Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Aku Lelah.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terseret dalam pusaran air, ikut terbawa hembusan angin dan ahirnya terdampar di daratan gurun pasir tanpa tepi yang seolah tanpa kehidupan. Seperti itu gambaran yang pantas aku lukiskan di hatiku.


Malam terahir di sesi liburan impian Adit dan sebelumnya itu juga mimpiku, mengingat aku juga menyukai perkemahan. Tapi malam ini, untuk pertama kali aku tidak menyukai perkemahan meski itu cuma di belakang rumah Pak Bakti.


Pikiran ini terlalu sakit untuk menikmati moment ini. Terlebih dengan sikap Bang Daffa yang telah aku ketahui itu adalah sandiwara, membuat dadaku sesak tak terperi, apa lagi di tambah dengan senyum Mas Karang yang seakan memiliki pengawet, membuat dadaku seperti semakin teriris tipis.


Menyibukan diri dengan jagung bakar, setidaknya dari situ aku tau bahwa, kebaikan Pak Bakti dan Bu Asri tidaklah sandiwara. Karena hingga di titik ini, mereka berdua terus saja meminta maaf akan ketidaknyaman ku setelah mengetahui bahwa aku dan Mas Karang pernah memiliki hubungan.


"Andai waktu itu, Ayah tidak memaksa Daffa untuk menikahi kamu, War. Mungkin saat ini Ayah akan menjadi orang yang paling bahagia melihat kalian bersama." Ucap Pak Bakti pas malam kemarin aku di bawa pulang oleh mereka.


Ingin aku menjawab, Tidak ada andai dan mungkin, jika semua atas takdir Allah, dan cara terbaik mensyukuri takdir adalah dengan menerimanya sebagai ketetapan yang telah kita sepakati sebelumnya. Itu andai Bang Daffa tidak memutuskan mimpiku begitu saja, dengan menawar harga pernikahan ini dengan kesepakatan perceraian setelah Mas Karang menikah.


Itu bisa aku lakukan, jika Mas Karang tidak berada di sekitarku. Namun pada kenyataanya, menyuruh hati untuk pura pura tidak pernah terjadi apa apa itu sulit sekali. Apa lagi mencoba untuk pura pura tidak kenal dengan Mas Karang itu juga bukan perkara mudah.


Di tambah dengan terus di tempel Bang Daffa yang sudah seperti alarm alami dengan tatapan tajamnya. Membuat seluruh gerak ku terbatas dan hanya bisa mengikuti sandiwaranya agar semua segera usai.


Aku yakin tidak hanya aku seorang yang merasakan sakit. Karena setiap hubungan yang di paksakan pasti akan merasakan sakit, meski itu tidak di tunjukkan secara langsung. Aku tersakiti karena memaksakan hatiku yang patah untuk tegar di depan orang yang pernah memberi sandaran hati. Mas Karang, pasti juga merasakan sakit meski tidak terucap dari bibirnya. Karena acap kali aku melihat Mas Karang cukup memaksakan senyumnya ketika Bang Daffa sedang bersandiwara.


Dan mungkin yang paling tersakiti adalah Bang Daffa. Lantaran Bang Daffa memaksakan dirinya bersandiwara dan menelan seluruh kebenciannya terhadapku di depan orang. Karena hal yang tidak disuka terlebih di benci akan semakin menyakitkan jika kita terus terlibat di dalamnya.


"Bunda, Adit mau pipis." Kata Adit sembari lari tergopoh menuju ke arahku.


"Ayo, ayo cepat." Tanpa pikir panjang aku langsung meninggalkan perapian dan meraih tangan Adit. "Mas Kar. Dev, titip jangung bakar yah."


"Oke siap, Mbak." Sahut Devi.


Menunggu Adit di depan pintu kamar mandi, aku melihat sekelibat Mas Karang yang tengah berjalan menuju ke arah dapur. Dan ku coba agar diriku abai tak ingin memperdulikannya, terlebih terus mengikuti bayanganya meski hatiku sangat ingin. Karena aku pikir cukup, semua telah berahir, dan aku ingin semua ini lekas usai yang sebenarnya baru saja di mulai.


