
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sinar pucat merekah di ufuk timur menandakan bahwa sang Surya akan lekas bangun dari tidur nyeyaknya, kabut tipis saling berkumpul di ledukan antara perbukitan dan gunung, berkerumun seperti awan yang menutupi pucuk pucuk pohon pinus dan pedesaan yang berada di bawahnya. Bak berada di negri atas awan kebaradaanku saat ini, di tambah desauan dinginnya angin pagi dan kicauan burung membuat pagi ini terasa menyenangkan.
Mengenggam cup berisikan teh panas, aku cari kehangatan darinya. Setiap teguk yang mengaliri tenggorokanku terbawa hangatnya hingga ke lambung. Tak ingin kehilangan momen indah berada di atas awan, ku buka lebar lebar mataku menikmati segala keindahan dari ciptaanNYA. Tiada daya dan upaya jika di hadapkan pada nikmat Tuhan. Kita ini hanya mahluk kerdil, yang tidak akan bisa menggapai apapun tanpa adanya limpahan nikmat dariNYA. Lalu, masih lalaikah kita
Sinar pucat itu berangsur angsur menegas, sinarnya jatuh menimpa gerumbulan kabut, dan menambah keindahannya di pandang mata. Allahu Akbar, sungguh ini baru nikmat mata. Nikmat yang bisa untuk di nikmati. Seperti sifat Allah, yang maha pengasih dan penyanyang. Di berikan kita mata dengan kasihnya, lantas di beri nikmat penglihatan sebagai sifat penyanyangnya.
Satu deheman keras membuatku menoleh meninggalkan kekagumanku atas nikmat Tuhan. Dan menggiring mataku berpindah ke pada asal suara. Deg, dadaku dengan tiba tiba memacu detaknya. Buru buru aku mengalihkan tatapan pada seseorang yang sedang berjalan pelan ke arahku. Dan terlihat sangat di paksakan sekali, karena setelahnya aku kembali meliriknya.
Ikut berdiri tidak jauh dariku, Rendi tampak segar dengan balutan sweter warna biru. Rambutnya juga tertata rapi sepagi ini. Di giringnya pandanganya jauh seperti yang aku lakukan, dengan kedua tangan yang di masukan di saku celannya.
"Pagi yang indah." Gumamnya pelan. "Bukan begitu.?" Tanyanya kepadaku sembari menoleh kepadaku yang tengah memperhatikannya.
Terpergok menatapnya, aku kembali membuang pandanganku sembari bergumam pelan menjawabnya. "Iya, pagi yang cerah."
"Selamat pagi dunia." Kembali Rendi bersuara. "Apa yang kamu lakukan sepagi ini di sini, Mawar.?"
Aku langsung memandang Rendi yang saat ini menyandarkan separuh tubuhnya di tralis besi, sementara pandangannya lurus ke arahku.
"Aku.?"
"Iya, kamu.?" Ulang Rendi dengan nada bingung, dan yang semakin bingung lagi adalah aku.
"Menikmati pagi." Ku acungkan cup tehku ke arah Rendi yang masih setia menatapku. "Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan sepagi ini disini.?"
"Menikmati pagi juga, sama sepertimu." Kami sama sama tersenyum canggung.
"Mau teh.?" Tanyaku.
"Boleh."
Ku taruh cup tehku, di meja kecil sampingku, lantas menggiring langkahku tidak jauh dari tempatku berdiri barusan. Tak butuh waktu lama, aku kembali dengan secangkit teh panas untuk Rendi.
"Terima kasih." Ucap Rendi begitu aku mengangsukan teh untuknya.
"Sama sama."
"Aku iri deh sama terima kasih." Jawab Rendi dengan tiba tiba.
"Kenapa.?" Ku sruput tehku yang sudah mulai mendingin.
Rendi tidak langsung menjawab, melainkan malah meminum tehnya dengan gaya tenangnya. "Karena, terima kasih saja bisa sama sama, masak kita tidak."
__ADS_1
Hampir saya aku menyemburkan teh yang berada di mulutku dan karena tidak jadi, justru itu membuatku tersedak hebat. "Enggak lucu banget." Ucapku setelah berhenti dari batukku.
