Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Membaik.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Tiga hari sudah berlalu, dan juga ahir dari liburan yang menyenangkan. Duduk di kursi depan dengan Adit dalam pangkuanku, aku, Bang Daffa juga Adit sudah selayaknya keluarga yang berbahagia. Kok bisa.? mungkin pertanyaan itu akan segera muncul ke permukaan.


Pada awalnya, memang tidak seperti sekarang. Dikarenakan Kak Melati yang tiba tiba di telfon oleh teman temannya untuk bertemu guna acara pengumpulan dana atau apalah namanya aku kurang tau. Jadi, tinggal kami bertiga saja yang kembali ke rumah setelah meninggalkan Kak Melati di sebuah caffe.


Satu yang membuatku kagum terhadap Bang Daffa, adalah keprotektifan Bang Daffa terhadap Adit dan juga Kak Melati. Hingga, Bang Daffa tak henti hentinya mengingatkan Kak Melati agar pulang cepat setelah acara usai. Soal Adit kenapa tidak boleh di ajak Kak Melati oleh Bang Daffa, karena tidak baik jika anak berada di luar ruangan terlalu lama.


Apapun itu, aku cukup respeck kepada Bang Daffa meski sikap dominanya dia tunjukan sebagai kepala keluarga.


"Ngantuk ya.." Ku usap mulut Adit dengan tanganku saat ku lihat Adit menguap lebar.


"Jagoan, sudah waktunya tidur siang ternyata." Timpal Bang Daffa tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan.


Aku terus menimang nimang Adit sembari memberikan botol susunya, dan tak lama setelahnya Adit sudah terbuai mimpi setelah botol susunya kosong.


Mobil terus melaju membelah jalan raya, dan setelah Adit tidur yang terdengar di telingaku hanyalah deru halus mesin mobil karena kami memilih diam. Sempat beberapa kali melirik ke arah Bang Daffa, kali ini aku lihat Bang Daffa juga tengah menguap. Akupun bergerak gerak mencoba meraih tasku yang berada di bawha tangan kiriku.


"Ada apa..?" Tanya Bang Daffa begitu meyadari aku kesusahan meraih tas tanganku.


"Mau ngambil tas." Jawabku singkat saja dengan masih berusaha meraihnya.


Bang Daffa menepikan mobilnya dan berhenti tanpa mematikan mesinnya, aku yang bingung langsung saja mengeluarkan kataku. "Kenapa berhenti..?"


Bang Daffa tak menjawabnya, tapi langsung melepas sabuk pengamannya dan mendekat ke arah ku. Jarak ini terlalu dekat denganku, hingga hidungku mencium aroma farfum maskulin yang menguar dari baju Bang Daffa. "Jangan bergerak terus, nanti kepala Adit kepentok pintu mobil." Ucap Bang Daffa begitu berhasil meraih apa yang aku inginkan.


Bang Daffa lantas segera meraih bantal kecil di jok belakang juga menata tepat di bawah siku ku hingga aku merasa lebih leluasa dalam bergerak, juga Adit tidak kwatir akan ke pentok pintu mobil.


"Gimana, enak posisinya.?" Tanya Bang Daffa.


"Sebenarnya tadi juga sudah enak, tapi gini lebih enak lagi." Jawabku sembari membenarkan posisi Adit yang justru ndusel ke arah dadaku.


"Tadi kamu gerak gerak terus kenapa, aku kira karena kebas." Ucap Bang Daffa dengan kembali menggunakan sabuk pengamannya.


"Sebenarnya mau ngambil ini." Ku angsukan sebuah lolipop ke arah Bang Daffa, dan Bang Daffa hanya menatapnya dengan heran. "Biar enggak ngantuk." Lanjutku.


Bang Daffa mengambil Lolipop dari tanganku, dan terus saja memandangnya sebelum ahirnya membukanya. "Kapan kamu belinya." Ucap Bang Daffa.


"Kapan ya.?" Jawabku sembari mengingat ingatnya. Dan itu sukses membuat Bang Daffa ragu untuk memasukkan lolipop ke mulutnya.


"Jangan bilang ini kadalwarsa, War."


Aku tertawa lepas melihat expresi Bang Daffa. "Ya enggak mungkin lah Bang, memang lolipop itu selalu ada di tasku, cuma aku lupa kapan memasukkannya."


"Huh, aku kira." Jawba Bang Daffa lantas benar benar memasukan lolipop ke mulutnya, sejurus kemudian mobil sudah kembali ke jalan raya.

__ADS_1


"Untuk apa kamu nyimpan lolipop di tasmu.?" Tanya Bang Daffa begitu kami diam untuk sesaat.


"Emm, awalnya sih karena Erik. Untuk jaga jaga saja siapa tau Erik ngantuk. Secara aku dulu sering nebeng sama Erik. Makin kesini, Erik malah yang ketagihan sama lolipop ini. Dan sekarang malah jadi kebiasan naruh lolipop di tas, dan aku sering merayu anak anak menggunakan itu."


Bang Daffa manggut manggut sesaat. "Enak rasanya." Ucap Bang Daffa. "Rasanya klasik banget." Lanjut Bang Daffa lagi.


"Itu lolipop dari dulu rasanya enggak berubah sama sekali, Bang. Sedari kecil aku dan Erik suka sekali makan itu." Timpalku yang kini sudah mulai santai berbincang dengan Bang Daffa.


"Hubunganmu dan Erik cukup unik kalau aku lihat. Dulu waktu di kostan aku kira kalian pacaran." Aku tersenyum tipis mendengar penuturan Bang Daffa. "Kayaknya kalian agak jauh kali ini."