"Prang .." Suara benda terjatuh cukup nyaring terdengar dari tempatku, dan akupun meninggalkan Adit begitu saja guna mencari asal suara tersebut.


"Tetap diam di tempatmu, Mawar." Ucap Mas Karang begitu melihat aku yang sudah berdiri di ambang pintu dapur. "Aku bilang tetap di tempatmu, Mawar. Disini banyak pecahan kaca." Lanjut Mas Karang ketika aku memilih semakin masuk ke dalam.


"Aku akan membersihkannya." Jawabku sembari mengacungkan sapu yang sudah ku raih dari tempatnya.


"Tidak, aku bisa membersihkannya kekacauan ini sendiri."


"Baiklah." Jawabku singkat dan meletakkan sapu tepat di samping meja. Lantas bergegas kembali ke tempatku seharusnya berada.


"Mawar boleh.."


"Seharusnya sampean bisa menambahkan kata Kak atau Mbak di depan namaku mulai saat ini." Ucapku memotong ucapan Mas Karang. Ya, menurutku ini tidak akan adil jika hanya aku saja yang berusaha untuk menjauh dengan cara yang benar menurutku.


"Jangan terlalu kejam kepadaku, Mawar. Beri aku sedikit waktu lagi." Jawab Mas Karang, dan tanpa berpikir panjang aku memilih tak menjawabnya dan pergi begitu saja.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Beberapa bulan telah berlalu, dan sejak sandiwara yang di lakukan oleh Bang Daffa ketahuan olehku, hubungan kami kembali seperti sebelumnya. Bang Daffa dengan segala keegoisan dan kebenciannya kepadaku, dan aku memilih menghindarinya.


Setiap hari berganti dengan pertengkaran dan pertengkaran, dan itu yang membuatku semakin menjaga jarak dengan Bang Daffa. Yang itu juga membuat Adit semakin jauh lagi dari Bang Daffa, karena acap kali Bang Daffa marah kepadaku tidak pernah memilih tempat, dan kerap kali menunjukannya di depan Adit. Seperti yang di lakukannya hari ini.


"Adit tutup telinganya dan masuk kamar ya sayang." Ucapku ketika Bang Daffa sudah meninggikan suaranya meneriakiku.


Sepeninggal Adit yang berlari kencang menuju kamarnya, aku kembali memandang orang yang dulu pernah aku kagumi. Dan aku berpikir, mungkinkah cinta butanya terhadap Kak Melati mengalahkan perasaan warasnya sebagai seorang Ayah, tidak takutkah dia telah meninggalkan kesan tidak baik terhadap anaknya. Atau semua semata mata karena dia membenciku.


"Kamu, untuk apa datang ke kantor dan mengantar makan siang, apa aku memintamu kesana." Ucap Bang Daffa dengan suara lantang. "Apa kamu berpikir dengan kesana bersama Adit, kamu akan mencari muka di depan pegawaiku, dan berlagak sok Nyonya."


"Aku kesana karena Adit yang memintanya. Apa sampean ingat hari ini hari apa. Oleh sebab itulah aku datang kesana." Jawabku dengan nada datar.


"Jangan selalu mengatasnamakan Adit, sekaligus menjadikan Adit sebagai tamengmu. Aku muak mendengarnya."


"Kalau begitu bisakah kamu yang sebagai Ayahnya Adit menjadi tempat ternyaman baginya." Balasku. "Katakan apa kamu tau sebagai Ayahnya Adit sekarang hari apa baginya." Lanjutku.


Bang Daffa terdiam sesaat, dan terlihat sedang berpikir. "Tidak ada yang spesial akan hari ini." Katanya dengan santai.


"Benarkah. Begitu sibuknya membenciku, sampai sampai kamu Ayahnya Adit, lupa bahwa hari ini adalah ulang tahun Adit." Jawabku dengan mebalikkan tubuhku untuk menyudahi perdebatan ini.


"Bohong, kamu berbohong." Bang Daffa membalikan tubuhku dengan kasar hingga reflek keningku terbentur lancipannya pintu.


