
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Langkah yang ku gesakan menuruni anak tangga pada ahirnya berhenti juga di tengah tengah undakan menurun itu. Di mana diatas sana Kak Melati menyerukan namaku dengan lantang, setelah beberapa kali ku abaikan tanyanya mengenai rungunya tentang pembicaraanku dengan Erik.
Tidak tau sejauh mana yang di dengar Kak Melati soal itu. Aku hanya berharap Kak Melati tidak mendengar hal yang akan menyakiti hatinya, hingga nantinya akan membuat acara yang akan berlangusung hari ini berantakan. Jika, semua ini sampai terjadi, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.
"Kak Mel mau bicara. Berhenti di tempatmu, War." Ucap Kak Melati, tak lama setelahnya derap kaki Kak Melati semakin jelas terdengar mendekat dalam runguku. "Kenapa, kamu malu sama Kak Mel. Harusnya Erik yang malu karena cintanya di tolak olehmu." Lanjut Kak Melati.
Ku angkat kepalaku dan memandang Kak Melati dengan intens serta mencari keseriusan dari ucapannya. Tidak ada dusta disana, dan ku hembuskan nafas lega seiring dengan senyum Kak Melati yang semakin mengembang.
"Tau tuh anak. Lagi kesambet setan kali makanya ngomongnya ngaco." Jawab ku dengan nada yang aku buat buat untuk menghindari kecurigaan Kak Melati.
Di tepuknya pundak ku beberapa kali. "Yang dari awalnya nyaman itu sudah pasti akan keterusan. Juga bagi kalian berdua." Senyum Kak Melati semakin melebar hingga matanya menyipit. "Kita bahas itu nanti malam. Hari ini, Kak Mel mau lihat sisi lain dari Mawar." Lanjut Kak Melati sembari mendorong tubuhku agar berjalan di depannya.
Kak Melati terus saja mendorongku hingga sampai di kamar yang dulu merupakan kamar kami. Dimana letak kamarku sekarang.? Kamarku sekarang ada di lantai bawah, bersebelahan dengan kamar pembantu. Kamar yang beberapa bulan lalu masih bernuansa pink soft dan biru, kini telah berubah warna dengan warna pastel. Ranjangnya juga sudah berganti dengan ukuran Queen size.
Entah sudah berapa banyak sapuan Brus dan Spon make up menyentuh wajahku, disisi lain Kak Melati sama sekali tidak membiarkan aku melihat cermin, dan yang lebih parah lagi Kak Melati sengaja menjadi tutor bagi ahli make up yang tengah meriasku. Disini, seolah olah akulah yang akan bertunangan bukan Kak Melati.
Kebaya warna Nute membuat penampilan Kak Melati terlihat sempurna, sanggul modern dengan hiasan tiga tangkai Mawar putih menambah nilai lebih bagi Kak Melati. Sedangkan aku, aku berdiri di samping Kak Melati yang tengah duduk dengan harpa harpa cemas sembari meremas tangan kananku secara berkala.
"Kak Mel, jangan tegang gitu dong." Ucapku menghibur Kak Melati. Jujur sebenarnya aku yang jauh lebih tegang. Dan perlu menyiapkan mental kalau kalau hatiku kembali tak ingin legowo menerima kenyataan. Salahku juga, karena telah jatuh cinta dan terlanjur menyerahkan hati kepada seseorang yang belum termiliki. Harusnya, aku tidak boleh gegabah soal hati.
Memang, tidak akan berdosa seseorang yang sedang jatuh cinta. Namun jadi salah, ketika cintaku bertempat pada tempat yang tak sepatutnya, lantas berlabuh pada dermaga yang tak seharusnya untuk bersandar. Dan seharusnya, aku bisa mengingatkan hatiku agar tidak perlu merasakan sakit, karena itu bersumber dariku sendiri yang tidak mau sabar, bahwa apa yang aku harapkan tidak akan seindah yang telah tertulis bagi diriku berpuluh puluh tahun silah di Lauhul Mahfuzd.
"Kok jadi tangan kamu yang dingin banget sih, War.?" Ucapan Kak Melati sukses membuatku kembali teringat posisiku yang sedang menemani hari bahagia Kak Melati, dan harus membuang jauh jauh wajah nelangsaku.
"Nyetrum Kak Mel." Kilahku dengan cepat.
Kak Melati memperhatikan aku dengan seksama, lantas mengulurkan kedua tanganya menangkup pipiku, sembari menyuguhiku senyuman teramat manis. "Kamu cantik sekali, Mawar." Ucap Kak Melati singkat dan kembali menatapku dengan pandangan yang tak mampu aku terjemahkan.
__ADS_1
Ada gurat sedih yang bercampur rasa bersalah begitu besar di dalam matanya. Ada kata yang hendak terutara namun tak mampu di keluarkannya. "Maafkan aku, War. Maaf." Di ulang ulangnya kata maaf untuk ku, yang aku sendiri tidak pernah tau maaf itu untuk apa. Dan itu bukan sekali dua kali, bahkan sering sekali Kak Melati mengatakan hal itu kepadaku.
