. Dan sesungguhnya aku sedang merindukan Kak Melati.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2