"Emang aku enggak lagi ngelawak kok." Masih dengan gaya tenangnya Rendi menyahuti ucapanku. "Apa bisa aku bilang, kalau keberadaanmu disini karena menungguku.?" Tanya Rendi dan itu membuat aku bingung harus menjawab apa. Karena, jujur kebaikan sikap Rendi membebaniku. Terlebih dengan statusku.
"Aku, aku disini karena menunggu pagi." Jawabku ahirnya dengan terbata.
Rendi tersenyum simpul dan kembali menyeruput tehnya dengan pandangan tak melepaskan aku sama sekali. "Kalau itu benar juga tidak apa apa. Toh aku memintamu tidak datang sepagi ini." Ucap Rendi.
Merasa tertohok dengan ucapan Rendi, aku membuang pandanganku darinya dan kami memilih sama sama diam.
"Aku selesai." Ucapku pelan. "Aku akan kembali ke cabbin." Lanjutku, tapi entah kenapa ada perasaan tidak rela. Namun, juga perasaan aneh lainnya. Aku bimbang sekarang.
Tidak ada jawaban dari Rendi, membuat aku membalikan tubuhku. Dan baru dua langkah kakiku menapak, suara Rendi terdengar lirih di telingaku namun cukup jelas bagiku.
"Tetaplah tinggal." Alih alih bergerak terus maju, aku justru diam di tempatku, menantikan kata yang mungkin saja akan di lanjutkan oleh Rendi. "Temani aku. Please."
Diam diam aku menghembuskan nafas dalam. Aku tidak tau persis apa yang membuatku melakukan itu, yang pasti ada beban yang tidak bisa aku lepaskan begitu saja untuk menyudahi atau melanjutkan perasaan ini.
"Tetaplah tinggal bersamaku, baik susah terlebih senangku. Temani aku menjalani hari, menikmati setiap apa yang aku lakukan." Mendengar ucapan Rendi kenapa perasaanku justru terasa berat. Apa karena statusku, yang sudah pasti akan di anggap tidak layak oleh orang di sekitar kami.
"Aku anggap kamu setuju, jika terus diam." Lanjut Rendi.
Ku balikan badanku menghadap Rendi yang terlihat bersinar cemerlang dengan sinar matahri yang kini telah meninggi tepat berada di belakangnya. Dan aku rasa selayaknya itu pula hadirnya Rendi untukku, namun aku tidak berani maju lagi karena akan sulit untuk aku nantinya.
"Kamu terlalu berharga untuk wanita sepertiku, Ren." Jawabku lirih.
"Kamu berhak memiliki seseorang yang sepadan denganmu. Aku, aku tidak pantas untuk itu." Ucapku lirih.
"Apa kamu tidak memiliki perasaan sama seperti yang aku miliki, War.?" Terdengar nada tegas dari tanya Rendi.
Gelisah menyergapku, tanganku saling meremas. Aku senang dengan pengakuan Rendi, tapi di lain sisi aku tekut melampaui batasanku.
"Tidak perlu kamu jawab, aku sudah bisa melihat dari wajahmu." Kembali Rendi bersuara. "Aku tau apa yang kamu pikirkan. Aku mencintaimu itu tidak ada sangkut pautnya dengan yang lain, ataupun dengan masalalumu. Hanya cukup berhubungan denganmu saja dan masa depan kita." Lanjut Rendi berusaha menyakinkan aku.
"Itu tidak akan mungkin, Ren. Tetap akan ada pertanyaan dan perdebatan."
"Aku akan bisa menjawab semuanya. Karena aku tidak akan perduli dengan perkatakan orang." Debat Rendi.
"Kamu iya, tapi aku tidak. Aku perduli." Lirih, sangat lirih ucapan itu keluar dariku. "Sudahlah, lupakan saja."
"Seperti kamu yang akan melupakan perasaanmu, kamu kira itu akan gampang. Kenapa, jika kita memiliki perasaan yang sama, harus begitu peduli dengan gunjingan orang. Kenapa kamu tidak berani mengambil langkah dengan berani." Di ulurkan tangan Rendi kepadaku dan mengikis jarak antara kami.
"Melangkahlah berani denganku, War." Kata Rendi begitu dia berada tepat di depanku dengan tangan yang masih terulur ke arahku.
Menggelengn pelan, aku mundur satu langkah ke belakang. "Ini bukan soal kamu, tapi aku. Aku melakukan ini, karena aku sadar tidak akan mudah kedepannya. Cukuplah Ren, kita berteman baik selama ini." Ada nyeri saat aku mengatakan itu kepada Rendi.