Untuk sepersekian menit kepalaku pusing dan aku tidak jelas dengan apa yang di ucapkan oleh Bang Daffa sebelumnya, yang ku dengar hanyalah.


"Kalau seperti itu, bisakah aku percaya padamu bahwa kamu bisa merebut hati Adit kembali.?"


"Tentu saja, karena ikatan darah itu lebih kental."


"Baik berikan aku waktu untuk mengembalikan semuanya, dengan syarat biarkan aku pergi setelahnya." Tidak ada jawaban dari Bang Daffa karena Bang Daffa sudah pergi meninggalkan ruang keluarga sebelum aku usai berbicara.


Beberapa menit berlalu, kepalaku masih lumayan keliyengan dan aku terus saja memegangi bagian dari keningku yang terasa seperti ada yang merembas dingin. Belum sempat aku menilik apa yang terjadi dengan keningku, bel sudah berbunyi berulang ulang, membuat aku mengurungkan niatku untuk melihatnya di cermin.


"Ya tunggu sebentar." Ucapku sembari menuju ke arah pintu depan.


"Asslam. Ehh, Mawar kamu berdarah kenapa Nak.?" Tanya Bu Asri begitu pintu terbuka dan langsung melihat ke arah keningku dan setelah aku lihat tanganku ternyata benar aku berdarah.


"Fin, Daffin cepat, biarkan saja itu di mobil dulu. Coba kamu periksa lukanya Mawar." Teriak Bu Asri dengan segera.


"Hanya luka kecil Buk, tidak apa apa Mawar bisa mengobatinya sendiri." Ucapku sembari berusaha meraih tangan Bu Asri dari keningku.


"Luka kecil apa, darahnya banyak gini." Ucap Bu Asri. "Fin, coba lihat ini." Lanjut Bu Asri begitu Mas Karang masuk.


"Mobil Daffa sudah ada di garasi, dimana dia. Adit juga dimana.?" Tanya Bu Asri.


"Bang Daffa baru saja datang Buk, mungkin masih mandi. Kalau Adit ada di kamar."

__ADS_1


"Ya sudah biar Ibu yang ke atas. Fin, cepat." Kembali Bu Asri berucap dengan cepat sembari berdiri. "Jangan takut Mawar, Ibu akan segera kesini lagi." Lanjut Bu Asri seperti tau apa yang aku pikirkan.


Aku berdiri sepeninggal Bu Asri. "Biar aku periksa, Mawar." Ucap Mas Karang.


"Tidak perlu, hanya luka kecil. Saya akan membersihkannya sendiri." Ucapku dengan sengaja menekankan kata saya terhadap Mas Karang.


"Jangan menyepelekan luka kecil, Mawar. Itu juga bisa berakibat infeksi, aku ingat kamu memiliki kelainan pada trombositmu." Ucap Mas Karang lagi.


"Seberapa perduli kamu terhadap saya.?" Ucapku dingin.


"Apa.."


"Sudah selama ini kenapa kamu tidak bisa menghormatiku sebagai kakak iparmu. Sudah pernah saya bilang, tambahkan satu kata di depan nama saya."


"Kamu, jangan mengalihkan pembicaraan Mawar."


"Apa karena rasa itu masih ada untuk Khadijahnya Mas Karang." Ucapku dengan nada menyepelekannya.


"Kamu, jangan memojokanku."


"Jika iya, tunaikan janji cinta yang belum selesai."


"Aku tidak akan bisa melakukannya." Lirih Mas Karang.


"Karena tidak bisa, maka jangan buat hatiku silingkuh dengan terus berpikir bahwa kamu akan tegas terhadap pilihanmu. Atau lupakan semuanya dan hargai aku sebagai kakak iparmu." Ucapku.


"Kalian berdua menjijikkan." Desis Bang Daffa. Dan aku tak mau perduli lagi, karena seberapa keras aku menyatakan bahwa semua tidak sesuai dengan apa yang di lihatnya akan sia sia belaka, karena Bang Daffa memiliki aaumsinya sendiri dan itu semata mata demi membuatku terlihat tak berharga di hadapannya. Aku lelah.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2