"Kak Mel, harusnya Mawar yang minta maaf sama Kak Melati." Jawabku, ku raih tangan yang masih menangkup pipiku, dan ku gengam erat. "Mawarlah yang harus minta maaf, karena Mawar telah membuat cinta yang seharunya untuk Kak Melati berkurang, terbagi dengan Mawar."
"Sseeetttss," Jari telunjuk Kak Melati mendarat sempurna di bibirku sembari berdesis panjang. "Aku tidak sebaik yang kamu bayangkan, War. Akulah peny..." Kata kata Kak Melati tercekat di tenggorokan seiring dengan terbukanya pintu kamar Kak Melati dan hadirlah sosok Bu Mega disana.
Kak Melati segera menyusut airmata yang sudah hendak merebak di pelupuk matanya. Dan dengan segera mengubah topik pembicaraan yang kami bahas sebelumnya. "Well, aku yakin sekali, War. Erik pasti akan semakin jatuh cinta padamu melihat penampilanmu saat ini."
Aku masih merasa ada yang mengganjal akan ucapan Kak Melati, namun aku sama sekali tidak memiliki nyali untuk membuka kataku hendak bertanya. Karena, tatapan Bu Mega serta sindiran yang dia layangkan kepadaku cukup membuatku terdiam tanpa berani membuka mulutku.
"Jelas saja. Make up yang di kenakannya jauh lebih menor di banding pengantinnya." Ucap Bu Mega dengan melirik ku tajam. "Ayo, Mel. Nak Daffa dan keluarganya sudah menunggu di bawah." Lanjut Bu Mega dengan mengelus kepala Kak Melati pelan.
"Ma, jangan seperti itu sama Mawar." Tegur Kak Melati lirih. "Jangan buat Melati semakin bersalah." Lanjut Kak Melati. Entahlah, itu salah yang seperti apa lagi. Sejauh ini, semakin aku dekat dengan Kak Melati, semakin aku tidak mengenal Kak Melati. Apa yang sesungguhnya yang merekan sembunyikan dariku.?
Terlalu naif, jika aku tidak memiliki tanya. Namun, sekali lagi. Aku tak ingin memaksakan rasa ingin tahuku, kepada seseorang yang belum siap berbahi tau denganku. Mungkin, Kak Melati memiliki satu alasan untuk belum memberi tauku, dan bisa jadi itu alasan yang sama kenapa aku harus berada di tengah tengah mereka sebagai salah satu anghota keluarga.
"Lekaslah, Mel." Kembali suara Bu Mega mengintrupsi Kak Melati.
Berjalan pelan keluar dari kamar, kami terus diam tanpa sepatah katapun. Menuruni satu persatu anak tangga, berlahan keramaian terlihat di ruang tamu yang tengah penuh oleh keluarga inti. Duduk dengan wajah berseri, Bang Daffa terlihat menawan dengan kemeja warna senada seperti kebaya yang di kenakan oleh Kak Melati.
Seperti apa gambaran yang tepat untuk hatiku saat ini. Selayaknya sebuah spon yang di remas remas namun tetap kembali seperti bentuknya. Itulah yang terjadi. Dan aku tetap harus tetap tersenyum, sebagai saksi bahwa aku ikut bahagia dengan kebahagiaan Kak Melati. Meski, jauh dari ujung tempatku tengah berdiri terlihat Erik menatapku dengan pandangan mengejeknya.
Merelakan orang yang kita cintai untuk bahagia, dan kita akan bahagia oleh hal itu. Bohong, itu benar benar bohong. Namun, apa aku berhak untuk menunjukan rasa sakitku, ketika orang yang ku beri bahagia adalah cinta dalam diamku. Apa aku berhak mengeluh serta meinta di hargai, ketika aku sudah memilih untuk diam. Sekali lagi, aku mencintai Bang Daffa, sementara Kak Melati dan Bang Daffa sama sama saling mencintai. Apa itu bisa di sebut sebuah pengorbanan, jika tidak ada tempat bagiku disana.
Sudahlah, tidak semua yang kita lalukan harus terlihat dan di hargai. Cukup, aku, Allah dna Erik yang tau akan hal ini. Dan setelah ini, bukankah masih ada tempat baru yang akan aku tuju, pasti disana aku akan memiliki cerita baru. Tidak mungkin, luka tidak menemukan penawarnya. Dan aku hanya butuh untuk bersabar, lantas membalut hati yang koyak ini dengan fokus menata masa depan.
*Setiap luka pasti akan menemukan obatnya. Setiap tetes air mata pasti akan ada redanya.
Setiap gerimis pasti akan kembali menemukan sinarnya.
Mungkin, saat ini badai sedang melanda. Namun, ketika cahaya datang akan ada pelangi yang berwarna disana.
__ADS_1
Tak ada yang abadi, termasuk cinta di hati manusia.
Semua akan silih berganti.
@ayudia99*
Entah, apa yang aku pikirkan. Aku hanya ingin menulisnya dan menjadikan itu sebagai pengingat bahwa aku pernah menjadi lemah hanya karena cinta sendiri.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Cerita baru di tempat yang baru. Mungkin juga cinta baru..
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862