__ADS_1
Dan benar, aku melakukan itu semua bukan untuk Rendi seorang, terlebih untukku. Karena terlalu takut, ketika aku sudah mengiyakan permintaan Rendi, akan ada keluarga yang menentang. Terutama keluarga Rendi.
"Katakan, apa yang menurutmu terlalu berat untuk kita tidak bisa hadapi bersama.?"
Mengigit bibir bawahku, aku menahan gejolak di dada yang sulit untuk aku ungkapkan kebenarannya. "Statusku, yang mungkin akan menjadi kendala. Juga pautan usia, akan terasa tidak pantas, Ren." Pelan aku bertutur dan di balas dengan senyum oleh Rendi.
"Saat aku mengulurkan tangan kepadamu, maka aku telah memikirkan segalanya, War. Bukan untuk jangka pendeknya, tapi juga jangka panjang bagi masa depan kita. Dan jangan risaukan itu, keluargaku telah mengetahui semua tentangmu, termasuk statusmu." Menganga aku menatap Rendi.
"Menikah itu bukankah ibadah sunah terpanjang.? Dan disana, aku tidak akan bisa menjanjikan kebahagiaan saja, karena setiap nilai dari ibadah akan terlihat dengan ujiannya. Menikah itu juga bukan soal romantisme di usia muda yang mengebu. Tapi, juga kenyamanan partner untuk tetap bersama dan saling menerima serta menutupi satu kekurangan dengan seribu kelebihan dari pasangan. Lantas, tetap hidup dengan tenang saat rambut telah berganti warna, gigi telah tanggal. Masihkah kamu tidak ingin seperti gambaranku.?"
Tak berani menjawab ucapan Rendi, aku semakin menundukan kepalaku. Aku telah salah menilai Rendi. Ternyata usia tidak menjamin kedewaan pemikiran seseorang. Terbukti itu dengan ucapan Rendi yang terus berupaya untuk menyakinkan aku.
"Seperti kataku tadi. Aku mencintaimu, tidak ada sangkut pautnya dengan masalalumu. Dan aku tidak perduli dengan siapa kamu pernah jatuh cinta, ataupun orang yang pernah kamu cintai. Karena yang terpenting bagiku, kamu saat ini." Kembali tangan Rendi terulur ke arahku. "Beri kepercayaan itu untukku, dan sebagai gantinya ayo kita bersama sama mengoreskan cerita tentang kita." Lanjut Rendi dengan nada yakin.
Taukah Rendi, jika kata kata permintaannya telah membuatku melambung, dan aku takut terjatuh. Kalimat spontanya mungkin tidak berarti apa apa, jika dadaku tidak ikut berdebar olehnya. Dan membuat bibirku kelu hendak menjawab apa. Karena aku terlalu malu untuk berkata iya.
"Kamu masih tidak ingin menyambut tanganku.?" Ucap Rendi pelan dengan mata yang menyorot penuh harap dan syarat akan tawaran kebahagiaan.
"Beri waktu untukku berpikir." Ahrinya, kata kata itu keluar dari tenggorokanku meski sangat lirih.
"Well, semoga keputusanmu tidak akan membuatku patah hati untuk yang kesekian kalinya." Jawab Rendi dengan menarik tanganya ke dalam saku celananya. "Jangan sesukamu meminta waktu, aku yang akan memastikan kapan itu berahirnya." Lanjut Rendi sembari berjalan lebih maju sampai melewatiku.
"Aku akan sibuk mulai nanti sore hingga tiga hari kedepan. Dan kamu taukan jadwalku di sore itu, maka disanalah aku menunggumu." Tutur Rendi pelan dengan senyum misterius yang di tinggalkan untukku. Lantas meninggalkan aku tanpa menoleh lagi kebelakang.
Seperti Rendi yang tidak lagi menoleh kebelakang. Apa aku juga tidak perlu ragu dengan masalalu, dan melangkah sejajar dengan Rendi. Aku yakin, mataku berbinar kala menatapnya. Aku yakin, dadaku menghangat oleh sikapnya. Tapi aku terlalu takut untuk memulainya, jika pada ahirnya aku nanti akan terluka.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862