Aku menghela nafasku dalam dalam. "Semua tidak lagi sama, Bang."


Kami kembali diam melarutkan diri dengan isi otak kami masing masing hingga perjalan usai dan kami tiba di depan rumah dengan Adit yang masih menikmati tidur siangnya.


"Adit biar lanjut tidur di kamar Mawar saja Bang." Pintaku ke Bang Daffa setelah kami berdua sama sama turun dari mobil.


"Tidak perlu, War. Biar Adit sama aku saja." Di ulurkannya tangan Bang Daffa ke arahku guna meraih Adit. "Barang barangnya biarkan saja dulu. Kamu capek banget kelihatnnya. Bib bib." Suara mobil Bang Daffa yang di kunci begitu Bang Daffa usai berkata.


Aku melangkah mengikuti Bang Daffa yang masuk terlebih dulu dan langsung berbelok ke arah kamarku. Akupun bersih bersih sesaat sebelum ahirnya aku memilih tenggelam di atas sajadahku sembari mengulang beberapa pelajaran Pesantrenku.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Malam datang masih membawa suasa bahagia, bahagia dengan adanya Adit di tengah tengah kami. Menngunakan baju tidur bergambar tokoh kartun laki laki, Adit sibuk merangkak kesana kemari kepada siapa saja yang memanggil namanya. Tak terkecuali aku.


Aku, Kak Melati dan Bang Daffa duduk di karpet tebal. Sementara Pak Agung dan Bu Mega duduk di sofa di atas kami. Dan Adit kini tengah sibuk dengan ponsel bututku yang sedari dulu masih tidak berganti.


"Iya, Pak." Ku balik beberapa raport Pesantren yang perlu tanda tangan dari waliku. "Ini disini juga." Lanjutku.


"Lho, ini kan bukan raport, War. Ini apa.?" Tanya Pak Agung sembari mencoba untuk membaca tulisan yang banyak aksara Arabnya.


"Ini lembar persetujuan wali Santri, Pak. Mawar mau masuk Mah'ad Aly." Jawabku jujur.


"Mah'ad Aly. Apa itu.?" Tanya Pak Agung lagi, dan kali ini semua memperhatikan ke arahku tak terkecuali Bu Mega yang sedari tadi acuh terhadapku.


"Mah'ad Aly itu, semacam perguruan tinggi Pak."


"Bagus banget, War." Timpal Kak Melati dengan cepat begitu aku usai dengan kata ku.


"Juga ada jurusan jurusannya, selayaknya perguruan tinggi umum, War.?" Tanya Pak Agung ingin lebih tau lagi.


"Iya, Pak."


"Jadi kamu mau ambil jurusan apa..?" Tanya Kak Melati.


"Belum tau, Kak Mel." Lagi ku jawab jujur.


"Kalau belum tau mau belajar apa kenapa mesti repot repot minta tanda tangan sekarang." Potong Bu Mega dengan cepat, sebelum aku melanjutkan kata kataku.

__ADS_1


"Maa.." Kompakan Kak Melati dan Pak Agung mengintrupsi Bu Mega.


"Kalau menurutku, War. Entah ini kamu mau pakai apa tidak. Kalau mau ambil penjurusan lebih baik mana yang paling kamu minati." Aku tersenyum mendengar kata kata Bang Daffa, dan ini terkesan seperti Bang Daffa sedang menasehati Adiknya. Aku suka.


"Apa yang di katakan oleh Daffa ada benarnya juga, War." Timpal Pak Agung.


"Juga tentunya agar tidak mubadzir uang. Sudah bayar mahal ujungnya cuma buat mainan saja." Kembali, Bu Mega mengeluarkan kata sengitnya untuk menunjukan ketidak sukaannya terhadapku.


"Mama apa apain sih. Itu sama sekali tidak pantas di ucapkan." Bentak Pak Agung. "Lagian selama ini juga Mawar sering dapat beasiswa." Lanjut Pak Adit membuat suasan semakin hening, hanya suara mulut Adit yang basah oleh air liur karena memasukan ponselku dalam mulutnya.


"Hai, jagoan kamu asik sendiri. Ternyata, ponsel Aunty Mawar sudah basah semua.." Ucap Bang Daffa memecah kesunyian.


"Buruan ambil, War." Kata Kak Melati membuatku lekas bergerak ke arah Adit.


"Aunty minta, ayo sini berikan." Ucapku ke Adit sembari menyodorkan tanganku ke arah Adit yang menggeleng. "Enggak boleh di masukin mulut." Ucapku lagi dengan menarik ponselku.


"Aaauuu. Sakit." Pekikku dengan tiba tiba karena ganti jari telunjuk ku yang di gigit oleh Adit.


Kak Melati bergegas mendekat ke arah kami. "Kenapa, War." Ujar Kak Melati.


"Kayaknya giginya Adit tumbuh deh Kak Mel."


"Masakk..?" Kata Kak Melati dengan binar bahagia. Lantas memasukka jarinya ke dalam mulut Adit dan yang terjadi sama seperti ku tadi, Kak Melati seketika memekik kesakitan.


"Mas, beneran Adit udah tumbuh gigi." Kata Melati lagi sambil tertawa bahagia.


"Pantesan tadi ****** nya, botol susu di gigiti terus." Kata Bang Daffa.


Kamipun ahirnya melupakan bahasan sebelumnya dan berbahagia dengan tingkah Adit yang senang mengigit apapun, hingga karena begitu capeknya dan gemas dengan yang di gigitnya tidak di perbolehkan Aditpun rewel karena memang sudah jam tidur bagi dirinya.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu.


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2